Kanaya putri (20), gadis polos dan lugu yang hidupnya langsung berubah saat bertemu dengan pria bernama Bara Alexander (28). Kanaya yang biasa hidup bebas tiba-tiba harus terpenjara di sangkar emas milik Bara.
Bagaimana kelanjutan hidup Kanaya?.
Apa yang sudah terjadi di antara Bara dan Kanaya sampai Bara sangat terobsesi pada Kanaya?.
ikuti terus kelanjutan ceritanya ya 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungabunga2929, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bara terus melangkah tegap menaiki tangga menuju kamarnya sambil menggendong erat Kanaya di pelukannya.
Kanaya sendiri menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara, merasa pipinya memanas. Kanaya bisa merasakan detak jantung Bara yang berdetak tenang dan kuat. Membuat hatinya ikut berdebar.
"Kenapa kak Bara memperlakukan aku seperti ini si, aku kan jadi mengira kak Bara memiliki perasaan padaku. Padahal kan aku tahu, hubungan ini hanyalah pernikahan kontrak" batin Kanaya.
Sesampainya di dalam kamar, Bara menurunkan Kanaya perlahan di tepi tempat tidur. Namun tangannya tidak segera melepaskan, melainkan tetap menangkup wajah Kanaya dengan lembut.
"Kenapa kamu makan bersama mereka semua. Kita aja belum pernah makan bersama seperti itu" ucap Bara dengan wajah cemburunya.
"Maaf. Aku cuma gak suka aja makan sendirian. Makanya aku ajak mereka semua makan bersama" ucap Kanaya.
"Seharusnya kamu melakukan itu bersamaku, bukan bersama mereka. Pokoknya aku juga mau makan bersama kamu hanya kita berdua. Aku mau makanan yang sama seperti yang kamu makan bersama mereka tadi" ucap Bara.
"Kan kak Bara pergi. Lagipula aku gak tahu kapan kak Bara pulang. Kakak aja pergi gak pamit sama aku" ucap Kanaya.
"Deg".
Bara merasa sangat bersalah setelah mendengar ucapan Kanaya.
"Em .. Maaf, ini salahku karena pergi tanpa pamit. Saat itu kamu sedang tertidur sangat pulas, jadi aku gak tega buat banguninnya" ucap Bara.
"Seharusnya kak Bara bangunin aku aja. Aku khawatir tahu karena kakak gak ada kabar" ucap Kanaya dengan wajah kesalnya.
"Kamu khawatir sama aku?" ucap Bara dengan wajah berbinar.
"A-aku...".
"Astaga, kenapa aku bisa bilang kaya gitu si. Aku gak berhak marah dong. Disini posisiku kan cuma istri kontrak" batin Kanaya.
"Wah, gadisku sudah mulai mengkhawatirkanku. Itu artinya dia mulai memiliki perasaan padaku" batin Bara.
"Iya, kali ini aku memang salah. Maaf ya. Tapi aku janji, lain kali aku pasti akan pamit kalau mau pergi kemanapun. Aku akan memberitahukan semua kegiatanku biar kamu gak khawatir lagi" ucap Bara sambil tersenyum.
"Em... Gak harus sampai seperti itu juga. Lagipula aku ini cuma istri kontrak kan. Maaf ya kalau tadi aku agak berlebihan" ucap Kanaya.
"Kata-kata itu lagi. Aku sangat tidak suka saat gadisku mengucapkan kalimat istri kontrak" batin Bara.
"Kalaupun nanti kamu gak mau tahu tentang semua kegiatanku, aku akan tetap memberitahumu. Kita ini udah menjadi suami istri yang sah".
"Kalau gitu aku mau mandi dulu" ucap Bara dengan wajah yang sudah memerah menahan kesal.
"Marah lagi?".
"Sebenarnya apa yang membuat kak Bara marah si" gumam Kanaya merasa bingung.
"Huft... Lebih baik aku siapkan makan malam buat kak Bara. Dia pasti lapar, tadi kak Bara juga mau makan makanan yang aku makan kan. Semoga aja setelah ini dia gak marah lagi" batin Kanaya.
Di dalam kamar mandi, Bara langsung mengguyur kepalanya dengan air dingin untuk meredakan kekesalannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar gadisku tidak selalu memikirkan tentang perjanjian kontrak itu".
"Apa aku harus...".
Tiba-tiba Bara terlintas sebuah ide yang menurutnya cukup efektif.
