Indonesia
NovelToon NovelToon
Unforgettable Memories

Unforgettable Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dnrfitri_

Bagaimana jadinya jika terdapat sosok pria yang selama ini mencari wanita yang tak terlupakan baginya dan saat menemukannya, Secara paksa, Ia langsung menawari pernikahan. Apabila tidak, ia akan tetap memaksa untuk mengandung anaknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UM - Merenggangkan Hubungan

Beberapa hari setelah Arabella pulang dari rumah sakit, suasana di Mansion semakin hampa. Arabella merasa hancur oleh kehilangan yang dia alami, sementara Darren semakin tenggelam dalam pekerjaannya, mengabaikan kehadiran istrinya. Nyonya Yohana, ibu Darren, merasa perlu untuk mendatangi Mansion anaknya setelah mendengar kabar yang mengguncang keluarga mereka.

Dengan langkah hati-hati, Nyonya Yohana memasuki Mansion yang biasanya penuh dengan tawa dan kebahagiaan memasukinya karena menantikan cucunya. Kali ini, suasana ruang keluarga terasa tegang dan murung. Dia merasa berat hati melihat keadaan ini, terutama karena dia tahu betapa besar arti kehamilan Arabella bagi Darren.

Nyonya Yohana menghela nafas dalam-dalam saat melihat Arabella duduk sendirian di ruang keluarga, pandangan matanya kosong ke depan. Ia bisa merasakan kepedihan yang menghampiri menantu perempuannya ini, dan rasa sedih pun meluap dalam dirinya. Meskipun Arabella dan Nyonya Yohana tidak memiliki hubungan yang begitu dekat, tetapi saat ini mereka berdua berbagi perasaan yang sama.

Arabella mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Nyonya Yohana yang mendekatinya dengan langkah hati-hati. Wajah ibu mertuanya itu tampak penuh dengan empati dan kepedulian. "Ibu," Arabella menyapa dengan suara lembut.

Nyonya Yohana tersenyum lembut dan duduk di samping Arabella. "Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?"

Arabella menghela nafas, mencoba menenangkan diri. "Aku... aku masih merasa hancur, Bu."

Nyonya Yohana meraih tangan Arabella dengan lembut. "Aku tahu betapa sulitnya ini bagimu, sayang. Keguguran adalah pukulan berat bagi siapa pun. Tetapi kau harus tahu bahwa kami semua di sini untukmu."

Air mata mulai mengalir dari mata Arabella, melihat dukungan yang ditunjukkan oleh Nyonya Yohana. "Terima kasih, Bu. Saya merasa begitu terpuruk."

"Kau tidak sendirian, sayang. Kami akan berada di sampingmu, melewati semua ini bersama-sama," kata Nyonya Yohana dengan suara lembut.

Sementara itu, Darren terus sibuk dengan pekerjaannya, semakin hari semakin mengacuhkan kehadiran Arabella. Meskipun dalam hatinya dia juga merasa kehilangan dan kecewa, namun rasa emosionalnya yang rumit membuatnya semakin menarik diri. Ia merasa bahwa dengan sibuk bekerja, ia dapat menghindari perasaan yang rumit itu.

Pada suatu hari, Nyonya Yohana akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Darren tentang keadaan keluarga mereka. Dia memilih momen yang tepat, menemui Darren di ruang kerjanya di perusahaan.

"Darren," panggil Nyonya Yohana dengan suara lembut, memasuki ruangan dan menutup pintu di belakangnya.

Darren menoleh dan melihat ibunya. Wajahnya tampak lelah, tetapi juga tampak tegar. "Ibu, ada apa?"

Nyonya Yohana merasa hatinya berat, tetapi dia tahu bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan keadaan keluarga. "Darren, aku tahu bahwa ini sulit bagimu. Tapi kau harus menyadari bahwa Arabella juga merasakannya dengan mendalam."

Darren mengangguk perlahan, tetapi raut wajahnya masih tampak kaku. "Aku tahu, ibu."

"Ibu hanya ingin memastikan bahwa kau juga memberi dukungan pada Arabella. Dia membutuhkanmu, Darren," kata Nyonya Yohana dengan suara lembut.

Darren merasa perasaannya semakin terjepit. Dia tahu bahwa ibunya benar, tapi dia merasa kesulitan untuk mengatasi perasaan emosionalnya yang rumit. "Aku tahu, ibu. Tapi aku juga merasa begitu kecewa dan marah. Aku tidak tahu bagaimana mengatasi semuanya."

Nyonya Yohana mendekat dan meraih tangan Darren. "Kau harus mencoba, sayang. Kalian berdua harus saling mendukung dalam masa sulit ini. Jangan biarkan rasa emosional mu menghancurkan hubungan kalian."

Darren merasa hatinya dilematis. Dia tahu bahwa ibunya benar, tapi dia juga merasa kesulitan untuk melepaskan perasaan emosionalnya. Dia merasa terikat oleh perasaan kemarahan dan kecewa, dan itu membuatnya kesulitan untuk memahami perasaan Arabella.

"Kau harus berbicara dengan Arabella, Darren. Kalian berdua harus saling berbagi perasaan dan merangkul dukungan satu sama lain," kata Nyonya Yohana dengan tegas.

Darren merenung sejenak, meresapi kata-kata ibunya. Dia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk menghadapi perasaannya sendiri dan juga untuk memberikan dukungan kepada Arabella. Meskipun sulit, dia tidak bisa menghindarinya lagi.

Saat Nyonya Yohana meninggalkan ruangan, Darren merasa berat hati. Dia tahu bahwa langkah pertama yang harus dia ambil adalah berbicara dengan Arabella, meskipun itu akan menjadi perjalanan yang berat. Dalam hatinya, ia merasa dilema antara perasaan emosional dan tanggung jawab sebagai suami.

