Sebuah kejadian mengerikan yang menyerang keluarganya membuat Mahlini harus terpisah dari kedua orang tuannya sejak kecil. Berkat didikan orang tua angkatnya membuat Mahlini tumbuh menjadi gadis kuat dan pemberani.
Kehidupannya berubah semenjak mengenal kaka kelasnya Bagas Putra Hermawan, sehingga membuat dirinya harus terjebak dalam permainan sang ketos. Akankah Mahlini mengikuti permainan yang di buat Bagas dan mampu menemukan orang tua kandungnya.
Simak ceritannya. Jangan lupa like, coment dan vote jangan sungkan beri author semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Pasutri Baru
"Masuklah," Bagas menyuruh Lini masuk kedalam dia membuka pintu apartemennya untuk Lini.
Ya dua hari yang lalu keduanya sudah melangsungkan pernikahan sirihnya yang di adakan di rumah orang tua Lini, pernikahan mereka hanya di hadiri orang-orang tertentu termasuk Bu Bianca selaku orang tua Bagas beliau menyaksikan pernikahan putranya akan tetapi tidak dengan pak Hermawan beliau sama sekali tidak tau menau soal pernikahan sang putra karena Bagas sengaja menyembunyikan darinya. Tidak lupa Bagas mengundang sahabatnya David sekaligus asisten pribadinya, bukan cuma itu dia juga mengundang pak Andi dan bu Renata sepasang suami istri yang bekerja di kantor ayahnya sebagai ob.
Untuk pak Aidan sendiri dengan sangat terpaksa merestui pernikahan putrinya bersama Bagas begitu juga dengan bu Regina, mereka tidak mau kalau sesuatu yang tidak di ingkan terjadi di keluargannya nanti, sebenernya bu Regina tidak mempermasalahkan pernikahan putrinya apapun akan beliau lakukan demi kebahagiaan putrinya. Ya bu Regina bisa melihat kalau sebenarnya Bagas adalah laki-laki yang baik, beliau berharap Bagas bisa menjaga putrinya dari orang-orang yang mungkin akan menghancurkan kebahagiaan Lini di kemudian hari.
Walaupun sebelum acara ijab kabul di mulai Bagas di buat kesel sama drama yang Indah buat, ya Indah yang tidak percaya kalau sahabatnya ternyata beneran mau menika sama Bagas ketos yang selalu memberinya hukuman di sekolah. Dan bagaimana bisa sahabatnya itu malah menikahinya? Sunggu itu semua membuat dia seperti terkena serangan jantung secara mendadak, beberapa kali Indah juga menyuruh agar sahabatnya itu tidak melanjutkan pernikahannya. Indah takut kalau sahabatnya akan menderita setelah menikahi Bagas itulah yang ada di pikiran Indah.
Di satu sisi Lini tidak percaya kalau pak Andi dan bu Renata ikut serta hadir di pernikahannya, karena setaunya yang Bagas hanya mengundang orang-orang tertentu saja karena pernikahan mereka memang di adakan secara tertutup hanya di hadiri keluarga inti dan para sahabat. Tapi ternyata Bagas malah mengundang suami istri tersebut, tapi Lini begitu bahagia dengan kehadiran mereka berdua dia merasakan perasaan nyaman saat berada di deket pak Andi dan bu Renata.
"Ini apartemen siapa?" tanya Lini mengedarkan pandangannya melihat isi di dalamnya.
"Ini apartemen gue, dan mulai sekarang kita berdua akan tinggal di sini." sahut Bagas dingin.
"Apa kita! Tinggal berdua di sini! Maksudnya aku dan kamu?" teriak Lini tidak percaya.
"Hei, jangan berteriak di depan gue, lo pikir ini kebun binatang yang bebas berteriak seperti tadi. Suara lo tuh udah kaya bom molotov yang mampu membuat semua orang kesakitan hanya karena mendengar suara lo itu, sadar diri sedikit bisa nggak sih? Tanpa berteriak suara lo itu sudah bikin kuping orang sakit!" Bagas menatap geram gadis yang kini suda berstatus sebagai istrinya.
"Ya, iya lah kita, memangnya siapa lagi? Lo mau tingga di sini bareng security apartemen sini." sambung Bagas lagi.
Lini terperangah mendengar ucapan Bagas yang mengatakan kalau suaranya seperti bom molotov apa iya suaranya semenyeramkan itu pikirnya? Dia mendengus kesal Bagas selalu saja bisa memancing emosinya sudah di pastikan kalau dirinya kini pasti sudah terkena darah tinggi.
Bagas menutup pintu dan menguncinya dia berjalan melewati Lini dan duduk di sofa dengan kaki di silangkan di atas meja, dia memberi kode lewat ekor matannya agar Lini ikut duduk di hadapannya, setelah istrinya duduk dia menurunkan kakinya dan mencondongkan badannya mendekatkan wajahnya untuk melihat istrinya lebih dekat. Bagas menarik sudut bibirnya karena sudah membuat istrinya kesel, dia menjauhkan wajahnya dari wajah Lini.
