Mimpi dan cita-cita harus terbang begitu saja bagai layangan putus, saat pujaan hati mengatakan jika sedang hamil. Lalu bagaimana bisa Elza bertanggung jawab atas semua yang terjadi, sedangkan keduanya masih berstatus siswa SMA. Menikah adalah solusi terakhir yang diambil kedua belah pihak keluarga setelah kehamilan tersebut diungkap oleh pihak sekolah.
Lantas, mampukah Elza dan istrinya mengarungi bahtera rumah tangga di usia yang sangat muda ini? Mampukah mereka menjadi orang tua yang baik untuk anaknya nanti? Atau justru mereka gagal menjadi orang tua karena masih terlalu muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tie tik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh Rumah Tangga
"Aku pulang dulu, Te," pamit Elzayin setelah menghabiskan semua pesanannya. Dia beranjak dari tempatnya, "Aku duluan, Ra." Tak lupa pemuda tampan itu pamit kepada Zahra.
Senja terukir di cakrawala saat sang surya bersiap kembali ke singgasana. Motor sport yang dikendarai Elzayin melaju kencang di pusat kota. Dia harus sampai di rumah sebelum adzan magrib berkumandang. Hingga beberapa puluh menit kemudian, Elzayin sampai di rumah.
Pemuda tampan itu mengayun langkah menuju ruang tamu. Suasana di sana cukup sepi hingga membuat Elzayin heran. Tidak biasanya di waktu seperti ini keadaan rumah sunyi sepi, biasanya suara Shazia dan Rizhan saling bersahutan.
"Mama kemana ya?" gumamnya sambil melangkah menuju dapur. Elzayin mengernyitkan kening tatkala mendengar suara putranya dari arah kamar mandi.
"Hah? Kenapa stroller Rizhan ada di depan kamar mandi?" Elzayin mempercepat langkahnya untuk memastikan keadaan, "Ma ... Mama," teriak Elzayin saat memastikan keberadaan Fina.
"Stop, El!" sahut Fina dari dalam kamar mandi, "jangan ke sini! Mama sedang buang air!" ujar Fina dari dalam kamar mandi.
Elzayin tercengang setelah mendengar penjelasan ibunya. Dia mundur beberapa langkah dari area kamar mandi. Pemuda tampan itu hanya bisa mengawasi Rizhan dari jauh sampai ibunya selesai menuntaskan aktivitas di kamar mandi.
"Kemana si Olla? Kok bisa Mama sampai bawa Rizhan ke kamar mandi?" gerutunya.
Setelah beberapa menit menunggu di dekat pintu penghubung ke teras belakang, pada akhirnya Elzayin melihat ibu sambungnya itu keluar dari kamar mandi. Dia bergegas menghampiri Fina untuk mengambil Rizhan, "Kenapa Mama membawa Rizhan ke kamar mandi?" tanya Elzayin seraya menatap ibu sambungnya itu.
"Tadi keadaan darurat, El. Biar Mama tetap bisa mengawasi Rizhan, karena bu Sri juga sudah pulang, Shazia juga udah berangkat ke masjid," jelas Fina sambil mengangkat Rizhan dari stroller.
"Lalu di mana Olla? Apa sejak tadi dia mengurung diri di kamar dan mengabaikan Rizhan?" selidik Elzayin.
Fina tak segera menjawab pertanyaan tersebut. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan saat mencari jawaban yang tepat. Dia tidak mungkin mengatakan perihal yang sebenarnya karena bisa memicu pertengkaran di antara anak dan menantunya.
"Dia masih mandi, El. Sebaiknya kamu bersih-bersih dulu deh. Biar Rizhan sama Mama," ucap Fina sebelum meninggalkan Elzayin di sana, dia tidak mau masalah ini berbuntut panjang.
"Mama pasti bohong 'kan? Olla pasti mengurung diri di kamar 'kan?" cecar Elzayin sambil mengikuti langkah ibu sambungnya.
Fina terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Dia menghentikan langkah dan membalikkan badan, "tidak perlu memperpanjang masalah sepele, El. Sudahlah, istrimu mungkin capek. Mama gak masalah kok, Mama suka bermain sama Rizhan." Fina masih berusaha menutupi kebiasaan Yollanda.
"Ma! Tidak mungkin semuanya berjalan baik-baik saja. Mama buang air saja sampai membawa Rizhan ke kamar mandi. Jelas Mama kerepotan dan Olla diam saja. Tidak perlu menutupi semua kesalahan Olla, Ma, karena aku sudah melihat CCTV di rumah ini." Elzayin mengungkapkan kekesalannya.
Dia merasa malu karena sekali lagi membuat Fina kerepotan mengurus putranya. Selama ini dia belum bisa memberikan apapun untuk Fina selain masalah. "Aku akan memberi peringatan kepada Olla agar tidak seenaknya sendiri kepada Mama!" ujar Elzayin sebelum meninggalkan Fina di ruang makan.
"Elza!" ujar Fina dengan tegas hingga membuat langkah Elzayin terhenti, "jangan bertengkar dengan Olla karena hal ini. Apalagi, sekarang waktunya sholat magrib. Sebaiknya kamu mandi dan wudhu dulu. Jangan mengikuti emosi!" tutur Fina seraya menatap putra sambungnya itu.
