Astral adalah dunia yang gemerlap dengan energi magis, tempat berbagai ras kuat hidup berdampingan. Di antara mereka, manusia menonjol karena potensi evolusi mereka yang luar biasa. Rahasia kekuatan mereka terletak pada Gerbang Jiwa Surgawi, sebuah portal spiritual yang memungkinkan mereka untuk mengakses energi magis alam semesta. Sembilan Gerbang Jiwa, menandai tahap evolusi yang berbeda, dapat dibuka. Gerbang Petaka, gerbang kesembilan, adalah kekuatan yang luar biasa tetapi berisiko, menjanjikan kekuatan tak terbayangkan namun juga berpotensi menghancurkan segala sesuatu.
Mari kita ikuti bersama keseruan kisah petualangannya di new novel story "HEAVENLY SOUL GATE"
~Mohon tanggapan dan sarannya dikolom komentar, ya. Agar Author bisa mendapatkan pembelajaran yang lebih baik lagi, dan memberikan karya terbaik~
Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitar Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengumumkan Hasil Ujian Seleksi! Tim Sean Tak Kunjung di sebutkan?!
"Sean, Sean, Sean!" Terdengar samar-suara seorang gadis membangunkannya. Sean perlahan bangun dengan bantuan gadis itu. "Sean, apakah kamu baik-baik saja?" tanya gadis itu dengan penuh kekhawatiran.
“Elic," kata Sean dengan suara lemah. Matanya yang sayup melirik sekitarnya, "uh!" Sean merintih, tiba-tiba bahunya terasa sakit.
"Ada apa?" tanya Elic khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit masalah dengan pundakku."
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kita punya banyak waktu," ucap Elic menenangkannya.
Sean lalu melihat sekelilingnya dan melihat Liana dalam keadaan tidak baik-baik saja. Wajahnya tampak lesu, seakan-akan ia baru saja pulang dari perjalanan kapal laut. "Liana, apa yang terjadi denganmu?" tanya Sean dengan terkejut.
"Sean, apakah kamu yang mengalahkan semua orang ini?" Tanya Liana dengan suara lemah sambil menunjuk ke arah mayat-mayat yang berserakan di sekitar mereka.
"Ah," Sean menjawab dengan tersenyum, seolah-olah itu hal yang lumrah baginya. Namun, kemudian ia tersadar, "Elic, mengapa kalian kembali kesini?"
"Tentu saja aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku mendengar suara ledakan dari dalam, kami sangat takut sesuatu telah terjadi padamu. Jadi, kami kembali untuk memastikan kalau kamu dalam keadaan baik. Saat tiba di sini, yang kami temui hanyalah mayat berserakan, dan kau tahu betapa takutnya aku melihat pemandangan itu. Aku..." Ujar Elic, lalu mulai terisak.
“Elic…” Sean terkejut melihatnya, dan dengan lembut ia menghapus air matanya.
"Kenapa, mengapa kamu selalu menempatkan dirimu dalam bahaya?" Elic memukul lembut dada Sean sambil terisak. "Berapa kali aku harus menegurmu, agar tidak membahayakan dirimu, tapi mengapa kamu tidak mendengarkan. Aku mencoba untuk mempercayaimu, namun kenapa setiap kali, itu selalu membuatku gelisah," ujar Elic sambil terisak.
"Maaf," ucap Sean dengan lembut, "Aku minta maaf."
Elic menatapnya tajam sebelum dengan tegas berkata, "Lain kali, aku juga akan ikut bertarung! Jangan mencoba menghentikanku, atau aku akan lebih dulu menghajarmu sebelum musuh mulai menyerangmu."
Sean tersenyum takut ketika mendengar itu, lalu berkata, "Ba-baiklah. Lakukan apa yang kau inginkan." Sean tiba-tiba teringat akan wanita misterius itu. “Oh-ya, dimana wanita itu?"
“Wanita? Wanita siapa? Aku tidak melihat ada wanita tadi!” tanya Elic dengan heran.
