Kehilangan suami yang sangat di cintai membuat Gina depresi namun dia sama sekali tidak akan menyangka bahwa orang yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri justru mempunyai perasaan khusus terhadap dirinya hingga dia jatuh ke dalam peristiwa yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari itu Gina bermaksud untuk berasa di tokonya sampai tengah hari untuk membantu membuat pesanan yang cukup banyak.
Dia bermaksud pulang ke rumah Raka di sore harinya karena tidak ingin membuat Raka lelah jika harus menginap lagi di rumah ibunya.
Meskipun perasaannya masih mengganjal jika meninggalkan rumah yang sudah lama ia tempati bersama ibu mertuanya namun kini dia sudah harus memprioritaskan suaminya yang sekarang.
"Bu, apa nggak masalah kalau nanti sore Gina pulang?" tanya Gina dengan ekspresi sedih.
"Tidak apa-apa Gina, jangan merasa tidak enak. Ibu baik-baik saja, kamu fokus ke rumah tanggamu saja" jawab Dianti.
"Ibu sejujurnya semua ini berat bagiku bu" ucap Gina dengan ekspresi sedih.
"Nanti juga kamu terbiasa Gina, berbahagialah"
"Terimakasih ibu"
Gina memeluk Dianti dengan erat seolah tidak ingin meninggalkan Dianti sendirian di rumah meskipun dia bisa sesekali berkunjung bersama dengan Raka.
Waktu berjalan dengan cepat, Gina sudah selesai membantu karyawan tokonya dengan membuat pesanan dari orang-orang dan kini tiba waktunya dia pulang ke rumah setelah berpamitan dengan ibu mertuanya.
Dia juga sudah mengirim pesan ke Raka untuk pulang ke rumah saja karena dia sudah pulang dari rumah ibu mertuanya.
"Huh.. capek banget" ucap Gina sambil tiduran di kamar.
Sesampainya di rumah Gina merebahkan tubuhnya di kasur empuk tempat dia dan Raka tidur.
Hari itu tampaknya Gina sangat lelah dan juga menguras emosi karena berpisah lagi dari ibu mertuanya.
"Maafkan aku Abi. Sekarang aku sudah nggak bisa lagi tepati janjiku untuk terus menjaga ibu. Sekarang aku benar-benar sudah harus berbakti dengan adikmu yang kini sudah jadi suamiku. Mau di pikir bagaimanapun pun rasanya aku benar-benar serakah, ya? Abi, apa aku boleh mencintai adikmu? apa cintaku padamu terlalu dangkal? apa aku pantas menyebut diriku orang yang pernah begitu dalam mencintaimu dan dengan mudahnya kini berpaling hanya karena ketiadaan mu di dunia ini? Abi, muncullah sekali meskipun dalam mimpi dan katakanlah bahwa aku kejam" benak Gina memikirkan Abi.
Kali ini Gina dibuat resah karena mulai tumbuh rasa cinta terhadap Raka yang telah tulus mencintainya namun Gina masih saja memikirkan banyak hal jika memang harus menaruh perasaan yang lebih terhadap Raka meskipun kini mereka sudah sah menjadi suami istri.
Apalagi kini dia sudah tidak bisa menjaga ibu mertuanya dari dekat karena lebih mengutamakan suaminya yang juga atas permintaan ibu mertuanya.
Sementara itu Raka di kantornya.
"Apa Gina sudah di rumah?" gumam Raka sambil melihat ponselnya.
Raka gelisah karena Gina belum membalas pesannya setelah sebelumnya berkomunikasi dengannya.
"Dia baik-baik aja kan? apa aku telfon ibu? haah.. sudahlah, sekarang pekerjaan ku banyak banget. Pasti nanti Gina menghubungi kalau benar sudah sampai"
Raka dengan mengesampingkan pikiran negatifnya melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk sejak tadi pagi hingga sekarang belum juga selesai dia kerjakan.
Di sisi lain, Anita yang sering memperhatikan Raka kini jadi lebih berani dengan mencoba mencari perhatian dari Raka.
Saat itu Anita sengaja membeli minuman untuk Raka agar Raka tidak perlu pergi untuk membelinya.
"Pak, jangan terlalu di forsir. Ini minuman untuk anda" ucap Anita sambil meletakkan minuman tersebut.
