"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 22
Di luar gerbang besi kediaman mewah keluarga Larasati, sebuah mobil sedan berhenti dengan decitan rem yang cukup kasar. Tasya melangkah keluar dari kursi kemudi dengan napas yang memburu dan jantung yang berdetak tidak karuan.
Sambungan telepon yang terputus secara tiba-tiba dengan Kirana tadi telah memicu alarm kepanikan di dalam kepalanya. Mengabaikan peringatan sahabatnya, Tasya merasa ia harus melihat sendiri kondisi Kirana dengan mata kepalanya.
Tasya menekan bel interkom di samping gerbang berulang kali. Suasana rumah itu tampak sangat sepi, seolah tidak berpenghuni.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kecil di samping gerbang utama terbuka. Berdirilah Arga di sana, masih mengenakan kemeja rapinya, menatap Tasya dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan.
"Selamat siang, Tasya. Sungguh sebuah kejutan yang sangat tidak terduga melihatmu berdiri di depan kediamanku pada jam kerja seperti ini," sapa Arga, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman ramah yang terasa sangat palsu.
"Arga... Aku datang untuk menjenguk Kirana. Sudah berbulan-bulan kau melarang ku menemuinya dengan alasan pemulihan. Aku tidak bisa menunda lebih lama lagi," jawab Tasya, berusaha menjaga nada suaranya agar terdengar setenang mungkin.
"Melarang? Kau telah salah paham, Tasya. Aku hanya menjalankan instruksi dari Dokter Alibie untuk meminimalisasi tekanan psikologis pada istriku. Kondisi mentalnya sangat rapuh semenjak ia kehilangan penglihatannya. Namun, karena kau sudah bersusah payah datang kemari, silakan masuk. Kirana pasti akan merasa sedikit terhibur dengan kehadiran sahabat lamanya."
Arga membuka gerbang sedikit lebih lebar, memberikan jalan bagi Tasya untuk melangkah masuk. Pria itu mengunci kembali gerbang tersebut dari dalam, sebuah suara klik yang membuat bulu kuduk Tasya meremang seketika.
"Di mana Kirana sekarang, Arga? Apakah dia berada di kamarnya?" tanya Tasya seraya melangkah memasuki ruang tamu yang megah namun terasa sangat dingin.
"Dia sedang beristirahat di dalam ruang kerjaku di lantai dua. Tadi pagi ia mengalami sedikit serangan panik, sehingga aku harus membatalkan perjalananku ke kantor demi menjaganya," jawab Arga dengan nada yang sangat lembut, seolah ia adalah sosok suami paling berdedikasi di dunia ini. "Mari, aku akan mengantarmu menemuinya."
Mereka menaiki anak tangga dalam keheningan yang mencekam. Setibanya di depan pintu ruang kerja, Arga merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci, dan memutar kuncinya.
Ceklek.
Pintu terbuka. Di dalam ruangan itu, Kirana tengah duduk bersimpuh di atas sofa, pandangannya kosong menatap ke arah jendela yang tertutup tirai.
"Sayang, kau kedatangan seorang tamu yang sangat istimewa siang ini," ucap Arga seraya melangkah masuk, membiarkan Tasya mengikutinya dari belakang.
Kirana menolehkan kepalanya dengan gerakan patah-patah, meraba-raba udara di sekitarnya dengan raut wajah kebingungan. "Siapa yang datang, Sayang? Kau tahu aku tidak bisa melihat apa pun. Apakah Dokter Alibie yang datang berkunjung?"
"Bukan, Kirana. Ini aku... Tasya," ucap Tasya dengan suara bergetar. Air mata seketika menggenang di pelupuk matanya melihat kondisi sahabatnya yang tampak begitu rapuh dan menyedihkan.
"Tasya?! Ya Tuhan, Tasya... Benarkah itu kau?!" seru Kirana, menjulurkan kedua tangannya ke arah suara tersebut.
Tasya bergegas menghampiri sofa, memeluk tubuh Kirana dengan sangat erat. "Iya, Kirana. Ini aku. Maafkan aku karena baru bisa datang menemui mu sekarang. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga sangat merindukanmu, Tasya. Rasanya hidupku sangat sepi dan gelap semenjak kecelakaan itu," isak Kirana, memainkan peran wanita buta yang tersiksa dengan sangat brilian.
Arga berdiri tidak jauh dari mereka, melipat kedua tangannya di depan dada, mengamati interaksi kedua wanita itu dengan tatapan menilai yang sangat tajam.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua untuk melepas kerinduan. Aku hendak turun ke dapur untuk membuatkan dua cangkir teh hangat," ucap Arga dengan nada sopan. "Kalian pasti memiliki banyak hal untuk dibicarakan."
Pria itu membalikkan badannya dan melangkah menuju pintu.
