Pernahkah kamu merasa takut kehilangan tanpa memiliki?
Pernahkah kamu merasa cemburu tanpa alasan yang jelas?
Pernahkah kamu diperhatikan tanpa ikatan yang jelas?
Lalu apa yang kamu lakukan?
Menuntut penjelasan?
Menangis?
Atau berdiam saja dan menunggu takdir menjawabnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktaviani 1501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Penjelasan Singkat
..."Sikap tegas dan dinginnya itu hanya sebagai prisai karena dia tidak ingin kecewa untuk ke sekian kalinya."...
"Mau ya, Meg please!" rengek Damar sambil mengguncang-guncangkan tangan Megan yang akan membuat siapun yang melihatnya merasa geli dan jijik.
"Ogah," balas Megan dengan tangan yang menepis tangan Damar secara kasar.
Damar menekuk bibirnya kesal membuat Megan melirik jijik. Sumpah, Megan baru kali ini menenukan sosok cowok segila ini pantas saja Vallesia enggan didekati oleh Damar.
Megan akui Damar memang keren, ganteng dan dompetnya tidak diragukan lagi. Tapi kalau sikapnya menjijikan seperti ini mana ada yang mau.
"Ayolah Meg, sekali aja. Gue mau nunjukin sama followers gue kalau gue udah punya cewek supaya mereka gak gungguin mulu. Dan supaya temen-temen SMP gue juga percaya, gue gak mau disebut jomblo mulu," kata Damar yang sukses membuat kekesalan Megan semakin menggunung. Enak saja dirinya akan dijadikan bahan pameran.
"Gue gak semurahan itu," tegas Megan.
"Yaudah kalau gak mau main-main. Pacaran beneran juga boleh kok,"
Mata Megan melotot. Apa barusan dia tidak salah denger. Apa barusan Damar mengatakan penawaran atau pengajuan. Ah entahlah yang jelas sekarang hati Megan merasa terombang-ambing.
"Gimana mau gak?" tanya Damar.
"Mau apa?"
Belum sempat Megan menjawab, dia sudah dikagetkan dengan kehadiran Vallesia. Beruntung Vallesia sendiri jadi Megan memiliki waktu untuk berbincang dengan Vallesia karena biasanya Vallesia selalu diikuti oleh Nararya.
"Weh, Valles. Untung lo sendiri. Kangen gue sama lo soalnya seharian kemarin lo nempel mulu sama si es batu," kata Megan mulai mengoceh.
"Lo belum jawab pertanyaan gue. Tadi Damar nawarin apa?"
Megan bungkam. Dia bingung harus jawab apa. Tidak mungkin kalau Megan harus menjawab yang sebenarnya. Bisa diledeken abis.
"Itu tadi apa eum ... "
Vallesia tahu ada yang disembunyikan oleh Megan. Sekilas Vallesia menatap Damar dengan tatapan tajamnya dan seketika Damar langsung diserang keringat dingin. Damar memang cowok tapi kalau sudah menghadapi Vallesia nyalinya menciut.
"Eumm ... itu ... tadi gue nawarin mau sarapan di kantin apa enggak karena katanya Megan belum sarapan," jawab Damar.
Di tempatnya Megan bernapas lega. Setidaknya Megan dapat mengakui kalau Damar pintar berbohong.
"Oh gituh. Kalau gituh lo mau gak sarapan bareng gue. Gue bawa sandwich nih," tawar Vallesia sebari mengeluarkan kotak makannya dari dalam tas.
Vallesia terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menyambar kotak makan tersebut.
Tanpa merasa berdosa, orang itu langsung duduk di samping Vallesia dan membuka kotak makan tersebut lalu mulai memakannya dengan lahap.
"Eh, itu punya gue," protes Vallesia sambil tangan yang berusaha merampas kotak makannya namun gagal.
"Berisik," geram Nararya lalu mulai menjajal mulut Vallesia dengan sandwich di tangannya.