"Benar, aku harus mempunyai anak dengan gadisku. Pasti setelah itu dia tidak akan bisa pergi meninggalkanku" gumam Bara.
Setelah mendapatkan ide tersebut, dengan cepat Bara membersihkan tubuhnya.
Di dapur, Kanaya sedang memasak mie instan untuk Bara. Dia sengaja memasak sendiri agar Bara tidak lagi marah padanya. Walaupun dirinya tidak tahu apa yang membuat Bara kesal padanya, tapi Kanaya tidak ingin Bara terus marah padanya.
"Nyonya, biarkan saya saja yang memasak. Kalau tuan lihat nyonya di dapur pasti akan langsung marah" ucap bi Wati.
"Gak papa bi, biar aku aja yang masak. Lagipula ini cuma masak mie instan aja kok" ucap Kanaya.
"Tapi nyonya....".
"Aduh bagaimana ini, tuan kan tidak pernah makan mie instan. Bagaimana kalau tuan marah setelah melihat apa yang nyonya masak" batin bi Wati dengan wajah paniknya.
"Udah bi gak usah panik gitu, sebentar lagi selesai kok. Kak Bara gak akan memarahi bibi" ucap Kanaya sambil tersenyum.
"Bibi tidak takut dimarahi nyonya, justru bibi takut tuan akan....".
Belum sempat bi Wati melanjutkan ucapannya, Bara ternyata sudah berada di area dapur.
"Kamu sedang apa disini sayang?" tanya Bara.
"Eh kak Bara udah selesai mandi. Ini aku lagi masak. Tadi katanya kak Bara mau makan seperti yang aku makan bersama yang lain".
"Yuk duduk, kak Bara pasti lapar kan" ucap Kanaya.
"Kamu memasak sendiri?" kaget Bara.
"Iya" ucap Kanaya sambil tersenyum.
Dengan wajah marahnya, Bara menatap para maid yang sedang berdiri di dekat dapur.
"Kenapa kalian semua membiarkan istriku memasak hah!" marah Bara.
"Tuan, tadi kami sudah melarang nyonya. Tapi nyonya tetap ingin memasak sendiri" ucap salah satu maid.
"Ih... kak Bara, jangan marahi mereka. Aku sendiri yang ingin memasak. Aku ingin memasak makanan buat kakak" ucap Kanaya.
"Tapi di dapur itu bahaya, gimana kalau kamu kena api atau minyak" ucap Bara dengan lembut.
"Ya ampun, lihat aku baik-baik aja kan. Udah, jangan memarahi mereka. Aku sendiri yang ingin memasak" ucap Kanaya.
"Baiklah, tapi lain kali kamu gak perlu memasak. Aku gak mau sampai kamu terluka" ucap Bara.
"Ya ampun, gak usah berlebihan deh kak. Yaudah, yaudah. Lebih baik sekarang kita makan yuk. Aku udah masak makanan spesial buat kamu" ucap Kanaya sambil menunjukan hasil masakannya.
Bara yang melihat apa yang Kanaya masak langsung mengerutkan dahinya.
"Ini mie instan?" tanya Bara.
"Iya betul. Oh iya, kak Bara kenapa gak punya stok mie instan si. Aku kan jadi harus beli dulu" ucap Kanaya.
"Kamu pergi keluar tadi?" kaget Bara.
"Iya, tadi aku pergi belanja di temani sama bi Wati. Aku beli banyak banget mie instan dan juga Snack. Kak Bara tahu, aku belanja sampai dua kantong besar" cerita Kanaya dengan antusias.
Bara sendiri dengan penuh perhatian mendengarkan Kanaya bercerita.
"Maaf ya, lain kali aku pasti akan menyediakan mie instan yang banyak buat kamu. Yaudah, sekarang ayo kita makan. Aku udah gak sabar mau mencoba masakan kamu" ucap Bara.
"Yaudah ayo duduk" ucap Kanaya.
Bi Wati dan para maid langsung terkejut mendengar ucapan Bara. Mereka langsung berbisik-bisik melihat sikap Bara tadi.
"Aku kira tuan akan marah setelah melihat apa yang nyonya masak".
"Iya aku juga udah takut tadi. Padahal kan selama ini tuan tidak pernah makan mie instan dan sangat membenci makanan seperti itu. Tapi hari ini tuan senang karena dimasakin mie instan".
"Sepertinya nyonya sudah membuat tuan Bara berubah".
"Iya benar, baguslah kalau seperti itu".