Arini seorang gadis yang masih sangat mudah malah harus mengorbankan dirinya untuk pergi ke kota demi terbebas dari niat licik sang ayah
Dia lalu pergi dari rumah di antar oleh sopir pribadi nya, sopir itu membawah arini ke tempat yang bisa membuatnya aman dari sang ayah.
Arini di pertemukan dengan seorang pria yang selalu bertingkah aneh di depan nya.
Siapakah pria itu dan kenapa dia bertingkah aneh di hadapan arini?
ikuti terus kisah Perjalanan cinta arini, yang super kocak dan membuatmu tersenyum sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy min, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di balik hubungan mereka renggang
Arini meletakkan sendoknya perlahan ketika Kevin duduk. Suasana yang tadinya hangat perlahan berubah… bukan menjadi dingin, tapi menjadi canggung. Ia bisa merasakan tatapan Kevin sesekali mengarah ke arahnya saat ia makan. Dan itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat daripada biasanya.
Ibu Winda menyadari itu, tentu saja.
Wanita itu hanya tersenyum kecil sambil menikmati sayurnya.
Tak lama kemudian, pesanan Kevin datang. Meja mereka penuh dengan makanan—terlalu banyak untuk hanya tiga orang.
“Vin, kamu habis maraton? Kok makannya kayak orang belum makan dua hari?” tanya Ibu Winda sambil tertawa.
Kevin hanya mengangkat bahu. “Laper, Bu.”
Tapi Arini tahu, Raut wajah Kevin tidak menunjukkan tanda-tanda orang yang sekadar lapar.
Ada yang salah, nggak biasanya dia seperti itu, Batin winda sambil menatap anaknya seolah Ibu Winda merasakannya juga. “Kamu dari kampus? Tidak biasanya kamu datang jam segini.”
Kevin mencoba tersenyum santai, namun gagal. “Iya Bu… cuma tadi ada urusan.”
Arini menunduk, memotong ayamnya kecil-kecil. Ia mencoba tidak mendengarkan, tapi telinganya menangkap setiap kata.
“Urusan apa?” tanya Bu Winda lagi, santai tapi penuh keibuan.
“Hm… masalah… sama Dinar.” suaranya rendah.
Sontak saja sendok Arini berhenti di udara, Bu Winda tersentak kecil. “Lho, kalian ribut?”
Kevin menghela napas panjang, napas yang sejak pagi terasa seperti membawa beban batu. “Bukan ribut, Bu. Lebih tepatnya… diserang.”
“Maksud kamu?”
Kevin menatap meja sebentar, lalu menatap ke arah Arini. Arini hampir menjatuhkan sendoknya karena tidak menyangka kalau Kevin akan menatap ke arahnya.
“Hp aku… diutak-atik orang,” kata Kevin tegas. “Ada pesan yang bukan aku kirim. Dan parahnya, semuanya ditujukan buat Dinar.”
Ruangan terasa lebih sunyi meski pelanggan makan siang sudah pergi. Arini mengerjap, pelan Dadanya mendadak berat.
“Siapa yang utak-atik?” tanya Bu Winda, kini lebih serius.
Keheningan menjawab selama beberapa detik, Hingga akhirnya Kevin bersandar dan berkata dengan suara yang mengandung kemarahan yang ditahan:
“Seina.” Jawab nya lirih.
Arini tertegun, Bu Winda ikut menahan napas dia benar-benar tidak menyangkah kalau keponakan kesayangan mereka akan melakukan hal setega itu.
“Iya. Dia,” lanjut Kevin. “Aku tahu banget cara dia ngomong, cara dia ngetik. Dan… dia ada dendam sama Dinar.”
Arini bisa melihat rahang Kevin mengeras. Ada kemarahan yang ia simpan rapat-rapat, kemarahan bukan hanya karena pesannya dipalsukan, tapi karena hubungannya hampir hancur karenanya.
“Dinar marah banget?” tanya Bu Winda pelan.
“Dia bilang… dia butuh waktu.” Kevin menunduk sedikit, menahan emosi. “Dan kalau Arini memang jadi alasan… dia nggak yakin kita bisa lanjut.”
Arini terdiam Tangannya meremas ujung bajunya di bawah meja, Dunia seolah berhenti sebentar. Dia benar-benar tidak menyangkah kalau masalah seperti ini bakalan sampai ke kampus Kevin.
“Aku… jadi alasan?” suara Arini lirih, hampir tak terdengar.
Kevin tersentak pelan, baru sadar bahwa Arini dari tadi menyimak “Bukannya aku bilang kamu penyebabnya, cuman masalah ini aku rasa terlalu di besar-besarkan.
“Tapi namaku kebawa,” potong Arini, senyum pahit muncul begitu saja. “Seperti biasa.”
Kevin menatapnya, akan tetapi Arini berusaha untuk menghindari kontak mata dengan nya. Terasa seperti ada luka lama yang tiba-tiba muncul dalam dirinya, meski Kevin tidak pernah bermaksud menyakitinya.
Bu Winda memegang tangan Arini. “Nak, ini bukan salah kamu.” Arini mengangguk, tapi matanya sedikit berkaca-kaca. gara tidak ada yang menyadarinya dia buru-buru menundukan pandangan nya agar tidak ada yang menyadarinya. Kevin yang sempat memperhatikan nya kali itu benar-benar merasa bersalah.
...*****...
Suasana mulai hening sebelum ada yang sempat bicara lagi, suara bel pintu restoran berbunyi.