Tepat pada detik ketika punggung Arga berbalik, Kirana menghentikan isak nya. Ia membuka kelopak matanya lebar-lebar. Tatapan matanya yang semula kosong dan redup, kini berubah menjadi sangat tajam dan fokus. Kirana menatap langsung tepat ke dalam manik mata Tasya.
Tasya tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa bola mata Kirana bergerak mengikuti arah wajahnya. Sahabatnya itu benar-benar bisa melihat!
Sebelum Tasya sempat bereaksi lebih jauh, Kirana dengan cepat mengangkat jari telunjuknya, meletakkannya di depan bibirnya sendiri, memberikan isyarat agar Tasya diam dan menjaga rahasia ini.
Namun, keterkejutan yang dialami Tasya terlalu besar. Ia tanpa sadar menarik napas dengan sangat kasar dan meremas lengan Kirana.
Gerakan sekecil apa pun tidak akan pernah luput dari pendengaran dan insting seorang manipulatif seperti Arga. Langkah pria itu terhenti tepat di ambang pintu. Ia membalikkan badannya dengan kecepatan kilat, menatap lurus ke arah mereka berdua.
Kirana sudah kembali mengosongkan pandangannya dalam hitungan sepersekian detik. Namun, raut wajah Tasya tidak bisa berbohong. Wajah wanita itu pucat kertas, matanya membelalak, dan napasnya memburu.
"Apakah ada sesuatu yang salah, Tasya?" tegur Arga. Suaranya tidak lagi terdengar ramah, melainkan sangat rendah dan mengancam. "Mengapa wajahmu seketika memucat seperti baru saja melihat hantu?"
"T-tidak... Tidak ada apa-apa, Arga. Aku hanya... aku hanya merasa sangat terkejut dan bersedih melihat kondisi Kirana dari jarak sedekat ini. Matanya tampak sangat kosong," jawab Tasya terbata-bata, berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Arga melepaskan pegangannya dari gagang pintu. Ia membatalkan niatnya untuk pergi ke dapur dan justru melangkah kembali memasuki ruangan, menutup pintu ruang kerja itu di belakang punggungnya.
"Kau merasa bersedih? Ataukah kau merasa terkejut melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat, Tasya?" selidik Arga, langkah kakinya semakin mendekat ke arah sofa.
"A-apa maksudmu, Sayang? Tasya hanya merasa iba kepadaku. Janganlah kau mengintimidasinya," bela Kirana, tangannya sengaja meraba-raba mencari tangan Tasya, seolah ia membutuhkan perlindungan.
"Aku tidak sedang mengintimidasinya, Istriku. Aku hanya merasa sangat takjub dengan sebuah kebetulan yang luar biasa hari ini," ucap Arga. Ia berdiri tepat menjulang di hadapan Tasya, menatap wanita itu seperti seekor pemangsa yang siap menerkam. "Tadi pagi, istriku mengatakan bahwa ia bermimpi tentang sebuah pembunuhan. Lalu, beberapa jam yang lalu, gagang telepon di ruangan ini terjatuh dari tempatnya saat aku tidak ada. Dan kini, kau tiba-tiba muncul di depan gerbang rumahku dengan napas yang memburu dan wajah yang dipenuhi oleh ketakutan."
"Itu... itu hanyalah sebuah kebetulan, Arga. Aku sedang tidak memiliki jadwal pekerjaan hari ini, jadi aku memutuskan untuk datang berkunjung," kilah Tasya, tubuhnya mulai bergetar di bawah tatapan intimidasi Arga.
"Kau bukanlah seorang pembohong yang ulung, Tasya," desis Arga, perlahan membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Tasya yang sedang duduk. "Kau dan Kirana adalah sahabat karib sejak masa kuliah. Ikatan batin kalian pasti sangat kuat. Sangat kuat hingga aku yakin, kalian bisa berkomunikasi tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun."
"Sayang, kumohon hentikan. Kau menakuti Tasya. Apa yang sebenarnya sedang kau curigai?" potong Kirana dengan suara bergetar.
Arga sama sekali tidak menghiraukan Kirana. Matanya tetap terkunci pada kedua bola mata Tasya yang bergerak liar mencari jalan keluar.
"Aku akan kembali pulang sekarang, Kirana. Sepertinya suamimu sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk menerima tamu," ucap Tasya seraya bergegas berdiri, mencoba menyingkir dari hadapan Arga.
Namun Arga dengan sigap merentangkan tangannya, menghalangi jalan Tasya. Pria itu menyeringai dengan sangat mengerikan.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun, Tasya," bisik Arga dengan nada yang membekukan darah. Pria itu perlahan merogoh saku jasnya, mengeluarkan kunci pintu ruang kerja tersebut, dan memasukkannya ke dalam sakunya yang lebih dalam. "Kecuali kau bersedia menceritakan kepadaku, rahasia apa yang baru saja disembunyikan oleh sepasang mata buta istriku di belakang punggungku tadi."
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,