Eleanor adalah seorang Elf cantik dari kerajaan Silvan di hutan Mirkwood. Suatu hari ia tak sengaja bertemu dengan seorang pria bernama Dimitri yang tersesat di dalam hutan. Eleanor membantu menyelamatkan pria itu namun pada akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta hingga Eleanor hamil. Tak lama setelahnya Dimitri menghilang dan tidak pernah kembali ke Mirkwood. Eleanor memutuskan untuk pergi ke dunia manusia untuk mencari cintanya. Namun ironisnya ia menemukan bahwa pria yang ia cintai telah menikah dengan seorang wanita dari dunia manusia. Apakah Eleanor akan bisa kembali bersama dengan Dimitri ataukah cintanya akan berubah menjadi pembalasan dendam?
Ikuti terus kisah perjuangan cinta Sang Elf cantik!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivin Febry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tatapan Dimitri terkunci pada mataku.
"Untuk apa kau datang lagi?" Aku mendengar nada dingin dalam suaraku sendiri.
Aku merasakan Eldrin berdiri di sampingku dan merangkul bahuku.
"Oh, rupanya kau cepat juga mendapatkan pengganti ku!"
Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Dimitri. Tiba-tiba ia berbalik dan langsung pergi tanpa menoleh lagi. Rose menutup pintu dan berjalan kembali ke arah kami.
"Jadi pria itu yang kau kejar hingga kau rela datang ke dunia manusia ini?" Eldrin menarik tanganku agar aku duduk di sampingnya. Namun aku bergeming. Aku masih menatap ke arah pintu tempat Dimitri tadi berdiri. Aku masih tetap memikirkan apa maksud dari ucapannya tadi.
Pengganti? Apa yang dia maksud pengganti dirinya? Apakah dia mengira bahwa Eldrin adalah kekasihku? Oh Sial! Mungkin dia salah mengira hubungan kami. Aku teringat tadi tatapan membara di matanya ketika ia melihat Eldrin merangkul bahuku. Dia tidak tahu bahwa Eldrin adalah kakakku.
Apakah dia cemburu? Kalau ia, itu artinya dia masih mencintaiku. Untuk apa dia cemburu jika dia tidak mencintaiku? Ah, sudahlah. Aku menepis semua pikiran kacau di otakku. Cemburu ataupun tidak, itu bukan lagi urusanku. Dia sudah memiliki istri saat ini. Terlebih lagi, istrinya adalah manusia tulen, tidak sepertiku.
Aku kembali duduk dan menghela nafas panjang. Bukan hanya tubuhku yang merasa lelah melainkan jiwaku juga begitu lelah dan terpuruk.
"Jadi dia yang kau masud Dimitri." Eldrin lebih seperti berbicara kepada dirinya sendiri dan bukan kepadaku.
"Ya," jawabku singkat.
"Si brengsek itu harus mendapatkan ganjaran setimpal karena telah melakukan hal ini padamu!"
Aku melihat kilatan amarah yang berkobar di dalam kedua mata Eldrin. Ucapannya terdengar seperti ancaman yang serius. Aku merasakan desiran gelombang ketakutan di dalam dadaku. Bagaimana jika apa yang ia ucapkan benar-benar akan dia lakukan? Aku takut dia melukai Dimitri.
"Tidak perlu!" ujarku panik.
Eldrin memiringkan kepalanya dan menautkan kedua alisnya seraya menatapku tajam.
"Kau masih membelanya?" tanyanya dengan raut wajah tidak percaya.
"Bukan begitu maksudku," jawabku dengan suara bergetar.
"Lalu apa?" Kali ini dia mendengus kesal dan marah.
"Biarkan saja, aku sudah memutuskan untuk melepaskan ikatan masa laluku dengannya. Kini aku tidak memiliki urusan dengannya lagi."
"Hah! Jangan bodoh begitu Eleanor! Hidupmu telah hancur karena pria sialan itu!" Kali ini Eldrin nyaris berteriak.
"Bukan begitu maksudku," ucapanku terpotong karena amarah Eldrin yang semakin memuncak.
"Kalau begitu apa? Hah? Bukan hanya hidupmu yang kau pertaruhkan! Aku juga mempertaruhkan hidupku dan kini aku sadar bahwa kau mengejar orang yang tidak pantas untuk disebut manusia!" Ia berteriak ke arahku.
Aku seolah merasa tertampar oleh ucapannya. Seketika air mataku menetes. Aku merasakan tenggorokanku tercekat. Ada sesak yang semakin membuncah di dalam dadaku. Ada luka yang semakin menganga di dalam hatiku. Aku sadar, bukan hanya duniaku yang hancur, melainkan hidup kakakku juga hancur karena dia rela meninggalkan hutan demi mencariku.
