Kevin, seorang novelis sukses, menjalani pernikahan bahagia dengan Resti. Namun, hidupnya tak semudah yang dibayangkan. Mertuanya menginginkan ia menjadi pengusaha, bukan penulis. Sementara itu, Nina, adik iparnya, mulai menaruh perasaan lebih padanya, membuat situasi semakin rumit.
Di sisi lain, Dani, mantan kekasih Resti yang kini kaya raya, kembali untuk merebut Resti dan merusak rumah tangga mereka. Di tengah godaan dan tekanan dari berbagai arah, Kevin harus berjuang mempertahankan kesetiaan dan impiannya.
Bisakah Kevin melewati semua ujian ini? Ataukah pernikahannya akan runtuh?
Sebuah kisah penuh cinta, godaan, dan perjuangan mempertahankan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saepudin Nurahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kolaborasi Impian
Kevin melangkah menuju rumah Rahmat dengan semangat yang membara. Setelah pertemuannya dengan penerbit kemarin, pikirannya langsung tertuju pada satu orang—Rahmat. Ia yakin, jika ada seseorang yang bisa menghidupkan karakter-karakter di novelnya dengan ilustrasi yang keren, itu adalah sahabatnya sendiri.
Begitu sampai di rumah Rahmat, ia langsung masuk ke ruang tamu tanpa mengetuk, seperti biasa. "Bro! Gue bawa kabar gila!"
Rahmat, yang sedang menggambar di tablet grafiknya, menoleh santai. "Apaan? Lo menang undian umrah?"
Kevin mendengus sambil duduk di sebelahnya. "Bukan. Lebih gila dari itu. Penerbit pengen novel gue pakai ilustrasi, dan gue langsung kepikiran lo buat ngerjainnya!"
Rahmat meletakkan stylus-nya dan menatap Kevin dengan mata membesar. "Serius lo? Lo ngajakin gue?"
"Ya iyalah! Siapa lagi kalau bukan lo? Lo yang dari dulu percaya sama gue, dan gue juga pengen sukses bareng sahabat gue sendiri!"
Rahmat terdiam beberapa detik sebelum tiba-tiba dia berdiri dan langsung memeluk Kevin erat. "Anjrit, bro! Lo serius?!"
Kevin berusaha melepaskan diri dengan ekspresi geli. "Iya, tapi plis, jangan lebay!"
Rahmat tertawa tapi matanya sedikit berkaca-kaca. "Gila, gue nggak nyangka lo bakal ngajak gue sejauh ini. Gue selalu dukung lo, bro. Dan sekarang lo ngajak gue naik bareng!"
Kevin menepuk pundaknya. "Gue nggak bisa ngerjain ini sendirian. Novel superhero butuh visual yang kuat. Dan siapa lagi yang lebih paham gambar karakter-karakter gila di kepala gue selain lo?"
Rahmat mengangguk mantap. "Kalau gitu, kapan kita mulai?"
"Sekarang!" jawab Kevin bersemangat.
Rahmat segera mengambil laptopnya, membuka aplikasi desain, dan bersiap mendengar briefing dari Kevin. Mereka duduk berdampingan, membahas desain karakter-karakter di novel The Closer.
Kevin menjelaskan satu per satu karakter utama—sang pahlawan yang awalnya seorang sales otomotif yang mendapatkan kekuatan, para musuhnya yang berasal dari dunia bisnis gelap, hingga tokoh antagonis utama yang punya ambisi menguasai ekonomi global.
Rahmat mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk dan mencoret-coret konsep awal di sketchbook-nya.
"Gue udah dapet bayangan," kata Rahmat setelah beberapa menit berpikir. "Karakternya harus punya ciri khas yang unik. Jangan kayak superhero generik. Gue bakal bikin sesuatu yang fresh."
Kevin tersenyum puas. "Itu yang gue suka dari lo. Lo ngerti banget visi gue!"
Mereka terus bekerja sampai sore, tertawa dan berdiskusi soal ide-ide gila mereka. Ini adalah momen di mana mereka benar-benar merasa seperti dua sahabat yang sedang mengejar mimpi bersama.
Saat senja mulai turun, Rahmat menatap sketsa pertama yang sudah ia buat. "Kevin, ini bakal jadi sesuatu yang besar."
Kevin melihat gambarnya dan tersenyum lebar. "Gue yakin. Kita bakal bikin sejarah."
Sore itu, di ruang kerja Rahmat, Kevin dan Rahmat masih sibuk membahas konsep desain karakter untuk novel The Closer. Laptop dan sketchbook berserakan di meja, penuh dengan coretan dan ide-ide liar.
