Tentang bagaimana AKU, KAU dan juga TAKDIR sebagai perantara menemukan KITA.
Benang merah yang semula kusut, sedikit demi sedikit mulai terurai. Ketika hati mulai menerima keadaan, duri kecil yang bersembunyi dalam diam tak sengaja tersentuh dan menimbulkan luka.
Sulaman cerita baru terpaksa terhenti dan terlepas dari tautan, merombak semua tatanan hati dan juga perasaan. Menciptakan gemericik air lalu melunturkan rasa.
Bisakah hati memilih atau logika yang menyapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ninda moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heart Handler
Sabtu pagi, seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. Tapi karena rapat dadakan dan berpotensi menyebabkan lembur membuat Yerin urung menebarkan senyum. Apalagi saat Kim Seokjin sudah datang lebih awal di ruang rapat lengkap dengan senyum penuh dengan kelicikannya itu. Rapat pagi, pukul 09.00 menjadi awal mula Yerin ingin membumihanguskan ruangan itu dalam kejapan mata. Apalagi saat secara resmi dirinya dinyatakan menjadi pemeran utama dalam skenario buruk leader-nya itu. Jika saja satu doa Yerin berhasil menembus langit ke tujuh, Yerin berharap Seokjin berubah jadi Alpaka saja. Setidaknya masih enak dipandang dan diajak bermain.
Selesai dengan rapat, hanya selang beberapa menit saja meja Yerin sudah menjelma menjadi kuburan berkas. Sejeong antara ingin tertawa juga merasa kasihan dengan nasib Yerin. Sambil menepuk pelan pundak Yerin, Sejeong pamit undur diri untuk kembali ke habitatnya. Sedangkan Yerin hanya bisa mematung, ingin marah tapi tidak bisa. Dirinya hanya bisa menghela napas panjang dan mulai mengerjakan tugasnya, mengeluh pun tidak akan bisa menyelesaikan apapun.
Di saat seperti ini, ponselnya berkedip dan menampilkan pesan singkat. Itu dari Taehyung, agak ragu Yerin membukanya dan di detik berikutnya bibir Yerin membentuk sebuah senyuman. Meletakkan kembali ponsel miliknya, Yerin kembali fokus dengan pekerjaannya. Tanpa dia sadari jika ekspresinya baru saja direkam ulang oleh Seokjin dan juga Sejeong.
"Kau lihat? Yerin sekarang benar-benar sudah memiliki pawang."
"Daebak, pria mana yang berhasil menjinakkan singa Savana?" Sejeong bergumam pelan.
"Tapi Yerin tidak pantas bersikap lembut seperti itu."
"Itu karena leader yang menjadi lawannya, sudahlah leader menyerahlah untuk mendapatkan hati Yerin. Kau sudah kalah telak dengan pria misterius itu."
Seokjin berniat untuk membalas ucapan Sejeong tapi tertahan. Jika debat ini diteruskan, bisa-bisa tidak hanya Yerin yang dalam masalah besar, dirinya pun akan mendapatkan dua kali lipatnya. Mengabaikan Sejeong yang masih berusaha mengorek informasi, Seokjin melenggang pergi menuju ruangannya. Sedikit dari lubuk hatinya, Seokjin juga berpikir jika hubungan Taehyung dan Yerin tidak sepenuhnya buruk. Keduanya dipertemukan dengan skenario yang unik dan juga dari latar belakang yang jauh berbeda. Seokjin hanya bisa berharap keduanya bisa bahagia dengan cara mereka sendiri.
Yerin mengerjakan semua berkas yang menumpuk di meja kerjanya hanya dalam waktu 3 jam. Tepat waktu sekali untuk kembali mengisi daya dan memberi makan cacing-cacing yang sudah kelaparan di perutnya. Setelah merenggangkan otot-ototnya Yerin bangun dan segera menghampiri Sejeong dengan wajah ceria.
"Kau sudah selesai?"
"Tentu saja."
"Berkas sebanyak itu?"
Sejeong hampir saja ingin berteriak heboh jika saja Yerin tidak menatapnya dengan tajam. Dia bahkan harus menutup mulutnya sendiri dan menggelengkan kepalanya pelan. Benar-benar luar biasa, berkas sebanyak itu selesai dalam waktu singkat ditambah lagi dengan raut wajah Yerin yang malah terlihat bersemangat. Sebagai gantinya, Sejeong segera menarik Yerin dan mengajaknya pergi ke kafetaria kantor. Yerin yang bekerja ekstra tapi Sejeong yang kelaparan.
"Kau ingin makan apa? Biar aku yang mentraktirmu."
"Kau yakin?"
"Tentu, anggap saja ini caraku membantu pekerjaanmu."
"Terimakasih banyak Sejeong." Yerin memeluk Sejeong dari samping, setelah sedikit mengusir, Sejeong kembali fokus pada menu yang akan dia pesan.
