Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Awal Dari Langkah Baru
Aroma garam laut dan kehangatan mentari California menyambut babak baru dalam hidup Mia. Terlepas dari gemerlap penuh tekanan kehidupan lamanya bersama Ethan, musim panas kali ini terasa sangat berbeda.
Di sebuah kota pesisir yang tenang di California Pasifik, Mia memulai segalanya dari nol dengan kebebasan yang belum pernah ia rasakan.
Cahaya matahari California yang hangat menyinari hari-harinya, memberikan ketenangan alami yang perlahan menyembuhkan luka masa lalu.
Hari-harinya diisi dengan rutinitas sederhana namun bermakna. Mengunjungi toko buku lokal, menikmati angin sore sambil membaca di tepi pantai, dan melayani pelanggan dengan tulus tanpa perlu menyembunyikan identitasnya lagi.
Atmosfer toko perhiasan tempatnya bekerja yang biasanya tenang dan elegan siang itu mendadak berubah riuh. Beberapa staf sibuk merapikan etalase, sementara manajer toko berjalan tergesa-gesa dengan wajah tegang namun dihiasi senyum profesional paling cerah.
Seorang wanita dengan kacamata hitam besar dan gaun desainer melangkah masuk.
Jane Winslow. Kehadirannya langsung menyedot perhatian seluruh pengunjung dan staf di dalam ruangan.
“Mia, cepat kamu yang tangani Nona Jane!” bisik sang manajer setengah memaksa sambil mendorong pelan bahu Mia.
“Kamu staf paling tenang di sini. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun!” imbuh Mark, manajer toko.
Mia menarik napas panjang, merapikan seragam kerjanya, lalu mengangguk patuh. Dengan langkah tenang dan profesional, ia mendekati area etalase tempat Jane sedang melihat-lihat koleksi cincin berlian.
“Selamat siang, Nona Jane. Ada yang bisa saya bantu untuk melihat koleksi kami hari ini?” sapa Mia ramah, menunjukkan senyum terbaiknya tanpa gestur berlebihan.
Jane melepas kacamata hitamnya, menyapu pandangan ke arah Mia sepintas tanpa benar-benar menatap matanya.
“Aku mencari cincin yang cocok untuk acara pertunanganku nanti. Cincin dengan mata berlian yang besar, dan cukup mencolok,” kata Jane.
“Tentu, Nona. Mari saya perlihatkan koleksi terbaru kami,” jawab Mia sigap. Jemarinya yang terampil dan terbiasa cekatan membuka kunci etalase kaca, mengeluarkan sebuah cincin berlian potong emerald yang berkilau sempurna di atas bantalan beludru hitam.
Saat Mia meletakkan bantalan itu di atas meja, perhatian Jane teralih ke ponselnya yang berdering.
Jane menggeser layar dan mengangkat panggilan tersebut menggunakan mode speakerphone tanpa peduli pada sekitar. Seolah ingin memamerkan siapa yang meneloponnya.
“Ethan? Kamu di mana? Aku sedang di toko perhiasan sekarang,” suara Jane terdengar bermanja-manja, cukup keras hingga bisa didengar Mia yang berdiri sangat dekat di seberang meja.
Dari balik pengeras suara ponsel, terdengar helaan napas yang begitu dihafal Mia selama empat tahun kehidupannya. Suara Ethan.
“Aku masih di mobil, Jane. Masih ada urusan dengan manajerku,” sahut suara Ethan dari seberang telepon, terdengar datar dan lelah.
Tangan Mia yang sedang merapikan posisi porselen penopang perhiasan mendadak berhenti sejenak. Jantungnya berdesir pelan, namun ia segera menguasai diri. Ia menarik tangannya kembali, berdiri tegak dengan jemari terjalin rapi di depan tubuhnya, menjaga ekspresi wajahnya tetap netral dan dingin.
“Kamu harus ke sini sekarang, Ethan. Aku menemukan beberapa perhiasan yang bagus. Lagipula, media pasti suka kalau melihatmu menemaniku memilihnya,” desak Jane sambil mengamati jarinya yang kini mencoba cincin berlian tersebut.
“Lakukan saja sendiri, Jane. Aku kurang enak badan,” jawab Ethan pendek sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.
Jane mendengkus kesal, melemparkan ponselnya ke atas meja porselen.
“Laki-laki itu benar-benar makin aneh belakangan ini,” gumamnya kesal pada diri sendiri.
Namun kesal itu tak bertahan lama. Jane kembali mengamati cincin di jarinya, lalu menatap Mia.
