Mantan Suami Menyesal? Suami Baruku Konglomerat!

Mantan Suami Menyesal? Suami Baruku Konglomerat!

Episode 1

Bab 1: Malam yang Menghancurkan

Bertahun kemudian, setiap kali hujan turun terlalu deras di Jakarta, Anisa Wijaya selalu teringat malam itu.

Ia teringat pada sepeda lipat tua yang rantainya hampir lepas, pada amplop kecil berisi uang bonus yang basah di dalam tas, dan pada nama Lili yang tertulis di kuitansi rumah sakit.

Malam itu, Anisa menggenggam amplop itu seperti kesempatan terakhir.

Hujan turun seperti ditumpahkan dari langit ketika ia mengayuh sepeda menuju gedung kaca Tanujaya Group di SCBD. Kartu tambahannya sudah diblokir Bian, sopir rumah hanya bergerak atas izin Indira, dan sisa GoPay harus ia simpan untuk membawa Lili ke rumah sakit esok pagi. Maka malam itu, istri orang kaya pergi ke kantor suaminya dengan sepeda lipat tua.

Jas hujan plastik murahannya sudah sobek di bahu. Air masuk ke kerah, mengalir di punggungnya. Di keranjang depan, rantang stainless dibungkus plastik agar sup di dalamnya tidak tumpah.

Tadi sore, pemilik kios aromaterapi kecil dekat gereja memberinya bonus karena ia membantu meracik pesanan lilin. Sebagian uang itu sudah ia sisihkan untuk obat Lili. Sisanya ia pakai membeli ayam, jahe, dan sedikit daun bawang.

Seharusnya semua uang ia simpan untuk Lili. Tetapi ketika Bi Sari berkata Bian belum makan sejak siang, sesuatu yang lemah dalam diri Anisa masih bergerak. Mungkin jika Bian mengingat rasa sup itu, ia akan mau mendengar soal pemeriksaan Lili.

Kata mungkin membuat Anisa bertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Di lampu merah dekat Sudirman, ponselnya bergetar di saku cardigan yang sudah basah. Pesan dari Bi Sari.

"Dek Lili sudah tidur. Tadi sempat tanya Papa pulang atau tidak."

Jemarinya dingin, tetapi ia tetap membalas.

"Bilang Mama jemput Papa sebentar."

Ia hampir menambahkan, "Bilang Papa sayang Lili." Namun ia menghapus kalimat itu. Ada kebohongan yang terlalu berat bahkan untuk dikirim lewat pesan.

Ketika sampai di depan gedung Tanujaya Group, jam di lobi menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh malam. Satpam memandang sepedanya, lalu rantang di tangannya. Istri Direktur Utama Tanujaya Group datang seperti kurir tersesat dalam hujan.

"Untuk Pak Bian," katanya kepada resepsionis malam.

Resepsionis mengenalinya. "Pak Bian masih di lantai tiga puluh delapan, Bu."

Anisa mengangguk. Ia ingin merapikan rambut, tetapi tangannya penuh. Maka ia memeluk rantang itu dan masuk ke lift dengan sandal yang meninggalkan jejak air.

Di pintu lift yang mengilap, bayangannya tampak asing. Rambut basah menempel di pipi, bibir pucat, mata cekung karena Lili demam. Dulu orang-orang di gedung ini memanggilnya Bu Anisa. Sekarang ia hanya berharap tidak ada yang melihat ia menggigil.

Lift berhenti.

Koridor eksekutif lantai tiga puluh delapan hampir kosong. Lampu menyala separuh, membuat bayangan panjang di lantai. Dari arah ruang kerja Bian, terdengar tawa pelan seorang wanita.

Langkah Anisa melambat.

Ia mengenal suara itu. Lembut, manja, seolah setiap kata sengaja dibungkus gula.

"Pak Bian, jangan kerja terus. Nanti sakit."

"Kamu juga belum pulang," suara Bian terdengar rendah. Tidak dingin. Tidak tajam. Hampir hangat.

Anisa berhenti di depan pintu yang tidak tertutup rapat.

Celahnya cukup lebar untuk memperlihatkan Bian duduk di sofa kulit dekat jendela. Di sampingnya, Meilan Susanto duduk terlalu dekat. Bahu wanita itu diselimuti jas hitam milik Bian, dan ia tertawa sambil merapikan dasi Bian yang miring.

Jari Anisa mengerat pada pegangan rantang.

Di tasnya, amplop bonus kecil itu masih basah. Di rumah, Lili tidur sambil menunggu ayahnya pulang. Di hadapannya, ayah itu sedang memberi jas kepada wanita lain.

Meilan mengangkat wajah. Matanya membesar, terlalu cepat, terlalu rapi. "Kak Anisa?"

Bian menoleh.

Tidak ada rasa bersalah di wajah suaminya. Tidak ada gerakan tergesa menjauh dari Meilan. Ia hanya mengerutkan kening, seakan Anisa adalah gangguan kecil di malam yang sudah melelahkan.

"Kamu ngapain ke sini?" tanyanya.

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada pemandangan di depannya.

Anisa membuka bibir. Untuk sesaat ia ingin berkata, aku datang karena anakmu demam, karena aku butuh bicara soal tes darah, karena aku mengayuh sepeda dalam hujan membawa makanan dari bonus kecilku. Tetapi kata-kata itu terasa terlalu hina.

"Bi Sari bilang kamu belum makan," jawabnya akhirnya. "Aku buat sup."

Bian melihat rantang itu. "Aku sedang kerja."