Sean terdiam sesaat, dan mulai menganggap bahwa wanita itu telah pergi, setelah menolongnya. Dia lalu tersenyum melihat Elic. "Bukan apa-apa." Dia lalu perlahan berdiri, sambil berkata. "Aku sudah agak baikan. Sebaiknya kita segera mencari monster lain, sebelum tengah hari."
Elic tersenyum. "Tidak perlu! Kita sudah punya sekarang. Lihat.." Elic menunjukkan tubuh monster yang tergeletak itu.
"B-bagaimana bisa...?" Sean terkejut melihat tiga monster langka itu.
“Eh, kami mengira kau juga melakukannya," kata Liana bingung.
Sean terdiam lagi sejenak. "Begitu, ya.. mungkin wanita itu yang melakukannya, tapi.. siapa? Apa yang dilakukannya di sini? dan kenapa memberikan monster ini? Ah, ini tidak baik, dia pasti melihatku menggunakan serangan tadi." Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya. "Sudahlah, tak ada gunanya memikirkannya sekarang." Sean lalu sedikit meregangkan otot-otot. "Sebaiknya kita segera kembali ke Soul Academy sebelum tengah hari."
“Bagaimana denganmu?” Tanya Elic melihat kondisinya.
“Tidak masalah! Hanya bahuku masi sedikit sakit.”
Di sisi lain, di permukaan air danau yang tenang, terlihat seorang wanita menaiki perahu kecil sambil mendayung dengan lembut.
Mengingat kembali peristiwa sebelumnya, ia terkejut hingga tak percaya dengan apa yang telah dilihat. Dengan pandangan serius, ia menatap ke depan. "Cahaya menyatu dengan kegelapan? Anak itu..., bagaimana bisa..?" gumamnya seakan tak percaya.
----------
Setelah kembali ke Soul Academy, mereka menunjukkan material dari ketiga monster tersebut kepada beberapa panitia, seperti sisik, gigi, tanduk, kuku, dan material lainnya, dan itu sangat mengejutkan mereka semua. Salah satu dari mereka kemudian menyimpannya, dan ketiga remaja itu diminta untuk kembali besok untuk mendengar hasilnya.
"Ekspresi wajah mereka tadi sangat lucu, mereka pasti tidak menyangka kita membawa monster langka seperti itu," kata Elic dengan terkekeh.
"Ya, tidak hanya langka tapi juga kuat, dan itu adalah tiga monster yang berbeda. Sebenarnya itu melanggar hukum, tapi.., tidak ada aturan di akademi ini yang melarangnya," jelas Sean.
"Apa menurut kalian kita akan mendapatkan poin tertinggi?" tanya Liana dengan penuh rasa penasaran.
"Mmm...? Kalau dilihat dari kelangkaannya, mungkin saja, tapi kita tidak yakin. Kita tidak tahu monster apa yang dibawa oleh anak-anak lain."
Mereka bertiga berjalan menuju penginapan mewah yang telah di fasilitasi akademi untuk mereka.
Keesokan harinya, pagi sudah menjelang, ramainya suasana di halaman terasa semakin intens, semua menantikan dengan penuh antusias hasil ujian seleksi kemarin. Suasana semakin tegang ketika salah seorang panitia mulai mengumumkan tim yang lolos ujian seleksi, mulai dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Sean, Elic, dan Liana terlihat gelisah saat tim mereka belum juga disebutkan. “Baiklah,” terdengar suara lantang dari panitia. “Aku akan melanjutkan mengumumkan tiga tim teratas dalam ujian masuk.” Disampingnya terlihat sebuah papan yang ditutupi kain putih.
“Tim kita belum disebutkan,” ucap Liana gelisah, sembari berharap agar mereka berhasil lolos ujian seleksi ini. Tampak keringat mengalir di dahi Elic. Keduanya begitu gelisah menunggu keputusan dari panitia, di satu sisi Sean tampak tenang menghadapinya.
“Posisi ketiga, tim Genos, dengan total 5.890 poin! Posisi kedua, tim Elizabeth, dengan total 11.550 poin!” seru panitia dengan lantang saat membacakan poin-poin yang diperoleh oleh masing-masing tim teratas.
