Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sesal
"Jika kau tidak menuruti perintahku, aku akan memberitahu awak media dan mengumumkan perselingkuhanmu."
Belum sempat Norman membalas, Grace langsung menyela.
Setelah berkata demikian, Grace mematikan panggilan. Lalu tiba-tiba bangkit berdiri tanpa melepaskan pandangan dari depan sana. Carmen yang mendengar obrolan singkat itu lantas terperangah.
Grace tiba-tiba mengalihkan pandangan kepada Carmen.
"Carmen, sabotase CCTV hari ini, jangan sampai Norman tahu kalau aku datang ke sini, termasuk Petra, beri dia uang agar tutup mulut."
Carmen belum sempat memberi jawaban, tapi Grace sudah melenggang pergi lalu menghilang di balik pintu. Meninggalkan Carmen masih terpaku dengan mata berkedip-kedip pelan. Kendati demikian, sesudah puas melamun Carmen segera melaksanakan perintah.
Sementara itu, di luar sana. Norman melempar ponsel ke tanah, hingga Mona yang sedang merapikan pakaian sejak tadi terbelalak.
"Norman, ada apa?" tanya Mona sambil menyentuh tangan Norman.
Norman langsung menepis tangan Mona. Wanita itu tampak terkejut.
"Apa kau memberitahu orang lain tentang hubungan kita?" tanya Norman sambil melayangkan tatapan tajam.
Kening Mona langsung berkerut kuat. "Tentu saja tidak, memangnya kenapa sayang?"
Jawaban yang dilontarkan membuat Norman mendadak diam. Namun, dahinya berkerut sangat kuat sekarang, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Norman, ada apa?"
Sekali lagi, Mona menyentuh tangan Norman. Kali ini Norman tak menepis sentuhan tersebut.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita kembali ke kantor sekarang," balasnya sambil menaikkan retsleting celana.
Mona mendadak cemberut. Tiba-tiba ia bergelayut manja di tangan Norman sambil tersenyum lebar.
"Tapi kita belum makan siang, dan aku mau ronde kedua, Norman," balasnya dengan nada suara manja.
Biasanya Norman akan meladeni Mona, tapi kali ini dia terlihat sangat gelisah. Norman menghela napas sejenak lalu menurunkan tangan Mona.
"Kita makan siang saja di kantor, aku mau ke toilet sebentar, kau keluarlah dulu."
Tanpa mendengarkan balasan, Norman segera meninggalkan Mona, berjalan cepat menuju koridor samping rumah.
"Ish, Norman kenapa sih!" Mona menatap kepergian Norman dengan menghentak-hentakkan kaki.
***
Sekitar pukul dua siang, Grace sudah sampai di rumah orang tuanya. Taksi sudah dia bayar, dan sekarang ia berdiri di depan rumah sambil mengedarkan pandangan di sekitar.
Rumah yang meninggalkan banyak kenangan. Rumah ini tidak terlalu besar, bertingkat dua dengan taman kecil di depan dan kolam kecil di belakang sana. Terdapat hamparan bunga di depan dan beberapa pepohonan yang masih ada ayunan kecil, ayunan ini dulu sering digunakan Grace untuk bermain.
"Masih sama," kata Grace lalu tersenyum kecut.
Setelah itu dia melangkah menuju pintu utama. Menekan bel sebentar lalu menunggu dengan sabar pintu dibuka.
Tak sampai lima menit, pintu pun terbuka.
Terlihat sosok pria tinggi memakai tongkat, dengan satu kaki yang sudah tidak ada akibat amputasi. George Wills. Papa kandung Grace.
Grace diam, tapi tatapannya mendadak sendu. Padahal lelaki di hadapannya memandangnya dengan penuh kebencian sekarang.
George tiba-tiba berkata,"Ada urusan apa kau datang ke sini?"
Kalimat yang dilontarkan menjadi penanda bahwa Grace seolah tak diharapkan kemunculannya.
Grace tak menjawab. Namun, matanya tampak berkaca-kaca. Grace terlalu berharap akan mendapat sambutan hangat dari sang papa. Sudah enam tahun tak bertemu, ternyata George masih membencinya.
Semua itu bermula, ketika George tidak pernah merestui hubungannya dan Norman. Sehingga selama enam tahun ini, mereka tidak pernah akur. Lalu sekarang Grace baru menyesal tidak menuruti perkataan papanya.
"Pa, aku–"
"Pergi kau!" George tiba-tiba membalikkan badan, meninggalkan Grace di depan pintu dengan wajah mulai basah.
