Indonesia
NovelToon NovelToon
Matahari Terbit

Matahari Terbit

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yunikbener

Kamelia gadis manis dengan kulit kuning langsat berbadan mungil bekerja dengan keras untuk membantu perekonomian keluarga. Apapun pekerjaan dia lakoni selama itu dalam frame khalal untuk membantu ibunya yang seorang janda harus menyekolahkan adik laki lakinya yang masih duduk di sekolah menengah pertama. Hingga suatu ketika Kamelia bertemu dengan laki laki yang sangat mencintainya, memaksa Kamelia untuk menjadi pendamping laki laki itu. Dari situlah awal dari perubahan hidup Kamelia. Di cintai oleh laki laki posesif dengan perangai yang keras membuat Kamelia terkadang merasa hidup bagai di dalam penjara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunikbener, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Jeni berjalan dengan tergesa gesa. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan jam enam sore hari. Jeni berusaha pulang cepat, dia berharap bisa sampai di apartemen sebelum Mario. Di dalam perjanjian Mario memberinya batas waktu sampai jam lima sore Jeni sudah tidak boleh berada di luar apartemen. Sedangkan hari ini Jeni banyak sekali pekerjaan, Yoga asisten Vincent tak tanggung tanggung memberinya banyak sekali pekerjaan dan harus segera diselesaikan. Jeni tampak mengelus dada dan menghembuskan nafas lega begitu melihat taksi yang di pesannya sudah berada di depan kantor. Ia segera masuk dan menyuruh sopir taksi untuk melajukan mobilnya dengan cepat.

Dengan setengah berlari Jeni menuju lift. Dia menyenderkan tubuhnya di dinding lift sambil memejamkan matanya. Dadanya berdebar, kepalanya nyut nyutan. Dia sudah membayangkan bagaimana reaksi Mario kalau dia datang terlambat. Harapan Jeni hanyalah semoga Mario belum sampai di apartemen dan tidak mengetahui tentang keterlambatannya hari ini. Begitu pintu lift terbuka dia langsung keluar dan berlari menuju unit apartemen Mario. Dengan cepat Jeni menekan tombol pintu, dengan tergesa Jeni masuk dan berjalan cepat menuju kamar. Tanpa ia sadari ada sepasang mata setajam elang sedang memperhatikannya.

Prok prok prok prok. Jeni kaget begitu mendengar suara tepuk tangan yang menyambut kedatangannya. Dengan susah payah Jeni menelan ludahnya begitu melihat Mario berdiri di sebelah sofa depan pintu kamar yang ia tempati bersama Mario. Tubuh Jeni sudah mulai bergetar ketakutan melihat Mario yang berjalan pelan menuju ke arahnya.

"Sudah mulai berani rupanya ya" kata Mario setelah berada dekat dengan Jeni.

Jeni menunduk menghindari tatapan tajam mata Mario.

"Maaf, hari ini aku ada banyak sekali pekerjaan" Jeni berkata dengan sangat hati hati. Ia berusaha sebaik mungkin memilih kata kata untuk menjelaskan alasan tentang keterlambatannya, karena Jeni tidak mau Mario akan semakin marah kalau sampai ia salah memilih kata kata.

Mario meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu Jeni, diangkatnya wajah Jeni yang menunduk dengan ibu jarinya.

"Mau di hukum apa?" Mario berbisik tepat di telinga Jeni, membuat Jeni merinding.

Jeni hanya bisa diam mendengar bisikan Mario. Sedangkan Mario tersenyum miring melihat kegugupan Jeni. Tanpa aba aba Mario langsung melahap bibir Jeni. Mario menyeret Jeni masuk ke dalam kamar, tak membiarkannya untuk sekedar membersihkan diri terlebih dahulu. Mario mewujudkan omongannya pagi tadi untuk membuat Jeni tak bisa jalan. Semalaman Jeni di kurung di bawah kungkungannya, Jeni tak di biarkan nya barang sedetikpun untuk melepaskan diri.

Pagi hari Mario sudah bersiap akan berangkat ke kantor. Dilihatnya Jeni dari pantulan cermin yang ada di meja rias saat menyisir rambut. Mario tampak tersenyum puas melihat wanitanya tak beranjak dari tempat tidur. Setelah selesai menyisir rambutnya Mario berjalan mendekat ke arah Jeni. Ia duduk di tepi ranjang sambil tersenyum mengamati wajah Jeni. Lama Mario menikmati wajah Jeni yang sedang tertidur pulas, dengan gemas di kecupnya bibir Jeni. Perlahan Jeni pun membuka matanya, ia menggeliat merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku. Jeni melenguh merasakan seluruh badannya terasa pegal. Jeni berusaha bangun dari tidurnya melihat Mario sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Jeni duduk dengan tubuh yang masih di balut selimut, karena Mario tak membiarkannya memakai sehelai kainpun tadi malam.

"Mau kemana?" tanya Mario sambil menyelipkan rambut Jeni ke belakang telinga.

"Mau siap siap ke kantor" jawab Jeni sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri melemaskan otot lehernya yang kaku.

Mario mengambil handphone Jeni dan melemparkannya ke pangkuan Jeni.

"Hubungi kantor, katakan kamu tidak bisa masuk kerja hari ini karena sakit. Hari ini aku tidak mengizinkanmu selangkahpun pergi dari apartemen ini. Titik! aku nggak mau di bantah"

Jeni mengetik pesan perijinan di bawah sorot mata Mario yang tajam. Jeni hanya bisa pasrah tanpa berani membantah. Ia lebih baik menuruti apa yang dikatakan Mario dari pada di buat tidak bisa bergerak lagi oleh Mario. Setelah memastikan Jeni tidak akan berangkat ke kantor Mario lalu mencium kening Jeni dan berangkat bekerja.

"Aku berangkat, sudah aku pesankan makanan untuk kamu sarapan paling sebentar lagi datang"

Jeni mengangguk sambil melorot kan kembali tubuhnya ke kasur. Mario terkekeh melihat tingkah Jeni yang lucu menurutnya.

1
Prasetya Wibowo
jangan baperan donk thor..cukuo kita 2 aja yg baperan bc nya..itu cm sedikit badai yakin kami tetap mendukungmu.. semangat !!!
Sach Zang'er
bucin banget
Ingatkan Aqu
bucin parah
Ingatkan Aqu
pemaksaan
Ingatkan Aqu
aduhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!