Aku berlari ke kamarku tanpa mengucapkan apa-apa. Aku menutup pintu kamarku dengan suara bantingan pintu yang begitu keras. Aku menjatuhkan diriku di atas kasur dan membenamkan wajahku yang penuh air mata ke dalam selimut. Aku menggigit selimutku untuk meredam jeritanku.
Kenapa aku membawa kehancuran pada orang yang aku sayangi. Mungkin aku tidak pantas untuk berada di dunia ini. Aku makhluk bodoh. Aku bahkan tidak pantas untuk mendapatkan Dimitri. Ini terbukti ketika Dimitri lebih memilih wanita manusia dibandingkan diriku. Kini aku pun menyadari bahwa aku menghancurkan hidup kakakku. Aku mengecewakan orang tuaku. Aku telah mengecewakan semua orang di istana.
Aku terisak hingga bahuku berguncang. Aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku namun aku mengabaikannya. Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun! Aku hanya ingin menyendiri di dalam kamar dan meluapkan semua luka dan kesedihanku.
Ketukan di pintu semakin sering dan nyaring. Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku.
"Eleanor, buka pintunya!" Aku mendengar suara Eldrin dari balik pintu.
Aku tidak menjawabnya. Aku merasa jiwaku sudah terlalu lelah. Kenapa aku harus dilahirkan jika hanya untuk mendapat luka seperti ini? Jika keberadaan ku hanya untuk membuat orang lain ikut terluka, lebih baik aku tidak ada di dunia ini.
"Eleanor, buka pintunya, Sayang!" Kali ini suara lembut Rose terdengar khawatir dari balik pintu.
Aku masih tetap mengabaikan mereka berdua.
"Eleanor, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu!" Aku mendengar Eldrin mengucapkannya dengan nada penuh penyesalan.
Sebenarnya aku tidak marah pada kakakku. Hanya saja aku terlalu terluka mendapati kenyataan bahwa saat ini bukan hanya hidupku yang hancur melainkan hidup kakakku juga hancur karena aku.
"Eleanor, jika kau tidak membuka pintunya, aku akan mendobraknya!" Kini Eldrin terdengar mulai tidak sabar.
Aku merangsek keluar dari balik selimut dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Aku merasa mataku begitu bengkak dan panas. Ketika aku membuka pintu, aku melihat wajah Eldrin dan Rose penuh kesedihan.
Aku berdiri tanpa mengucapkan apapun. Tubuhku terasa begitu lemas.
"Eleanor, maaf jika perkataanku tadi membuatmu semakin terluka. Percayalah, aku tidak pernah berniat untuk membuatmu bersedih." Eldrin memelukku.
Aku mengangguk pelan dan menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Aku tahu," bisikku pelan.
Aku merasakan Rose menggosok lenganku perlahan. Memiliki mereka berdua saat ini telah membuatku sadar bahwa aku layak untuk melanjutkan hidup.
"Aku akan membawakan sari buah untuk kalian berdua," ujar Rose dan pergi meninggalkan kami berdua.
Eldrin merangkulku dan mengajakku untuk kembali ke kamar. Aku duduk di tepi kasur.
"Eleanor, aku akan menuruti apapun yang kau inginkan."
Aku menoleh ke arah kakakku mendengar ucapannya. Dia yang selalu menjagaku dan ingin aku bahagia.
"Terimakasih." Suaraku tercekat.
"Jangan bilang begitu! Kau tidak perlu berterimakasih!"
Beberapa menit kemudian, Rose kembali ke kamarku dengan membawakan dua gelas besar sari apel kesukaanku. Ia menyerahkan satu gelas itu pada Eldrin dan yang satunya lagi padaku. Aku menerima gelas itu dan meminumnya. Ketika aku merasakan kenikmatan minuman itu, aku merasakan tendangan kecil dari perutku. Aku sontak tertawa dan memegangi perutku.
"Mungkin dia juga menyukai minuman ini," ujarku seraya menoleh ke arah Rose.
"Mungkin begitu." Rose mengucapkannya dengan senyum penuh kasih sayang dan menatap ke arahku lalu ke arah perutku.
"Aku akan menjaga kalian," ujarnya lagi dan menatapku penuh kasih sayang.
Aku merasa memiliki ibu di dunia yang asing ini. Aku merasakan kehangatan mengaliri hatiku. Ternyata masih ada hal manis yang patut aku syukuri saat ini. Meski kini Dimitri tak lagi di sisiku, namun setidaknya kini aku memiliki bagian dari dirinya di dalam perutku.