Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Sekadar Masa Lalu

Bukan Sekadar Masa Lalu

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika / Berbaikan / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Teruntuk Riri Ayudia,

Kalau kamu tidak bisa menjadi protagonis, setidaknya jangan jadi antagonis.

Lebih tepatnya Ini sebuah utas tentang seseorang yang terus berdiri di belakang bayang-bayang masa lalu. Orang itu mengharapkan sebuah kesempatan. Dan setelah kesempatan itu datang, apakah yang dilakukannya untuk bisa merubah cintanya yang kontradiktif?

Riri mengajukan sebuah pertanyaan: Kapan aku bahagia?

Yang mana bahagia itu dari sesuatu yang dia tidak inginkan. Tepat di depan matanya.

Abang, maafkan Aku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2 Mei 2015

Suatu hari aku pernah betanya-tanya pada diriku sendiri, emang yakin bakal ngejalanin apa yang menjadi pilihanku hasil terdorong dari rasa ambisi? baru saja perhelatan lamaran telah bubar, aku termenung di depan seserahan yang membludak dikamar. Tapi diantara banyaknya barang-barang tersebut, ada yang paling menyorot perhatianku, sebuah tawaran tanggal pernikahan.

Dua hari yang lalu Mamah Via bertanya yang aku pikir beliau akan memisahkan kami dengan cara yang halus. Tapi aku salah. Ia bertanya bersediakah aku jika pernikahan akan mepet dengan hari lamaran? maksudnya, sekarang di lamar seminggu kemudian menikah, apa tidak membebani keluargaku dalam mempersiapkan jalannya acara? aku jawab, berapa waktu yang diminta keluarga Bang Bo'im aku selalu siap. Hanya saja, jika waktunya mepet acara akan sesederhana mungkin. Aku dan keluarga hanya berusaha fleksibel dan tak ada maksud yang lain.

Pucuk dicinta,

Seperti berjodoh, yang lagi dipikirkan mengirimkan aku sebuah pesan. Langsung aku buka karena aku penasaran.

Bang Pacar: uhuy yang abis di lamar, roman-romannya lagi cengar-cengir sambil baca BBM dari gua nih.

Aku: sotoy, orang lagi mau otewe tidur.

Satu menit, aku terus melihat layar HP.

Dua menit, aku terus membolak-balikan HP diterpa gelisah.

Gak mau sampai nunggu lima menit aku langsung chat dia lagi.

Aku: Bang, Riri mau otewe tidur.

Bang pacar: sebelum lu tidur, alangkah baiknya lu tutup dulu jendela kamar. Mau tidur jendela kebuka kaya begini.

Aku praktis menengok ke arah jendela. Benar, dia ada disana bertopang dagu lalu melempar kedipan mata. Jantungku rasanya terjun bebas, melihat senyumnya yang kian menghujam perasaan. Kegantengan Bang Bo'im malam ini terlihat berkali-kali lipat, yang mana pemandangan di belakang kepalanya bulan bersinar begitu terang.

"Abang udah lama disitu?"

"Lumayan, udah lihat Neng Riri bohong. Katanya otewe tidur tapi menanti balasan chat dari gua wkwkwk."

"Iiih Abang mah!"

"Kenapa?"

"Ngeselin."

"Tapi sayang kan?" daguku di colek sama dia. Makin berantakan aja hati neng Bang kalau begini caranya.

"Sayang Bang, Abang juga sayang kan sama Riri?" sahutku dengan suara yang amat kecil. Agak malu sih kalau berada dalam scene seperti ini. Pasalnya, aku dan Bang Bo'im awalnya cuma teman yang lama-lama jadi pacaran. Benar apa kata orang, cowok dan cewek sahabatan itu akan menimbulkan rasa entah dari salah satunya, atau keduanya.

Dulunya suka berantem, tiba-tiba saling menyatakan rasa sayang. Dulunya suka usil, sekarang kami saling menjaga. Itulah cinta yang kami miliki sekarang, yang ku doa'kana hingga nanti, dan sampai kapanpun.

