Episode 3

Bab 3: Darah yang Tidak Pernah Cukup

Bau antiseptik di RS Pondok Indah selalu membuat Anisa ingin muntah.

Bukan karena baunya terlalu tajam. Ia sudah mengenal bau itu selama berbulan-bulan. Justru karena terlalu akrab. Bau itu menempel pada rambut Lili, pada baju tidur kecilnya, pada selimut yang Anisa bawa pulang untuk dicuci. Bau rumah sakit perlahan menggantikan bau anak-anak yang seharusnya penuh minyak telon, sabun bayi, dan permen susu.

Di tas Anisa, kuitansi obat dari uang bonus semalam masih terlipat basah. Angkanya kecil, tetapi mengingatkannya bahwa setiap napas Lili selalu harus dibeli.

Pagi itu Lili duduk di ranjang pemeriksaan dengan kaki menggantung. Ia memeluk boneka kelinci lusuh, hadiah dari Dokter Hendra saat pertama kali ia menjalani kemoterapi. Wajahnya pucat, tetapi begitu melihat Anisa masuk, ia langsung tersenyum.

"Mama datang cepat sekali."

Anisa memaksa senyum. "Mama naik ojek online paling kencang."

"Ngebut?"

"Sedikit."

Lili tertawa pelan, lalu batuk. Batuknya tidak keras, tetapi cukup membuat bahu kecilnya bergetar. Anisa langsung mengambil tisu. Tidak ada darah kali ini, tetapi ketakutan sudah lebih dulu naik ke tenggorokannya.

Pintu ruangan terbuka. Dokter Hendra Simatupang masuk membawa map hasil pemeriksaan. Ia masih memakai jas putih, rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena sejak pagi sudah berkeliling bangsal.

"Selamat pagi, Lili."

"Pagi, Dokter Kakak."

Hendra tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. Anisa menangkap itu dan lututnya melemas.

"Bu Anisa, bisa bicara sebentar di luar setelah saya periksa Lili?"

Anisa mengangguk.

Pemeriksaan berlangsung singkat. Hendra bertanya apakah Lili masih pusing, apakah demamnya turun, apakah mimisan lagi. Lili menjawab dengan suara kecil, sesekali melirik Anisa seperti ingin memastikan ibunya tidak khawatir.

"Lili anak hebat," kata Hendra sambil menempelkan stetoskop. "Napas panjang, ya."

Lili menarik napas. Setelah selesai, ia berbisik, "Kalau Lili hebat, boleh pulang?"

Hendra terdiam sepersekian detik. "Kita lihat dulu, ya."

Jawaban itu cukup bagi Anisa untuk tahu.

Di lorong, suara langkah orang lewat terdengar terlalu ramai. Anisa berdiri menghadap jendela besar yang memperlihatkan halaman rumah sakit. Di bawah sana, mobil-mobil mewah berhenti bergantian. Sopir membuka pintu. Orang-orang masuk dengan tas branded dan wajah cemas yang tetap terawat.

"Bu Anisa," Hendra memulai hati-hati, "hasil darah Lili memburuk."

Anisa sudah menduga, tetapi tubuhnya tetap dingin. "Seberapa buruk?"

Hendra membuka map. Ia tidak menyodorkan angka-angka itu langsung. Mungkin ia tahu angka tidak akan membantu ibu yang sedang berusaha bernapas.

"Sel blast meningkat. Transfusi bisa membantu sementara, tapi bukan solusi. Kemoterapi terakhir tidak memberi respons yang kita harapkan."

"Jadi?"

"Kita harus mempercepat transplantasi sumsum tulang."

Kata itu jatuh seperti pintu besi.

Anisa menggenggam ujung cardigan. "Saya sudah minta Bian. Dia belum setuju."

Hendra menatapnya. Dalam tatapan dokter itu ada kemarahan yang ditahan, tetapi suaranya tetap profesional. "Saya perlu bicara langsung dengan Pak Bian. Secara medis, donor dari saudara kandung adalah kandidat yang paling perlu diperiksa dulu. Tes HLA tidak berarti langsung donor. Kita hanya mencari kecocokan."

"Dia bilang ada risiko untuk Ziren."

"Setiap prosedur ada risiko, tapi tes awal hanya pengambilan sampel darah. Saya bisa jelaskan semua."

Anisa tertawa hampa. "Dia tidak mau mendengar penjelasan saya."

"Kalau begitu biarkan saya yang menjelaskan."

Anisa menunduk. Di balik pintu kaca, Lili sedang menyusun boneka kelincinya di atas bantal. Anak itu bahkan tidak tahu tubuhnya sedang berlomba melawan waktu.

"Berapa lama, Dok?" tanya Anisa lirih.

Hendra tidak langsung menjawab.

Itulah jawaban paling jujur.

Ujung jari Anisa mendadak dingin.

"Kalau tidak ada transplantasi, kita bicara dalam hitungan bulan. Mungkin lebih cepat kalau infeksi datang lagi."

Anisa merasa lantai bergerak. Ia memegang dinding. Hendra refleks mengulurkan tangan, tetapi tidak menyentuh sebelum Anisa mengangguk. Sikap kecil itu membuat air mata Anisa hampir tumpah. Ia sudah terlalu lama hidup di rumah di mana tubuh dan perasaannya tidak pernah diminta izin.

"Maaf," katanya.

"Tidak perlu minta maaf."

Anisa menarik napas panjang. "Saya akan coba lagi."

"Saya ikut."

"Bian tidak suka orang luar ikut campur."

"Kalau menyangkut pasien saya, saya harus ikut campur."

