Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Duri dalam Daging

Kejadian di bandara kemarin meninggalkan keheningan yang amat asing di kediaman mereka. Keajaiban yang meloloskan kedua orang tuanya dari maut tidak hanya menguncang jiwa Alya, tetapi juga berdampak besar pada sikap Rendy.

Melihat bagaimana Alya begitu terpukul dan histeris di bandara, Rendy mendadak diliputi rasa bersalah yang teramat dalam. Pria itu berubah total. Rendy tiba-tiba bersikap sangat manis, perhatian, dan berusaha menjadi sosok suami idaman yang sempurna. Ia membatalkan semua janji pribadinya, menyiapkan sarapan, bahkan berulang kali mengusap jemari Alya seraya mengumandangkan janji-janji penyesalan.

Melihat perubahan sikap Rendy yang mendadak luar biasa baik itu, Alya hanya bisa diam. Bibirnya terkunci rapat. Ia tidak membalas dengan kehangatan, tetapi juga tidak menepisnya secara kasar. Alya membiarkan Rendy berada dalam ilusi penyesalannya sendiri, sementara hatinya tetap terjaga dalam ketenangan yang sangat dingin.

Namun, ketenangan semu itu hancur berkeping-keping di sore hari yang mencekam ini.

Lantai eksekutif kantor pusat hari itu tampak agak lenggang. Alya duduk di ruang kerjanya yang luas, menatap berkas evaluasi tahunan perusahaan yang tinggal menunggu pengesahan akhir. Di luar ruangan, gerimis tipis mulai membasahi kaca jendela gedung pencakar langit Jakarta.

Pintu ruang kerja Alya terketuk pelan sebelum akhirnya terbuka.

Siska melangkah masuk.

Siska membawa sebuah map dokumen alokasi anggaran yang beberapa hari lalu sempat ditolak oleh Rendy. Karena Rendy belakangan ini mendadak menjauhinya dan bersikap dingin demi mengambil hati Alya kembali, Siska memutuskan untuk bergerak sendiri. Rasa frustrasi dan keserakahannya yang membakar membuat Siska kehilangan akal sehat dan memilih untuk mendatangi Alya secara langsung.

"Permisi, Bu Alya," panggil Siska dengan nada suara yang sengaja dibuat sesopan mungkin, meski kilat keangkuhan masih terpancar jelas dari matanya. "Saya membawa berkas persetujuan anggaran divisi operasional yang butuh tanda tangan Ibu sekarang."

Alya perlahan mendongakkan kepalanya dari meja kerja.

Namun, sebelum kalimat Alya terucap untuk merespons berkas tersebut, pandangan mata Alya seketika terkunci pada penampilan Siska sore itu.

Dunia Alya serasa berhenti berputar dalam satu detik yang teramat panjang.

Siska mengenakan sebuah gaun kerja bernuansa silk-satin berwarna merah maroon tua dengan potongan kerah asimetris yang sangat khas, dipadu dengan sebuah bros kecil berbentuk kelopak bunga emas di dada kirinya. Gaun itu tampak sedikit klasik—sebuah gaun koleksi lama dari merek ternama yang sengaja dipakainya lagi hari ini untuk memberikan kesan berkelas di depan Alya.

Bagi orang lain, gaun itu hanyalah sebuah pakaian kerja mewah biasa.

Tetapi bagi Alya... gaun itu adalah bayangan kecelakaan jiwa yang paling mengerikan dalam hidupnya.

Detik itu juga, memori kelam beberapa tahun silam—kejadian di mana Alya melihat video rekaman percumbuan liar di ruang kerja Rendy melalui layar monitor—terputar kembali secara mematikan di dalam otaknya.

Kala itu, lensa kamera CCTV terhalang oleh tumpukan berkas setinggi dua meter di atas rak kayu. Wajah sang wanita tidak pernah terlihat. Wajah wanita penjahat yang bercumbu panas dengan Rendy itu tertutup rapat oleh folder-folder tebal.

Namun... potongan gaun merah maroon dengan kerah asimetris dan pendar bros emas di dada kiri wanita dalam video itu terpatri abadi di dasar ingatan terkelam Alya.

Itu adalah gaun yang sama. Bros yang sama. Bentuk fisik dan pola helai rambut yang sama.

Deg!

Sendi-sendi tubuh Alya seketika menjadi begitu kaku bagaikan es. Wajah cantiknya berubah pucat pasi seputih kertas. Seluruh darah di dalam tubuhnya serasa mendadak berhenti mengalir, menyisakan rasa dingin yang mematikan di seluruh ujung jemarinya.

