Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Suara bip teratur dari monitor detak jantung memecah keheningan ruang perawatan intensif yang dingin dan berbau antiseptik menyengat.
Raiden berdiri mematung di samping ranjang. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi tampak kaku di balik balutan kemeja hitam yang tergulung hingga sikut. Iris mata hitam legamnya mengunci penuh pada sosok Alexa yang terbaring kaku tak berdaya.
Wajah wanita itu begitu pucat pasi, hampir menyatu dengan warna sprei putih rumah sakit. Bibirnya yang biasa mengoceh, menawar perintah, atau memaki secara terang-terangan kini mengering dan kehilangan warna. Berbagai selang medis menancap di tubuhnya, menyalurkan cairan infus dan oksigen untuk mempertahankan helaan napasnya yang sangat halus dan patah-patah.
Raiden mengepalkan tangannya di balik saku celana. Ada gejolak asing yang merayap di dadanya—sebuah perasaan tak nyaman yang tajam dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia benci melihat tatapan memohon Alexa, tapi ia jauh lebih benci melihat tubuh wanita itu terkulai kaku tanpa daya seperti ini.
"Kau belum kuizinkan untuk mati, Alexa," bisik Raiden pelan. Suaranya serak, dingin, dan penuh dengan penekanan mutlak. "Sebelum aku puas bermain-main dengannmu, kau tidak boleh pergi ke mana pun."
Pria itu berdiri di sana dalam diam untuk waktu yang cukup lama, menatap lekat garis wajah Alexa di bawah pendar remang lampu ruangan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar saat tugas-tugas kekaisaran mafia kembali menuntut kehadirannya.
Keesokan paginya.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden putih rumah sakit, menyinari ruangan VIP yang luas namun terasa teramat sepi.
Kelopak mata Alexa bergetar pelan. Rasa berat yang luar biasa menghimpit matanya, membuat proses membuka mata terasa bagaikan mengangkat beban ber-ton-ton. Perlahan tapi pasti, pandangannya yang kabur mulai menangkap langit-langit ruangan berwarna putih bersih, diikuti oleh bau obat-obatan yang tajam menusuk hidung.
Nghh...
Alexa meringis pelan saat mencoba menggerakkan tubuhnya. Rasa nyeri yang membakar hebat mendadak meledak di bagian perutnya, menyengat hingga ke seluruh jaringan sarafnya. Ia menarik napas pendek dan patah-patah, merasakan selang oksigen yang menyumpal hidungnya serta jarum infus yang menancap di punggung tangannya.
Ia menolehkan kepalanya secara perlahan ke samping. Ruangan itu sangat luas, mewah, dan... kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada alat-alat medis canggih yang berdenting monoton dan hembusan angin dingin dari pendingin ruangan. Ia benar-benar sendirian.
Namun, bukan rasa sakit di perutnya atau kesendirian di ruangan itu yang membuat dada Alexa mendadak terasa dihantam beban yang teramat berat.
Saat ingatan terakhirnya tentang rasa sakit tusukan pisau di ruang bawah tanah melintas kembali, kesadaran penuh perlahan menghantam benaknya.
Mata Alexa berkaca-kaca. Air mata dingin mulai merembes keluar dari sudut matanya, mengalir basah melewati pipinya yang pucat.
'Kenapa...?' jerit Alexa dalam hati, suaranya parau dan tercekat di tenggorokan. 'Kenapa aku masih berada di sini...?'
Rasa kecewa dan keputusasaan yang luar biasa dalam mendadak memenuhi dadanya. Sebelum kehilangan kesadaran kemarin, ia sudah sangat berharap—berdoa dengan seluruh sisa tenaganya—agar rasa sakit mematikan itu menjadi tiket perjalanannya untuk keluar dari penderitaan ini dan kembali ke dunianya yang nyata. Dunia di mana ia bisa hidup tenang, tanpa harus dikejar ketakutan akan tumpukan mayat, ayunan senjata, atau terkunci di dalam cengkeraman monster berdarah dingin seperti Raiden.
Namun kenyataan pahit menyambutnya tanpa belas kasihan. Ia tidak terbangun di kamar mewahnya yang aman. Ia masih berada di dunia novel gila ini. Ia masih terjebak sebagai 'Alexa'—istri pajangan dari seorang penguasa mafia yang siap mencabut nyawanya kapan saja.
Isakan pelan yang teramat pilu akhirnya lolos dari bibirnya yang bergetar. Alexa memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran sprei rumah sakit dengan tangannya yang gemetaran hebat. Air matanya menetes makin deras, membasahi bantal di bawah kepalanya.
Di dalam ruangan yang sunyi itu, Alexa menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang masih terikat erat di dalam neraka yang tak bertepi.
Dengan tatapan kosong, Alexa menatap langit-langit kamar VIP yang bernuansa putih bersih. Suara lonceng angin di luar jendela memantul pelan di dalam ruangan yang hening.
Berbagai helaan napas berat lolos dari bibirnya. Otaknya berputar liar memikirkan nasibnya yang terlunta-lunta di dunia novel ini.
'Kalau aku nggak bisa mati dan nggak bisa pulang ke duniaku... gimana caranya supaya aku bisa bertahan hidup dengan tenang di sini?' batin Alexa merenung dalam-dalam.
