Bab 2: Hanya Sebuah Nama
Pagi di rumah Tanujaya selalu dimulai dengan suara yang rapi.
Sendok porselen menyentuh piring mahal, mesin kopi berdengung halus, Bi Sari memberi instruksi pelan kepada dua pembantu lain, dan dari taman belakang terdengar percikan air kolam. Rumah besar di Menteng itu tampak sempurna dari luar. Terlalu sempurna, sampai tidak ada tempat bagi orang yang sedang hancur.
Sepatu karet Anisa dari hujan semalam masih belum kering di sudut loteng. Rantang sup yang tidak disentuh Bian sudah dicuci Bi Sari, tetapi rasa malunya belum hilang.
Anisa turun dari loteng sambil menggandeng Lili. Putrinya memakai kardigan kuning pudar dan topi rajut kecil untuk menutupi rambut yang semakin tipis karena pengobatan. Lili berjalan pelan, tetapi ketika melihat meja makan besar, ia tetap tersenyum.
"Mama, Papa ada?"
Anisa menahan nyeri di dada. "Ada, Sayang."
Bian duduk di kursi utama, membaca berita bisnis di tabletnya. Di sebelahnya, Ziren, anak laki-laki berusia tujuh tahun, sedang menusuk sosis dengan garpu. Meilan juga ada di sana. Entah sejak kapan sekretaris itu punya hak duduk di meja makan keluarga pada pagi hari.
"Pagi, Kak Anisa," sapa Meilan manis.
Anisa tidak menjawab. Ia membantu Lili duduk di kursi paling ujung, jauh dari Bian.
Ziren menoleh. Begitu melihat Lili, wajahnya langsung berubah cemberut. "Kenapa dia makan di sini?"
Anisa menarik napas. "Ziren, ini rumah adikmu juga."
"Dia bukan adikku!" Ziren membanting garpu. "Tante Mei bilang Papa cuma sayang aku. Dia anak sakit. Nanti semua orang repot gara-gara dia."
Meilan langsung meletakkan tangan di dada. "Aduh, Dek Ren, Tante tidak pernah bilang begitu. Mungkin kamu salah dengar."
Ziren tidak peduli. Ia meraih gelas susu di depannya. Sebelum Anisa sempat bergerak, anak itu berdiri dan menuangkan susu ke pangkuan Anisa.
Cairan dingin meresap ke rok Anisa. Lili terpekik kecil.
"Ziren!" Anisa berdiri refleks.
Anak itu menunjuk wajahnya. "Kamu bukan Mama aku! Jangan sok-sok marah!"
Meilan buru-buru mengambil tisu. "Kak, maaf. Anak kecil memang belum mengerti."
Bian akhirnya mengangkat wajah dari tablet. Ia melihat rok Anisa yang basah, Ziren yang masih memegang gelas kosong, lalu Lili yang ketakutan. Wajahnya tidak berubah.
"Ziren, jangan ribut," katanya singkat.
Hanya itu.
Anisa menunggu satu kalimat lain. Minta maaf pada Mama. Jangan memperlakukan orang seperti itu. Apa pun. Tetapi Bian sudah kembali melihat tablet.
Lili turun dari kursinya dan memegang ujung baju Anisa. "Mama basah."
"Tidak apa-apa," jawab Anisa pelan.
Meilan mengulurkan tisu. "Kak Anisa, jangan marah pada Dek Ren. Dia masih kecil. Lagi pula, mungkin dia cuma kangen perhatian Kakak. Selama ini Kakak kan lebih sibuk sama Lili."
Kalimat itu terdengar lembut, tetapi isinya tajam. Anisa menatap Meilan. Wanita itu tersenyum dengan mata yang tampak polos.
"Meilan," kata Anisa, "kalau kamu benar-benar peduli pada anak kecil, kamu tidak akan memakai mulut anak kecil untuk menyakiti orang lain."
Meilan terdiam.
Bian meletakkan tabletnya dengan keras. "Anisa, cukup."
Anisa tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan karena ia sudah terlalu lelah. "Cukup? Yang cukup itu apa, Bian? Aku yang basah kuyup di meja makan, atau kamu yang bahkan tidak bisa menyuruh anakmu meminta maaf?"
Wajah Bian mengeras. "Jangan mulai drama pagi-pagi."
Drama.
Kata itu menampar Anisa lebih dingin daripada susu di roknya.
Senyumnya nyaris runtuh, tetapi Lili masih menatapnya.
Ia menggandeng Lili. "Ayo, Sayang. Kita makan di atas."
Ziren berteriak dari belakang, "Memang tempat kalian di atas! Di loteng!"
Tidak ada yang menegur.
Anisa membawa Lili naik tangga. Di tengah jalan, ia mendengar Meilan berkata pelan, cukup keras untuk didengar, "Kasihan Pak Bian. Di rumah sendiri pun tidak tenang."
Di kamar loteng, Anisa mengganti rok basahnya. Lili duduk di kasur sambil memegang gambar kembang api yang semalam ia buat. Mata kecilnya basah, tetapi ia berusaha tidak menangis.
"Mama, Koko Ziren benci Lili?"
Anisa berlutut di depan putrinya. "Koko Ziren sedang bingung. Kadang orang dewasa mengatakan hal buruk, lalu anak kecil menirunya."
"Papa juga benci Lili?"
Pertanyaan itu membuat Anisa kehilangan suara.
