Indonesia
NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lakukan Saja

...****************...

Sementara itu, berapa menit setelah meninggalkan rumah Kanaya, suasana didalam mobil Dirga di penuhi keheningan. Lampu-lampu jalan berkelebat di balik kaca jendela, sementara Laras duduk dikursi penumpang sambil sesekali memandangi putranya yang sejak tadi fokus mengemudi. Dirga tetap tenang dengan kedua tangannya berada dikemudi, wajahnya sulit di baca seperti biasa.

Namun, senyum kecil diwajah Laras belum juga menghilang.

“Ibu rasanya senang sekali kamu menikah dengan Kanaya,” ucap Laras akhirnya. Nada suaranya terdengar begitu puas seolah baru saja menemukan menantu yang selama ini ia cari.

“Dia itu perempuan yang anggun, cantik, sopan, pintar, anaknya juga ceria. Dan sepertinya bukan tipe perempuan matre yang suka menghambur-hamburkan uang untuk belanja, ya. Pokoknya, tipe menantu ibu sekali dia itu.”

Dirga yang sejak tadi memperhatikan jalan hanya melirik ibunya sekilas sebelum kembali memusatkan pandangan ke depan.

“Apa Ibu sedang membandingkan Kanaya dengan Viona?”

Laras langsung menoleh. Alisnya terangkat, kemudian ia menghembuskan napas kecil sebelum kembali menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.

“Loh...siapa juga yang sedang membandingkan?” bantahnya santai. “Lagian, Dirga... bagaimana ibu mau membandingkan? Orang ibu saja tidak pernah bertemu dengan Viona. Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan, ibu juga tidak tau.”

“Bu...” Dirga memperingatkan dengan suara rendah, tetapi Laras justru melanjutkan ucapannya.

“Benarkan? Kamu kan tidak pernah membawa Viona ke hadapan ibu ataupun ayah. Viona juga tidak pernah punya niat untuk menemui ibu dan ayah.” Laras menatap putranya cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.

“Kalau memang kalian sudah lama menjalin hubungan dan memang berniat serius, kenapa tidak menghadap ibu dan ayah dari dulu?”

“Viona belum siap, Bu.”

Laras mendengus pelan, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela.

“Halah... memang tidak niat. Bukan belum siap.”

Dirga terdiam. Rahangnya mengeras sedikit, tetapi ia tidak membalas. Ia tau, apa pun yang ia katakan setelah ini hanya akan membuat pembicaraan mereka semakin panjang. Lagi pula, sebagian dari perkataan ibunya memang tidak mudah di bantah.

Perjalanan kembali berlangsung dalam diam. Hanya suara mesin mobil dan alunan musik yang terdengar samar dari sistem audio, hingga sekitar dua puluh menit kemudian mobil akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Atmajaya. Dirga memperlambat laju kendaraan sebelum menghentikannya tepat di depan teras rumah.

Laras belum langsung membuka pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi sebelum turun ia kembali menoleh kepada putranya.

“Oh, ya.” Tatapan Laras berubah lebih serius. “Ibu sebenarnya juga tau kekasihmu itu sering datang ke kantormu hanya untuk minta uang buat belanja yang tidak jelas.”

Dirga yang baru saja mematikan mesin mobil menoleh perlahan.

“Ibu memata-matai aku?”

“Jelas.” Laras menjawab tanpa sedikit pun merasa bersalah. “Karena ibu ingin tau sampai kapan perempuan itu akan terus memengaruhi putra ibu.”

Dirga hanya menatap ibunya dalam diam. Ada sedikit ketidaksukaan yang tampak dari sorot matanya, tetapi Laras sama sekali tidak gentar.

“Kamu akan segera menikah dengan Kanaya,” lanjut Laras dengan suara tegas. “Kalau kamu tidak segera menyelesaikan hubunganmu dengan kekasihmu itu, ibu sendiri yang akan menyelesaikannya.”

“Bu... tapi-...”

“Tidak ada tapi-tapi dan kamu tidak usah ikut turun.” Laras langsung memotongnya sebelum Dirga sempat menyelesaikan kalimat. “Pulang kerumahmu saja, Dirga.”

Setelah mengatakan itu, Laras membuka pintu mobil dan turun tanpa menunggu jawaban putranya. Ia berjalan menuju teras rumah dengan langkah tenang, meninggalkan Dirga yang masih duduk di balik kemudi.

Pria itu hanya menghembuskan napas panjang. Pandangan matanya mengikuti ibunya sampai sosok ibunya menghilang dibalik pintu utama. Setelah itu, Dirga kembali menatap lurus kedepan dengan rahang yang mengeras.

Pembicaraan tentang Viona jelas belum selesai.

...****************...

