"Setelah tiga tahun pernikahan, Dewi akhirnya sadar kalau dirinya tak lebih dari sekedar bank darah berjalan untuk Lina, wanita yang dijaga Rizky. Apapun keluhannya, semua Rizky tutup dengan uang. Hingga Dewi berpikir, 'Kalau begitu apa bedanya diriku dengan seorang pelacur? Sama-sama dibayar hanya berbeda pada apa yang ditawarkan.'
Akhirnya kata cerai keluar dari mulut Dewi dan saat itu juga, ia pergi tanpa menoleh. Namun, keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.
Dewi sebagai pewaris Keluarga Konglomerat Wijaya yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Rizky, menuntut balas Lina dan Rizky yang dulu menekannya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Dewi duduk tegak di kursinya sambil menatap layar komputer, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada laporan yang terbuka di depannya karena di sudut layar ponselnya notifikasi terus bermunculan tanpa henti, membawa satu topik yang sama ke permukaan: permintaan maaf Joko yang kini menjadi tren utama di berbagai platform.
Ia akhirnya mengangkat ponselnya, menggulir layar dengan perlahan, membaca judul-judul yang berulang dengan nada serupa, semuanya membahas bagaimana Joko mengakui kesalahan, bagaimana publik menilai permintaan maaf itu, dan bagaimana opini yang sebelumnya condong ke satu arah kini telah berbalik sepenuhnya.
Dewi tidak merasa puas, tetapi juga tidak merasa terkejut, karena sejak awal ia sudah memperhitungkan kemungkinan ini dengan sangat matang, termasuk tekanan yang mungkin datang dari keluarga Joko yang memiliki pengaruh cukup besar, yang pasti tidak akan membiarkan reputasi keluarga mereka hancur begitu saja tanpa upaya untuk meredam situasi.
Ia meletakkan ponselnya perlahan, menarik napas dalam, dan membiarkan pikirannya berjalan lebih jauh dari sekadar apa yang terlihat di permukaan.
Ia tahu bahwa Joko tidak menyerah karena kesadaran diri atau penyesalan yang tulus, melainkan karena tidak memiliki jalan lain untuk bertahan, dan orang seperti itu, ketika dipaksa tunduk, bukan akan berhenti, melainkan akan menyimpan kebencian yang lebih dalam.
“Dia pasti sangat membenciku sekarang,” gumamnya pelan, tetapi tanpa emosi yang berarti.
Ketukan di pintu memotong alur pikirannya.
“Masuk,” ucap Dewi tanpa mengangkat suara.
Pintu terbuka, dan Rina melangkah masuk dengan ekspresi yang sulit dibaca, di tangannya terdapat sebuah map tebal yang langsung ia letakkan di atas meja Dewi tanpa basa-basi, sementara Maya yang duduk di kursi samping hanya mengangkat alis, memperhatikan situasi dengan rasa ingin tahu yang jelas.
“Ada proyek baru dari Grup Abadi,” kata Rina dengan nada yang terdengar formal, tetapi ada sesuatu yang kaku di baliknya, seolah setiap kata dipilih dengan hati-hati agar tidak menunjukkan emosi yang sebenarnya. “Direksi berharap Anda mempertimbangkan untuk mengambil alih proyek ini.”
Dewi tidak langsung menyentuh map tersebut, ia hanya melirik sekilas, lalu mengangkat pandangannya ke arah Rina.
“Penjelasan singkatnya?” tanyanya dengan nada datar namun tegas.
Rina membuka map itu, membalik beberapa halaman, lalu mulai menjelaskan dengan ritme yang terkontrol, menyebutkan potensi keuntungan yang besar, jaringan kerja sama yang luas, serta dampak positif yang bisa dihasilkan bagi posisi Dewi di Grup Wijaya, terutama jika proyek ini berhasil dijalankan dengan baik.
“Jika proyek ini berjalan lancar, posisi Anda di perusahaan akan semakin kuat,” lanjut Rina, matanya menatap langsung ke arah Dewi. “Ini kesempatan yang sangat jarang.”
Dewi akhirnya menarik map tersebut ke arahnya, membuka halaman pertama, dan membaca dengan cepat tanpa terlihat terburu-buru, sementara Maya sedikit mencondongkan tubuhnya, mencoba menangkap isi dokumen dari kejauhan.
Semakin banyak halaman yang dibuka, semakin jelas bahwa proyek ini memang tampak menguntungkan di permukaan, dengan angka-angka yang menjanjikan dan rencana kerja yang terlihat matang, tetapi Dewi tidak menghentikan analisisnya hanya pada apa yang tertulis secara eksplisit.
Ia menutup map itu perlahan.
“Menarik,” katanya singkat.
Rina menunggu, tetapi Dewi tidak langsung memberikan jawaban yang diharapkan.
“Saya akan mempertimbangkannya,” lanjut Dewi dengan nada yang tetap tenang, tanpa memberi indikasi apakah ia condong menerima atau menolak.
Maya melirik Dewi sekilas, menangkap bahwa jawaban itu bukan sekadar penundaan biasa.
Dewi kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke Rina, kali ini dengan ekspresi yang sedikit lebih tajam.
“Dan satu hal lagi,” katanya.
Rina sedikit mengernyit.
“Mulai sekarang,” lanjut Dewi dengan suara yang jelas dan tidak memberi ruang untuk salah tafsir, “panggil saya Wakil Direktur Dewi.”
Kalimat itu jatuh dengan berat di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Wajah Rina yang sebelumnya hanya kaku kini benar-benar membeku, matanya menyempit sedikit, seolah berusaha memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Apa?” katanya pelan, tetapi ada nada ketidakpercayaan yang tidak bisa disembunyikan.