Ia memeluk Lili. Tubuh kecil itu terlalu ringan. Tulangnya terasa jelas di bawah kardigan. Anisa memejamkan mata, menahan sesuatu yang hendak pecah.
"Mama sayang Lili," jawabnya. "Itu yang paling penting."
Setelah Lili tertidur lagi karena lelah, Anisa mengambil ponsel. Ia membuka ruang chat dengan Dewi Pranoto, kakak tingkatnya di UI yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia curhat tanpa dihakimi.
Jarinya sempat berhenti di atas tombol rekam.
Di rumah ini, ia selalu diajari untuk diam. Menjaga nama baik keluarga. Tidak mempermalukan suami. Tidak membuat masalah menjadi besar. Tetapi diam tidak pernah menyelamatkannya. Diam hanya memberi ruang lebih luas bagi orang lain untuk menginjaknya.
Anisa menekan tombol rekam.
"Kak Dewi..." Suaranya pecah sejak kata pertama. Ia cepat-cepat menutup mulut, takut Lili bangun.
Ia mencoba lagi.
"Kak, aku sudah tidak kuat lagi. Pagi ini Ziren menuangkan susu ke bajuku. Bian melihat, tapi tidak melakukan apa-apa. Meilan ada di meja makan, seolah dia bagian dari rumah ini. Aku... aku tahu aku kembali ke sini demi Lili, tapi kadang aku takut, Kak. Takut aku tidak sempat menyelamatkan anakku."
Pesan suara terkirim.
Tidak sampai satu menit, Dewi membalas.
"Nis, dengarkan aku. Kamu tidak sendirian. Nanti siang aku telepon. Sekarang peluk Lili dulu. Tarik napas. Satu-satu kita cari jalan."
Anisa menatap pesan itu. Air matanya jatuh diam-diam.
Sebelum ia sempat membalas, ponselnya berdering. Nomor rumah sakit.
Jantung Anisa langsung mencelos.
"Halo?"
Suara perawat di seberang terdengar tegang. "Ibu Anisa? Bisa segera datang ke RS Pondok Indah? Putri Anda perlu diperiksa ulang hari ini. Dokter Hendra menunggu."
Anisa berdiri terlalu cepat sampai kepalanya berkunang-kunang.
"Ada apa dengan Lili?"
Perawat itu diam sesaat.
"Lebih baik Ibu datang sekarang."
Anisa menurunkan ponsel dengan tangan gemetar. Ia tidak langsung bergerak. Selama beberapa detik, tubuhnya seperti lupa cara berjalan. Di atas kasur, Lili masih tidur dengan wajah damai, sama sekali tidak tahu bahwa satu panggilan telepon sudah cukup membuat dunia ibunya jungkir balik.
Ia mengambil tas kecil berisi kartu identitas, buku kontrol rumah sakit, dan botol obat yang selalu disiapkan di laci. Gerakannya cepat tetapi kacau. Dua kali ia menjatuhkan kunci, sekali hampir lupa membawa masker cadangan Lili. Ketika Bi Sari muncul di pintu karena mendengar suara tergesa, Anisa sudah menggendong Lili yang terbangun kebingungan.
"Mbak, kenapa?"
"Rumah sakit telepon. Saya harus ke sana."
Bi Sari langsung mengambil jaket kecil Lili. "Saya panggil sopir?"
Anisa hampir berkata iya, lalu teringat bahwa sopir keluarga hanya bergerak atas perintah Bian atau Indira. Jika ia membangunkan Indira, pagi ini akan berubah menjadi sidang lain. Ia menggeleng.
"Saya pesan Grab."
"Mbak, biar saya ikut."
"Tidak perlu, Bi. Kalau ada yang tanya, bilang Lili kontrol mendadak."
Bi Sari menahan air mata. "Hati-hati, Mbak."
Di bawah, ruang makan sudah kosong. Susu yang tumpah tadi sudah dibersihkan, seolah penghinaan itu tidak pernah terjadi. Hanya bau sabun lantai yang tersisa. Anisa melewati meja itu dengan Lili di pelukan, dan untuk sesaat ia melihat kursi Bian yang kosong.
Sungguh mudah bagi mereka menghilang setelah melukai.
Mobil Grab datang delapan menit kemudian. Di perjalanan, Lili bersandar di dada Anisa.
"Mama, kita ke Dokter Kakak?"
"Iya."
"Lili nakal ya? Makanya sakit lagi?"
Anisa langsung memeluknya lebih erat. "Tidak. Lili tidak nakal."
"Koko bilang Lili bikin repot."
Anisa menahan napas. Kata-kata yang ditanam Meilan sudah tumbuh di tubuh sekecil ini. "Lili bukan repot. Lili anak Mama."
"Kalau Lili sakit terus, Mama capek?"
"Capek boleh. Menyesal tidak."
Lili tampak tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia tersenyum kecil. "Lili senang jadi anak Mama."
Anisa menoleh ke jendela agar sopir tidak melihat air matanya. Jalanan pagi Jakarta mulai padat. Bagi dunia, hari ini hanya pagi lain. Bagi Anisa, ini mungkin pagi ketika ia mendengar berapa banyak waktu yang masih dimiliki anaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ds Phone
ada manusia tak ada hati perut
2026-05-30
0
Dibalik Senja
sebegitunya ya gusti
2026-06-24
0