Selama ini, ia selalu bersikap pasif, takut, berontak setengah-setengah, atau berusaha kabur—yang nyatanya justru berujung pada penyiksaan, kurungan di gudang, hingga hampir tewas tertusuk pisau. Jika Raiden adalah seorang iblis berdarah dingin yang tidak punya perasaan, maka menjadi beban atau musuh baginya hanya akan mempercepat langkahnya menuju liang lahat. Alexa sadar, ia harus mengubah strateginya jika ingin tetap bernapas dengan utuh.
Waktu bergulir hingga siang hari. Perut Alexa mulai berbunyi nyaring, melilit meminta diisi. Namun, hingga jam makan siang lewat, tidak ada satu pun pelayan atau suster yang masuk membawa baki makanan. Kamar VIP-nya benar-benar diabaikan—mungkin karena perintah Raiden yang menelantarkannya, atau karena para staf takut mendekati area pasien khusus Alteir.
"Lapar banget... BISA MATI KONYOL KALAU CUMA GARA-GARA KELAPARAN!" gumam Alexa jengkel.
Sembari memegangi perutnya yang masih terbebat perban tebal, Alexa berjuang memiringkan tubuhnya dan melangkah turun dari kasur secara perlahan. Nyeri hebat membakar bekas lukanya setiap kali ia bergerak, membuat wajahnya meringis menahan sakit. Dengan bersandar pada tiang infus di tangan kirinya, Alexa melangkah gontai keluar dari ruangan.
Langkah kaki gontainya yang terseok-seok menuntunnya menyusuri koridor panjang hingga akhirnya ia menemukan lift turun menuju lantai dasar, tempat kantin umum rumah sakit berada. Aroma masakan hangat dan ramainya lalu lalang orang-orang seketika menyambut indra penciumannya.
Dengan sisa uang tunai kecil yang terselip di saku gaun rumah sakitnya, Alexa memesan semangkuk bubur ayam hangat dan teh manis. Ia membawa nampannya dengan hati-hati dan mendudukkan diri di salah satu meja kayu panjang di sudut kantin.
"Aduh, Neng... sakit apa? Kok jalan sendiri begitu, mana wajahnya pucat banget?"
Voice ramah seorang wanita paruh baya memecah kesunyian Alexa. Di hadapannya, dua orang ibu-ibu berpenampilan hangat dengan pakaian rumahan sederhana sedang duduk menikmati teh hangat. Dari name tag dan obrolan mereka, tampaknya mereka adalah keluarga dari pasien biasa di lantai bawah.
Alexa tersenyum canggung sembari menyuap buburnya. "A-ah... habis operasi perut, Bu. Agak nyeri sedikit."
"Ya ampun! Habis operasi kok malah jalan sendiri ke kantin? Mana suaminya? Kok nggak ditungguin atau dibelikan makanan?" cerocos ibu bertubuh agak gempal dengan nada prihatin bercampur gemas.
Mendengar kata 'suami', Alexa mendengus pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari mengaduk-aduk buburnya dengan lesu.
"Suami saya mah jangan ditanya, Bu. Cueknya setengah mati. Dingin bagaikan es batu di freezer. Boro-boro nungguin di kamar rumah sakit... saya hampir mati aja dia malah sibuk sendiri. Nggak ada perhatian-perhatiannya sama sekali," curhat Alexa blak-blakan, merasa lega bisa meluapkan kejengkelannya pada orang asing yang tidak tahu latar belakangnya.
Kedua ibu-ibu itu saling berpandangan, lalu terkekeh pelan. Ibu dengan kacamata melambaikan tangannya di udara.
"Alah Neng, pria jaman sekarang emang banyak yang begitu! Kaku, sok gengsi, padahal mah aslinya butuh perhatian!" ujar ibu berkacamata itu bersemangat. "Nengnya jangan cuma diam atau makin cuek juga. Pria model begitu mah harus dipancing!"
Dahi Alexa berkerut bingung. "Dipancing gimana, Bu?"
"Ya sering-sering manja sama digoda, Neng!" sahut ibu bertubuh gempal gemas. "Manusia itu mau sekeras apa juga hatinya, kalau ditempel terus, dimanja-manja, diusap kepalanya, atau digoda tipis-tipis pas lagi berdua... lama-lama bakalan lumer juga! Cobain deh Neng, jangan ragu-ragu! Datang ke kantornya bawa bekal, terus gelayutan di tangannya sambil manja-manja. Nanti lihat, pasti langsung klepek-klepek!"
Alexa terpaku di tempatnya, menatap kedua ibu-ibu itu dengan mata membelalak heran.
'Manja... dan menggoda Raiden?!' batin Alexa berteriak histeris dalam hati. 'Gila apa?! Yang ada kepalaku diputusin di tempat kalau berani gelayutan di lengan iblis itu!'
Namun, saat Alexa kembali teringat akan penderitaannya selama ini... sebuah pemikiran konyol mendadak melintas di kepalanya. Selama ini ia selalu menatap Raiden dengan ketakutan murni, dan itu membuat Raiden makin leluasa menindasnya. Bagaimana kalau nasihat ibu-ibu ini justru menjadi kunci terlarang untuk menaklukkan sang iblis, atau setidaknya membuat Raiden tidak tega untuk membunuhnya?
Alexa menelan ludahnya dengan susah payah, menatap mangkuk buburnya dengan pandangan penuh pertimbangan liar.
'Apa... apa aku coba aja, ya?'
ok...let's play 🤣🤣
Alexa swaaaag🤣🤣🤣🫣
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