Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Suami Menyesal? Suami Baruku Konglomerat!

Mantan Suami Menyesal? Suami Baruku Konglomerat!

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:267.2k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

"
Pernikahan Anisa bukan surga. Itu penjara. Tujuh tahun ia tidur di loteng bersama putrinya yang sekarat karena leukemia sementara suaminya sendiri memanjakan sekretarisnya bak ratu di meja makan utama. Ketika ia berlutut memohon setetes darah untuk menyelamatkan nyawa Lili, Bian Tanujaya hanya menatapnya dan berkata, ""Bukan urusanku."" Malam itu juga surat cerai menanti di kamarnya.

Tapi Anisa menolak mati. Ia meracik parfum bernama Bertahan yang mengguncang industri dan tanpa ia sadari seorang konglomerat yang tidak pernah tertarik pada siapa pun ternyata selalu ada di bayang bayangnya. Bian baru menjerit ketika semuanya terlambat karena putrinya mengembuskan napas terakhir tepat saat ia menikmati kembang api bersama wanita lain. Lalu rahasia besar itu mulai merangkak keluar: wanita yang selama ini ia bela telah membayar donor sumsum tulang untuk membatalkan operasi Lili. Sekarang Bian menangis. Terlambat. Keterlambatan yang membuatnya kehilngan lagi, kini ia kehilangbann Anisa. Untuk selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Parfum Pertama

Lili datang ke Rasa Atelier pada hari ketika hujan turun tanpa suara.

Dokter Hendra mengizinkan ia keluar sebentar karena demamnya turun dan suasana hatinya membaik. Anisa awalnya ragu, tetapi Dewi sudah menyiapkan ruang kecil di lantai bawah, jauh dari bahan pekat, dengan selimut bersih dan air hangat. Semua orang di studio diberi tahu untuk tidak memakai parfum kuat hari itu.

Begitu masuk, Lili langsung membelalakkan mata.

"Mama kerja di rumah boneka?"

Rika tertawa. "Aduh, Kak, studio kita naik kelas."

Anisa melepas jaket Lili. "Ini tempat Mama membuat aroma."

"Aroma yang tinggal di botol?"

"Iya."

Lili menatap rak sampel dengan kagum seolah melihat permen warna-warni. Ia tidak boleh menyentuh sembarang bahan, tetapi Anisa sudah menyiapkan beberapa strip aman: melati encer, jeruk, vanila tipis, dan kayu manis yang sangat lembut.

"Satu-satu, ya. Jangan terlalu dekat."

Lili mengangguk serius. Ia mencium strip melati, lalu tersenyum. "Ini bunga di gereja waktu Natal."

Anisa terkejut. Ia tidak ingat Lili memperhatikan bunga Natal tahun lalu.

Strip jeruk. "Ini pagi."

Strip vanila. "Ini roti Bi Sari."

Strip kayu manis. Lili berpikir lama. "Ini Mama kalau peluk Lili setelah masak."

Ruang studio mendadak hening.

Dewi menoleh ke jendela, pura-pura melihat hujan. Rika mengusap sudut matanya. Made berbisik, "Anak ini hidungnya bahaya."

Anisa memeluk Lili dari belakang. "Lili mau bantu Mama?"

"Boleh?"

"Boleh, tapi cuma pilih."

Di meja kerja, Anisa sedang menyelesaikan parfum wanita pertama untuk lini kecil Rasa Atelier. Konsepnya lahir dari revisi hari pertama: hujan, halaman rumah, dan keberanian pulang kepada diri sendiri. Ia belum menemukan sentuhan akhir.

Lili duduk di kursi tinggi, memakai masker yang diturunkan sebentar hanya saat mencium strip. Anisa memberinya dua pilihan: melati yang lebih bersih atau melati yang lebih dalam.

Lili mencium keduanya, lalu menunjuk yang kedua.

"Kenapa?"

"Yang ini sedih, tapi cantik."

Anisa menatap strip itu. Melati malam, sedikit lebih berat, lebih hidup. Sama seperti yang ia rasakan setiap kali melihat Lili tersenyum dari ranjang rumah sakit.

"Baiklah. Kita pakai yang ini."

"Namanya apa?"

Anisa belum tahu. Ia menulis beberapa opsi di buku: Hujan Pertama, Pulang, Taman Kecil. Semuanya terasa belum tepat.

Lili mengambil krayon dari tas kecilnya dan menggambar bunga di pojok halaman catatan. "Kalau bunga di loteng?"

Rika yang mendengar langsung berkata, "Loteng terdengar sedih."

Lili menggeleng. "Tapi di loteng ada Mama."

Anisa menunduk, pura-pura merapikan botol agar orang tidak melihat matanya basah.

Dewi mendekat dan melihat formula. "Bagaimana kalau namanya Bunga yang Bertahan?"

Anisa mengulang dalam hati. Bunga yang Bertahan. Terlalu panjang untuk label, tetapi tepat sebagai jiwa.

