Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Setelah menandatangani kontrak dengan perusahaan milik Om Herman, kehidupan Katrin berubah drastis.
Namanya mulai sering muncul di berbagai media. Wajahnya terpampang di papan iklan, media sosial perusahaan, bahkan beberapa acara besar yang diselenggarakan oleh perusahaan tersebut.
Katrin semakin sering bertemu dengan ibu Adrian dan ayah tirinya, tanpa disadarinya, berita tentang dirinya yang kini menjadi model dari produk pesaing akhirnya sampai ke telinga Adrian, Awalnya Adrian tidak terlalu mempermasalahkannya, ia mengira Katrin hanya sedang berusaha membuktikan bahwa dirinya juga mampu sukses tanpa bantuan Adrian.
Namun, beberapa bulan kemudian, Adrian mulai menyadari bahwa persaingan itu bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap remeh, Produk yang dibintangi Katrin justru menjadi pesaing terberat produknya.
Bahkan setelah tiga bulan, produk tersebut berhasil menduduki peringkat pertama penjualan dan mengalahkan produk Adrian yang sebelumnya menjadi produk paling laris di pasaran.
Adrian tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Bukan hanya karena produknya kalah.
Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya, karna katrin sedikit banyak mengetahui tentang perusahaan, karna sang Ayah merupakan salah satu penanam saham terbesar diperusahaan Adrian. Sang Ayah pun sudah mengingatkan Katrin untuk tidak bergabung disana, namun katrin bersih keras untuk tetap berada disana, karna ada maksud lain dalm hatinya , hingga ia memilih menerima tawaran om Herman ayah tiri Adrian. Tiga bulan setelah kesuksesan itu, Katrin akhirnya memberanikan diri datang ke kantor Adrian ,Begitu pintu ruangannya terbuka, Adrian langsung mengangkat wajah nya dari leptop yanga ada di hadapannya, tatapannya berubah dingin, sambil menahan sedikit kekesalan pada katrin
"Ada apa kau ke sini?" tanyanya. "Seharusnya kau sudah tidak bisa datang ke perusahaan ini lagi"
Katrin justru tertawa kecil, bukan tawa bahagia, melainkan tawa seseorang yang merasa puas karena akhirnya berhasil mengalahkan orang yang selama ini dianggap lebih tinggi darinya.
"Adrian..." Katrin melangkah masuk. "Apa kau sangat membenciku sekarang?"
Adrian menatapnya tanpa ekspresi.
"Setelah aku menjadi saingan terberat produkmu?" lanjut Katrin dengan senyum penuh kemenangan.
"Bukan itu masalahnya."
"Lalu?"
"Kau bisa saja datang ke sini untuk mencuri informasi tentang sesuatu yang berharga dari perusahaan ini."
Katrin tertawa senang, sampai tidak bisa menahan suaranya yang sangat kencang itu
"Hahaha... tenang saja, Adrian. Aku bukan pencuri."
Ia berhenti sejenak, kemudian menatap Adrian dengan tatapan penuh arti.
"Aku bahkan tidak bisa mencuri hati kamu, pastinya kau tau itu."
Wajah Adrian semakin dingin.
"Langsung saja. Apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada." jawab katrin
"Kalau begitu pulanglah, tidak usah membuang - buang waktu mu disini."
"Apa aku sudah tidak bisa bertemu dengan mu, Adrian, aku sangat merindukan mu." katrin berjalan mendekati adrian kemudian merangkul tubuh adrian dari belakang sementara adrian masih duduk dimeja kerjanya
Adrian menghela napas panjang, sambil memcoba melepaskan pelukan Katrin
"Katrin, dari dulu kau tidak pernah berubah. Aku tahu kalau kau menginginkan sesuatu, kau pasti akan datang mencarinya."
Katrin tersenyum.
"Ya. Kau benar adrian."
Ia melangkah kedepan jendela yang ada dibelakang adrian
"Aku memang menginginkan sesuatu."
Adrian berdiri dari kursinya, langsung menatap katrin
"Dan aku sudah mendapatkannya."
"Baguslah...,Kalau begitu kau bisa kembali ke rumahmu sekarang."
Katrin kemudian senyum sambil melangkah mendekati Adrian
"Aku akan pergi setelah memgatakan ini."
"Apa." sahut Adrian singkat
"Adrian....Apa kau masih tertarik dengan orang yang waktu itu pernah membuntuti Karina?"
