Bab 4: Bukan Urusanku
"Nyawa anakmu."
Kalimat itu melayang di udara beberapa detik sebelum sampai ke Bian. Anisa bisa mendengar suara samar orang berbicara di latar belakang, denting gelas, mungkin ruang rapat eksekutif atau restoran hotel. Kehidupan Bian selalu penuh tempat terang, dingin, dan mahal. Sangat jauh dari lorong rumah sakit tempat Anisa berdiri dengan map hasil pemeriksaan di dada.
"Anisa," kata Bian, "jangan memakai kata-kata dramatis."
Anisa memejamkan mata. "Dokter bilang transplantasi harus dipercepat."
"Aku sudah tahu dia sakit."
"Kamu tidak tahu seberapa parah."
"Kamu selalu membuat semuanya terdengar lebih parah."
Anisa hampir tertawa. Ia ingin bertanya, kapan terakhir kali Bian melihat Lili muntah setelah kemoterapi? Kapan terakhir kali ia mengganti seprai yang terkena darah mimisan? Kapan terakhir kali ia duduk di samping ranjang rumah sakit sambil menghitung tetes infus karena takut anaknya berhenti bernapas?
Tetapi ia menelan semua itu. Marah tidak akan menyelamatkan Lili.
Malam sebelumnya, ia masih membawa sup untuk pria itu menembus hujan. Hari ini, ia harus meminta setetes kemungkinan untuk anak mereka.
"Bian, Dokter Hendra perlu memeriksa kecocokan sumsum tulang Ziren. Tes awal hanya ambil darah. Tidak akan menyakiti dia."
Di seberang, Bian diam. Untuk sesaat, Anisa berani berharap.
Lalu suara Bian berubah lebih keras. "Jangan bawa-bawa Ziren."
"Dia kakaknya."
"Dia anakku."
"Lili juga anakmu."
Tidak ada jawaban.
Kalimat itu seperti menabrak dinding.
Anisa menggenggam map sampai ujungnya terlipat. "Aku tidak meminta Ziren langsung donor. Aku hanya minta tes. Kalau tidak cocok, kita cari cara lain. Kalau cocok, dokter akan jelaskan semua risiko. Tolong, Bian. Lili tidak punya banyak waktu."
"Anak itu sakit sejak lama. Kenapa sekarang tiba-tiba harus menyeret Ziren?"
Anisa tersentak. "Anak itu?"
"Aku sedang meeting."
"Namanya Lili."
Suara Bian di seberang terdengar jengkel. "Jangan meninggikan suara."
"Namanya Lili," ulang Anisa, kali ini lebih pelan tetapi lebih tajam. "Dia putrimu. Dia menunggu kamu pulang setiap malam. Dia menggambar kamu di kertas-kertas kecil dan bilang nanti kalau sembuh mau lihat kembang api sama Papa. Apa kamu bahkan ingat ulang tahunnya?"
"Cukup."
"Tidak. Kamu yang cukup. Tes darah untuk Ziren bisa menyelamatkan adiknya."
"Bagaimana kalau ada efeknya? Bagaimana kalau dia trauma? Bagaimana kalau nanti donor benar-benar diperlukan dan terjadi sesuatu pada tubuhnya?"
"Dokter akan menjelaskan."
"Aku tidak akan mempertaruhkan Ziren untuk anak yang bahkan..."
Bian berhenti.
Tetapi Anisa sudah mendengar bagian yang tidak selesai.
Anak yang bahkan tidak ia anggap penting.
Udara di sekitar Anisa terasa habis. Orang-orang lewat di lorong rumah sakit. Seorang ayah menggendong anak perempuan kecil sambil bercanda. Seorang ibu membawa kantong obat. Semua bergerak, sementara Anisa berdiri seperti ditinggalkan waktu.
"Bian," katanya, "kalau kamu tidak mau menjadi suami, setidaknya jadilah ayah."
Suara Bian turun menjadi dingin sekali. "Jangan mengajariku."
"Aku memohon."
"Bukan urusanku."
Tiga kata.
Singkat. Bersih. Kejam.
Dadanya terasa kosong, seolah seseorang mencabut udara dari tubuhnya.
Anisa tidak langsung memahami bahwa panggilan sudah diputus. Ia masih menempelkan ponsel di telinga, mendengar nada kosong, seakan mungkin Bian akan kembali dan berkata ia salah bicara. Bahwa ia akan datang. Bahwa ia akan bertemu dokter. Bahwa meski tidak mencintai Anisa, ia masih punya hati untuk Lili.
Tidak ada.
Ponsel turun dari tangannya.
Anisa berjalan ke ujung koridor dan duduk di kursi tunggu. Map hasil pemeriksaan jatuh di pangkuannya. Ia menatap tulisan nama Lili Tanujaya di pojok kertas. Nama keluarga Tanujaya melekat di belakang nama putrinya, tetapi keluarga itu bahkan tidak mau memberikan setetes darah untuk kemungkinan menyelamatkannya.
Pintu lift terbuka.
Dokter Hendra keluar dengan langkah cepat. "Bu Anisa?"
Mungkin perawat melihat wajahnya dan memanggil dokter itu. Anisa ingin berkata ia baik-baik saja. Kebiasaan lama. Jawaban otomatis perempuan yang terlalu sering diminta kuat.
Tetapi kali ini, mulutnya tidak sanggup berbohong.
"Dia menolak," kata Anisa.
Hendra berhenti di depannya. Wajahnya menegang. "Bahkan untuk tes?"
Anisa mengangguk.
Ada kemarahan jelas di mata Hendra sekarang. "Saya bisa menghubungi beliau secara resmi dari rumah sakit."
"Dia akan tetap menolak."