Sementara Sejeong menunggu makanan, Yerin mencari tempat duduk. Hari ini kafetaria kantor terlihat lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena beberapa divisi masih mengadakan rapat. Seokjin bilang, khusus untuk hari Sabtu minggu ini, semua karyawan diwajibkan untuk lembur. Yerin tiba-tiba teringat Taehyung, divisinya dia pasti juga akan lembur. Mengingat hal itu membuat Yerin tersenyum-senyum sendiri. Sebuah keuntungan bagi dirinya, karena jarang sekali kantornya mengadakan lembur masal.
Terutama untuk divisi yang Taehyung tempati. Divisi itu adalah divisi tersantai yang pernah dia temui, berbeda sekali dengan divisi miliknya, yang sudah seperti kurcaci pencari berlian. Tapi Yerin mendengar rumor jika Manajer di divisi itu tidak ada ramah-ramahnya. Mereka yang dari divisi Taehyung menyebutnya sebagai 'Pangeran Kegelapan'.
Terdengar sangat konyol memang, tapi katanya Manajer disana tiga kali lebih menyeramkan daripada Seokjin saat mode serius. Jika Seokjin sudah begitu menyebalkan, maka masih ada tiga tingkatan di atasnya. Tuhan memang benar-benar adil. Meski pekerjaan Yerin sudah seperti banjir bandang, setidaknya Seokjin masih ada di tahap normal dibandingkan dengan Manajer divisi Taehyung.
Sejeong datang dengan nampan yang penuh dengan makanan juga minuman. Dia benar-benar tidak bercanda dengan kata 'membantu', Yerin bahkan sampai menjatuhkan rahangnya sambil sesekali mengucapkan kata 'gila'. Porsi dua kali lipat untuk mereka berdua, sedangkan Sejeong hanya bisa menampilkan ulasan senyum kebanggaan. Dia sangat yakin jika porsi super ini bisa dihabiskan oleh mereka berdua.
"Kau benar-benar gila."
"Daripada gila karena pekerjaan, lebih baik gila makan."
"Kau benar-benar mau merusak rencana dietku?"
"Dietnya kapan-kapan saja, lagipula tubuhmu sudah sekurus ranting pohon sakura, kau mau tubuh yang bagaimana lagi?"
Yerin memukul Sejeong dengan gemas, mendelik tidak percaya saat tubuhnya disamakan dengan ranting pohon sakura. Enak saja, begini-begini tubuhnya tidak selemah ranting, dirinya bisa saja mengangkat Sejeong dan menghempaskannya kembali. Meski hatinya dongkol, namun tangannya mulai mengambil makanan dan memasukannya ke dalam mulut. Tidak sinkron sekali memang, Sejeong yang tahu jika Yerin sedang mengomel dalam diam hanya bisa tergelak dan tetap memimpin mukbang dadakan itu.
Jarak empat meter dari tempat Yerin dan Sejeong, seseorang tengah memperhatikan dengan ulasan senyum tipis. Hanya sesaat karena di sekon berikutnya seseorang itu pergi melangkah dan menjauh. Jangan sampai keberadaannya menjadi sebuah masalah baru.
Yerin sedikit menyadari jika ada seseorang yang menatapnya dari jarak jauh. Namun saat kepalanya terangkat, dirinya tidak menemukan seseorang yang tengah menatap tepat ke arahnya.
"Perasaanku saja atau memang ada orang yang sedang menatapku?" gumam Yerin pelan.
"Kenapa berhenti makan? Ayo cepat, habiskan makananmu." Sejeong menyikut pelan lengan Yerin.
"Memang perasaanku saja yang tidak beres,"
"Berhentilah bergumam tidak jelas, Jung Yerin. Aku tidak akan membantumu menghabiskan porsi mukbangmu jika kau berhenti mengunyah."
"Astaga, nona Sejeong. Kau jahat sekali, iya iya aku habiskan traktiranmu ini."
Sejeong tersenyum lalu memberi dua jempol ke arah Yerin dengan mulut yang terus mengunyah.
"Mulutku benar-benar harus bekerja ekstra."
Yerin menatap pasrah ke arah makanan di depannya, dirinya bahkan baru menghabiskan seperempat dari semua makanan itu. Sedangkan makanan milik Sejeong sudah berkurang banyak. Benar-benar dewi mukbang Sejeong ini, dia kuat sekali makan dengan porsi sebanyak ini. Tubuhnya juga tidak pernah melebar meski gadis itu sudah banyak makan. Terkadang Yerin iri dengan tubuh Sejeong, berbeda sekali dengan dirinya yang mudah naik berat badan jika makan terlalu lahap.
"Sejeong, aku jadi ingin bertukar badan denganmu."
"Dasar Yerin gila."
...***...