Tangan Alya yang berada di atas meja mulai gemetar hebat.

Gemetar yang begitu dahsyat hingga pena eksklusif yang dipegangnya terlepas dan bergulir jatuh ke lantai dingin, menimbulkan suara klak yang nyaring di dalam ruangan yang sunyi.

Alya lemas. Tubuhnya serasa kehilangan seluruh daya dan tulang penyangganya. Ia memegangi tepi meja kayu jati itu dengan jari-jari yang memutih, berusaha keras agar tubuhnya tidak ambruk dari kursi eksekutifnya.

Bukan sekadar pengkhianatan biasa.

Fakta keji yang baru saja terungkap di depan matanya membakar sanubari Alya hingga berkeping-keping: Siska bukanlah orang baru dalam hidup Rendy.

Siska ternyata sudah menjadi wanita simpanan Rendy sejak mereka belum menikah... saat Alya masih menjadi tunangan Rendy, saat Alya masih berbadan gempal dan berjuang tulus mendukung Rendy dari nol, hingga hari pernikahan mereka, dan bertahun-tahun selama pernikahan itu berjalan!

Siska bukanlah sekadar godaan baru yang datang belakangan. Siska adalah duri beracun yang sengaja ditanam di dalam daging kehidupannya sejak awal. Siska adalah racun yang selama ini tersenyum manis di depannya, berpura-pura menjadi junior yang berdedikasi, sementara di belakangnya... wanita itu telah lama menggerogoti dan menikmati setiap senti kehidupannya bersama Rendy.

"Ibu Alya...?"

Siska mengernyitkan dahinya, merasa aneh melihat perubahan drastis pada raut wajah Alya. Siska melangkah satu tapak makin mendekati meja kerja Alya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran.

"Ibu kenapa? Kok wajahnya mendadak pucat begitu?" tanya Siska dengan nada suara yang dibuat-buat cemas, meski matanya memancarkan rasa puas melihat Alya tampak terguncang. "Apa Ibu merasa kurang sehat? Atau... Ibu terkejut melihat saya yang mengantarkan berkas ini secara langsung, bukan Pak Rendy?"

Alya menundukkan kepalanya sedikit, menutup matanya rapat-rapat.

Dada Alya naik turun secara tidak beraturan. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan jeritan hatinya di masa lalu, derai air matanya saat hujan deras, dan rasa rendah diri yang menyiksanya selama bertahun-tahun mendadak bergolak menjadi satu gelombang kemarahan yang amat dahsyat.

Rasa lemas dan gemetar di tangannya perlahan surut, digantikan oleh pembekuan rasa benci yang teramat murni dan tajam.

Alya menarik napas panjang, menghembuskannya dengan sangat perlahan.

Saat Alya kembali membuka matanya dan mendongak, tatapan mata yang ia layangkan kepada Siska bukanlah lagi tatapan wanita yang terguncang atau terluka. Itu adalah tatapan mata milik seorang penguasa yang siap menyembelih musuhnya tanpa belas kasihan.

Siska yang tadinya tersenyum sinis seketika merasa bulu kuduknya berdiri. Kilat di mata Alya membuat dada Siska berdesir ketakutan secara tidak rasional.

"Gaun yang sangat bagus, Siska," tutur Alya dengan suara yang amat tenang, teratur, namun begitu dingin hingga meresap ke dalam celah tulang.

Siska tersentak pelan, refleks menyentuh bahan kain maroon di bagian dadanya. "A-apa...?"

"Gaun merah maroon itu..." sambung Alya seraya menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Siska lurus dari atas sampai ke bawah dengan pandangan penuh penghinaan. "Sangat cocok untukmu. Terlihat klasik... dan sangat sarat akan kenangan masa lalu."

Siska menelan ludah kasar. Ada riak kepanikan yang mendadak muncul di matanya, meski ia berusaha keras menutupinya dengan senyuman kaku.

"Ibu bicara apa sih?" celetuk Siska dengan nada agak tidak nyaman. "Ini cuma gaun koleksi lama saya. Saya cuma merasa gaun ini cocok untuk dipakai bekerja hari ini. Kenapa Ibu malah mengomentari pakaian saya? Bisakah Ibu langsung menandatangani berkas pencairan anggaran ini saja?"

Siska menggeser map di tangannya ke atas meja Alya secara kasar.

Alya tidak menyentuh berkas itu sedikit pun. Bibir indahnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis—senyuman paling mengerikan yang pernah Siska lihat seumur hidupnya.