"Kita masih belum dipanggil?" tanya Liana dengan gelisah.
“Apa kita tidak masuk?” tambah Elic, semakin memperlihatkan kekhawatiran yang mendalam.
Sean kemudian tersenyum. “Kita masih aman! Tapi.., jika kita tidak dipanggil….” ungkapnya dengan sedikit kekhawatiran.
“Posisi pertama…” lanjut panitia sambil membuka kain yang menutupi papan di depan mereka. “Tim Leon, dengan total 152.000 poin!”
Saat panitia mengumumkan poin terakhir, yang tertinggi dari semua tim, semua orang sontak terkejut melihatnya. “Se-seratus lima puluh!!!" seru salah satu remaja lelaki itu.
"Dua!!!" tambah teman gadis di sisinya.
"Mereka memiliki tiga tengkorak monster yang sangat berbahaya, itulah sebabnya mereka lulus dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah," lanjut panitia itu dengan penuh terbuka.
Sean, Elic, dan Liana, seketika merasa lega mendengarnya, mereka berhasil lulus ujian tersebut. Liana yang tampak senang lalu memeluk Elic, namun Elic tanpa sadar telah memeluk Sean dengan kegirangan, membuat Sean terkejut. Sean yang terdiam kaku hanya membiarkan gadis itu merangkulnya dengan erat.
"Elic, Elic.." panggil Liana pelan. Elic seketika tersadar, dan dengan cepat menjaga jarak dari Sean, wajahnya memerah. Liana yang melihatnya dari samping terkekeh sambil menutup mulutnya.
Setelah mereka dinyatakan lulus, di asrama putri, Elic sedang menulis surat untuk kedua orangtuanya, dan melilit gulungan surat itu pada burung pengantar pesan.
Saat itu, Leon berada di ruang kerjanya, dan tiba-tiba, istrinya masuk dengan gembira sambil membawa surat dari Elic. Leon yang menyadari itu segera menghentikan pekerjaannya dan mulai membaca isi surat tersebut. Ekspresi terkejut terpancar dari wajahnya saat membacanya.
"Dia lulus!" kata istrinya dengan gembira.
"Ya, dia lulus, tentu saja dia lulus. Tapi.."
Istrinya yang berdiri di sisinya kemudian tersenyum seolah mengetahui alasan di balik eksperinya. "Ya, mereka mendapatkan skor tertinggi dalam ujian, dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah."
Di sisi lain, para pelayan yang diam-diam mengintip dari balik pintu, termasuk Hana salah satunya, terkejut mendengarnya.
"Itu berarti mereka lebih hebat dari kita," lanjut istrinya. "Dulu, kita dan Elen juga lulus dengan nilai tertinggi, sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkan skor kita, tapi mereka, berhasil mencetak skor baru. Hebat sekali bukan?! Kurasa tak akan ada lagi yang bisa melampaui mereka," kata istrinya sambil tersenyum penuh bangga.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seorang pelayan memergoki para pelayan yang sedang menguping. Pelayan tersebut adalah wanita yang sebelumnya pernah singgah di rumah Sean mencari Elic. Para pelayan tersebut dengan cepat melarikan diri darinya. Namun, setelah semua pelayan pergi, wanita itu dengan konyolnya menempelkan telinganya ke pintu. Wajahnya tiba-tiba berubah 180 derajat, dari yang tadinya tegas menjadi tersenyum gembira.
Kembali di asrama putri, Elic terlihat tersenyum sambil menatap keluar dari jendela kamarnya. “Elic, kita makan yuk?" ajak Liana. "Um," gumam Elic sambil tersenyum. Mereka berdua kemudian keluar dan bertemu dengan Sean untuk makan bersama di luar.
Sementara itu, Sean juga telah menulis surat untuk ibunya. Ibunya tersenyum saat membacanya. Ia lalu menengok ke langit dari balik jendela kamarnya sambil tersenyum.