Adrian kembali menatap Katrin dengan penuh penasaran, sesuatu yang tidak ia dapatkan hasilnya setelah ia juga menyewa seseorang untuk mencari informasi tentang itu.
"Siapa?"
Katrin tertawa kencang, namun Adrian tetap tenang mendengarkan jawaban katrin
"Hahaha... kau pasti tidak akan percaya dengan ini."
"Jangan berbelit-belit katrin, langsung saja."
"Apa kau sangat khawatir dengan Karina dibanding aku?"
"Kau tau segalanya tentang dunia bisnis, sementara Karina, ia baru saja memulainya saat ini."
Katrin tersenyum "Baiklah Adrian aku akan memberitahumu, dan aku yakin kau tidak akan percaya."
"katakan..."
"Dia ayah tirimu, sebelum aku menjadi modelnya, dia lebih dulu meminta karina."
Adrian membeku.
"Apa?" adrian kaget dengan perkataan katrin
Ruangan itu mendadak terasa sunyi.
Adrian menatap Katrin dengan wajah serius.
"Dari mana kau tahu?"
"Bukankan kau yang mengatakan sendiri, kalau aku butuh, maka aku akan datang, dan aku datang kesana bukan hanya untuk menjadi model adrian, "Aku menemukan foto Karina di kantor Ayah tiri mu"
Katrin sengaja berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Dan dia sendiri yang mengatakannya kepadaku, tentang Keinginannya menjadikan Karina sebagai model dari produknya."
"Kurang ajar, dia bahkan ingin mengambil sesuatu yang berharga dariku?"
"Apa yang kau katakan ini benar katrin?"
Katrin mengangguk.
"Iya...Dia memang mengincar Karina, kau tanya kan saja pada karina apa ada orang yeng pernah menawarkan pekerjaan model padanya!"
Adrian kini berjalan kedekat jendela, kemudian memukulkan tanganya kejendela sebagai rasa kesalnya. Sementara Katrin kemudian tersenyum tipis dalam hatinya ia senang, mungkin dengan dia memberitahukan ini, adrian akan merasa senang dengan nya dan bisa sedikit lebih dekat dengan nya kembali
"Jadi Adrian, Kalau aku tidak menjadi model di sana, mungkin Karina akan terus menjadi sasaran."
Tatapan Adrian semakin tajam.
"Dan dia bisa saja berada dalam bahaya."
Adrian menatap Katrin dingin.
"Apa Kau ingin aku berterima kasih kepadamu, katrin?"
"Tidak juga." Katrin menggeleng pelan.
"Aku hanya ingin kau menerima aku kembali Adrian."
Katrin mulai mendekat ke Adrian yang masih berdiri didekat jendela
"Adrian..." suara Katrin melembut. "Mari kita kembali seperti dulu."
Katrin melangkah semakin dekat.
Adrian tetap diam sambil menatap katrin, dan tanpa adrian sadari katrin dengan cepat memeluk tubuhnya, adrian hanya diam terpaku, dia tidak bergerak dengan pelukan katrin
lalu tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Karina melihatnya, ia sempat beberapa detik berdiri di sana, melihat pemandangan itu, tubuhnya karina sempat membeku. Matanya langsung tertuju pada Katrin dan Adrian, dan tak kuasa air matanya jatuh seketika
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara, adrian dan katrin akhirnya melihat pintu yang terbuka dan melihat sosok Karina diluar sana.
Jantung Karina terasa seperti dihantam sesuatu.
Tatapan Adrian berubah panik.
"Karina..."
Namun Karina segera menundukkan wajah.
"Maaf."
Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya, kemudian
Ia berbalik pergi, langkahnya begitu cepat hingga ia tidak memperdulikan suara Adrian yang memanggilnya
"Karina tunggu!"
Adrian segera melangkah mengejarnya, ia mencoba berlari mengejar Karina, Namun sebelum Adrian mencoba berlari, tangan katrin berusaha mencegahnya, Katrin tersenyum tipis, dan untuk pertama kalinya hari ini ia merasa rencananya berhasil, membuat Karina merasakan apa yang pernah dia rasakan saat melihat Adrian bersama nya,
Dan bagi Karina adegan itu membuat hatinya kembali hancur, ia sudah melihat sesuatu yang bisa membuat hubungan mereka kembali retak. Dan apakah adrian mampu meyakinkan hati Karina bahwa apa yang dilihatnya bukan seperti yang ia pikirkan. Atau kali ini, salah paham itu justru akan menjadi awal dari keretakan hubungan mereka?