Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Darurat
Alya menatap layar ponselnya dengan jantung yang tiba-tiba berdebar kencang, momen romantis yang baru saja terbangun di antara mereka seketika runtuh digantikan oleh kecemasan yang mendalam.
"Halo?" jawab Alya, suaranya bergetar saat mengangkat telepon itu.
"Selamat malam, apakah ini benar dengan Alya Ramadhani?" tanya suara di seberang telepon, nada formal seorang perawat.
"Iya, benar. Ada apa?"
"Kami menghubungi dari Rumah Sakit St. Carolus. Ayah Anda, Bapak Rudi Ramadhani, baru saja dibawa ke IGD kami karena serangan jantung mendadak. Kami mohon keluarga segera datang."
Dunia Alya seketika terasa berhenti berputar. Ponsel hampir terlepas dari genggamannya sebelum Raka dengan sigap menahannya, melihat wajah Alya yang mendadak pucat pasi.
"Alya, ada apa?" tanya Raka cemas, sudah berdiri dari kursinya.
"Papa," bisik Alya, air mata mulai menggenang di matanya. "Papa kena serangan jantung. Dia di rumah sakit sekarang."
Tanpa membuang waktu, Raka segera membayar tagihan restoran dan membantu Alya yang tubuhnya gemetar untuk berjalan menuju mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Alya tidak bisa berhenti menangis, tangannya mencengkeram erat tangan Raka yang terus berusaha menenangkannya meski ia sendiri juga merasakan kekhawatiran yang sama.
"Papa pasti baik-baik aja," kata Raka, mencoba meyakinkan Alya sekaligus dirinya sendiri. "Kita akan sampai sebentar lagi."
---
Begitu tiba di rumah sakit, Alya berlari menuju ruang IGD, mendapati ibunya sudah berada di sana, duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat dan mata sembap karena menangis.
"Mama," panggil Alya, segera memeluk ibunya yang terlihat begitu rapuh. "Gimana kondisi Papa?"
"Dokter masih periksa di dalam," jawab ibunya, suaranya bergetar. "Tadi Papa tiba-tiba megang dada, bilang sesak napas, terus langsung pingsan. Mama panik banget, untungnya sopir cepat bawa ke sini."
Raka berdiri di belakang Alya, tangannya tetap menggenggam erat tangan Alya sebagai bentuk dukungan, meski ia tau ini bukan saatnya untuk ikut campur terlalu jauh dalam momen keluarga yang begitu personal ini.
Setengah jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruang IGD, wajahnya tenang namun serius. "Keluarga Bapak Rudi?"
"Saya anaknya," jawab Alya cepat, berdiri dengan jantung berdebar menunggu kabar.
"Kondisi ayah Anda sudah stabil untuk sementara," jelas dokter itu. "Beliau mengalami serangan jantung ringan, kemungkinan dipicu oleh stres berlebihan dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU untuk observasi lebih lanjut selama 24 jam ke depan."
Alya merasakan sedikit kelegaan mendengar kondisi ayahnya yang stabil, meski kekhawatiran masih menggelayuti pikirannya. "Apa dia sadar sekarang, Dok? Bisa kami temui?"
"Beliau sudah sadar, tapi masih lemah," jawab dokter itu. "Anda bisa menjenguknya sebentar, tapi mohon tidak membuatnya terlalu lelah atau stres."
---
Alya memasuki ruang ICU dengan langkah hati-hati, mendapati ayahnya terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Melihat sosok ayahnya yang biasanya begitu tegas dan penuh wibawa kini tampak begitu rapuh, membuat air mata Alya kembali mengalir deras.
"Pa," panggil Alya pelan, duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan ayahnya dengan lembut.
Ayahnya membuka mata perlahan, bibirnya membentuk senyum tipis meski tubuhnya masih lemah. "Alya... maaf bikin kamu khawatir."
"Jangan minta maaf, Pa," jawab Alya, mengusap air matanya sendiri. "Yang penting Papa sekarang baik-baik aja. Papa harus lebih jaga kesehatan ke depannya."
"Dokter bilang Papa kecapekan dan stres berlebihan," kata ayahnya lirih. "Mungkin Papa emang kebanyakan mikirin bisnis dan urusan keluarga belakangan ini, sampai lupa jaga kesehatan sendiri."
Alya merasa sedikit bersalah mendengar itu, menyadari bahwa mungkin kekacauan yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini—mulai dari urusan perjodohan, Dimas, hingga ancaman dari Bram—turut menambah beban pikiran ayahnya tanpa ia sadari.
"Ini bukan salah kamu, Alya," kata ayahnya, seolah bisa membaca pikiran putrinya. "Papa cuma perlu belajar buat lebih rileks dan percaya bahwa kamu udah bisa ngejalanin hidup kamu sendiri dengan baik, tanpa perlu Papa khawatirin terus."
Alya tersenyum kecil di tengah air matanya, menggenggam tangan ayahnya lebih erat. "Papa istirahat dulu ya. Aku akan selalu di sini buat Papa."
---
Di luar ruang ICU, Raka menunggu dengan sabar, memberikan ruang privasi bagi Alya untuk bersama keluarganya. Ketika Alya akhirnya keluar dari ruangan itu, matanya masih basah namun tampak sedikit lebih tenang, Raka segera menghampirinya, memeluknya erat tanpa berkata apa-apa, memberikan kenyamanan yang paling dibutuhkan Alya saat itu.
"Makasih udah nemenin aku," bisik Alya di pelukan Raka. "Aku nggak tau gimana jadinya kalau aku ngadepin ini sendirian."
"Kamu nggak akan pernah sendirian lagi, Alya," jawab Raka, mengecup puncak kepala Alya lembut. "Aku akan selalu ada di sini, dalam kondisi apa pun."
Malam itu, Alya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit, menemani ibunya yang masih terlalu cemas untuk pulang. Raka pun memilih untuk tetap tinggal bersama mereka, duduk di kursi tunggu sepanjang malam sebagai bentuk dukungan yang tulus, meski ia tau besok harus kembali bekerja dengan tanggung jawab barunya sebagai Direktur Marketing.
Di tengah malam yang sunyi itu, sambil menatap pintu ruang ICU tempat ayahnya beristirahat, Alya menyadari satu hal penting—bahwa di tengah segala kesuksesan karier dan drama yang telah ia lewati belakangan ini, hal yang paling berharga tetaplah keluarga dan orang-orang yang mencintainya dengan tulus, termasuk pria yang kini duduk setia di sampingnya, menggenggam tangannya erat sepanjang malam tanpa sekalipun mengeluh.