Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *21
Jika saja ia bisa berjalan dengan kedua kakinya, mungkin dia akan berlari agar segera sampai ke kamar. Tapi, dia tidak bisa melakukan hal itu karena terhalang keadaanya yang tidak memungkinkan untuk bergerak bebas akibat cacat ini.
Kamar yang dekat terasa sangat jauh bagi Zihan yang ingin segera sampai. Meskipun sebenarnya, itu hanya perasaan saja. Karena dia ingin segera bertemu Aulia agar bisa menjelaskan semua kesalahpahaman yang sedang terjadi sekarang.
Ketika Zihan telah tiba di depan pintu kamar, tanpa banyak basa-basi lagi, dia langsung mendorong pintu itu dengan keras. Aulia yang kini sedang berbaring sambil memeluk guling, langsung terkaget akan ulah Zihan barusan.
Tapi, dia tidak ingin melihat wajah Zihan sekarang. Karena itu, meski dia terkejut, dia tetap tidak akan bergeming sedikitpun. Dengan sekuat tenaga yang ia punya, dia akan mempertahankan posisi baringnya saat ini.
Zihan yang melihat Aulia sedang berbaring tengkurap, langsung mendekat. Ia tahu kalau saat ini, Aulia pasti sedang sangat marah padanya. Karena itu, Aulia tidak melirik dirinya sedikitpun.
"Aulia. Aku ingin menjelaskan apa yang sedang terjadi. Surat itu bohong. Aku tidak pernah mempunyai anak dari perempuan manapun."
Aulia tetap diam dengan posisi yang masih sama. Zihan tahu, kalau saat ini, Aulia mendengarkan apa yang ia katakan. Karena itu, dia akan terus berucap apapun yang ia inginkan.
"Lia, surat ini hanya fitnahan saja. Aku bisa bersumpah kalau aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan perempuan manapun."
"Ya, aku akui kalau aku adalah pria bajingan yang suka mempermainkan perempuan dulunya. Tapi, aku tidak pernah menggauli mereka, Aulia. Sekalipun aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan satu pun perempuan yang aku jalin hubungan. Aku hanya suka bersama mereka. Tapi tidak dengan menyentuh mereka layaknya hubungan suami istri pada umumnya. Karena aku masih bisa berpikir sedikit sehat."
"Aku hanya suka bermain-main. Tapi masih belum siap menjadi ayah dari manusia yang lain, atau suami orang lain. Karena aku masih ingin bebas waktu itu. Karena itu, aku tidak pernah menyentuh para perempuan itu satu kali pun."
"Jadi, jangan percaya dengan apa yang kamu ketahui hari ini, Aulia. Karena jika aku tidak pernah menyentuh mereka, maka dari mana aku bisa punya anak? Itu jelas-jelas hal yang mustahil. Tidak pernah berhubungan suami istri, bagaimana bisa punya anak, bukan?"
Setelah omongan panjang lebar itu Zihan ucapkan, akhirnya, Aulia terpancing juga. Dia yang sebelumnya sakit hati dengan Zihan, kini mempertimbangkan kembali perasaan sakit hatinya itu.
Aulia pun memilih untuk bangun dari duduknya. Lalu, mata mereka pun saling bertemu pandang karena sejak tadi, Zihan ada di samping Aulia.
"Apakah ... kata-kata yang Kak Zihan ucap itu benar? Apakah aku bisa percaya setelah aku melihat beberapa bukti yang perempuan itu kirimkan?"
"Apa barang bukti yang dia kirimkan yang membuat kamu begitu yakin kalau aku bicara kebohongan barusan, Aulia? Karena semua yang aku katakan tadi itu adalah kebenaran. Aku rela bersumpah demi apapun kalau aku mengatakan hal yang sangat benar. Karena masa lalu aku, hanya aku yang tahu."
"Jika Kak Zihan benar, bagaimana perempuan itu bisa mengirimkan padaku bukti USG lima tahun yang lalu? Bagaimana dia bisa mendapatkan hal yang seperti itu, Kak?"