"Siapa George?" Emma, mama tiri Grace tiba-tiba datang dan langsung menengok keluar.
Emma tampak terkejut sekaligus matanya bersinar terang. Wanita berambut pendek yang sudah memutih itu segera menarik tangan Grace. Lalu menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
"Grace, astaga, mama sangat merindukanmu," kata Emma sambil mengelus pelan punggung Grace.
"Aku juga rindu mama. Maaf aku baru sempat datang kemari."
Grace menanggapi dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Walaupun Emma bukan mama kandungnya, Grace sangat menyayangi Emma. Wanita ini tidak pernah membentak Grace, lemah lembut dan baik hati. Dia sudah menganggap Emma sebagai mama kandungnya.
Emma adalah seorang perawat. George menikahi Emma, saat Grace berusia satu tahun. Jika hubungannya dengan George sangatlah buruk, hal itu berbanding terbalik dengan Emma. Grace selalu berkomunikasi dengan Emma, sekadar menanyakan kabar orang tuanya.
"Baru sempat atau lupa? Pergi kau dari sini jika tidak ada kepentingan!"
George ternyata masih ada di ruangan. Lelaki berbadan kurus itu masih menatap tajam Grace.
Emma seketika mengurai pelukan lalu menoleh ke arah George dengan cepat. "George, ada apa denganmu? Putri kita baru saja sampai, mengapa kau–"
"Cukup, aku tidak peduli. Aku malas melihat anak durhaka itu!" George kembali berteriak sambil melengoskan muka. Kali ini diikuti bunyi dentuman pintu kamar, yang dia banting dengan sangat kuat.
Grace dan Emma serempak terperanjat.
Emma sampai-sampai mengelus dadanya, melihat sikap sang suami. Sementara Grace hanya bisa menatap nanar pintu.
"Sudah, jangan dihiraukan perkataan papamu, ayo sekarang kita ke ruang makan. Kau pasti belum makan, 'kan?" tanya Emma kemudian sambil mengusap air mata Grace.
Tanpa mendengar balasan, Emma segera menarik tangan Grace menuju dapur.
"Mama tidak menyangka kau akan datang ke sini. Apa pendidikanmu sudah selesai?" tanya Emma begitu Grace sudah duduk di kursi makan.
"Sudah Ma, maaf aku tidak memberitahu mama, aku ingin memberi kejutan." Grace memperhatikan Emma tengah mengambil piring di sekitar.
Salah satu kebiasaan Emma sedari dulu. Jika di rumah ini, Grace seperti seorang putri.
Maklum, Emma tidak bisa memiliki anak karena rahimnya diangkat akibat penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya kala itu.
"Tapi mama heran, kenapa kau tidak datang bersama Norman? Ke mana dia Nak?"
Mendengar nama Norman di sebut, darah Grace seketika mendidih. Bayangan Norman dan Mona berbagi peluh di villa tadi menari-nari di otaknya sekarang.
"Dia masih sibuk Ma, aku juga sengaja ingin memberi dia kejutan, malam ini aku menginap di sini ya Ma," jawab Grace, berusaha mengendalikan diri.
Emma menghentikan pergerakan tangannya, lalu menatap Grace dengan seksama. "Tentu saja boleh, mama pikir kalian ada masalah, jika ada masalah selesaikanlah dengan baik."
Grace hanya mengangguk saja. Namun, dalam hati ia berkata sambil menyeringai.
'Iya, aku akan menyelesaikan masalah ini dengan sangat baik.'
...
Sekitar pukul sembilan malam, George sudah masuk ke kamar. Sedari tadi pria itu menghindari Grace.
Sedangkan Grace dan Emma berada di ruang keluarga sedang bercengkrama, sambil sesekali melirik ke depan layar televisi menyiarkan acara reality show.
Tiba-tiba bunyi bel rumah membuat obrolan hangat tiba-tiba terputus.
Grace dan Emma saling pandang sejenak dengan tatapan kebingungan.
Siapakah tamu tak diundang ini?
Emma segera beranjak dari sofa dan berjalan cepat menuju ruang depan. Sementara Grace memilih duduk di sofa sambil memfokuskan mata ke depan.
"Astaga di sini kau rupanya, sayang? Mengapa kau tidak mengabariku kalau sudah di California?"
Grace tersentak. Dengan cepat menoleh ke sumber suara.
Seseorang yang tak ingin ia lihat, sekarang menatapnya dengan wajah tanpa dosa.
Rahang Grace seketika mengeras.
"Sayang, kenapa diam?"
Bersambung ~
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