"Kamu tahu, Siska..." bisik Alya pelan, melipat kedua tangannya di atas meja. "Dulu aku pernah berpikir bahwa kamu hanyalah seorang wanita murah yang kebetulan lewat dan memanfaatkan kerapuhan Rendy belakangan ini."

Wajah Siska memerah padam oleh amarah saat mendengar kata 'wanita murah'. "Bu Alya! Jaga mulut Ibu ya! Ibu tidak berhak menghina saya seperti itu!"

"Tapi sore ini," potong Alya dengan suara yang sedikit meninggi namun tetap terkontrol rapi, menyapu bersih teriakan Siska. "Aku baru menyadari satu hal yang teramat menjijikkan."

Alya berdiri secara perlahan dari kursinya. Keanggunan dan postur tubuhnya yang tinggi ramping kini mendominasi ruangan tersebut, membuat Siska refleks mundur setengah langkah.

"Kamu bukan sekadar pengganggu baru, Siska," tegas Alya, menatap lurus ke dalam manik mata Siska yang mulai gemetar ketakutan. "Kamu adalah parasit yang sudah menggerogoti rumah tanggaku sejak bertahun-tahun lalu. Sejak aku belum menikah dengan Rendy... kamu sudah bersedia menyerahkan dirimu di atas sofa kantor yang kotor itu, bukan?"

BOM!

Kalimat Alya menghantam kesadaran Siska bagaikan ledakan dinamit.

Wajah Siska yang tadinya memerah kini seketika berubah menjadi pucat pasi seputih kapas. Matanya membelalak lebar oleh rasa syok dan horor yang luar biasa. Bagamana mungkin... bagaimana mungkin Alya tahu rahasia kelam yang selama ini tersimpan sangat rapat antara dirinya dan Rendy bertahun-tahun lalu?!

"I-Ibu... Ibu bicara apa?!" gagap Siska, suaranya gemetar hebat, dadanya naik turun oleh kepanikan yang tak tertahankan. "Ibu jangan sembarangan memfitnah saya! Saya tidak pernah melakukan hal rendah seperti itu di masa lalu!"

"Pakaian maroon itu... dan bros bunga emas di dadamu," bisik Alya seraya melangkah mengitari meja kerjanya, mendekati Siska yang kini membatu ketakutan. "Rekaman video CCTV di ruang kerja Rendy bertahun-tahun lalu. Kamera itu memang terhalang oleh tumpukan berkas setinggi dua meter. Aku tidak pernah melihat wajah wanita liar di video itu..."

Alya berhenti tepat satu langkah di depan Siska, merendahkan posisinya dan berbisik tepat di samping telinga Siska yang gemetar:

"...tapi sore ini, kamu sendiri yang menunjukkan pakaian itu padaku, Siska."

Siska gemetar hebat. Seluruh persendiannya serasa lolos. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Rahasia terbesar yang ia simpan dengan rapi—bahwa ia adalah selingkuhan pertama dan terlama Rendy yang memprovokasi Rendy untuk menikahi Alya demi memanfaatkan kekayaan keluarga Alya—kini telah terbongkar secara total!

"Kamu... kamu tahu sejak dulu...?" bisik Siska dengan suara yang hampir habis oleh rasa takut.

Alya menegakkan tubuhnya kembali, menatap Siska dengan pandangan jijik yang amat mendalam.

"Dulu aku cukup bodoh untuk menangisinya," kata Alya dingin. "Dulu aku berpikir bahwa aku yang tidak cukup pantas untuk Rendy. Tapi hari ini... melihat kamu berdiri di sini dengan gaun busuk itu... aku sadar bahwa kalian berdua hanyalah dua ekor bangkai yang sedang saling menikmati kebusukan masing-masing."

Siska mengepalkan tangannya, rasa takutnya kini bercampur dengan rasa terancam dan amarah yang meledak-ledak.

"Kalau Ibu sudah tahu, lalu kenapa?!" jerit Siska hysteris, kehilangan seluruh topeng kesopanannya. "Kenapa Ibu diam saja?! Rendy tidak pernah mencintai Ibu! Sejak dulu Rendy cuma mencintai saya! Dia menikahi Ibu cuma karena harta dan posisi keluarga Ibu! Ibu itu cuma pajangan yang kasihan!"

Alya tidak marah. Ia justru terkekeh renyah—sebuah tawa elegan yang meredam histeria Siska seketika.