"Aulia. Itu bukan bukti. Soal laporan USG itu bisa mereka dapatkan dari siapa saja yang sekarang punya anak berusia lima tahun. Pikirkan saja soal itu."
Aulia terdiam. Perlahan, benaknya membenarkan apa yang Zihan katakan. Dia yang tidak berpikir soal itu malah terjerumus ke dalam rasa sakit akibat keteledorannya sendiri. Terlalu percaya akan apa yang ada di depan mata. Tidak berpikir jernih soal apa yang ia lihat itu benar atau salah. Malah langsung menerimanya mentah-mentah, lalu menelannya bulat-bulat tanpa ia olah terlebih dahulu.
Sementara itu, Zihan yang melihat Aulia mulai melemah, langsung memegang tangan Aulia.
"Percaya padaku, Aulia. Aku tidak berbohong sedikitpun padamu. Karena aku sudah memilih untuk melabuhkan hatiku padamu sekarang. Aku rela melakukan apapun agar kamu percaya padaku. Karena aku memang tidak berbohong apapun. Tidak ada rahasia apapun lagi yang aku sembunyikan dari kamu."
"Aulia, masa laluku memang sangat buruk. Aku tahu tidak mudah buat kamu untuk percaya apa yang aku katakan. Tapi, cobalah berpikir yang jernih, sayang. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan kamu. Bukti yang kamu punya juga tidak akurat. Dan, aku rela melakukan apapun yang kamu minta asal kamu mau percaya padaku. Aku akan bersumpah seperti apapun yang kamu inginkan. Karena aku memang tidak sedang berbohong."
Aulia masih tidak bisa berucap. Dia menatap mata Zihan yang kini menatapnya dengan penuh harap. Bukan hanya itu, Zihan juga sekarang sedang menggenggam erat tangannya. Terasa getaran hebat dari tangan Zihan saat ini. Aulia merasa kalau Zihan memang sedang berusaha sangat keras untuk membuat dirinya percaya kalau apa yang barusan dia katakan itu adalah sebuah kebenaran.
"Percayalah padaku, Aulia. Percayalah padaku," ucap Zihan sambil mencium kuat tangan Aulia.
Perlahan, perasaan Aulia pun mulai meluluh. Dia pun tidak ingin membantah hatinya yang memang sangat mempercayai semua perkataan Zihan.
"Baiklah, Kak Zihan. Aku percaya apa yang Kak Zihan katakan."
Ucapan itu seakan air mengalir di tengah kehausan bagi Zihan. Matanya pun langsung berbinar karena ucapan Aulia barusan.
"Kamu percaya, Sayang? Katakan! Aku harus berbuat apa agar perasaanmu benar-benar bisa lega dan tidak menyimpan sedikitpun rasa tidak enak atas apa yang sedang terjadi."
"Tidak perlu melakukan apapun, Kak Zihan. Karena kalau dipikir-pikir, yang salah itu adalah aku. Aku yang terlalu gegabah saat mendapat informasi tentang kamu. Tidak berpikir dengan tenang, melainkan malah langsung merasa kesal akan berita yang baru aku dapatkan. Seharusnya, aku bicarakan dulu padamu supaya tidak ada salah sangka diantara kita."
"Bukan salah kamu, sayangku. Aku maklum jika kamu langsung menerima berita buruk itu. Karena masa laluku yang buruk, maka kamu juga akan berpikir kalau berita itu benar. Jadi, itu bukan salah kamu."
Ucapan Zihan barusan malah membuat Aulia merasa bersalah sekarang. Karena memang, akibat masa lalu Zihan yang buruk itu, dia malah langsung menghakimi Zihan tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu. Beruntung, Mbok Yah adalah orang tua yang cerdas. Langsung menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Jika tidak, maka entah seperti apa hubungan mereka saat ini.
Zihan yang merasa lega akan penjelasannya diterima dengan baik oleh Aulia, langsung menjatuhkan kepalanya ke atas pangkuan Aulia yang kini sedang duduk berjongkok di samping ranjang.