Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Rasa pahit minuman keras itu turun menyusuri kerongkongannya seperti api cair, membakar isi perutnya, tapi Zaira tak berhenti. Satu gelas. Dua. Tiga.
Setiap tegukan adalah perisai darurat melawan suara-suara yang bergema tanpa ampun di kepalanya: tumpukan tagihan di meja dapur, bercap merah bertuliskan "Jatuh Tempo". Buku-buku kuliah yang tak lagi mampu ia beli. Batuk kering ibunya yang terdengar setiap malam menembus dinding setipis kertas.
Ia menelan dan tertawa, seolah alkohol bisa menghapus kenyataan. Seakan untuk beberapa jam, ia bisa membius rasa sakit.
Duduk di salah satu sofa samping klub, di bawah cahaya temaram yang menyepuh kulitnya dengan rona kuning kecokelatan, Zaira tertawa untuk sesuatu yang bahkan tak ia mengerti. Pipinya memerah oleh alkohol, matanya berbinar seperti bintang-bintang yang tersesat, dan tubuhnya berayun mengikuti irama musik berat yang menggetarkan dinding.
Di sampingnya, Tatiana tersenyum dipaksakan, berpura-pura menikmati, sementara matanya mengkhianati rasa bersalah yang menggerogoti batinnya. Sesekali ia melempar pandangan gugup ke arah balkon privat, tempat Sergio, sang pemilik klub, memberinya isyarat kecil dengan gerakan kepala.
Beban di pundaknya terasa mencekik.
Tatiana menelan ludah, membenahi gaun pendeknya, merasakan berat amplop berisi janji-janji yang belum kelihatan di tangannya.
"Kamu tahu, Tati?" Zaira mengoceh, menjatuhkan kepalanya ke bahu sahabatnya, napasnya beraroma rum murah. "Kadang... kadang aku bermimpi ada pria kaya, tahu kan?, jatuh cinta padaku... lalu mengeluarkanku dari neraka ini." Ia tertawa, tawa yang patah dan getir, terdengar seperti ratapan yang hilang ditelan musik.
"Konyol, ya?" ia menertawakan dirinya sendiri, kata-katanya terseret dan rapuh. "Gadis miskin diselamatkan pangeran jutawan! Lelucon macam apa itu!"
Tatiana memejamkan mata sedetik, membiarkan rasa bersalah mencakar jiwanya.
Ia sedang menjual sahabatnya sendiri.
Namun ia tetap membelai rambut Zaira yang kusut dengan kelembutan yang munafik, seakan sentuhan itu bisa menebus dosanya.
"Itu tidak konyol, Zai..." bisiknya, suaranya sedikit bergetar. "Kadang hidup... memberi kita kesempatan di tempat yang paling tak kita duga."
Zaira mengangkat wajah, matanya berkilau oleh campuran alkohol dan kesedihan.
Sebelum ia sempat menjawab, dua pria pengamanan bertubuh besar berbalut setelan hitam yang rapi tanpa cela muncul di hadapan mereka seperti bayangan berat.
Musik seakan mengabur, udara menjadi pekat.
"Nona," ucap salah satu, suaranya berat tapi sopan, "pemilik klub ingin mengundang kalian ke area yang lebih privat, demi kenyamanan kalian."
Zaira mengerjap, bingung. Dunia di sekelilingnya berputar seperti komidi putar yang rusak.
"Kami?" ia mengoceh dengan tawa kecil tak percaya.
"Ya," pengawal itu mengangguk, mengulurkan tangan dengan tegas, tak terbantahkan.
Ia menoleh pada Tatiana, mencari jawaban, mencari pegangan.
Tatiana membalasnya dengan senyum patah—senyum yang tak sanggup Zaira baca.
"Pergilah, Nak," gumamnya. "Kamu terlalu mabuk untuk tetap di sini. Aku menyusul sebentar lagi."
Kehangatan suaranya adalah kebohongan yang dibungkus beludru.