Vallesia kesal setengah mati namun terlebih dahulu dia mengunyah sandwich tersebut lalu menelannya dengan tergesa-gesa karena dia tidak bisa berbohong kalau sebenarnya dia lapar.
"Biadab lo," Vallesia mulai menghadiahi Nararya dengan pukulan bertubi-tubi namun tak ditanggapi oleh Nararya.
"Udah?" tanya Nararya santai. Berhubung sandwich-nya sudah habis jadi dia kembali menanggapi Vallesia.
"Lo itu emang nye ... sandwich gue lo habisin," teriak Vallesia ketika matanya melihat kotak makannya kosong. Tak tersisa sepotongpun.
Geram, Vallesia-pun mulai menjambak rambut Nararya dengan gemas. Tak hanya itu Vallesia-pun menyempatkan diri untuk mencakar-cakar muka so cool Nararya.
Di belakangnya, Damar dan Megan sibuk melihat interaksi antara Vallesia dan Nararya. Sungguh aneh di mata mereka. Sosok Nararya yang terkenal dingin dan tidak suka berinteraksi bahkan kepada sesama laki-lakipun dan sosok Vallesia yang terkenal ketus pada laki-laki dengan tiba-tiba bisa sedekat ini. Cinta memang bisa mengubah segalanya.
"Gak mau kayak mereka?" tanya Damar.
Megan menoleh. "Ribut maksudnya?" tebak Megan.
"Bermesraan kayak mereka," jawab Damar yang sukses membuat Megan melotot.
*****
Bel pulang sudah berbunyi satu menit yang lalu. Buru-buru Vallesia membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Di rasa sudah beres, Vallesia langsung menyampirkan tasnya ke atas bahu.
Megan melihat ada gelagat aneh dari sahabatnya. Tingkahnya seperti ingin bolos ekskul saat kelas sepuluh dulu.
"Kenapa buru-buru?" tanya Megan meminta penjelasan.
"Ada urusan," jawab Vallesia lalu bergegas keluar kelas. Berutung Nararya sedang tidak ada katanya ingin pergi ke toilet.
Dengan setengah berlari Vallesia menyusuri koridor sekolah namun saat sampai di gerbang sekolah dia bingung harus ngambil jalan mana.
Vallesia mencoba berpikir, jika benteng sekolah ada di sebelah kanan sekolah berarti warung yang kemarin dia kunjungi bersama Nararya pasti berada di posisi yang sama. Bisa saja Vallesia mengambil jalan dengan loncat benteng namun dia masih ingin hidup.
Tak banyak berpikir, Vallesia langsung berbelok kanan lalu lari dengan terburu-buru.
Setelah kurang lebih 2 menit Vallesia berlari, dia melirik kanan-kiri, depan-belakang berharap dia menemukan tempat yang dituju.
"Dapet," soraknya ketika dia melihat sebuah warung tak jauh dari tempatnya berada.
Buru-buru Vallesia berlari menghampiri warung itu berharap dia menemukan penjelasan di sini.
"Permisi Bi," kata Vallesia ramah.
Bi Iyem yang saat itu sedang menuangkan gorengan ke atas nampan langsung menoleh dan mendapati Vallesia yang sedang berdiri di ambang pintu.
Wajah Bi Iyem jelas kaget karena melihat Vallesia datang sendiri. Ada rasa khawatir dalam diri Bi Iyem. Khawatir kalau-kalau Vallesia bertanya macam-macam.
"Eh, Neng kan yang kemarin datang sama Nak Arya kan?" tanya Bi Iyem berbasa-basi.
"Iya Bi, aku Vallesia panggil aja Valles," jawab Vallesia.
"Sini-sini masuk. Mau makan dan minum apa?" ujar Bi Iyem seraya mempersilahkan Vallesia masuk.
"Eh Teh aja," jawab Vallesia.
Vallesia tersenyum kikuk lalu mulai melangkah dan duduk di bangku yang kemarin dia tempati bersama Nararya.