"Aku bisa taruh di pantry."

"Tidak perlu." Suaranya datar. "Besok pagi saja kamu urus hal rumah. Jangan datang ke kantor tanpa bilang."

Meilan buru-buru berdiri, tetapi jas Bian masih melekat di bahunya. "Maaf, Kak. Tadi AC-nya dingin, Pak Bian cuma kasihan..."

Kasihan.

Kata itu hampir membuat Anisa tertawa. Bian bisa kasihan pada sekretarisnya yang kedinginan di ruangan ber-AC. Untuk Lili yang menggigil setelah kemoterapi, ia selalu punya alasan untuk tidak datang.

"Aku tidak bertanya padamu," kata Anisa pelan.

Senyum Meilan membeku.

Bian berdiri. "Anisa."

Hanya namanya. Namun dari cara ia mengucapkannya, Anisa tahu ia sedang diperingatkan agar tidak membuat keributan. Di kantor suaminya sendiri, di depan wanita lain yang memakai jas suaminya, ia masih harus menjaga muka keluarga Tanujaya.

Anisa menunduk sebentar. Air menetes dari ujung rambutnya ke lantai. Tetes kecil itu lebih jujur daripada semua orang di ruangan itu.

"Supnya aku bawa pulang," katanya.

Bian tidak menjawab.

Meilan menatapnya dengan mata berkaca-kaca yang terlalu mudah muncul. "Kak Anisa salah paham. Pak Bian dan aku cuma..."

Anisa berbalik sebelum wanita itu menyelesaikan kalimat.

Di lift turun, ia memeluk rantang itu lebih erat. Sup yang tadi masih hangat terasa berat seperti batu. Ketika pintu lift terbuka di lobi, hujan belum berhenti. GoPay-nya tinggal sedikit. Besok ia masih harus membawa Lili ke rumah sakit.

Ia mengayuh pulang.

Di jalan yang basah, lampu-lampu kota pecah menjadi garis panjang. Rantang di keranjang depan bergoyang setiap kali roda sepeda masuk lubang kecil. Air hujan membuat matanya perih. Ia tidak tahu bagian mana yang hujan dan bagian mana yang air mata.

Di Menteng, rumah keluarga Tanujaya masih terang.

Gerbang besi dibuka satpam. Mobil Bian belum ada. Tentu saja belum. Ia masih di kantor bersama Meilan. Atau mungkin setelah ini mereka akan makan malam. Pikiran itu membuat dada Anisa sesak, tetapi ia tidak punya tenaga untuk marah.

Bi Sari menyambutnya di dapur belakang. "Mbak Anisa, Pak Bian makan?"

Anisa menggeleng. "Belum lapar katanya."

Bi Sari melihat rambut dan bajunya yang kuyup. Wanita itu tidak bertanya lagi. Ia hanya mengambil rantang dari tangan Anisa dengan hati-hati, seolah sedang menerima sesuatu yang pecah.

"Dek Lili sudah tidur?"

"Sudah, Mbak. Tapi tadi sempat batuk."

Anisa langsung naik ke loteng.

Di kamar sempit itu, Lili tidur meringkuk di bawah selimut tipis. Wajahnya pucat. Di samping bantal, ada gambar krayon: seorang ayah, seorang ibu, seorang kakak laki-laki, dan seorang anak perempuan kecil sedang melihat kembang api.

Anisa duduk di tepi kasur. Tangannya yang dingin tidak berani menyentuh Lili. Ia menggosok jemarinya ke rok basah, lalu mencium kening putrinya.

"Mama pulang," bisiknya.

Lili bergerak pelan. "Papa pulang?"

Anisa menelan rasa sakit. "Belum, Sayang."

"Papa kerja?"

"Iya."

"Kerja terus biar bisa beli obat Lili?"

Pertanyaan itu polos, tetapi menghantam tepat di tempat yang paling sakit. Anisa mengusap pipi putrinya. "Papa punya banyak urusan."

Lili mengangguk seperti anak baik yang menerima semua alasan orang dewasa. "Kalau Papa pulang, bilang Lili mau peluk."

"Mama bilang."

"Jangan lupa."

"Tidak akan."

Setelah Lili tidur lagi, Anisa berjalan ke meja rias tua untuk mengambil pakaian kering. Di sana, ia melihat sebuah map cokelat yang tidak ada sebelumnya.

Di atasnya tertulis namanya: Anisa Wijaya.

Tangannya gemetar saat membuka map itu. Lembar pertama langsung membuat pandangannya kabur.

Surat Gugatan Cerai.

Di bagian bawah, sudah ada tanda tangan Bian.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Meilan.

"Kak, maaf soal tadi. Pak Bian cuma terlalu kasihan padaku. Semoga Kakak tidak marah, ya."

Anisa menatap layar itu lama sekali.

Di kasur, Lili batuk lagi.

Malam itu, Anisa tidak menangis keras. Ia hanya berdiri dengan baju basah menempel di tubuh, amplop bonus mengerut di dalam tas, surat cerai di tangan, dan batuk anaknya di belakang.

Kelak, ketika hidup mengambil jauh lebih banyak darinya daripada malam itu, Anisa akan mengingat satu hal dengan sangat jelas: sebelum hatinya benar-benar mati untuk Bian, ia pernah mengayuh sepeda menembus hujan hanya untuk membawa semangkuk sup yang bahkan tidak disentuhnya.

Terpopuler

Comments

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Laki2 biadap

2026-06-24

0

Ds Phone

Ds Phone

jantan tak guna

2026-05-30

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!