"Terima kasih sudah mengakuinya secara jujur, Siska," tutur Alya santai seraya mengambil ponselnya dari atas meja dan mematikan fungsi perekam suara yang sejak tadi menyala. "Pernyataanmu barusan... akan menjadi bahan pelengkap yang sangat indah untuk gugatan hukum dan pencabutan seluruh aset Rendy esok hari."

Siska membelalak horor saat melihat ponsel di tangan Alya. "Kamu... kamu merekamnya?!"

"Keluarlah dari ruanganku, Siska," perintah Alya dengan suara rendah yang amat dominan. "Bawa berkas sampahmu itu. Dan persiapkan dirimu... karena mulai besok pagi, kamu tidak hanya akan kehilangan pekerjaan dan martabatmu, tapi kamu juga akan membayar setiap detik penderitaan yang pernah kamu ukir dalam hidupku."

"Alya! Kamu jangan sewenang-wenang!" teriak Siska seraya memajukan tangannya, hendak mencengkeram pakaian Alya karena frustrasi.

Namun sebelum jemari Siska sempat menyentuh gaun Alya, pintu ruangan mendadak terbuka lebar.

Dua orang petugas keamanan bertubuh tinggi besar dari tim pengawal pribadi Kai Aditya melangkah masuk dengan sigap. Tanpa memberi celah sedikit pun, mereka memiting kedua lengan Siska ke belakang, menahannya dengan sangat kuat.

"Lepaskan saya! Lepasin!" jerit Siska berontak, wajahnya menyeringai kesakitan dan ketakutan.

Kai Aditya melangkah masuk tepat di belakang para pengawal tersebut.

Pria berwibawa itu mengenakan setelan jas abu-abu gelapnya yang amat rapi. Pandangan mata Kai yang dingin dan tajam menusuk langsung ke arah Siska, membuat wanita itu seketika terbungkam oleh aura intimidasi yang luar biasa tebal dari sang CEO Aditya Group.

Kai berjalan mendekati Alya, merengkuh pinggang Alya secara lembut untuk memastikan wanita yang dicintainya itu dalam keadaan aman.

"Bawa wanita ini keluar dari gedung," perintah Kai dingin kepada para pengawal, tanpa sudi melirik ke arah Siska sedikit pun. "Pastikan dia tidak melangkah ke lantai eksekutif ini lagi sampai rapat komisaris besok pagi."

"Baik, Pak Kai!" jawab pengawal tegas seraya menyeret Siska yang menangis dan berontak keluar dari ruangan kerja Alya.

Pintu ruangan kembali tertutup rapat. Suara histeria Siska menghilang di balik dinding kedap suara.

Di dalam ruangan yang kini hening, Kai memutar tubuh Alya secara perlahan. Ia menangkup kedua pipi Alya yang masih terasa agak dingin, menatap lurus ke dalam manik mata Alya dengan pancaran rasa cinta, pemahaman, dan perlindungan yang teramat dalam.

"Kamu baik-baik saja, Alya?" bisik Kai dengan suara yang teramat lembut dan hangat. "Saya mendengar semuanya dari luar."

Alya menatap wajah Kai. Jemari tangan Alya yang tadinya gemetar kini terangkat, menyentuh lengan tegap Kai, mencari kekuatan dari sosok pria yang selalu berdiri kokoh di sampingnya.

"Aku baik-baik saja, Kai..." tutur Alya, dan untuk pertama kalinya, ada ketegasan yang sangat murni dalam suaranya. "Aku tidak terluka sedikit pun. Aku justru merasa sangat lega."

Kai menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan, mengusap pelan kening Alya dengan jemarinya. "Lega?"

"Iya," jawab Alya dengan binar mata yang berkilat penuh kepastian. "Karena puzle terakhir dari masa laluku yang kelam sudah terpasang sempurna. Tidak ada lagi rasa penasaran, tidak ada lagi rasa ragu, dan tidak ada lagi rasa kasihan untuk Rendy maupun Siska."

Alya menggenggam erat jemari tangan Kai di pipinya.

"Besok pagi, Kai..." bisik Alya dengan senyuman pembalasan yang paling sempurna. "Kita akan hancurkan panggung mereka sampai tak berbekas."

Kai menunduk, mengepalkan tangannya di balik punggung Alya seraya mengecup kening wanita itu dengan ciuman yang amat panjang dan dalam.

"Sesuai perintahmu, my Sunflower," janji Kai di atas kening Alya. "Besok, matahari baru dalam hidupmu akan terbit sepenuhnya."

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!