Mulut Vallesia bungkam. Dia bingung harus memulainya dari mana. Tidak mungkin dia harus bertanya pada intinya, bakal ada kesalah pahaman.
"Ini Neng minumnya," kata Bi Iyem sambil meletakan segelas Es Teh di hadapan Vallesia.
Ragu. Meskipun begitu Vallesia memberanikan diri menatap Bi Iyem lalu bibirnya terbuka sedikit. Ingin berucap tapi kelu.
"Bi!" panggil Vallesia.
Bi Iyem paham. Ada yang aneh dengan tingkah Vallesia. Perempuan berumur sekitar 40 tahunan itu langsung duduk di samping Vallesia.
"Ada apa?" tanya Bi Iyem.
"Bibi udah kenal lama sama Nararya?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Vallesia tanpa perintah dari si empu mulut.
"Bibi udah kenal lama sama Nak Arya dari dia masih pakai seragam putih-biru kalau gak salah waktu itu dia masih kelas 2 SMP," jawab Bi Iyem.
"Bukan hanya Nak Arya. Bibi juga kenal sama teman-temannya,"
"Teman-teman?" sahut Vallesia. Sebenarnya dia sendiri tahu bahwa yang dimaksud Bi Iyem adalah Regan, Bima dan Satya. Laki-laki yang sering dia temui bersama Nararya waktu di jalan dan juga depan minimarket dulu.
"Iya. Dia memiliki 3 orang teman. Mereka orang yang baik. Pertemanan mereka begitu solid. Bahkan mereka dulu pernah bantu Bibi waktu Bibi kecopetan. Dari sana Bibi jadi kenal mereka bahkan Bibi nganggep mereka sebagai anak,"
Vallesia menyimak penjelasan dari Bi Iyem dengan seksama. Dari penjelasan tersebut Vallesia bisa tahu bahwa sikap asli Nararya yang sebenarnya adalah hangat dan mudah berbaur sama orang lain. Namun sayang itu tak berlaku di sekolah. Vallesia seakan mengenal Nararya dengan 2 sosok. Nararya yang dingin saat di sekolah dan Nararya yang hangat serta receh saat di luar sekolah.
"Eum ... Bi. Aku mau tanya, apa Arya pemabuk?"
Entah kenapa ada ketidak enakkan saat Vallesia bertanya seperti itu namun kalau dia tidak bertanya pasti Vallesia akan mati penasaran.
"Bibi tahu dia suka bolos, bringas dan bersikap seenak jidat tapi dia tidak pernah kelewat batas. Dia nakal sewajarnya. Dia tidak pernah mabuk bahkan ngerokokpun di saat-saat tertentu,"
Vallesia hanya bisa menyengir kuda. Sungguh dia sangat malu. Ada kelegaan dalam hatinya ketika dia mendengar penjelasan dari Bi Iyem. Apa yang dia takutkan tidak terbenarkan. Lega rasanya.
Ada satu masalah yang masih hinggap di kepala Vallesia, apa alasan Nararya bersikap seperti ini. Memiliki dua sikap berbeda.
"Maaf nih, Bi. Aku mau nanya lagi, apa Bibi tahu alasan di balik sikap Nararya yang tertutup sama orang lain. Maksudnya gini, di sekolah Arya itu tertutup banget, enggan berkomunikasi tapi kenapa di luar berbanding terbalik," tanya Vallesia sebari tangan yang mengepal kuat. Dia takut. Takut kalau jawaban Bi Iyem mengejutkan Vallesia.
"Itu bukan hak Bibi untuk menjelaskan," jawab Bi Iyem. "Itu hak Arya, Bibi yakin kamu pasti bisa naklukin Arya. Bibi tahu dia rapuh, dia butuh penopang hidup. Sikap tegas dan dinginnya itu hanya sebagai prisai karena dia tidak ingin kecewa untuk ke sekian kalinya," lanjutnya yang membuat Vallesia bingung.
Vallesia paling tidak suka saat dia bertanya dan jawabannya ditaburi dengan arti tersirat. Vallesia benci itu.