Elzayin berlalu begitu saja dari hadapan Fina. Entah mengapa, setelah mendengar tutur kata Fina, dia semakin emosi kepada Yollanda. Ketulusan yang terpancar dari sorot mata ibu sambungnya itu semakin mengobarkan emosi dalam diri. Lagi dan lagi Elzayin tidak terima melihat Fina disepelehkan oleh istrinya.
Brak.
Elzayin mengatur napas setelah membuka pintu dengan keras. Suara musik dari ponsel Yollanda terdengar nyaring di dalam kamar. Rupanya, gadis berusia tujuh belas tahun itu sedang asyik di depan ring light dengan tripod dan ponsel. Tentu hal ini semakin menyulut emosi Elzayin.
"Hentikan!" ujar Elzayin dengan suara lantang. "Apa pendengaranmu sudah terganggu sehingga tidak mendengar suara adzan magrib?" Elzayin berkacak pinggang setelah mencabut kabel ring light dari stopkontak.
Bukannya minta maaf dan menyadari kesalahannya, Yollanda justru menatap Elzayin dengan sinis. Dia mengambil ponselnya dari tripod dan memilih duduk di tepian ranjang. Yollanda asyik bermain ponsel tanpa menghiraukan tatapan mata suaminya.
"Olla!" bentak Elzayin saat melihat sikap istrinya.
"Ternyata kamu asyik berjoget tidak penting di sini sedangkan Mama sibuk mengurus Rizhan! Kamu tahu, Mama sampai membawa Rizhan ke kamar mandi karena tidak ada yang menjaganya! Kamu ini maunya apa sih!" Elzayin mengeluarkan kekesalannya.
"Oh." Hanya itu saja tanggapan Yollanda tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
"Apa katamu! Ulangi, Olla!" Emosi Elzayin semakin tersulut. "Apa susahnya sih tinggal menjaga Rizhan di rumah. Jangan terlalu membebani Mama!" ujar Elzayin.
"Kamu bisa gak sih biasa aja bicaranya," jawab Yollanda setelah meletakkan ponselnya di atas meja, "lalu kamu sendiri bagaimana? Apa sudah bisa menjadi ayah dan suami yang baik?" tanya Yollanda sambil menatap Elzayin dengan sorot penuh amarah.
"Kamu tidak usah memutarbalikkan fakta! Memangnya apa kekuranganku sebagai seorang suami?" cecar Elzayin dengan nada bicara semakin tinggi.
"Ck. Suami macam apa ketika pulang kerja terus berduaan dengan cewek di cafe? Apakah itu termasuk suami yang benar? Jawab!" bentak Yollanda ketika terperanjat dari tempatnya.
Elzayin termangu setelah mendengar bentakan Yollanda. Apalagi, setelah mendengar istrinya menyebut dirinya berduaan dengan gadis lain. "Siapa yang kamu maksud? Bicara yang jelas!" Elzayin ingin memastikan tuduhan istrinya.
"Cih! Pura-pura lupa ya! Padahal belum ada tiga jam!" Yollanda berdecih sebelum meraih ponselnya.
Ibu satu anak itu menyerahkan ponselnya kepada Elzayin. Dia menunjukkan rekaman video berdurasi kurang dari satu menit. Video tersebut tentang Elzayin dan Zahra yang sedang tertawa lepas di cafe. "Apa ini disebut suami yang baik? Tertawa lepas bersama gadis lain di tempat umum tanpa ingat jika di rumah ada anak dan istri?" sarkas Yollanda.
"Siapa yang mengirim video itu?" selidik Elzayin.
"Bukan urusanmu!" jawab Yollanda dengan ketus.
"Siapa!!" bentak Elzayin hingga membuat Yollanda melangkah mundur.
Yollanda menelan ludah tatkala melihat wajah tampan suaminya berubah. Sorot matanya menunjukkan kemarahan yang sangat besar. Napasnya pun memburu seperti menahan gemuruh yang siap meledak.
"Candra." Satu nama terucap dari bibir Yollanda. Dia takut Elzayin semakin murka bila menyembunyikan hal ini. Selama ini Yollanda belum pernah melihat kemarahan Elzayin seperti saat ini, "Candra anak IPS," tegas Yollanda dengan suara lirih.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
eh kita udah berteman pa belum yah, lupa lupa inget 🤭✌lop sekebon terong ❤❤
tak perlu di sesali tapi anggap sebagai pendewasaan diri.
happy end.
Elza Yolanda Rizhan ❤❤
Semangat buat othor,,sehat selalu
Bertanggung jawab pada keluarga..
Menempuh pendidikan tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga
dari kisah Elza Yola byk hal yg bisa dipelajari
terutama utk para org tua 😍🙏
sehat dan sukses slalu thor..ditunggu karya selanjutnya 🥰🥰
Terkadang kita sebagai orang tua akan lebih sakit saat putra putri kita di sakiti orang lain..
semua tak lepas dari Bu Fina sebagai pendamping 🥰🥰
keluarga P Ben - b Fina mmg the best lah 😍😍😍
tapi si emak fina wajar sih msh dongkol.. anaknya dihina, disepelekan..jadi kapan lagi bisa balas tu hinaan 🤭😂😂✌️
Balas dendam terbaik memang dengan sukses
Salut...Salut banget malah..