Kevin menyandarkan punggungnya ke kursi, meregangkan tubuh. "Gila, kita udah dari siang begini terus. Gue butuh kopi."
Rahmat tertawa sambil merapikan sketsanya. "Bukan cuma lo, gue juga butuh recharge. Bentar, gue bikin kopi dulu."
Saat Rahmat bangkit menuju dapur, suara bel rumah tiba-tiba berbunyi. Rahmat menoleh heran. "Siapa tuh?"
Kevin mengangkat bahu. "Mungkin paket?"
Rahmat berjalan ke pintu dan membukanya. Begitu melihat siapa yang datang, ia langsung tersenyum. "Eh, sayang! Lo ke sini?"
Di depan pintu berdiri Riana, dengan senyum manisnya. "Hai, aku kangen! Udah dari tadi nggak ngabarin, pasti sibuk gambar terus, ya?"
Rahmat terkekeh. "Iya, nih. Kevin nyeret gue buat bantuin novelnya. Masuk, masuk!"
Saat Riana masuk, seseorang di belakangnya ikut melangkah masuk. Rahmat langsung terkejut. "Oh... lo ajak Resti juga?"
Riana mengangguk. "Iya, dia lagi suntuk, jadi aku ajak ke sini sekalian."
Resti melangkah masuk dengan ekspresi datar, tetapi matanya langsung membelalak ketika melihat seseorang di ruang tamu.
Kevin.
Kevin yang tadi sedang bersantai tiba-tiba menegang. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Resti di sini. Sejak kejadian di Bandung, mereka belum pernah bertemu lagi.
Suasana di dalam ruangan tiba-tiba menjadi canggung. Rahmat dan Riana bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul.
Resti menghela napas pelan, berusaha terlihat tenang. "Hai..." katanya singkat.
Kevin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya membalas. "Hai..."
Rahmat yang merasa situasi ini semakin aneh mencoba mencairkan suasana. "Eh, pada mau minum kopi nggak? Gue baru mau bikin."
Riana tersenyum. "Mau! Aku kangen kopi buatan kamu."
Resti masih diam, tapi akhirnya mengangguk. "Aku juga."
Kevin menghela napas, berusaha rileks. "Gue bantu deh bikin kopi." Ia segera berdiri dan berjalan menuju dapur bersama Rahmat, meninggalkan Resti dan Riana di ruang tamu.
Saat Kevin dan Rahmat pergi, Riana menatap Resti dengan tatapan penasaran. "Lo nggak apa-apa?"
Resti tersenyum kecil, tapi matanya tak bisa menyembunyikan emosinya. "Gue nggak nyangka ketemu dia di sini..."
Riana menggenggam tangan Resti dengan lembut. "Lo masih sayang, kan?"
Resti terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah dapur, tempat Kevin sedang sibuk membuat kopi. Kenangan lama mereka berdua berputar di kepalanya—tawa, kebersamaan, perhatian Kevin yang dulu sepenuhnya miliknya, sebelum semua berubah.
"Gue nggak tahu, Riana... Tapi perasaan gue masih belum bisa hilang."
Bab Ini (Lanjutan): Kebingungan Kevin
Di dapur, Kevin menuangkan air panas ke dalam cangkir, tapi pikirannya berantakan. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengaduk kopi, matanya beberapa kali melirik ke arah ruang tamu, tempat Resti duduk bersama Riana.
Rahmat yang berdiri di sampingnya memperhatikan gerak-geriknya dan menghela napas. "Bro, lo gelisah banget."
Kevin menoleh cepat. "Hah? Enggak."
Rahmat menyipitkan mata, jelas tidak percaya. "Lo pikir gue bego? Dari tadi tangan lo kayak orang grogi. Gue tahu lo masih kepikiran Resti."
Kevin diam, tidak langsung membalas. Ia hanya menatap kopi hitam di depannya, seolah mencari jawaban dari cairan pekat itu.
Rahmat melanjutkan. "Gue nggak mau ikut campur, tapi lo harus sadar, lo nggak bisa selamanya lari dari masalah. Kalau lo masih ada perasaan sama dia, lo harus ngomong. Jangan pura-pura nggak ada apa-apa."
Kevin menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Masalahnya, Rahmat… gue nggak tahu lagi gue ini masih pantas atau enggak buat dia."
Rahmat menepuk bahu Kevin dengan santai. "Itu bukan lo yang nentuin, bro. Tapi satu hal yang gue tahu, lo nggak bakal tahu jawabannya kalau cuma diem kayak gini."