"Terimakasih Anita tapi lain kali tidak perlu repot seperti ini" jawab Raka dengan cuek.
Anita tidak memperhatikan respon dari Raka karena tujuannya jelas ingin memandang Raka dari dekat.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu"
"Ya silahkan"
Anita meninggalkan ruangan Raka dengan terus tersenyum menatap Raka sedangkan Raka tidak memperdulikannya sama sekali dan hanya fokus menatap layar laptopnya.
"Huh, kenapa masih banyak juga?" gumam Raka melihat tumpukan dokumen.
"Kalau begini kapan aku bisa pulang? aku kangen banget, istriku pasti bosan sendirian di rumah"
Raka berusaha dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya karena sudah sangat ingin pulang untuk menemui istri tercintanya.
Rupanya di rumah Gina ketiduran sehingga tidak membalas pesan dari Raka.
Sudah hampir jam 7 malam akhirnya Raka pulang ke rumahnya.
"Istriku, kamu dimana?" panggil Raka mencari istrinya yang tak kelihatan.
Raka mencari di setiap sudut rumah namun tak mendapati istrinya. Dia menjadi cemas hingga sampai di kamar dan akhirnya melihat istrinya sedang tidur dengan lelapnya.
Dia pun merasa lega setelah memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.
"Raka, apa aku boleh mencintaimu?" Gina mengigau dan di dengar oleh Raka.
"Tentu saja boleh" jawab Raka sangat senang.
"Eum.. hmph!" Gina tersenyum lalu berhenti mengigau.
Raka menjadi semakin bersemangat setelah mengetahui bahwa Gina sedang memikirkan dirinya.
"Apa ini artinya Gina sudah mulai menyukaiku?" gumam Raka.
Dengan wajah yang cerah dan senyum dari bibirnya, Raka pergi mandi dan berganti pakaian sembari menunggu istrinya bangun.
Dia juga memesan makanan agar Gina tak perlu memasak karena Raka tahu bahwa Gina pasti sedang kelelahan.
"Istriku, kamu lelah ya?" ucapnya sambil mengusap-usap kepala Gina dengan perlahan.
Tiba-tiba Gina terbangun setelah mendapatkan sentuhan dari tangan suaminya yang hangat membelainya.
"Eum.. suamiku, sudah pulang?" tanya Gina dengan mata setengah terbuka.
"Iya sayang, kalau masih ngantuk. Tidur aja lagi" ucap Raka sambil mengelus kepalanya lagi.
"Suamiku peluk aku" Gina merentangkan tangannya sambil tersenyum.
"Baiklah, istriku yang cantik"
Raka dengan senang hati memeluk istrinya yang kini sedang bersikap manja kepadanya dan itu jarang terjadi sebelumnya karena Gina selalu bersikap dewasa layaknya seorang kakak jika sedang bersama dengan Raka.
Setidaknya sikap manjanya kini mampu membuat Raka merasa di butuhkan dan di perlakukan layaknya seorang suami yang bisa di andalkan.
"Padahal aku belum mandi tapi suamiku masih mau memelukku" gumam Gina.
"Aku bisa dengar sayang" kata Raka menggoda istrinya.
"Apa? suamiku, aku mandi dulu ya" ucap Gina merasa malu.
"Hmm.. nggak usah sayang, peluk aku sepuasnya" jawab Raka sambil mengeratkan pelukannya.
Gina merasa senang karena Raka selalu sabar menghadapinya dan mau menerimanya apapun yang dia lakukan dan selalu mendukungnya.
"Kamu pasti lapar kan sayang?" tanya Raka setelah Gina melepaskan pelukannya.
"Iya, kalau begitu aku masak dulu ya" ucap Gina sambil beranjak dari kasur.
"Eitts.. nggak usah sayang, aku sudah beli makanan. Kamu tinggal makan aja"
"Wah.. suamiku benar-benar perhatian, terimakasih ya"
"Sama-sama istriku, ayo kita turun sekarang"
"Oke"
Gina dan Raka turun kebawah untuk makan malam bersama setelah cukup lama berpelukan.
Apalagi Raka membeli makanan kesukaan Gina sehingga menambah rasa suka Gina terhadap Raka yang selalu mengerti dirinya.
"Aku benar-benar beruntung memiliki suami seperti Raka, tampaknya keluarga ibu memang baik semua" benak Gina.