Di siksa oleh ayah kandung, ibu tiri dan adik tiri hingga di sekolah pun dirinya di bully karena sangat bodoh dan culun hingga masuk kuliah. Penderitaannya tidak berlanjut di situ kekasih yang dicintainya berselingkuh dengan adik tirinya hingga dirinya di bunuh dan mayatnya di buang di makam tua.
Roh orang mati masuk ke dalam tubuh gadis itu dan melakukan balas dendam yang telah menyakiti pemilik tubuhnya.
Hingga akhirnya dirinya di jodohkan oleh keluarganya dengan seorang pria yang lumpuh dan buta.
Adakah cinta di antara mereka ataukah mereka akan berpisah?
Dokter Angel anak dari pasangan dokter Dennis dengan dokter Elisabeth menyelamatkan seorang pria yang tergeletak di jalan dan membawanya ke rumah sakit.
Dirinya tidak menyangka bisa bertemu dengan sahabat lamanya dan dirinya juga tidak menyangka pria yang diselamatkan adalah asisten suami sahabatnya.
Pria itu selalu ada di saat dokter Angel sedang terluka. Pria itu selalu mengejar - ngejar dokter Angel tapi hati dokter Angel sudah tertutup untuk pria lain sejak dirinya dikhianati. Akankah pria itu berhasil menyembuhkan luka dokter Angel atau menyerah dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.
Ikuti yuk kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Pembalasan
" Untuk kamu ibu tua dan adik, ini baru permulaan karena aku akan menghukum kalian lagi." Ucap Claudia sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah kamar Valen namun baru beberapa langkah Claudia menghentikan langkahnya.
" Satu lagi mulai sekarang dan seterusnya Ririn dan Valen jangan masuk ke kamar yang biasa kalian tempati jika kalian melanggar perintahku maka hukumannya dua kali lipat dari ini." Ucap Claudia sambil melanjutkan langkahnya.
" Kalian enam pelayan ikuti aku?" Perintah Claudia
Ke enam pelayan itupun terpaksa mengikuti perintah Claudia ke kamar Valen. Claudia melihat kamar Valen sangat luas dan rapi membuat Claudia menahan amarahnya karena dirinya mendapatkan penglihatan di mana pemilik tubuhnya tinggal di kamar yang kecil, pengap dan panas belum lagi kekerasan yang dialaminya oleh keluarganya dan juga para penghuni mansion.
Claudia meletakkan tasnya di ranjang kemudian membukanya. Claudia mengeluarkan pakaian dalaman miliknya setelah selesai Claudia berjalan ke arah lemari kemudian membuka lemarinya dengan lebar sambil memanggil ke enam pelayan.
" Letakkan semua dalaman milik Valen dan masukkan ke dalam tas milikku." Perintah Claudia.
" Baik nona." Jawab mereka dengan patuh
" Oh ya, aku lihat tas, sepatu dan jam tangannya sangat banyak jika kalian suka ambillah buat kalian." Ucap Claudia.
" Tapi nona saya takut dengan mereka." Ucap salah satu dari mereka.
" Benar kata teman saya nona." Jawab mereka serempak.
" Tenang saja jika mereka marah katakan padaku biar aku yang memberinya pelajaran." Ucap Claudia dengan nada santai.
" Baik nona." Jawab mereka serempak.
" Anggap saja sebagai upahku karena kalian membantuku." Ucap Claudia.
" Baik nona." Jawab mereka serempak lagi.
Ke enam pelayan dengan semangat melakukan yang diperintahkan oleh Claudia dan hanya membutuhkan waktu lima menit pekerjaannya sudah selesai.
" Maaf nona sudah selesai." Jawab mereka serempak.
Claudia membalikkan badannya karena posisinya menatap ke arah balkon membelakangi mereka. Claudia menatap ke arah enam pelayan kemudian menatap tas tersebut.
" Tasnya taruh di kamar yang dulu aku tempati dan mulai saat ini dan seterusnya Valen tinggal di kamarku yang pengap dan setiap hari kalian harus memberikan dia pekerjaan yang biasa aku lakukan dan beri dia hukuman jika melakukan kesalahan seperti yang kalian lakukan padaku." Perintah Claudia sambil melemparkan tasnya ke arah ke enam pelayan.
bruk
Ke dua pelayan itu hampir saja terjatuh ketika Claudia melempar tasnya tapi untunglah ke empat temannya menahan tubuh mereka berdua.
" Salah satu dari kalian letakkan tas itu ke kamar yang dulu aku tempati dan sisanya tarik Valen ke kamarnya." Perintah Claudia.
" Baik nona." Jawab ke enam pelayannya dengan nada patuh.