"Untuk pasar, mungkin Bertahan," kata Nabila dari meja admin. "Satu kata. Kuat."

"Bertahan," Lili mengucapkannya pelan. "Itu artinya nggak jatuh?"

"Artinya jatuh pun bangun lagi," jawab Anisa.

Lili tampak puas.

Sore itu, sampel pertama "Bertahan" selesai. Semua orang mencobanya di strip. Aromanya membuka dengan daun jeruk yang segar, lalu melati malam muncul perlahan, disangga vetiver lembut dan kayu manis tipis. Tidak manis berlebihan. Tidak lemah. Ada sedih di dalamnya, tetapi juga tulang punggung.

Dewi menatap Anisa. "Ini bisa jadi produk pertama kita yang benar-benar punya cerita."

"Jangan terlalu cepat memuji."

"Aku memuji karena layak."

Anisa melihat botol sampel kecil di tangannya. Ia pernah berpikir hidupnya hanya akan menyisakan tagihan, air mata, dan pintu loteng yang berderit. Tetapi hari itu, di meja kerja sederhana, ia membuat sesuatu yang tidak bisa dihentikan Bian.

Lili menarik lengan bajunya. "Mama, kalau parfum ini jadi terkenal, Papa cium juga?"

Anisa diam.

Tangannya berhenti di atas botol sampel.

Dewi hendak mengalihkan pembicaraan, tetapi Anisa tersenyum pada Lili. "Mungkin."

"Biar Papa tahu Mama hebat."

Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada sindiran Indira. Lili masih ingin ayahnya melihat. Masih ingin ayahnya bangga.

"Mama tidak perlu Papa tahu untuk jadi hebat," kata Dewi lembut, lalu berjongkok di depan Lili. "Tapi kalau Papa tahu, itu bonus."

Lili tertawa kecil.

Menjelang petang, Adrian datang tanpa janji untuk mengambil perkembangan sampel proyek Surya. Ia berhenti ketika melihat Lili di ruang tamu studio.

"Ini Lili?" tanyanya sopan.

Anisa sedikit terkejut. "Iya."

Adrian menunduk kepada Lili. "Selamat sore, Dek Lili."

Lili menatapnya. "Om wangi hujan."

Adrian tampak kehilangan kata. Rika hampir tertawa.

Anisa menyerahkan sampel S-03 untuk Pak Surya, lalu tanpa sadar ikut memberikan satu strip "Bertahan" karena masih berada di meja. Adrian menciumnya sebentar.

"Ini bukan pesanan Pak Surya?"

"Bukan. Produk internal studio."

"Boleh saya bawa satu strip? Untuk referensi."

Anisa ragu, lalu mengangguk. "Tentu."

Setelah Adrian pergi, Dewi menatap pintu dengan ekspresi sulit dibaca.

"Kak?"

"Tidak apa-apa."

Namun malam itu, pesan masuk ke ponsel Dewi dari Adrian.

"Pak Surya mencium sampel internal bernama Bertahan. Beliau ingin datang sendiri ke studio untuk melihat karya Bu Anisa."

Dewi membaca pesan itu dua kali, lalu menatap Anisa yang sedang membantu Lili memakai jaket.

Ia tersenyum kecil.

"Nis."

"Ya?"

"Besok atau lusa, kita mungkin kedatangan tamu penting."

"Pak Surya?"

Dewi mengangguk.

Anisa memegang resleting jaket Lili, tiba-tiba merasa udara di studio berubah.

Lili justru bertepuk tangan kecil. "Om hujan datang?"

Anisa belum pernah bertemu Surya Hartono.

Tetapi sejak saat itu, nama pria itu tidak lagi terasa jauh.

Malam itu, Anisa membawa Lili pulang dengan hati yang aneh. Lelah, tentu saja. Tubuh Lili harus dijaga sepanjang perjalanan, dan ia masih harus mencatat suhu anak itu setiap dua jam. Tetapi di bawah lelah itu ada sesuatu yang berpendar. Hari ini Lili tertawa di studio. Hari ini orang-orang melihat bakat anaknya, bukan hanya penyakitnya. Hari ini parfum pertama Anisa memiliki nama.

Bertahan.

Di loteng, ia meletakkan botol sampel kecil di meja dekat gambar kembang api Lili. Dua benda itu tampak seperti dua janji: yang satu dari anaknya, yang satu dari dirinya sendiri.

"Mama," Lili memanggil dari kasur.

"Iya?"

"Kalau Om hujan datang, Lili boleh ketemu?"

Anisa tersenyum sambil membuka sepatu anak itu. "Om hujan itu asisten, Sayang. Pak Surya belum tentu seperti hujan."

"Tapi Om Adrian bawa bau hujan."

"Karena dia bawa sampel Mama."

Lili menguap. "Kalau Pak Surya suka parfum Mama, dia baik?"