Cring!
Arini menoleh otomatis.
Dan yang masuk adalah seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan. Dengan seragam kampus yang masih rapi, rambut yang sedikit berantakan, dan mata yang sembab…
Dinar.... tubuh arini tiba-tiba membeku dan lemas.
Kevin langsung berdiri. “Din?!” mendengar hal itu dinar hanya terdiam dia mendekat, tidak menatap Kevin, Tidak menatap Bu Winda. namun padangan nya hanya terfokus hanya pada satu orang siapa lagi kalau bukan Arini.
Langkah-langkah para pelanggan berhenti mereka begitu kepo dengan apa yang akan terjadi, bahkan Ibu Winda ikutan khawatir. Takut jika Dinar datang hanya untuk cari masalah jadi berusaha untuk tetap fokus dan hati-hati karena situasi seperti ini biasanya akan ada labrakan. Begitu sampai di depan meja, Dinar berbicara dengan suara yang gemetar namun sangat jelas.
“Arini… boleh kita bicara?”
Arini menatapnya, bingung, panik, tapi mencoba tegar. “B-boleh. Ada apa, Kak?”
Dinar menarik napas panjang, suaranya serak bekas menangis belum sepenuhnya hilang.
“Aku cuma mau tahu satu hal…”
Tatapannya menusuk, tapi bukan benci. Lebih seperti… putus asa.
“Apa kamu… punya perasaan sama Kevin?”
Orang-orang di restoran mulai sibuk dengan diri mereka masing-masing, rasanya Restoran mendadak terasa seperti dunia berhenti berputar.
Kevin hanya bisa membeku dan mematung, Arini kala itu hanya bisa terpaku, sedangkan Ibu Winda menutup mulutnya dengan pelan kaget sekaligus heran.
kenapa anak manja itu bisa cepat tau dalam waktu dekat, padahal perjodohan saja belum berjalan lancar." batin nya
Dan kali ini untuk pertama kalinya, Arini tidak tahu harus menjawab apa dalam situasi seperti ini. Apakah dia harus jujur atau pura-pura tidak peduli dengan situasi ini, Dinar menatap nya penuh tanda tanya.
"Ehh... Anuu mbaa..... sebenaranya kami..."
"Iyaa dia suka sama aku," ujar kevin lantang, ibu nya lalu menarik mereka bertiga keluar dari ruangan restoran itu. terlihat beberapa tamu yang sempat menyaksikan hal itu memilih tidak ikut campur dan melanjutkan makan nya
"Kalian itu sudah pada besar masa harus rebutan cowok sih kayak anak kecil aja." ucap bu winda.
"Tapii bu, aku beneran nggak suka kalau ada yang deketin kevin." jelas Dinar.
"Nak kita tidak bisa memaksa perasaan kita, dan kamu kevin harusnya kalau sudah tidak suka jangan bersama lagi." marah winda ke anaknya.
"Maaf bu maksudnya apa?" Dinar masih kurang paham.
"Kevin jelasin yang sebenarnya kamu yang lebih tau apa yang ingin kamu katakan."
"Sebenarnya aku sudah muak dengan sikapmu din dari dulu, aku capek di perlakukan seperti budak olehmu. tidak di kampus di rumah, tanpa kamu sadari mereka menertawakan aku jika kamu habis jajan semua makanan kadang aku yang bawah, di mol semua barang-barang mu juga aku yang bawah belum cukup sampai di situ saat aku sedang istirahat kamu malah mengganggu waktu istirahatku." mendengar hal itu dinar merasa bersalah.
"Kenapa baru kamu ngomong vin kalau nggak suka di gituin." ucap nya kesal campur merasa bersalah.
"Aku pengen ngomong bahkan kadang aku sudah ngomong tapi kamu tetep maksa aku harus jemput padahal jarak rumah mu ke rumahku sangat lah jauh, aku merasa kamu memperlakukan aku seperti pembantu. Teman-teman kita menertawakan aku setiap kali kamu posting di media sosial dan berkata cowok idaman itu yang nggak malu barang ceweknya di bawain." Kata kevin dengan perasaan campur aduk, Terlihat winda hanya terdiam lalu memilih masuk kembali ke restoran. Dinar kevin dan Arini menatap punggung bu winda sampai benar-benar tak terlihat lagi.
Sebenarnya dia tidak mau ikut campur terlalu dalam dengan hubungan anaknya itu meski sebenarnya dia tidak terima jika anaknya di perlakukan seperti itu tapi hanya mereka juga lah yang harus menyelesaikan nya.
Kata-kata kevin membuat nya terasa tertusuk selama ini memang benar apa yang di katakan kevin, karena dari kecil dia kurang di perhatikan semua barang nya di bawakan sopir nya, bahkan makan nya saja di siapkan bibi. Dia benar-benar tidak pernah hidup susah, dan tidak menyangka kalau kevin keberatan dengan hal itu. pikirnya kevin mau-mau saja dan ikhlas membawa barang-barangnya dan menolongnya jadi dia sama sekali tidak menyangka dengan hal seperti itulah yang akan terjadi di masa depan dan menjadi boomerang untuknya sendiri.
nah Kevin ngobrol sama meja...
hadeh.. dua orang aneh
Semangat.
Aku, sudah 6 like dicerita mu Thor, Jangan lupa untuk feedback cerita ku ya judulnya "Attachment"di tunggu ya kedatangannya ❤️😺 MIAW 😺 Ayo saling dukung sama MIAW 😺