"Kalau gak sayang, ngapain gua melangkah sampai sejauh ini. Dompet gua sampe kering kerontang tuh buat beli seserahan sama cincin, di palak sama si Lalil juga katanya gua ngelangkahin dia. Ngelangkahin darimana? gua lebih tua dari dia tiga minggu." Cowok itu menggerutu sambil memporak-porandakan isi dompetnya. Sekilas aku lihat fotoku nampang disana.

"Iih, foto siape tuh Bang?"

Cowok itu langsung berhenti menyiksa dompetnya, kemudian beralih atensi pada selembar foto yang kusebut. Ia usap dengan ibu jari foto itu lalu tersenyum manis yang memabukkan. Sungguh pemandangan yang begitu indah di mataku.

"Ini jimat."

"Jimat apa?"

"Jimat cinta," ia tergelak kemudian. Sekilas, cowok itu mencium lembar foto tersebut, meskipun sesudahnya ia mengataiku jelek. Lain mulut lain di tindakan. Aku tahu Bang kamu sayang sama aku, tapi dengan cara yang kebalik membuatku sering mengerucutkan bibir.

Soal Bang Lalil, terjawab sudah misteri siapa yang paling tua menurut usia. Menurut hierarki keluarga, Bang Lalil boleh jadi terlihat yang dituakan karena lahir dari istri tertua, namun secara umur ternyata Bang Bo'im abangnya Bang Lalil. Fix, sudah halal nanti, aku panggil Bang Lalil adik ipar. Tapi aku tidak mau membahas cowok lain di depan Bang pacar.

"Sekarang lu dah mau tidur belum?"

Aku menggeleng, "aku gak bisa tidur Bang."

"Nggak bisa tidur atau gak mau tidur?"

"Pengen main sama Abang."

"Ngaco!, itu mah nanti kalau udah halal."

Aku berdecak tak habis pikir, membelalakan mata ke arahnya sambil mendecih. Ia langsung membenarkan kursi duduknya yang kutebak hasil menyeret dari beranda rumah.

"Bukan main yang itu, Riri lagi kangen aja menghabiskan waktu sama Abang kaya biasanya kita main dulu. Abang beberapa tahun terakhir sibuk kerja. Jadi... bisa kali kita main uno, atau adu skill main PS."

Ia nampak berfikir, "besok aja ya, sekarang udah malam waktunya bobo cantik. Tapi sebelumnya gua mau nyanyiin satu lagu dulu buat lu. Tunggu sebentar, DIK COME HERE! BAWAIN GUA GITAR."

Yang terpanggil datang membawa apa yang Bang Bo'im mau. Aku baru tahu kalau geng mereka masih stay di rumahku. Wajah mereka penuh coretan bedak tabur, lantaran karambol yang mereka mainkan.

Jreng,

Priwiit.. mereka para Abang-abang menyoraki aksi Bang Bo'im.

"Bang?"

"Hmm."

"Sebelum nyanyi Riri mau nanya, Abang pede aja kita pacaran di lihatin kayak begini?"

"Yaelah, mereka jauh noh. Kita di marih mereka di pos depan rumah lu. Mereka di depan, kita di samping. Gak bakalan denger kita ngomong apaan. Lagian gua kan cuma mau nyanyiin lagu buat lu, bukan mau cipokan."

Aku mengurut dada mendengar Bang Bo'im berkata. Telingaku sangat tercemar oleh kata-katanya. Hanya dengusan pelan yang aku berikan untuk menanggapi apa yang cowok itu katakan padaku, karena aku tak sanggup lagi berkata-kata.

"Atau lu sebenernya mau, tapi guanya gak peka? maaf ya, gua bukan tipe cowok begitu. Tapi kalau lu pengen, dan lu gak bisa tidur nantinya, yaudah gua bisa apa. Sini majuan kepala lu."

