Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. Fajar dan Belati Baru
Fajar menyingsing di atas langit Jakarta dengan warna keabu-abuan yang dingin dan kelabu. Gerimis deras yang membasahi kaca jendela kamar utama sepanjang malam kini telah sepenuhnya reda, menyisakan butiran embun tebal yang menempel di permukaan kaca tinggi mansion. Udara pagi terasa meresap masuk, menyebarkan aura dingin yang menusuk tulang.
Di dalam kamar utama yang megah, suasana masih diselimuti oleh keheningan yang pekat dan intim. Clarissa membuka matanya secara perlahan. Keheningan ruangan itu berkelindan dengan aroma khas minyak kayu cendana yang menyengat serta wangi parfum maskulin Dominic yang masih melekat kuat di atas seprai.
Di sampingnya, Dominic tertidur terlentang dengan dada tegap yang naik turun secara teratur. Pria itu bertelanjang dada, hanya berselimut kain sutra hitam hingga batas pinggangnya.
Cahaya fajar yang merembes samar menyoroti deretan otot perutnya yang sempurna serta deretan bekas cengkeraman kuku Clarissa di bahu dan dadanya—sebuah jejak nyata yang menjadi saksi bisu betapa liarnya pertarungan gairah dan dominasi antara keduanya sepanjang malam.
Clarissa menyunggingkan senyuman tipis yang amat dingin dan memikat.
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, ia menyibak selimut, berdiri tegak dengan keanggunan mutlak seorang Ratu, lalu mengenakan bathrobe sutra hitamnya yang melekat lembut di kulit. Ia sama sekali tidak melirik Dominic lagi ketika melangkah anggun meninggalkan kamar panas itu menuju ruang kerja pribadinya di sayap barat mansion.
Di depan pintu ruang kerja yang tertutup rapat, Tulus sudah berdiri menunggu dengan seberkas map perak tebal di tangannya.
"Selamat pagi yang cerah, Nyonya Clarissa," sapa Tulus seraya menundukkan kepala dan membungkuk hormat.
"Kondisi di dalam kediaman utama pagi ini sangat bersih. Bibi Sarah, Paman Harun, dan Aris sudah mengemas seluruh barang pribadi mereka dan angkat kaki sebelum subuh tadi, sesuai dengan perintah mutlak dari Tuan Besar Silas."
Clarissa melangkah masuk dan mendaratkan tubuhnya di atas kursi kulit megah di balik meja kerja kayu jati yang diukir indah. Ia mengibaskan gaun tidurnya, lalu menerima map perak tersebut dengan gerakan jemari lentik yang sangat tenang.
"Bagaimana dengan pergerakan Helena di luar sana?" tanya Clarissa dengan nada datar, sembari jemarinya dengan cekatan menyapu lembaran dokumen audit internal.
"Helena masih terbaring dan dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan ketat para pengawal," jawab Tulus cepat.
"Namun, Bibi Sarah yang diselimuti murka luar biasa sempat mencoba menerobos masuk ke ruang rawat Helena tadi subuh. Dia berniat menuntut balas atas skandal memalukan di hotel semalam yang diyakininya sebagai ulah Helena. Beruntung pengawal pribadi klan Pratama berhasil menghadangnya sebelum terjadi kontak fisik."
Clarissa terkekeh pelan—sebuah tawa renyah dan dingin yang dipenuhi rasa puas yang mendalam. Ular-ular beracun di mansion ini kini saling memakan dan menghancurkan satu sama lain tanpa perlu dirinya mengotori jemarinya lebih jauh.
Namun, sebelum Clarissa sempat memberikan instruksi lanjutan, ketukan tegas sebanyak tiga kali bergaung di pintu ruang kerja. Kepala pelayan senior kediaman Pratama berdiri di ambang pintu dengan raut wajah kaku dan tegang.
"Nyonya Clarissa... Tuan Besar Silas meminta Anda beserta Tuan Dominic untuk segera menghadap beliau di ruang kerja utama sekarang juga."
Ruang kerja Kakek Silas yang luas dan berarsitektur klasik memancarkan aura intimidasi yang teramat pekat. Sang Patriark tua duduk tegap di balik meja mahoni besarnya, menggenggam erat tongkat kayu ukir naga dengan wajah yang tenang, namun matanya dipenuhi kalkulasi dingin khas seorang penguasa klan kawakan.
Dominic yang sudah mengenakan setelan jas hitam elegan berdiri tegap di samping Clarissa.
Meskipun raut wajah Dominic tampak datar dan dingin, sesekali manik matanya yang tajam melirik ke arah Clarissa dari sudut mata—mengingat kembali sensasi memabukkan dari tubuh mulus wanita itu yang masih membakar ingatan dan nadinya hingga detik ini.