Ketika dia melihat jam di dinding, dia menyadari bahwa sudah malam. Dia mengambil teleponnya dan mencari nama Arabella dalam daftar kontaknya. Setelah beberapa kali ragu, akhirnya dia menekan tombol panggil. Dia tahu bahwa ini adalah waktu untuk mengatasi perasaannya dan berbicara dengan istrinya.

Namun, telepon tersebut tidak diangkat oleh Arabella. Darren merasa semakin cemas dan kesal, karena di saat-saat seperti ini, dia merasa bahwa Arabella menghindarinya. Dia merasa bahwa ketidakinginan Arabella untuk berbicara dengannya hanya semakin memperburuk situasi.

Setelah beberapa kali mencoba menghubungi tanpa hasil, Darren merasa marah dan frustrasi. Dia merasa diabaikan dan diacuhkan oleh Arabella, meskipun dia merasa bahwa ini adalah momen di mana mereka harus berbicara dan berduka bersama.

Akhirnya, Darren memutuskan untuk meninggalkan perusahaan dan pulang ke Mansion. Dalam perjalanannya pulang, perasaan marah dan kecewa semakin menguat di dalam dirinya. Dia merasa bahwa Arabella telah mengacuhkannya dan tidak menghargai upayanya untuk menghubunginya.

Ketika Darren tiba di Mansion, dia masuk dengan langkah yang cepat dan marah. Dia mencari Arabella di ruang keluarga, dan saat dia menemukannya, dia merasa ledakan emosional yang hampir tidak bisa dia tahan lagi.

"Arabella!" Darren berteriak, suaranya penuh dengan amarah.

Arabella terkejut dan menoleh ke arah Darren. Wajahnya pucat melihat ekspresi wajah Darren yang penuh dengan kemarahan. "Tuan, apa yang terjadi?"

Darren merasa marah meledak-ledak. Dia merasa bahwa Arabella telah menghindarinya dan tidak menghargai perasaannya. "Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku? Apakah kau sengaja menghindari ku?"

Arabella merasa terjepit oleh amarah Darren. Dia merasa seperti sedang dalam situasi yang sulit, terjebak antara perasaannya sendiri dan kemarahan suaminya. "Tuan, aku tidak bermaksud untuk menghindari mu. Aku tidak mendengar suara ."

"Kau pikir aku tidak merasa sulit? Kau pikir aku tidak merasa kehilangan dan marah? Ini bukan hanya tentangmu, Arabella. Ini tentang kita berdua!" Darren berbicara dengan suara yang semakin meninggi, tatapannya tajam pada Arabella.

Arabella merasa hatinya semakin terjepit. Dia merasa seolah tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kemarahan Darren yang memuncak. "Tuan, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku merasa hancur dan tidak tahu bagaimana menghadapinya. Akhir-akhir ini kau selalu marah padaku tanpa alasan, bahkan tidak pernah mendengarkan penjelasan ku sedikit pun."

Darren merasa seperti ledakan emosional dalam dirinya semakin kuat. Dia merasa bahwa Arabella tidak mengerti atau menghargai perasaannya. "Kau tidak tahu apa yang harus kukatakan? Aku akan memberitahumu apa yang harus kukatakan! Kau tidak menghargai perasaanku. Kau tidak menghargai upayaku untuk menghubungimu. Kau hanya mengacuhkan ku! Dari awal aku hanya memintamu menjaga bayiku dengan baik, tapi ku akui karena kesalahanku mengizinkan mu keluar, malah membawa petaka. Jika aku tahu akan seperti ini, lebih baik aku mengurung mu selamanya."

Arabella merasa air matanya mulai mengalir lagi. Dia merasa seperti dilemparkan dalam pusaran amarah dan emosi yang begitu besar. "Tuan, aku tahu bahwa ini sulit bagimu. Tapi aku juga merasa sedih dan bingung. Aku merasa seperti kau juga mengacuhkan ku."

Darren merasa seperti ditusuk oleh kata-kata Arabella. Dia merasa perasaannya tidak dihargai dan dipahami oleh istrinya. Perasaan marahnya semakin memuncak, dan dia merasa kesulitan untuk mengontrol emosinya.

"Kau pikir aku mengacuhkan mu? Kau pikir aku tidak merasa sakit? Ini bukan tentangku yang mengacuhkan mu. Ini tentangmu yang menghindari ku dan tidak menghargai perasaanku!" Darren berbicara dengan suara yang meninggi lagi.

Kedua pasangan ini berdua terdiam dalam keheningan yang penuh dengan ketegangan dan emosi yang meluap. Arabella merasa hancur karena melihat Darren yang begitu marah dan kesal padanya. Dia merasa seperti tidak bisa mengatasi perasaan rumit yang menghantuinya, dan sekarang, pertengkaran ini semakin memperburuk hubungan mereka.

Darren merasa perasaannya semakin meledak. Dia merasa bahwa Arabella tidak mengerti atau menghargai perasaannya, dan pertengkaran ini semakin membuatnya kesal. Dia merasa bahwa semuanya telah berantakan dan tidak bisa diperbaiki lagi.

Tatapan mereka bertemu, penuh dengan emosi yang rumit dan berlawanan. Pertengkaran ini menjadi titik puncak dari perasaan yang saling bertentangan di antara mereka berdua. Dalam keadaan marah dan bingung, Darren akhirnya mengambil keputusan yang drastis...

1
Hernandi Siti
knpa gk di update sekalian sih aku tagantung bacanya🥲
Hernandi Siti
sangattttttt seruuuuu
Kartika Putranti
terus semangat buat author nya
Hernandi Siti
ceritanya bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!