Aku mendelik, praktis melempar guling ke muka cowok itu, "Dih Riri gak ngomong-ngomong apa-apa ya! Abang yang dari tadi bahas gituan. Riri masih polos, nggak ngerti apa itu cilok."

"Cilok, cilok, budeg emang kupingnya," gerutu Bang Bo'im sambil cengengesan.

"Hehehehe"

"Neng Riri."

"Iya Bang."

"Sebaiknya lu denger gua nyanyi sambil tidur meluk guling ini. Gua bener-bener pengen ngelihat lu dengerin suara gua sampai jatuh tertidur. Biar gua tahu, gimana rasanya ngejagain cewek yang gua sayang sampai dia bermimpi indah."

"Okeeeh, awas aja kalau suaranya gak enak."

"Bawel. Tuh selimutnya di pakai juga sayang, tarik sampai bahu. Gua gak bisa lakuinnya karena kalau tiba-tiba gua terobos masuk yang ada di grebek nanti."

"Oh iya Bang," aku segera menaikan selimut sesuai perintah. Malam ini, malam yang tidak pernah bisa terlupakan dalam ingatan. Seberapa banyak tahun berganti, malam ini adalah awal dimana aku dan dia memadu kasih bersekat kusen jendela. Pada laki-laki bergitar di bawah cantiknya rembulan malam, aku melemparkan senyuman bahagia. Selamat malam Bang Bo'im, terimakasih atas semua yang kamu lakukan hari ini.

Kembali pada dawai yang syahdu, lagu pun mulai menyeruak di telinga.

Menatap indahnya senyuman di wajahmu..

Membuatku terdiam dan terpaku...

Mengerti akan hadirnya cinta terindah..

Saat kau peluk mesra tubuhku...

Banyak kata, yang tak mampu ku ungkapkan..

Kepada dirimu..

(Ungu- Tercipta untukku)

.

.

.

Bersambung.

1
Tan
kak jika berkenan mampir di karyaku, saling suport🙏
Tan
kelemparnya jauh banget sampe SD
Azdpa Wanda
Kecewa
Azdpa Wanda
Buruk
Senajudifa
parah nih riri
Senajudifa
🤣🤣🤣🤣🤣
Senajudifa
walah trs masa boim mesti ngalah lg? enak bener si lail
Senajudifa
waduh riri😁
💞Amie🍂🍃
,Aku juga nitip nasgor pedes ya bang,,😁
Dewi Payang
Sampai jumpa kak dikarya barunya, ditunggu up-nya😍😍
Dewi Payang: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Dewi Payang
Nambah apaan ini? Tolong yah diperjelas, biar ente sefaham-fahamnya🤣🤣
Dewi Payang: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 8 replies
Dewi Payang
Oh ya ampun aku ngakak sendiri membayakan bang sidik bergoyang kaku
Dewi Payang: 🤣🤣🥰🥰🥰
total 4 replies
Dewi Payang
wkwk ya ampyun😆
Zenun: 😁😁😁😁😁😁
total 3 replies
Dewi Payang
ini pertanda jodoh😁
Zenun: iya betul itu😁
total 1 replies
Teteh Lia
4 iklan mendarat.
trimakasih untuk karya luar biasanya 🙏
Zenun: terimakasih Kak
total 1 replies
Teteh Lia
ini beneran udah tamat kak ?


di tunggu karya2 lainnya ya kak 🙏
Zenun: iya betul, aku kalau nulis eps nya gak banyak2
total 1 replies
Teteh Lia
asyik, duit warna biru,. tarik bang 💃
Zenun: yuhuuuuu💃
total 1 replies
Teteh Lia
yah si Abang, udah GR juga, malah dibilang typo.🤦‍♀️
Zenun: hehe, tapi dia jujur
total 1 replies
Teteh Lia
OOO, bang Lalil ketahuan, bohongin Riri.
Zenun: 😱😱😱😱😱
total 1 replies
Teteh Lia
jelas asli punya bang sidiq donk ya.
Zenun: iyes betul
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!