"Kalian berdua akhirnya datang," suara berat Kakek Silas bergaung memenuhi ruangan, matanya menatap Clarissa dan Dominic secara bergantian dengan pandangan menilai.
"Ada hal mendesak apa sampai Kakek memanggil kami sepagi ini?" tanya Dominic dingin seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
Kakek Silas bersandar pada kursi kulitnya. "Pembersihan semalam memang sangat bersih. Sarah dan Aris sudah dicoret dan bukan lagi bagian dari Pratama Group.
Tapi kekosongan posisi Wakil Direktur Keuangan yang mendadak telah membuat pergerakan saham kita di bursa sedikit goyah pagi ini."
Kakek Silas kemudian mengalihkan tatapan tajamnya, terkunci lurus pada sosok Clarissa.
"Clarissa," panggil sang Patriark dengan nada suara penuh penekanan.
"Bukti audit rahasia yang kau serahkan semalam membuktikan bahwa otak dan caramu berpikir jauh lebih tajam daripada apa yang selama ini kau perlihatkan di rumah ini. Kau bukan lagi Clarissa yang lemah dan penurut."
Clarissa menaikkan satu alisnya, menyunggingkan senyuman Ratu yang teramat anggun dan penuh pesona.
"Terima kasih atas pujiannya yang luar biasa, Kakek Silas. Saya hanya mengambil kembali apa yang seharusnya dijaga di rumah ini."
"Kalau begitu..." Kakek Silas mengambil sebuah berkas dokumen berstempel tinta emas klan, lalu menggesernya perlahan ke tengah meja.
"...mulai hari ini, aku menunjukmu secara resmi sebagai Pengawas Komisaris Utama untuk mendampingi pergerakan Dominic di Pratama Group."
Dominic tersentak kecil, matanya membelalak menatap kakeknya dengan ketidakpercayaan yang nyata.
"Kakek! Memberinya posisi komisaris utama secara mendadak akan memancing gejolak dan reaksi keras dari seluruh dewan direksi senior!"
"Dewan direksi senior tidak memiliki hak untuk bersuara setelah skandal memalukan Sarah pecah!" bentak Kakek Silas tegas, membungkam ucapan Dominic.
Matanya kembali menatap Clarissa dengan binar ancaman yang terselubung. "Tapi ingat satu hal, Clarissa... penunjukan posisi megah ini tidak gratis. Ada syarat mutlak yang harus kau penuhi."
Clarissa melangkah satu titik lebih dekat ke meja kerja sang Patriark, menatap mata tua Kakek Silas tanpa menyisakan sedikit pun rasa gentar atau ragu.
"Syarat apa yang Kakek maksudkan?" tanya Clarissa halus namun sarat akan nada menantang.
Kakek Silas menyunggingkan senyuman tipis yang sangat licik. "Dalam jangka waktu dua minggu ke depan, kau harus berhasil menggolkan proyek akuisisi raksasa dengan konsorsium Vane & Co di Singapura. Jika kau gagal membawanya, bukan hanya posisimu yang akan dicabut secara tidak hormat, tetapi seluruh hak waris atas nama Clarissa di keluarga ini akan dihapus secara permanen."
Dominic membelalak lebar. Vane & Co adalah konglomerasi raksasa Singapura yang terkenal sangat dingin, keras, dan tak tersentuh—bahkan Dominic sendiri telah mencoba menembusnya selama dua tahun terakhir tanpa hasil sama sekali!
Kakek Silas jelas-jelas sengaja memberikan tugas mustahil ini untuk menjebak sekaligus menjatuhkan Clarissa kembali ke dasar ranah kejatuhan.
Namun, bukannya panik, tertekan, atau gemetar, Clarissa justru melepaskan tawa renyah yang amat memikat dan anggun. Binar keemasan di matanya berkilat dengan aura dominasi yang mematikan.
Vane & Co? batin Victoria dengan ejekan paling dingin di dalam hatinya. Kakek tua ini benar-benar tidak tahu bahwa pendiri dan pemilik utama konsorsium Vane & Co di Singapura tidak lain adalah tangan kanan sekaligus bawahan setiamu di kehidupan masa lalumu.
Clarissa menyentuh pinggiran dokumen di atas meja dengan ujung jemari lentiknya, lalu menatap Kakek Silas dengan senyuman kemenangan mutlak yang menguasai seluruh atmosfer ruangan tersebut.
"Dua minggu terlalu lama untuk tugas sesederhana ini, Kakek," bisik Clarissa amat manis, tajam, dan menyengat emosi. "Saya akan menyerahkan berkas kontrak akuisisi Vane & Co yang sudah ditandatangani secara resmi... hanya dalam waktu tiga hari."
sangat menarik sekali