Kehidupan seseorang tidak lah semudah dan seindah yang terlihat. Seperti yang di alami oleh Erina Ekaliana Putri seorang penulis dan anak dari pemilik Resto yang sangat terkenal di kota kembang, kehidupan rumah tanganya terlihat baik baik saja namun kenyataanya tidak lah seperti itu. Kekerasan dan poligami dia alami setelah Erina memiliki 4 orang anak, dia selalu di salahkan oleh suaminya dalam hal apapun. Berontak atau sekedar melindungi diri dia tidak lah mampu, hanya diam dan menerima ditambah berbagai tekanan dari pihak keluarga suami yang juga ikut menyalahkannya.
Manun sebuah peristiwa yang akhirnya dapat mengguatkan dirinya dan ada sedikit keberanian, Erina pergi dari rumah berserta anak anak nya. Dia berdiri dengan kamampuanya sendiri, namun tetap saja suaminya selalu menelor dan meyiksanya dengan begitu banyak tekanan.
Mampuhkah Erina terlapas dari penderitaan yang suaminya berikan dan ada kah pertolongan yang akan melepaskan Erina dari sikap arogan suaminya.
Ikuti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng syanty Rochbiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Bogor
"Apa kamu sudah siap, Erin?" Ucap Abi yang baru kembali dari luar, setelah memasukan semua barang-barang Erina kedalam mobilnya. Namun, saat dia kembali, dia melihat Erina yang sedang melamun di depan pintu keluar. Seperti ada yang sedang dia pikirkan, terlihat dari wajahnya yang sedikit murung.
"Eh, Iya, Mas. Tapi tunggu Ayah, Bunda sama Mas Adit dulu. Mas?" Ucap Erina terbata, sedikit terkejut dengan kedatangan Abi yang tiba-tiba berdiri di hadapanya. Di saat dia sedang melamun.
"Kamu baik-baik saja kan, Erin? Jangan sering melamum, itu tidak baik." Ucap Abi yang terus menatap Erina, Abi tidak bosan menatap mantan kekasihnya yang sekarang berdiri di hadapanya dengan begitu angun.
"Ya Mas Erina baik-baik saja, lagi pula Erin gak ngelamun." Ucap Erina sedikit berkelah.
"Tapi, Mas liat kamu tadi ngelamun. Masa bidadari Mas, pagi-pagi sudah boong?" Ucap Abi sedikit mengoda Erina.
"Apa sih Mas, jangan ngaco deh." Ucap Erina yang sekatika wajahnya sedikit memanas mendengar ucapan Abi. Abi melihat rona merah pada kedua pipi Erina, di saat dia merasa malu. Hal itu membuat Abi semakin gemas melihatnya.
"Ya ampun, Mas gemes liat kamu Erin. Kamu tambah cantik saat pipi mu merona seperti itu." Ucap Abi yang gak mau berhenti mengoda Erina, karena dia sangat suka melihat Erina Saat tersipu malu. Kedua pipinya yang putih bagaikan batu pualam, seketika menjadi merah jambu. Semua itu terlihat begitu mengemaskan di mata Abi.
"Mas, berhenti bicara. Erin tak jadi pergi sama Mas, Erin pergi sendiri saja." Ucap Erina sedikit kesal, karena Abi terus mengodanya.
"Ya ya, Mas berhenti bicara. Puas?!"
"Ya, Erina puas. Mas Abimanyu Adarta Wijaya."
"Eh, kenapa kamu memangil Mas. Dengan nama lengkap?" Ucap Abi Protes.
"Emangnya kenapa merasa keberatan? Tapi, memang itu kan nama Mas?" Ucap Erina cuek.
"Tapi, itu sangat tidak sopan." Ucap Abi Protes lagi. Merekanpun terus berdebat karena soal nama, tak ada satupun yang mau mengalah. Sikap mereka seperti anak yang sedang berebutkan mainan, saling mempertahankan keinginannya. Perdebatan mereka terhenti, saat Aditia berbicara sesuatu pada mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Berisik sekali, lama-lama aku nikahkan kalian. Pagi-pagi sudah kaya kucing dan anjing saja, bukanya kalian mau pergi. Kenapa masih di sini?" Ucap Aditia yang datang bersama Ayah, Bunda dan Mba Ima.
"Eh, kita mau pergi. Tapi, Erina tunggu Kalian, masa Erina langsung pergi begitu saja. Ya kan Mas?" Ucap Erina, yang meminta pembelaan Pada Abi. Karena Erina sedikit malu, tertangkap basah sedang bercanda dengan Abimanyu, oleh anggota Kelurganya. Sedang kan Abi hanya bisa tersenyum di saat namanya di sebut oleh Erina.
"Hemm, sudah meminta pembelaan nih. Inggat kamu masih istri orang?" Ucap Aditia, yang sedikit memperingati adiknya agar tidak terbawa suasana dan tau batasannya.
"Apa sih Ka, Erina tau. Apa yang harus Erina lakukan. Ya sudah, Erina pamit." Ucap Erina, yang langsung mengalih kan topik pembicaraan antar dia dengan Aditia.