"Kita coba."
"Dok, kalau seorang ayah perlu dipaksa untuk memeriksa apakah darah anaknya bisa menyelamatkan anaknya yang lain, apa itu masih ayah?"
Hendra tidak punya jawaban. Atau mungkin ia punya, tetapi terlalu sopan untuk mengatakannya.
Anisa menunduk. Air mata jatuh ke atas kertas pemeriksaan. Ia cepat-cepat mengusapnya, takut tinta nama Lili luntur.
Di saat yang sama, jauh di gedung SCBD, Bian memasukkan ponsel ke saku jasnya. Wajahnya muram. Di ruang kerjanya, Meilan berdiri di dekat meja membawa dua cangkir kopi.
"Kak Anisa lagi?" tanyanya pelan.
Bian tidak menjawab. Ia mengambil kopi.
Meilan menggigit bibir. "Maaf kalau aku lancang, Pak. Tapi Dek Ziren masih kecil. Aku takut kalau dia sampai harus menjalani prosedur medis, mentalnya terganggu. Dia anak yang sensitif."
Bian mengusap pelipis. "Dia hanya ingin memaksa."
"Kak Anisa pasti panik karena Lili sakit. Tapi panik kadang membuat orang egois."
Kalimat itu masuk tepat ke tempat yang sudah disediakan oleh ego Bian. Ia menatap jendela gelap di depan meja kerjanya. Pantulan wajahnya sendiri terlihat samar.
"Ziren tidak akan ikut tes," katanya.
Meilan menunduk, menyembunyikan senyum kecil di balik cangkir kopi.
Ketika ia keluar dari ruangan Bian, ia berhenti di balik pintu yang masih sedikit terbuka. Ponselnya bergetar. Pesan dari kontak bernama "Tante Indira".
"Pastikan Bian tidak berubah pikiran."
Meilan mengetik cepat.
"Tenang, Tante. Semua masih sesuai rencana."
Ia mengirim pesan itu, lalu melirik kembali ke dalam ruangan. Bian berdiri membelakangi pintu, menatap kota Jakarta tanpa tahu bahwa hidup putrinya baru saja ia buang dengan tiga kata.
Meilan tersenyum.
Di rumah sakit, Anisa akhirnya kembali ke kamar Lili ketika langit sudah benar-benar gelap. Ia mencuci wajah di toilet lebih dulu, menekan kedua pipinya sampai kemerahan, berharap Lili tidak melihat bekas tangis. Tetapi anak-anak punya cara sendiri membaca ibu mereka.
"Mama habis nangis?" tanya Lili begitu Anisa duduk.
Anisa membetulkan selimut. "Mata Mama kena angin."
"Di rumah sakit nggak ada angin."
Anisa terdiam, lalu tertawa kecil. "Lili pintar sekali."
Lili mengangkat tangan lemah dan menyentuh pipi Anisa. "Jangan nangis. Kalau Mama nangis, Lili pengin nangis juga."
Anisa menggenggam tangan itu. "Mama cuma takut."
"Takut disuntik?"
"Lebih dari itu."
"Mama takut Lili jauh?"
Pertanyaan itu membuat Anisa hampir berhenti bernapas. Ia ingin menyangkal cepat, ingin berkata tidak akan ada yang pergi, semua akan baik-baik saja, Mama pasti menyelamatkan Lili. Tetapi kebohongan yang terlalu indah bisa menjadi kejam jika nanti pecah.
"Mama takut waktunya kurang," jawabnya hati-hati.
Lili tampak berpikir. "Kalau takut kehilangan waktu, kita simpan di mana?"
Anisa mencium telapak tangannya. "Di ingatan."
"Seperti parfum?"
"Iya. Seperti parfum."
Lili tersenyum. "Kalau begitu nanti Mama bikin parfum waktu. Biar Mama nggak kehilangan Lili."
Anisa menunduk, menyembunyikan wajah di tangan kecil itu. Ia tidak bisa menjawab. Di luar kamar, langkah Dokter Hendra berhenti sebentar, lalu menjauh lagi. Mungkin ia hendak masuk, tetapi memberi mereka waktu.
Hatinya terasa sakit lebih dalam daripada sebelumnya.
Malam itu, setelah Lili tidur, Anisa membuka aplikasi catatan di ponselnya dan menulis daftar kemungkinan. Donor keluarga: ditolak. Donor non-keluarga: menunggu database. Biaya: belum jelas. Pekerjaan: belum ada. Bantuan Dewi: besok.
Ia menulis sampai matanya buram. Setiap poin seperti batu, tetapi daftar itu membuat ketakutan punya bentuk. Selama sesuatu punya bentuk, mungkin bisa dilawan.
Pesan dari Bian tidak pernah datang. Sebaliknya, satu pesan dari Dewi masuk menjelang tengah malam.
"Besok aku jemput kalau perlu. Kamu harus punya jalan keluar, Nis. Bukan hanya untuk Lili. Untuk kamu juga."
Anisa membaca kalimat itu berulang-ulang. Untuk kamu juga. Ia hampir lupa bahwa dirinya termasuk orang yang perlu diselamatkan.
Ia menatap wajah Lili yang tertidur, lalu untuk pertama kalinya malam itu berani membayangkan satu kemungkinan kecil: bagaimana jika ia dan Lili bisa hidup di tempat yang tidak membuat mereka meminta maaf karena membutuhkan ruang? Bayangan itu masih kabur, tetapi cukup untuk membuatnya bertahan sampai pagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Dibalik Senja
Kaya tp bodoh bisa2nya termakan hasutan orang ....tdk apa2 psti bdai akan berlalu
2026-06-24
0
Ds Phone
keras betul hati ayah nya
2026-05-30
0