"Ingat, tidak ada satu orang pun yang boleh tau tentang pernikahan ini. Dan ya.. Selama lo jadi istri gue lo harus menyiapkan semua kebutuhan gue. Dari menyiapkan seragam sekolah, masak buat gue sarapan dan juga membersihkan apartemen ini sebelum lo berangkat sekolah. Dan ingat setelah pulang sekolah lo langsung ke kantor bekerja seperti biasanya yaitu menjadi ob." dengan seenaknya Bagas memberi tau semua tugas yang harus di kerjakan Lini.
"Apa-apan ini! Hei... Aku ini bukan pembantu kenapa kau memberikan pekerjaan sebanyak itu!" Lini sunggu tidak terima di perlakukan seperti pembantu.
"Memangnya lo siapa?" tanya Bagas tersenyum culas.
"Bukankah kau sudah menikahiku? Itu artinya aku ini sudah menjadi istrimu," jawab Lini mengingatkan Bagas.
"Rupanya lo bahagia banget bisa menikah sama gue? Itu sebabnya lo berharap banget kalau gue mau mengakui kalau lo itu istri gue," ucapan Bagas bener-bener membuat Lini naik pitam.
"Kau! Dasar ketos gila, brengsek, kurang ajar," umpat Lini memaki suaminya.
Lini mengepalkan kedua tangannya dia berdiri berjalan mendekati suaminya mau memberi Bagas pelajaran. Nggak sengaja kakinya tersandung meja dan membuatnya hilang ke seimbangan sampai membuatnya terjatuh.
Bruk!!!
"Akh!" keluhnya.
Bagas menaikan alisnya saat melihat istrinya terjatuh dengan bibir mencium lantai, bukannya membantu dia malah tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar apalagi melihat Lini kesakitan. Setelah puas menertawakan istrinya barulah dia mengulurkan tangannya untuk membantu Lini berdiri.
"Ayo sini gue bantu," ujarnya menahan tawa.
"Tidak usah aku bisa bangun sendiri," Lini menyingkirkan tangan Bagas, dia mengusap jidatnya yang sedikit benjol pun bibirnya sedikit berdarah.
Bagas meringis melihat dahi istrinya benjol apalagi bibirnya sedikit mengeluarkan darah, dia tau pasti rasanya sakit sekali. Bagas berdiri membatu istrinya berdiri dan menuntunnya agar duduk di sofa, tidak peduli istrinya yang memberontak menolak bantuannya.
"Diamlah dan duduk di sini biar lukanya gue obatin," ujar Bagas terdengar lembut.
"Tidak perlu, aku bisa ngobatin lukaku sendiri," tolaknya.
"Diam atau gue lempar lo ke balkon apartemen ini." ujar Bagas tersenyum smirk.
Lini diam membeku dia sedikit takut dengan ancaman suaminya, dia takut kalau Bagas bener-bener akan melemparkan dirinya ke balkon apartemennya yang ada di lantai 18, membayangkan saja membuatnya bergidik ngeri.
Bagas meninggalkan istrinya mau mengambil obat, nggak lama dia kembali membawa segelas air putih di menyodorkan ke istrinya, dengan ragu Lini menerima segelas air putih yang di berikan suaminya dan langsung meminumnya hingga tandas karena dia memang sangat haus.
Cup.
"Ini obatnya biar cepet sembuh," ujar Bagas tersenyum penuh kemenangan melihat istrinya.
Lini membulatkan matanya saat Bagas malah mengecup dahinya dan juga bibirnya, tidak habis pikir dengan suaminya jadi ini yang dinamakan mengobati? Lini mendorong dada Bagas agar menjauh darinya terlalu lama berdekatan dengan suaminya sang tidak baik pikirnya.
Plak!
"Dasar mesum, kau malah mengambil kesempatan dalam kesempitan," Lini mendaratkan tamparan di pipi suaminya.
"Memangnya sala mesum sama istri sendiri," sahut Bagas mengerlingkan matanya.
"Iya. itu salah! Dan ini barang-barang punya kamu beresin sendiri aku tidak mau membereskan semua barang milikmu. Satu lagi aku nggak mau mengerjakan semua pekerjaan yang kau berikan padaku! Aku ini bukan pembantu yang harus menuruti semua perintah kamu," Lini melempar koper Bagas dan lebih memilih masuk kedalam kamar meninggalkan Bagas sendirian.
"Hei... Cegil berani ya lo sama gue!" teriak Bagas.
"Ini sungguh sangat menyenangkan," sambungnya kemudian dan tersenyum.
******
Bersambung......