Pertanyaan itu membuat Anisa berhenti. Ia ingin menjawab bahwa orang baik tidak diukur dari suka atau tidak suka pada karya seseorang. Ia ingin mengajari Lili berhati-hati, karena dunia penuh orang yang tersenyum sambil memegang pisau. Tetapi Lili sudah terlalu banyak menerima pelajaran pahit.

"Kalau dia menghargai kerja Mama, itu awal yang baik," jawab Anisa.

Lili tampak puas. "Mama harus dihargai."

Kalimat kecil itu membuat Anisa memeluknya. "Siapa yang ajari Lili bicara begitu?"

"Kak Dewi. Dia bilang Mama bukan pembantu perasaan orang lain."

Anisa tertawa pelan. Tentu saja Dewi.

Setelah Lili tidur, Anisa membuka buku formula dan menulis catatan akhir untuk Babak pertama parfum "Bertahan": top note daun jeruk, heart melati malam, base vetiver dan kayu manis tipis. Di bawah formula, ia menulis kalimat yang tidak lazim untuk catatan teknis:

"Aroma untuk perempuan yang jatuh diam-diam, lalu berdiri tanpa tepuk tangan."

Ia menutup buku itu saat terdengar suara mobil masuk ke halaman. Bian pulang.

Biasanya suara itu membuat tubuhnya menegang. Malam ini tetap ada takut, tetapi tidak lagi sendirian. Di tasnya ada kartu akses studio. Di ponselnya ada bukti CCTV. Di meja ada parfum bernama Bertahan. Di suatu tempat di luar sana, seorang klien besar ingin melihat karyanya.

Untuk pertama kalinya, Anisa merasa hidupnya mulai memiliki saksi selain dinding loteng.

Ia mematikan lampu kecil dan berbaring di samping Lili.

Besok, mungkin Bian akan marah. Indira mungkin menghina. Meilan mungkin menyiapkan racun baru.

Tetapi malam ini, sebelum semua itu datang, Anisa mengizinkan dirinya memejamkan mata dengan satu pikiran sederhana:

Aku masih di sini.

1
WHATEA SALA
Baca cerita ini capek...capek nangis😭😭sayang banget tokoh Lili dihilangkan,kehilangan itu sangat menyakitkan,dan Lili anak nya ceria dan pintar seperti Anisa,bisa menilai rasa dan aroma.
WHATEA SALA
Laa di lepas,gak di tangkap to,selak Melayu wonge
⋆.˚Khaira🦋
kan emang gitu, klu udah gak ada baru terasa
⋆.˚Khaira🦋
lili... kasihan kamu ternyata punya bapak
t o l o l dan egois 🤨
⋆.˚Khaira🦋
lili mungkin itu yg terbaik buat km nak karena dunia ini kejam, tapi lebih kejam lagi bapak mu... menyesal pun tiada guna
⋆.˚Khaira🦋
😭😭😭😭😭😭😭 semua sayang lili 🥀
⋆.˚Khaira🦋
bian tuh tolol nya udah mendarah daging kayanya... kan bisa tanpa dia pergi, misal dia mw rekam buat lili minta orang yg rekamin trus bayar orang tsb... lah ini dah tau anaknya udah sekarat eeeh malah di tinggal mw aja di hasut sama jin dasim meilan 😡😡😡
⋆.˚Khaira🦋
lili aku dari kemaren nangisin kamuu tauuu.. aer matanya gak mw berenti😭😭😭😭
⋆.˚Khaira🦋
30 menit... tapi elu bakal menyesal bian 🤨
⋆.˚Khaira🦋
eeeh tau2 si meilan sakit yg sama kaya lili, mapoooosss dah sekalian 😡😡
⋆.˚Khaira🦋
saat suaminya terkesan malu mengakui anisa, di saat yg sama ada orang yg bangga dan terpesona sama anisa akan kehebatan dan kesederhanaan yg tulus tanpa di buat²
⋆.˚Khaira🦋
makin penasaran siapa kira² surya 🤔
⋆.˚Khaira🦋
itulah ibu, pasti bisa bertahan karena anak
⋆.˚Khaira🦋
huhuhu... emang dassar keluarga dajjal... gak emaknya, anaknya juga sama aja 🤨
⋆.˚Khaira🦋
bian perlu di sentil ginjalnya ini kayanya 🤨
Liana Simon
Sedih ceritanya, harus siap tissue buat tangis. Semangat Thor ceritanya menyentuh sekali.
Wulan Permatasari
bagus banget dari sini sy belajar bahwa kadang menungung lebih baik dari pada memaksa masuk
syska
ᴋᴇʀᴇñ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ,..
Dibalik Senja
Mendidih darah awak bnr2 biadap
Syahdu: Novel tapi ada chat lucunya?😆 yuk baca I Love You Brutally. Terima Kasih dukungannya🫶🏻🤍😆
total 1 replies
Dibalik Senja
Dasar laki2 kurang ajar ....duit tdk dikasih kerj tdk boleh meresa laki2 pling berkuasa lwn nisa jngn tkut sma laki2 kyk begitu apa lg dia sdh menyodorkan surat cerai yg sdh ditandatangani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!