Beberapa hari setelah mengantarkan paket makanan ke sebuah keluarga konglomerat, Jingga mendapat kabar bahwa 2 orang yang memakan makanan yang ia antarkan meninggal dunia, sedangkan 1 orang lainnya dalam keadaan koma.
Jingga terpaksa menikah dengan pria koma itu agar terlepas dari tuntutan atas makanan beracun yang diantarkannya. Sebulan setelah pernikahannya, pria koma itu akhirnya tersadar tapi dalam keadaan kakinya lumpuh.
Pria itu membenci Jingga karena kebodohan Jingga menyebabkan aset peninggalan kedua orang tuanya berhasil dikuasai oleh tante dan sepupunya.
Jingga mencoba memperbaiki keadaan, ia membantu suaminya untuk bisa merebut kembali aset itu. Jingga berhasil memperbaiki hubungannya dengan suaminya dan mereka pun saling jatuh cinta tapi akhirnya suaminya itu mengetahui kalau Jingga yang mengantarkan makanan beracun untuk dirinya dan orang tuanya hingga menyebabkan orang tuanya meninggal.
Bagaimanakah nasib Jingga selanjutnya? Apakah suaminya akan memaafkan Jingga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Jingga dan Kovu kembali ke kamar hotel mereka untuk membersihkan diri setelah bermain di pantai. Jingga membantu Kovu untuk bisa duduk di closet agar Jingga bisa membersihkan tubuh Kovu. Jingga melepaskan semua pakaian yang dikenakan Kovu lalu mulai membasahi tubuh yang terlihat nyaris sempurna itu dengan air. Ketika Jingga hendak memberikan sabun ke tubuh Kovu, tiba-tiba saja Kovu menyerangnya dengan menyiramkan air shower ke arah Jingga.
"HEI!!!" pekik Jingga.
"Nama saya Kovu, nyonya Jingga yang terhormat!" ucap Kovu sambil tertawa kecil. Baju Jingga basah akibat perbuatan Kovu itu.
"Bajuku jadi basah semua!" gerutu Jingga.
"Kalau begitu lepaskan saja bajumu!" goda Kovu. Jingga tersentak.
"Jangan bercanda!" seru Jingga. Kovu tertawa terbahak-bahak. Jingga tertegun sesaat, untuk pertama kalinya Jingga melihat Kovu tertawa selepas itu.
Kovu meraih tangan Jingga dan menarik tangan itu agar Jingga mendekat ke arahnya, Jingga mengikuti arahan Kovu dan perlahan mendekati suaminya.
"Duduklah!" ucap Kovu pelan.
"Hah?!" Jingga tersentak, ia tidak mengerti maksud ucapan suaminya itu.
"Duduklah di sini, di pangkuanku!" Kovu memperjelas ucapannya. Seketika jantung Jingga berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya sesak, tapi Jingga mengikuti keinginan suaminya itu, ia duduk di pangkuan Kovu dengan kikuk. Kovu tersenyum lembut.
"Ka.. Kamu mau apa?" tanya Jingga gugup.
"Aku mau membersihkan tubuhmu, tubuhmu juga kotor!" jawab Kovu dengan suara berbisik. Mendengar jawaban Kovu itu, Jingga semakin gugup.
Kovu memandangi wajah Jingga dengan seksama, perbuatannya itu membuat Jingga kikuk.
"Ada apa?" tanyanya. Kovu menggelengkan kepalanya pelan.
"Berputarlah!" pinta Kovu. Jingga terdiam, ia tidak mengerti maksud ucapan Kovu.
"Berputarlah menghadapku!" Kovu kembali memperjelas permintaannya. Kali ini jantung Jingga tidak bertambah kencang debarannya melainkan terasa seperti berhenti berdetak. Dengan kikuk Jingga memutar tubuhnya menghadap Kovu.
Tangan kanan Kovu perlahan meraih tengkuk Jingga dan dengan lembut membimbing kepala Jingga agar mendekat ke arahnya. Jingga menghela nafasnya perlahan untuk menghilangkan kegugupannya, tapi ia malah semakin gugup melihat wajah Kovu yang semakin dekat dengan wajahnya. Kovu mulai menciumi bibir Jingga dengan lembut.
"Kenapa kamu masih saja merasa gugup berhadapan dengan suamimu sendiri?" tanya Kovu pelan.
"Ee... Aku hanya belum terbiasa dengan semuanya ini." jawab Jingga.
"Kita sekarang satu, aku adalah kamu dan kamu adalah aku, tidak perlu merasa canggung!" jelas Kovu. Jingga menganggukkan kepalanya perlahan. Kovu kembali menciumi Jingga, tapi kali ini ciumannya itu beralih ke leher dan pundak Jingga hingga membuat tubuh Jingga bergetar.
Perlahan tangan Kovu masuk ke dalam kaus yang dikenakan Jingga lalu memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh Jingga dan akhirnya ia melepaskan kaus itu dari tubuh Jingga. Jantung Jingga berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak. Kovu kembali menciumi bibir tipis Jingga sambil tangannya melepaskan pengait pada bagian belakang pakaian Jingga.
"Kovu!" tegur Jingga yang terlihat semakin gugup.
"Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang kusayangi!" ucap Kovu pelan. Jingga mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti mengapa Kovu bicara seperti itu.
"Aku akan membuat ikatan yang kuat padamu!" lanjutnya.
"Agar kita tidak terpisahkan lagi!" tambah Kovu. Ia kembali menciumi Jingga dan mereka 'melakukannya' lagi.
...
Jingga dan Kovu kembali ke rumah mewah mereka setelah selama 5 hari mereka berlibur bersama. Keesokan harinya, Kovu sudah kembali bekerja seperti biasa dan Jingga pun mendampinginya.
"Aku mau ke toilet sebentar!" ijin Jingga pada Kovu. Kovu yang sedang sibuk dengan pekerjaannya hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Jingga.
Jingga masuk ke salah satu bilik closet, tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki yang menggunakan heels masuk ke dalam toilet. Setelah selesai buang air kecil, Jingga keluar dari bilik closet dan ia terkejut ketika melihat tante Miranda berada di depan wastafel. Jantung Jingga berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Tante Miranda menoleh ke arah Jingga.
"Selamat siang, nyonya Jingga yang terhormat!" sapa tante Miranda, ia tersenyum sinis pada Jingga. Jingga tidak membalas sapaan itu, ia bergegas mencuci tangannya dan hendak segera meninggalkan ruangan itu, tapi ketika hendak meninggalkannya, tante Miranda menghalanginya.
"Sepertinya orangku sudah tidak berpihak padaku lagi!" tukas tante Miranda. Jingga tersentak.
"Aku tidak pernah menjadi orangmu!" bantah Jingga. Tante Miranda tertawa keras.
"Kamu lupa sudah menandatangani surat perjanjian itu, Jingga?" ucap tante Miranda mengingatkan. Jingga terdiam.
"Bagaimana dengan honeymoon kalian?" tanyanya. Jingga tetap diam, ia tidak berniat menjawab pertanyaan dari musuh suaminya itu.
"Sepertinya kalian sudah melakukan semuanya!" terka tante Miranda.
"Selamat Jingga, rencanamu berhasil!" seru wanita berumur 50 tahunan itu. Jingga tidak mengerti maksud ucapan tante Miranda.
"Kamu berhasil merebut hati Kovu sampai-sampai dia memberikan saham yang besar untukmu!" ungkap tante Miranda. Jingga terkejut mendengar ucapan tante Miranda itu.
"Saham?" gumam Jingga bingung.
"Ya! Kovu baru saja membelikan saham atas namamu, kamu belum tahu?" tanya tante Miranda. Jingga tidak merespon pertanyaan tante Miranda.
"Aku tidak menyangka kalau kamu lebih pintar dari yang terlihat, Jingga!" puji tante Miranda. Jingga menatap tajam ke arah tante Miranda, tante Miranda tersenyum sinis padanya.
"Dengan kamu memberikan tubuhmu saja, kamu sudah mendapatkan saham yang besar di perusahaan besar ini, bagaimana kalau kamu bisa memiliki anak dari Kovu?" ucap tante Miranda.
"Kovu pasti akan memberikan seluruh hartanya untukmu!" tambahnya. Lagi-lagi Jingga terkejut mendengar ucapan tante Miranda itu.
"Aku tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu!" bantah Jingga.
"Kami benar-benar saling mencintai!" tegasnya. Tante Miranda tertawa keras mendengar perkataan Jingga.
"Cinta?" ucap tante Miranda.
"Bagaimana kalau Kovu tahu kalau wanita yang dicintainya itu adalah orang yang membunuh kedua orang tuanya?!" tukasnya. Jingga tersentak.
"Aku tidak membunuh mereka!" bantah Jingga lagi. Tante Miranda tersenyum getir.
"Kamu yang menyebabkan penderitaan untuk Kovu, Jingga!" ucap tante Miranda.
"Kamu yang membawakan makanan beracun bagi Kovu dan keluarganya!" lanjutnya.
"Kamu yang membuat orang yang kamu cintai itu menjadi yatim-piatu!" tegas tante Miranda.
"Tidak! Aku tidak melakukannya!" seru Jingga.
"Bukan aku yang melakukannya!" tegasnya.
"Kalau begitu siapa?" tanya tante Miranda. Jingga diam mematung.
"Bagaimana kalau kita minta polisi untuk mengusutnya?" tawar tante Miranda. Jingga tersentak, jantungnya berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sakit dan nafasnya sesak.
"Biar polisi yang membuktikan kejahatanmu itu!" ucap tante Miranda. Tante Miranda melemparkan senyuman sinis ke arah Jingga.
"Kasihan Kovu, dia harus kembali merasakan patah hati!" ucap tante Miranda dengan suara berbisik. Jingga menghela nafasnya dengan kasar, ia sudah tidak sanggup mendengarkan tuduhan-tuduhan dari tante Miranda itu, akhirnya ia beranjak dari tempatnya.
Ketika keluar dari toilet, Jingga tersentak, ia sangat terkejut karena Kovu sudah berada di balik pintu toilet.
"Ko.. Kovu!" ucap Jingga terbata-bata.
"Apa dia mendengar pembicaraanku dengan tante Miranda?" batin Jingga.
...
mau nya
dilanjut thor!