Zaira, terhuyung, menyambut tangan pengawal itu. Sol sepatu botnya yang aus berdengung sayup di lantai mengilap saat ia dituntun menyusuri koridor berlapis beludru gelap, disinari samar oleh lampu-lampu keemasan.
Udara berbau parfum mahal dan rahasia yang membusuk.
Mereka tiba di sebuah lift privat. Kabinnya naik dalam senyap, seperti sebuah vonis. Ketika pintunya terbuka, yang muncul di hadapannya adalah dunia lain: sebuah suite mewah berukuran mustahil. Sofa kulit hitam tertata rapi sempurna, permadani Persia yang empuk, dinding marmer yang memantulkan cahaya lembut lampu-lampu kristal.
Aroma memabukkan dari kayu-kayu mahal dan wiski tua memenuhi ruangan.
"Tunggu di sini, ya," kata pengawal itu sebelum pergi.
Zaira menjatuhkan diri ke salah satu sofa, kepalanya terkulai ke belakang, matanya terpejam. Sunyi total, kecuali dengung tumpul jantungnya sendiri. Segalanya berputar. Rasa bersalah, ilusi tolol itu, ketakutan.
Dan ia tak tahu bahwa di balik pintu berat itu, sudah melangkah ke arahnya lelaki yang akan mengubah segalanya.
Di sudut lain klub, di ruang kerja privat, Tatiana menerima bayarannya. Sebuah amplop tebal yang berbau uang baru dan pengkhianatan.
"Jangan khawatir," ujar sang pemilik klub sambil membetulkan kancing manset kemejanya yang dijahit khusus. "Beberapa jam lagi, temanmu akan mendapatkan hidup yang selalu ia impikan... atau yang pantas ia terima."
Tatiana mendekap amplop itu ke dadanya, tangannya sedingin marmer. Sesaat pandangannya bersirobok dengan Sergio. Dan ia tahu ia telah menjual sesuatu yang takkan pernah bisa ia tebus kembali.
Leonardo Santos meneguk sisa terakhir wiskinya di ruang privat sebelah. Minuman itu meluncur di kerongkongannya, meninggalkan rasa pahit yang tak sanggup menghapus kekosongan di dadanya.
Cahaya hangat membelai wajahnya yang keras, terukir garis-garis yang bercerita tentang lima puluh tahun yang ia jalani dengan intens dan sendirian. Bayangan di cermin memantulkan sosok lelaki yang berkuasa... dan teramat kesepian.
Ia tak punya istri. Tak punya anak. Bahkan tak punya rumah yang bisa ia sebut sebagai tempat pulang.
Hanya uang. Dan hantu-hantu.
Dengusan getir lolos dari bibirnya saat ia meletakkan gelas kristal itu di atas meja. Matanya yang gelap berkilat sekejap, sarat kesedihan yang tak terjinakkan.
Ia tak mencari cinta. Tak mencari teman. Ia mencari lupa.
Ia membenahi jasnya yang hitam, menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma pekat wiski dan kulit menyelimutinya, lalu melangkah menuju pintu suite. Langkahnya mantap, penuh tekad, seperti pemangsa yang telah mencium bau mangsanya.
Ia menggenggam gagang pintu yang dingin di antara jarinya. Membukanya.
Dan ia melihatnya.
Zaira, terkulai di sofa, tanpa perlindungan, tersesat, dengan kerapuhan sehelai embusan napas yang nyaris pecah.
Leonardo merasakan sentakan tak terduga di dadanya. Bukan iba. Melainkan hasrat yang brutal, dan sesuatu yang lebih gelap, lebih berbelit. Sebuah kebutuhan untuk memiliki sesuatu yang begitu bersih, begitu asing dari dunianya yang kotor.
Ia menutup pintu di belakangnya. Bunyi kunci yang mengeklik terdengar seperti rantai yang menutup rapat.
Lalu ia melangkah ke arahnya... menuju keselamatan atau kutukannya.