Setelah meninggalkan kediaman orang tuanya, Dirga kembali menyusuri jalan yang mulai dipenuhi lampu-lampu malam. Lalu lintas masih cukup ramai, tapi perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada kendaraan di depan.

Tangannya tetap tenang mengendalikan kemudi, sementara pikirannya kembali pada percakapan dengan Laras beberapa menit sebelumnya.

Dirga menghembuskan napas panjang dan mengalihkan pandangannya sejenak ke kaca spion sebelum kembali memperhatikan jalan. Ia sendiri belum tau bagaimana harus menyelesaikan semuanya tanpa membuat keadaan menjadi lebih rumit.

Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun keputusan yang benar-benar berhasil ia ambil. Yang ada justru semakin banyak hal yang harus dipikirkannya... pernikahan yang semakin dekat, Kanaya yang perlahan mulai menerima keadaan mereka dan Viona yang bahkan belum mengetahui apapun mengenai pernikahan tersebut.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil Dirga akhirnya berbelok memasuki kawasan elite tempat tinggalnya. Jalanan disekitar kompleks itu jauh lebih sepi di bandingkan jalan utama yang baru saja di lewatinya. Ia memperlambat laju mobil sebelum akhirnya memasuki halaman rumah pribadinya.

Mesin mobil di matikannya. Dirga tidak langsung turun. Ia masih duduk beberapa saat dengan kedua tangannya bertumpu di atas kemudi, sementara pandangannya kosong menatap halaman rumah yang di terangi lampu taman.

Ucapan Laras kembali terlintas begitu saja di kepalanya.

"Kalau kamu tidak segera menyelesaikan hubunganmu dengan kekasihmu itu, ibu sendiri yang akan menyelesaikannya."

Rahang Dirga mengeras tipis. Ia kembali menghembuskan napas perlahan, kemudian mengambil ponselnya dari konsol tengah dan memasukkannya kedalam saku celana.

Dirga mengusap wajahnya sekilas sebelum akhirnya membuka pintu dan turun dari mobil. Malam itu baru saja dimulai, tetapi rasanya sudah terlalu banyak hal yang harus ia selesaikan.

...****************...

Dirga membuka pintu utama dan langsung di sambut suasana rumah yang sunyi. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja konsol, kemudian melepas jam tangan yang sejak tadi melingkar dipergelangan tangannya. Alih-alih menuju kamar, ia justru berjalan ke ruang kerja.

Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba ponselnya yang berada disaku celana lnya berdering. Ia mengeluarkannya dan mendapati nama Robi tertera di layar. Tanpa menunggu lebih lama, ia mengangkat panggilan tersebut.

"Ya?"

"Selamat malam, Pak Dirga. Maaf saya mengganggu Anda malam-malam."

Dirga akhirnya berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Hmm. Ada apa?"

"Begini, Pak..." Robi terdengar sedikit ragu sebelum melanjutkan. "Beberapa menit lalu Tuan Lukman baru saja menghubungi saya."

Kening Dirga sedikit berkerut mendengar nama kedua orang tuanya disebut. "Untuk apa ayahku menghubungimu?"

"Beliau meminta agar kabar mengenai pernikahan Anda segera di bagikan ke media, Pak. Beliau juga sudah menemui beberapa media. Tugas saya hanya di minta untuk meminta persetujuan Anda."

Dirga terdiam. Tatapannya lurus ke depan, sementara rahangnya perlahan mengeras. Setelah seharian berurusan dengan persiapan pernikahan, kini keluarganya bahkan sudah mengatur pemberitaan mengenai pernikahannya tanpa banyak melibatkannya.

"Ck..." dengusnya pelan. "Ada-ada saja. Bukankah itu seharusnya tidak perlu? Itu terlalu di besar-besarkan dan membuatku muak."

"Eh... saya hanya-..."

"Lakukan saja."

Robi langsung terdiam.

"Aku menolak pun percuma." Nada suara Dirga terdengar datar, tanpa sedikit pun keinginan untuk memperpanjang perdebatan. "Jadi biarkan saja mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan."

"Baik, Pak. Saya mengerti."

Dirga mengakhiri panggilan itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ponselnya ia letakkan diatas meja, kemudian ia menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa dengan tatapan kosong yang mengarah ke depan.

Pernikahan itu bahkan belum berlangsung, tetapi namanya sebentar lagi akan tersebar kemana-mana bersama nama Kanaya Pradipta.

Dan untuk pertama kalinya, Dirga menyadari bahwa pernikahan yang selama ini hanya ia anggap sebagai sebuah kewajiban keluarga perlahan mulai menjadi sesuatu yang di ketahui oleh dunia.

1
Anonim
Di tunggu up y
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!