Larisa lahir tanpa seorang ayah, alias ibunya hamil diluar nikah. itulah mengapa ibunya sangat membenci Larisa.
"hei anak pembawa Sial" begitulah ibunya memanggi Larisa.
Larisa selalu mendapat amukan dan jambakan dari ibunya namun Larisa begitu menyayangi ibunya. bagi Larisa ibunya adalah ibu yang paling terbaik didunia.
Larisa mempunyai impian sederhana yaitu ingin dipeluk ibu, namun ibunya akan menjambak rambutnya karena Larisa berani meminta peluk padanya.
"ibu peluk aku"
"dasar anak pembawa Sial jangan harap bisa-bisa aku juga akan terkena sial jika aku memelukmu"
"satu kali saja ibu tidak sampai satu menit dengan begitu ibu tidak akan terkena penyakit sialku"
"sinii kamuu hah, berani-beraninya" ibunya menarik paksa Larisa dan membawa Larisa kedalam gudang
"ibu jangan ibu, aku takut digudang. dikamar mandi saja yah ibu" mohon Larisa, dia tahu bahwa dirinya akan dikurung oleh ibunya didalam gudang.
disekolah pun Larisa selalu mendapat Bullyan dari teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sittyyy²⁶, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 23
"Aku bukan maling" Larisa memukul kepalanya, kata maling itu seakan menari-nari dikepalanya, hal itu tak luput dari pandangan Aslan.
Ia mendekati Larisa yang tengah ini sedang tidak baik-baik saja, sejujurnya ia sakit melihat Larisa seperti itu namun rasa kecewanya jauh lebih besar.
"Gak usah nangis kalau emang yang nyuri tu duit Lo, percuma" ucap Aslan membuat Larisa mendongakkan kepalanya
"Gue bukan maling" ucap Larisa dengan suara yang kuat lalu memukul kembali kepalanya, siapa saja yang melihat dia pasti orang akan mengira bahwa dia adalah orang tidak waras.
Aslan justru terkejut karena suara Larisa, pasal nya ia tak pernah mendengar Larisa berbicara dengan nada tinggi, apa lagi pakai Lo gue.
Aslan mendekati Larisa dan mencoba memegangi tangan Larisa agar tak kembali memukuli kepalanya lagi.
"Gue bukan maling" ucap Larisa dengan Suara pelan, ia sudah lelah menangis. Aslan memeluk Larisa berusaha menenangkan gadis itu.
Setelah dirasa cukup tenang, barulah Aslan melepaskan pelukannya
"Kenapa Lo nyuri duit nya Tasya?" Ucap Aslan
"aku gak nyuri duit dia" ucap Larisa
"gak usah ngelak semua orang tahu kalau Lo emang nyuri duitnya Tasya, Lo butuh duit?" ucap Aslan menohok
"emang kalian bakal percaya kalau aku bilang aku sengaja bilang gitu?"
Aslan terdiam dengan ucapan Larisa, ia tak tahu siapa yang saat ini tengah berbohong
"enggak kan?" sambung Larisa lagi ketika tak mendapat jawaban dari Aslan.
"Aslan aku boleh minjam uang kamu gak? pasti aku balikin kok nanti" ucap Larisa memohon agar Aslan mau meminjami dirinya uang.
"butuh berapa?" tanya Aslan
"cuman satu juta buat gantiin uang nya Tasya" ucap Larisa
"kalau boleh tau uang satu juta Tasya yang hilang emang Lo kemanain?" tanya Aslan
"bayar utang di warung" ucap Larisa berbohong, jujur pun ia tak akan ada yang mau mempercayai dia.
"oke gue mau bayarin uang Tasya" ucap Aslan
"beneran?" tanya Larisa dengan mata berbinar mendengar perkataan Aslan, hanya anggukan kepala yang diberikan Aslan kepada Larisa
"ada syarat nya" ucap Aslan mematahkan senyuman Larisa
"apa?" tanya Larisa
"Lo harus ikutin semua apa yang gue mau selama uang itu belum bisa Lo kembaliin" ucap Aslan
"maksud nya, aku jadi babu kamu?" ucap Larisa
"gue gak bilang Lo babu, Lo sendiri yang bilang" ucap Aslan lalu menyerahkan uang satu juta pada Larisa, kemudian ia pergi meninggalkan Larisa disana.
...
Larisa masuk kedalam kelas setelah bel masuk berbunyi, ia mendekati mejanya Tasya lalu berkata..
"Tasya ini uang kamu" ucap Larisa lalu segera pergi dari sana menuju bangkunya
Tasya terkejut melihat itu, secepat itukah? darimana Larisa dapat uang itu? begitu lah isi pemikiran Tasya
"dapet dari mana Lo duit ini? nyolong?" tanya Tasya tersenyum miring
"bukan urusan Lo yang penting duit itu ada" ucap Larisa dengan berani, ia sudah muak dengan perangai Tasya
"wah wah"
"nantangin tu sya" ucap Ciara memanasi tasya
"ck nyolong aja bangga" ucap Tasya meremehkan Larisa. sedangkan Larisa hanya cuek saja tak mendengarkan Tasya yang mengoceh.
semua duduk ke tempat nya masing-masing setelah ibu Tina memasuki ruangan kelas, ya setelah pelajaran fisika dilanjut pelajaran kimia.