Yang lainya hanya bisa tersenyum melihat perdebatan Erina dan Kakanya. Erina pun berpamitan kepada kedua orang tuanya dan Adita serta Mba Ima, Erina mempercayakan Anak-anaknya kepada keluarganya. Terutama Pada Mba Ima, sejak dulu dia sudah percaya ke pada Mba Ima, mengenai Anak-anaknya. Jadi, tidak perlu khawatir, karena Mba Ima sudah dekat dengan mereka. Terkadang Erina tidak di anggap saat berada dirumah, apa-apa selalu Mba Ima.
Erina sudah ada di dalam mobil, sedang kan Abi masih berpamitan dengan keluarga Erina.
"Abi pamit Yah." Ucap Abi Pada Ayah Harun dan menciun tangannya.
"Ayah titip Erina, Nak? Hati-hati di jalan, Ayah percayakan dia padamu?!" Ucap Ayah Harun sambil menepuk pundak Riu. Riu beralih pada Bunda Elin untuk berpamita dan hal yang sama dia lakukan pada Ayah, Mencium tangan Bunda.
"Bunda harap Nak Abi bisa sempatin waktu untuk temui Erin. Terkadang dia lupa waktu kalau sudah kerja, ingetin dia untuk tidak telat makan."
" Ayah sama Bunda. Jangan khawatir, Abi akan jagaiin Erin selama di Bogor. Kalau gitu Abi pamit, Mari Mba Ima." Ucap Abi, lalu pergi ke mobil di ikuti Aditia yang ingin melihat kepergian Erina dan Abi.
" Bi, jaga Erin. Sempetin waktu lo buat dia, buat dia lupain masalahnya. Gua percaya sama lo dan kalau ada apa-apa cepat hubungi gua." Ucap Adit, sebelum Abi benar-benar masuk kedalam mobil.
"Tenang saja, gue pastiin Erina lupain semua masalahnya kalau bisa dia lupain suaminya." Ucap Abi sambil membuka pintu mobil.
"Kalau untuk itu, lo harus sabar."Ucap Adit lagi,
"Lo bener, gue emang harus sabar untuk yang satu ini. Gue pamit, dit." ucap Abi yang akhirnya masuk kedalam mobil, menutup pintu mobil dan duduk di depan kemudi. Abi meyalahkan Mesin mobil dan mobil itu pun meninggalkan kediaman Keluarga Harun.
Aditia masih diam di tempatnya, dengan mata masih melihat mobil yang di kendarai Abi hingga hilang dari pandangan mata.
"Gue akan usain lo, untuk bisa dapatin adik gue lagi. Kebahagian Erin ada di diri lo, Bi? Gue masih liat ada cinta di mata Erin untuk lo, semoga lo bisa sabar untuk dapetin Erin lagi?!" Ucap Adit dalam hati. Dia pun melangkah kan kakinya untuk kembali kerumah.
Erina dan Abi meninggalkan kediaman Tuan Harun pukul setengah Enam pagi, di saat matahari belum sepenuhnya bersinar. Udara pagi masih terasa dingin, apa lagi sejak semalam turun hujan tak henti-henti. Bahkan pagi ini, hujan pun masih turun walau tidak sebesar tadi malam. Perjalana mereka di temanin rintik hujan, menambah udara semakin dingin. Erina membenarkan posisi duduknya untuk senyaman mungkin, beberapa kali dia menguap. Sepertinya rasa ngantuk menyerang dirinya, mencoba untuk tetap terjaga. Namun, kedua matanya tidak bisa di ajak kerja sama. Sedikit prustasi, kalau sudah berada di situasi seperti ini. Erina paling tidak suka menahan ngatuk, karena itu sangat menyiksanya.
Abi melihat Erina yang beberapa kali menguap, sepertinya Erina mengantuk. Tapi, dia mencoba untuk menahannya.
"Sepetinya kamu mengantuk, tidur lah. Nanti kalau sudah sampai, Mas bangunkan?!" Ucap Abi yang merasa kasin melihat Erina begitu tersiksa, menahan rasa kantuknya.
"Apa boleh, bagai mana dengan.Mas?" Ucap Erina yang merasa tidak enak,
"Tidurlah, jangan meras tidak enak. Mas tidak Apa?" Jawab Abi,
"Ya Mas, maaf Erina tidur."
"Ya tidur lah," Ucap Abi, lalu dia menyalahkan musik yang sesui dengan suasana saat ini. Musik yang membuat Erina tertidur pulas, walau ada kelelahan yang terpancar di wajahnya. Abi menepikan mobilnya ke pingir jalan, lalu mematikan mesin mobilnya. Dia mengambil jaketnya yang ada di kursi belakang, dan memyelimutinya ke tubuh Erina. Biarpun Erina sudah memakai jaket, tapi, tubuhnya masih bergetar kedinginan.
Setelah menyelimuti Erina, Abi pun menyalah kan kembali mobilnya dan melanjutka lagi perjalanannya.
Bersambung