" Satu lagi jangan panggil dia dengan sebutan nona tapi Valen begitu pula dengan nyonya besar jangan memanggil dengan sebutan nyonya besar tapi cukup panggil Ririn, apakah kalian mengerti?" Tanya Claudia
" Mengerti nona." Jawab mereka serempak
" Sekarang pergilah dan ikuti perintahku dan tenang saja semakin kalian menyiksa Valen dan Ririn aku akan memberikan hadiah yang tidak pernah kalian bayangkan setiap bulannya." Ucap Claudia
" Oh ya ini selotip jika Valen membentak kalian selotip mulutnya dan pukuli dia secara bertubi-tubi." Ucap Claudia sambil memberikan selotip.
" Baik nona." Jawab salah satu dari mereka.
" Kalian boleh pergi sekarang dan ingat lakuka. tugas kalian dengan baik." Ucap Claudia.
" Baik nona." Jawab mereka sambil tersenyum bahagia karena membayangkan setiap bulan mendapatkan hadiah dan mereka membayangkan hadiah apa yang akan diterimanya.
Ke enam pelayan itu keluar dari kamarnya masing-masing memakai tas, sepatu dan jam tangannya milik Valen dan salah satu dari mereka membawa tas milik Claudia untuk diberikan ke Valen.
Satu pelayan berjalan ke arah kamar yang dulu ditempati oleh Claudia untuk meletakkan tas milik Claudia yang berisi pakaian milik Claudia dan dalaman milik Valen sedangkan ke lima pelayan mendekati Valen yang sedang duduk di sofa bersama Ririn yang sedang berbaring di sofa karena tubuhnya penuh luka.
" Valen, mulai sekarang kamu tinggal di kamar pelayan." Ucap salah satu dari mereka
" Apa?? Aku tidak mau!! Kalian kurang ajar memanggilku tanpa sebutan nona!!!" Teriak Valen.
Salah satu dari mereka langsung menyelotip mulutnya sampai dua putaran.
plak
plak
bugh
bugh
duag
duag
Setelah selesai melakukannya serempak ke enam pelayan ada yang menampar, memukul dan menendang. Valen hanya bisa meringis karena mulutnya tidak bisa teriak sedangkan Ririn hanya memalingkan wajahnya tidak sanggup anak kesayangannya di siksa oleh ke enam pelayannya.
Ririn hanya bisa mengepalkan ke dua tangannya dengan erat menahan amarahnya dan juga kesedihan dalam waktu bersamaan. Setelah selesai tanpa punya rasa empati sedikitpun masing-masing menarik kaki kanan dan kaki kiri Valen membuat darah segar keluar dari kepalanya karena terkena benturan lantai ataupun benda-benda yang dilewatinya hingga tidak sadarkan diri.
" Apa-apaan ini!! Brengs*k kalian semuanya!!" Bentak Leonard tiba-tiba datang.
" Ada apa Leonard?" Tanya Claudia sambil tersenyum sinis.
" Apakah kau terkejut? Hari ini awal pembalasan buat kalian bertiga." Sambung Claudia
" Kau!!! Bukannya seharusnya kamu sudah mati!!" Teriak Leonard
plak
Claudia menampar Leonard dengan sangat kencang membuat Leonard marah dan mengangkat tangannya ke atas untuk membalasnya.
grep
" Leonard jangan coba-coba menamparku karena kamu tidak akan bisa menyakitiku lagi." Ucap Claudia sambil menangkap tangan Leonard.
bruk
Setelah berkata demikian Claudia mendorongnya dengan kasar hingga terjatuh ke lantai. Leonard yang sangat kesal berdiri lagi dan bersiap menyerang Claudia dan ternyata Leonard bisa bela diri. Claudia dengan mudah menghindar dan memukul kembali.
Tiba-tiba Claudia mendapatkan pengelihatan sifat Leonard pada jaman dulunya yang beberapa kali memperk**a para gadis hingga ada yang bunuh diri dan ada juga yang menjadi gila terlebih ibu pemilik tubuh selain diperko*a juga mengalami siksaan setelah mereka menikah membuat Claudia sengaja menotok titik syaraf di mana adik kecilnya mulai sekarang dan seterusnya tidak bisa digunakan lagi.
bugh
duag
bruk
Pukulan dan tendangan langsung membuat Leonard ambruk.
" Bagaimana mau nantangin aku lagi Leonard?" Tanya Claudia
" Kau pergi dari sini, ini bukan rumahmu lagi!!" Teriak Leonard sambil berdiri.
" Oh ya? Rumah ini adalah milikku yang diberikan kakek padaku dan kamu hanya sampah yang di pungut di tempat pembuangan sampah." Ucap Claudia sambil tersenyum menyeringai.
" Itu bohong, pasti nenek tua itu yang membohongi dirimu." Ucap Leonard berbohong sambil menatap tajam ke arah Claudia
plak
" Pffftttt... Hahahaha... dasar pria tua pintar berbohong, Jangan menatapku seperti itu kalau tidak mau aku colok matamu." Ancam Claudia sambil tertawa dan menampar pipi Leonard.
" Dasar anak kurang ajar, tidak ada sopan santun sama orang tua!!" Bentak Leonard sambil matanya menatap tajam tidak memperdulikan ucapan Claudia.