"oke buka halaman tujuh puluh lima, disana ada tentang hukum faraday. silahkan di buat resume nya sepuluh menit setelah itu ibu jelaskan nanti" ucap ibu Tina lalu duduk dibangku nya kembali
semua mengerjakan apa yang diminta oleh ibu Tina, kecuali Aslan. ia sama sekali tak mendengar kan apa yang dikatakan oleh ibu Tina. ia malah asik dengan menggambar
Larisa melirik Aslan yang sedang menggambar lalu berbisik...
"kerjain resumenya" ucap Larisa berbisik kepada Aslan
"itu tugas pertama Lo dari gue, nih buku gue" ucap Aslan memberikan buku catatan nya agar Larisa membuat resume padanya.
Larisa hanya menurut saja namun ia kesal juga, tapi mau bagaimana lagi. ia berhutang pada Aslan.
Aslan sesekali melirik ke arah Larisa lalu melanjutkan gambarannya begitu saja seterusnya. dan kalian tahu apa yang ia gambar itu? ya tepat sekali, ia tengah menggambar wajah Larisa yang sedang fokus menulis.
Aslan memang sangat pandai melukis, ia sangat senang dengan hal-hal yang berbau seni namun papa nya tak suka Aslan melukis. ia lebih suka jika Aslan menjadi penerus perusahaannya.
"oke letak kan semua alat tulis kalian dan fokus ke depan" ucap ibu Tina setelah dirasa sepuluh menit.
ibu Tina menjelaskan pelajaran tentang hukum faraday, sebagian ada yang memperhatikan dan sebagain ada yang mengantuk. maklum lah jam seperti ini sangat rawan sekali ngantuk.
"sekarang kerjakan soal yang dihalaman berikut nya, siapa yang siap silahkan antar kedepan. dan bisa langsung pulang" ucap ibu Tina, sontak hal itu mengundang keributan.
tak butuh waktu lima menit Larisa sudah siap dengan jawabannya, ia hendak mengantar kan nya kedepan namun suara bisik dari Aslan menghentikannya, memang sedari tadi Aslan memperhatikan Larisa berjaga-jaga kalau Larisa ingin ke depan.
"mana jawabannya?" bisik Aslan kepada Larisa
"nih" Larisa memiring kan buku nya agar Aslan bisa melihat nya, setelah selesai Larisa segera maju kedepan di susul Aslan dibelakang nya.
Bu tina sontak terkejut melihat Aslan yang maju ke depan, kalau Larisa ia tak begitu terkejut karena memang setiap ada soal Larisa selalu menjadi yang pertama mengantar kan dan sudah tentunya hasil nya pun seratus.
"kamu lagi demam?" tanya ibu Tina setelah Aslan menyodorkan bukunya setelah Larisa menyodorkan bukunya
"enggak" ucap Aslan dingin, sedangkan Larisa sudah menutup mulut nya ketika Bu Tina mengatakan Aslan demam
"sering-sering yah" ucap Bu Tina setelah memeriksa dan menilai hasil jawaban Aslan.
Aslan tak menjawab dan segera kembali ketempat duduk nya.
"Risa bagaimana?" tanya Bu Tina sambil menyerahkan buku Larisa
"apanya Bu?" tanya Larisa tak mengerti
"ck kamu ini, itu loh yang tadi, uang nya Tasya" ucap Bu Tina
"oh itu aman Bu" ucap Larisa dengan mengeluarkan jempolnya ke hadapan Bu Tina
"Alhamdulillah kalau begitu, lain kali jangan seperti itu yah, ibu tau bukan kamu yang ngambil uang itu. tapi dengan kamu mengaku seperti itu, dia bakalan seenak nya sama kamu. dan gak semua orang yang bisa ngertiin kamu, mana tahu kan cuman ibu yang bisa ngertiin kamu" ucap Bu Tina menasehati Larisa
"iya Bu, ibu tenang aja" ucap Larisa dengan menampilkan deretan giginya dengan ceria. ia bersyukur masih ada orang yang mengerti dirinya.
kemudian Larisa kembali ke tempat duduk nya mengemasi barang-barang nya
"kalian ini harus bisa seperti Larisa, lihat dia. belum ada lima menit dia udah selesai. dan seperti nya ada nih pemecah rekor pertama brandalan kampus ngumpulin jawaban" ucap Bu Tina terkekeh, mereka semua tertawa dengan ucapan Bu Tina
"nah kalian juga harus bisa niruin yang kayak begitu, gak harus bener kok jawabannya yang penting usaha kalian dulu mau nyari jawabannya. nanti didepan ibu ajarin kok gimana caranya" ucap Bu Tina memberi motivasi pada siswa siswi nya ini yang sebentar lagi akan menghadapi ujian dan pergi meninggalkan sekolah tercinta ini