Kevin tidak langsung merespons, tapi ucapannya itu menancap di pikirannya. Ia mengangguk kecil, lalu membawa dua cangkir kopi ke ruang tamu, diikuti Rahmat.
Saat Kevin muncul, Resti mendongak sekilas. Tatapan mereka bertemu, tapi hanya sepersekian detik sebelum Resti mengalihkan pandangannya.
Kevin duduk di seberang Resti, mencoba bersikap biasa saja. "Ini kopinya."
Resti mengambil cangkir itu tanpa berkata apa-apa. Keheningan kembali mengisi ruangan, membuat Kevin semakin gelisah.
Riana yang tidak tahan dengan atmosfer aneh ini mencoba berbasa-basi. "Jadi... gimana perkembangan novelnya, Kev?"
Kevin yang masih agak kaku akhirnya menjawab, "Lagi proses persiapan cetak buku. Ilustrasi karakter juga lagi dikerjain sama Rahmat."
Rahmat ikut menimpali. "Iya, Kevin juga udah ada rencana buat promo gede-gedean. Mungkin bakal ada event launching gitu."
Resti mengangguk pelan. "Hebat..." suaranya pelan, hampir seperti gumaman.
Kevin ingin mengatakan sesuatu, ingin menanyakan kabarnya, ingin memastikan dia baik-baik saja. Tapi lidahnya terasa kelu.
Keheningan kembali datang. Hanya suara cangkir yang diketuk-ketukkan Rahmat ke meja yang terdengar.
Kevin menggigit bibirnya, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Lo... gimana, Rest?"
Resti terdiam sebentar sebelum menjawab singkat. "Baik."
Kevin ingin bertanya lebih jauh, ingin tahu lebih banyak, tapi saat ia melihat ekspresi Resti yang tampak datar, ada sesuatu yang menahannya.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia merasa Resti benar-benar menjauh darinya.
Resti menatap Kevin sekilas sebelum kembali menyesap kopinya. Di dalam hatinya, ia sebenarnya ikut senang mendengar kabar bahwa novel Kevin sukses. Bagaimanapun, Kevin dulu adalah seseorang yang sangat ia cintai, dan ia tahu betapa keras Kevin bekerja untuk impiannya itu.
Namun, di balik rasa senang itu, ada luka yang masih terasa dalam. Luka yang membuat dadanya sesak setiap kali mengingat bagaimana Kevin perlahan menjauh, bagaimana Gea hadir di antara mereka, dan bagaimana ia menyaksikan sendiri sesuatu yang menghancurkan hatinya di malam hujan deras itu.
Riana menyadari perubahan ekspresi Resti. Ia bisa merasakan sahabatnya itu masih belum benar-benar baik-baik saja. Dengan lembut, ia menepuk tangan Resti, memberi isyarat bahwa ia ada di sisinya.
Rahmat mencoba mencairkan suasana dengan bercanda, "Kalau nanti novelnya laku keras, jangan lupa mentraktir kita, Kev. Minimal makan di restoran mahal kayak yang Resti sama Adit datengin kemarin!"
Ucapan itu seperti bom waktu.
Kevin menoleh cepat ke arah Rahmat, terkejut. "Adit?"
Resti yang tadinya tenang langsung ikut menegang. Ia melirik Rahmat dengan tajam, seolah ingin menyuruhnya diam, tapi terlambat.
Riana buru-buru menarik tangan Rahmat, menegur dengan pelan. "Rahmat, lo ngomong apa sih?"
Rahmat yang baru sadar telah keceplosan hanya bisa nyengir. "Eh... gue nggak sengaja. Maksud gue—"
Kevin langsung memotong. "Lo makan bareng Adit?"
Resti menatap Kevin dalam diam, lalu mengangguk pelan. "Iya. Kenapa?"
Kevin mendadak merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. "Lo... deket sama dia?"
Resti menarik napas, mencoba menahan emosinya. Ia tidak suka diinterogasi seperti ini, apalagi oleh Kevin, yang beberapa bulan lalu bahkan tidak peduli padanya.
"Apa itu urusan lo?" jawabnya dengan nada dingin.
Kevin terdiam. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya, sesuatu yang mirip dengan kecemburuan. Tapi apa haknya untuk merasa begitu? Bukankah dia sendiri yang dulu menjauh?
Rahmat dan Riana saling bertukar pandang, merasa situasi semakin canggung.
Akhirnya, Resti mengakhiri keheningan. "Gue seneng novel lo sukses, Kev. Tapi gue juga udah punya hidup gue sendiri sekarang."
Perkataannya menusuk Kevin lebih dalam dari yang ia duga.
Ia ingin membalas, ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa, mulutnya terasa terkunci.