Ketegasan Hendra membuat Anisa terdiam. Untuk sesaat, ia ingin menangis bukan karena sedih, tetapi karena ada seseorang yang menganggap nyawa Lili cukup penting untuk diperjuangkan.

Mereka kembali ke ruangan. Lili langsung mengangkat gambar kecil dari buku mewarnai. "Mama, lihat. Ini Lili gambar bunga."

Anisa duduk di sampingnya. "Cantik sekali."

"Nanti kalau Lili sudah sembuh, Mama bikin parfum yang wanginya seperti bunga ini, ya?"

"Iya."

"Terus Papa cium juga. Biar Papa suka."

Anisa membeku.

Hendra yang berdiri di dekat pintu menundukkan kepala. Mungkin ia pura-pura membaca catatan agar tidak melihat air mata Anisa.

Anisa mengusap pipi Lili. "Sayang, Papa pasti suka kalau Lili yang pilih."

Lili tersenyum puas. "Koko Ziren juga. Biar Koko nggak marah-marah."

Di luar ruangan, seorang anak tertawa. Di dalam, Anisa merasakan hatinya remuk semakin halus. Lili masih ingin menyatukan keluarga yang bahkan tidak pernah benar-benar memberinya tempat.

Ia menggigit bagian dalam bibirnya sampai terasa asin.

Sore harinya, setelah Lili tertidur, Hendra menyerahkan surat rekomendasi pemeriksaan HLA untuk keluarga inti. "Bawa ini ke Pak Bian. Kalau perlu, saya siap datang ke rumah."

Anisa menerima map itu dengan kedua tangan.

Kertas putih itu tipis, tetapi beratnya seperti satu-satunya tali yang tersisa.

Saat ia keluar dari rumah sakit, langit Jakarta sudah mulai gelap. Anisa membuka aplikasi untuk memesan Grab, tetapi ponselnya bergetar sebelum ia sempat mengetik tujuan.

Nama Bian muncul di layar.

Untuk pertama kalinya hari itu, Anisa merasa ada harapan kecil.

Ia mengangkat cepat. "Bian, aku memang mau bicara soal Lili."

Di seberang, suara Bian terdengar dingin.

"Aku ada meeting sampai malam. Jangan ganggu kalau bukan urusan penting."

Anisa menatap map di tangannya.

"Ini soal nyawa anakmu."

Sebelum Bian menjawab, sambungan di ujung sana terdengar seperti berpindah tempat. Ada suara pintu tertutup, lalu keheningan yang lebih privat. Anisa berdiri di depan pintu keluar rumah sakit, map pemeriksaan menempel di dadanya, dan menunggu. Ia membenci dirinya karena masih menunggu dengan harapan.

"Aku sudah bilang jangan membahas ini lewat telepon," kata Bian akhirnya.

"Kalau aku menunggu kamu punya waktu, Lili mungkin tidak punya waktu lagi."

"Kamu selalu memojokkan aku."

Anisa memandang pintu kaca rumah sakit. Di pantulannya, ia melihat wajah perempuan yang lelah, rambut berantakan, mata merah. Apakah ini wajah seseorang yang sedang memojokkan pria kaya dan berkuasa? Atau wajah seseorang yang sudah terlalu lama terpojok?

"Aku tidak memojokkanmu. Aku memohon."

"Memohon dengan nada seperti itu?"

"Nada seperti apa yang kamu mau dari ibu yang baru diberi tahu anaknya bisa mati dalam hitungan bulan?"

Bian diam.

Di belakang Anisa, seorang perawat mendorong kursi roda. Seorang anak laki-laki di kursi roda tertawa karena ayahnya membuat wajah lucu. Anisa menatap mereka sebentar, iri pada hal sesederhana ayah yang hadir.

"Aku bisa kirim hasil pemeriksaan ke emailmu," lanjut Anisa. "Dokter Hendra juga bersedia bicara kapan pun."

"Aku tidak suka dokter itu terlalu ikut campur."

"Dia ikut campur karena dia dokter Lili."

"Atau karena dia terlalu peduli padamu?"

Anisa tercekat. Di titik hidup dan mati, Bian masih sempat cemburu pada orang yang membantu anaknya.

"Kamu dengar dirimu sendiri?" tanyanya pelan.

"Aku dengar istriku terus menyebut nama pria lain."

"Karena pria itu satu-satunya yang menjelaskan kondisi Lili kepadaku dengan manusiawi."

Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang ia rencanakan. Tetapi setelah terucap, Anisa tidak menyesalinya.

Bian berkata dengan suara rendah, "Pulang. Kita bicara di rumah."

"Bicaralah sekarang. Aku butuh jawaban."

"Aku tidak bisa memberi keputusan soal Ziren hanya karena kamu panik."

"Ini bukan panik. Ini hasil lab."

"Aku akan lihat nanti."

"Nanti kapan?"

Tidak ada jawaban jelas. Hanya napas jengkel. Anisa tahu pola itu. Bian akan menunda, menghindar, lalu menyebutnya cerewet ketika ia bertanya lagi.

"Bian," katanya, "kalau kamu menolak, katakan menolak. Jangan sembunyikan kekejaman di balik kata nanti."

Sambungan itu hening. Lalu suara Bian menjadi dingin sepenuhnya.

Terpopuler

Comments

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Dia akan menyesal setelah lili tiada dan bhkan dia akan akan menyesal seumur hidup

2026-06-24

0

⋆.˚Khaira🦋

⋆.˚Khaira🦋

bian perlu di sentil ginjalnya ini kayanya 🤨

2026-07-28

0

Ds Phone

Ds Phone

ada bapak tak guna macam tu

2026-05-30

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!