“Bagaimana menurutmu? Apakah ini terlihat pantas di tanganku? Menurutmu apakah Ethan akan menyukainya?” tanya Jane sambil memperlihatkan jemarinya pada Mia.
Mia menatap jemari Jane, lalu tersenyum profesional. Sebuah senyuman tipis nan tenang yang dulu tak pernah menuntut apa pun saat ia masih menjadi istri seorang aktor besar.
“Desainnya sangat indah dan memantulkan cahaya dengan sempurna, Nona. Sangat cocok untuk seseorang yang terbiasa berada di bawah sorotan kamera,” jawab Mia tenang, tanpa ada sedikit pun getaran dalam suaranya.
Bagi Mia, masa lalu itu sudah usai. Dan pria yang kini dicari Jane di seberang telepon bukan lagi urusannya.
Jane berdecak pelan, tak puas dengan jawaban dingin Ethan di telepon sebelumnya. Jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk meja kaca sebelum akhirnya ia memencet tombol video call.
“Dia tidak akan menolak kalau melihatnya langsung. Ethan, aku akan sangat marah kalau cincin pernikahan kita hanya aku sendiri yang memilih,” gumam Jane percaya diri.
Panggilan video itu pun terhubung setelah beberapa nada dering. Layar menunjukkan wajah Ethan yang bersandar di kursi mobil dengan mata terpejam, tampak kentara sangat lelah.
“Ethan, lihat ini!" desak Jane sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah jemarinya yang terhias cincin berlian potong emerald.
“Bagaimana menurutmu? Bagus kan? Penjual di sini juga bilang cincin ini cocok untukku yang sering tampil di depan kamera.”
Dari balik layar, Ethan hanya menanggapi dengan gumaman tipis tanpa membuka mata sepenuhnya.
“Kalau kamu suka, ambil saja, Jane.”
Jane memutar bola matanya, merasa gemas dengan sikap dingin tunangannya. Ia kemudian membalikkan kamera ponsel ke arah Mia yang berdiri patuh di balik etalase.
“Kamu tolong jelaskan lagi padanya soal keunggulan potongan berlian ini agar dia sadar pilihanku tidak pernah salah,” perintah Jane santai.
Mia tetap mempertahankan ketenangannya. Ia sedikit menundukkan kepala ke arah layar ponsel Jane, menjaga jarak yang aman namun tetap profesional.
“Potongan emerald ini memiliki step-cut yang menonjolkan kejernihan batu secara maksimal, Nona. Desainnya memberikan kesan klasik sekaligus elegan untuk Nona Jane yang anggun,” ujar Mia dengan suara yang teratur, lembut, dan sangat jernih.
Di dalam mobil, mata Ethan seketika terbuka lebar.
“Suara itu...” gumam Ethan.
Nada bicaranya yang halus dengan intonasi yang begitu tenang itu seketika membuat jantung Ethan berdebar kencang.
Ethan menegakkan posisinya di kursi belakang, matanya menatap tajam ke layar ponsel. Tetapi kamera Jane sudah terlanjur bergeser kembali menyorot wajahnya sendiri yang sedang tersenyum manja.
“Ethan? Kamu dengar kan?” tanya Jane.
Ethan tidak menjawab. Dadanya berdebar hebat. Suara itu terlalu familiar untuk sekadar kebetulan. Tanpa membalas ucapan Jane, Ethan langsung mematikan panggilan video tersebut secara sepihak.
“Menyebalkan! Dimatikan lagi!” seru Jane sambil mengepalkan tangannya gusar.
Sementara itu di luar toko, pintu mobil mewah Ethan terbuka keras. Mengabaikan teguran manajernya yang panik dari kursi pengemudi, Ethan melangkah lebar membelah trotoar pesisir pantai. Langkah kakinya tergesa-gesa, didorong oleh rasa penasaran dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
Bel pintu toko perhiasan berdenting, menandakan kedatangan tamu baru. Atmosfer toko yang sempat mereda itu kembali tegang saat sosok aktor terkenal itu melangkah masuk.
“Selamat datang, Tuan Ethan.”
Ethan mengabaikan sapaan hormat Mark, manajer toko yang buru-buru menghampirinya. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh isi ruangan, hingga akhirnya terkunci pada sosok wanita berseragam rapi yang berdiri di seberang Jane.
Di sana, di bawah pijar lampu toko yang hangat, Mia berdiri tegak. Mata mereka saling bertatapan untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
–tbc–