Dewi tidak mengulang, hanya menatapnya dengan tenang, memberi tekanan tanpa perlu meninggikan suara.
“Itu jabatan saya,” katanya singkat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara, lalu Rina menarik napas dalam, berusaha menahan sesuatu yang jelas sedang bergejolak di dalam dirinya.
“Baik… Wakil Direktur Dewi,” ucapnya akhirnya, tetapi setiap kata terdengar seperti dipaksakan keluar.
Ia menutup map itu dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari sebelumnya, lalu menatap Dewi dengan senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.
“Semoga Anda benar-benar mampu mempertahankan posisi itu,” katanya dengan nada yang terdengar seperti peringatan.
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, melangkah menuju pintu, lalu membukanya dengan gerakan cepat sebelum akhirnya membantingnya saat keluar.
Suara pintu yang tertutup keras menggema di ruangan.
Maya mengedipkan mata beberapa kali, lalu menoleh ke arah Dewi dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Dia barusan… benar-benar melewati batas,” katanya.
Dewi bersandar sedikit di kursinya, tidak terlihat terganggu.
“Itu karena dia merasa sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya diambil oleh orang lain,” jawab Dewi dengan tenang.
Maya mengerutkan kening.
“Maksudmu posisi wakil direktur?”
Dewi mengangguk pelan.
“Dia sudah mengincar posisi itu cukup lama,” lanjutnya. “Dan sekarang, posisi itu ada di tangan orang yang bahkan tidak dia anggap sebagai ancaman sebelumnya.”
Maya menghela napas, lalu melipat tangan di dada.
“Jadi ini bukan hanya soal proyek tadi?”
“Tidak pernah sesederhana itu,” jawab Dewi.
Ia mengetuk ringan map di depannya.
“Proyek ini juga tidak sesederhana yang terlihat,” katanya.
Maya langsung fokus.
“Kau mencium sesuatu?”
Dewi mengangguk.
“Grup Abadi bukan pemain kecil,” katanya. “Dan mereka tidak akan memberikan proyek sebesar ini tanpa alasan yang benar-benar menguntungkan mereka.”
Maya tersenyum tipis.
“Dan kau pikir ada sesuatu yang disembunyikan di dalamnya.”
Dewi tidak menjawab langsung.
Sebagai gantinya, ia mengajukan pertanyaan lain.
“Pria yang mengejarmu akhir-akhir ini,” katanya, menatap Maya, “dia dari Grup Abadi, bukan?”
Maya terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Wakil direktur mereka,” jawabnya.
Dewi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Itu cukup untuk membuatku curiga,” katanya.
Maya langsung menangkap maksudnya.
“Kau ingin aku menyelidiki proyek ini dari dalam,” katanya.
Dewi tidak tersenyum, tetapi ada sedikit perubahan dalam tatapannya.
“Aku butuh seseorang yang bisa melihat dari sudut yang berbeda,” katanya.
Maya mengangkat dagu sedikit.
“Anggap saja sudah selesai,” katanya tanpa ragu. “Aku akan cari tahu apa yang mereka sembunyikan.”
Dewi mengangguk pelan.
Tidak perlu lebih banyak kata.
—
Beberapa saat kemudian, ponsel Dewi kembali bergetar.
Kali ini, nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.
Zara.
Dewi mengangkat panggilan itu tanpa ragu.
“Halo?”
“Dewi!” suara di seberang terdengar ceria dan penuh energi. “Kau harus datang malam ini. Kita kumpul di Bar Dengar, semua sudah sepakat.”
Dewi tersenyum tipis.
“Acara mendadak?”
“Bukan mendadak, ini perayaan,” jawab Zara cepat. “Kau akhirnya bebas, dan kami tidak akan menerima penolakan.”
Dewi menatap ke luar jendela sejenak.
“Baik,” katanya. “Aku datang.”
Panggilan berakhir, dan sebelum Dewi sempat meletakkan ponselnya, Maya sudah bergerak cepat mendekat.
“Kau resmi dimasukkan ke grup lagi,” katanya sambil menarik Dewi sedikit mendekat, lalu menunjukkan layar ponselnya.
Grup obrolan lama yang sudah lama tidak aktif kini penuh dengan pesan.
Ucapan selamat, candaan, bahkan beberapa meme yang jelas dibuat untuk menghibur.
“Mereka merayakan perceraianmu,” kata Maya sambil tertawa kecil.
Dewi membaca beberapa pesan, matanya bergerak lebih lambat dari biasanya.
“Mereka… tidak pernah menghapusku?” tanyanya pelan.
Maya menggeleng.
“Mereka hanya tidak berani menarikmu kembali,” katanya. “Mereka takut kau belum siap, takut kau akan merasa lebih buruk.”
Dewi tidak langsung menjawab.
Ia membaca satu pesan lagi, lalu satu lagi.
Rasa hangat yang perlahan muncul tidak bisa ia abaikan.
“Mereka khawatir padamu,” lanjut Maya.
Dewi menarik napas pelan, lalu mengangguk.
“Aku tahu sekarang,” katanya.
—
Malam tiba lebih cepat dari yang terasa.
Di depan Bar Dengar, lampu-lampu mulai menyala, memantulkan cahaya ke jalanan yang semakin ramai, sementara suara musik samar terdengar dari dalam, menandakan suasana yang sudah hidup bahkan sebelum pintu dibuka sepenuhnya.
Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari pintu masuk.
Joko turun dengan wajah yang masih terlihat lelah, tetapi mencoba menutupi semuanya dengan ekspresi datar.
Ia menutup pintu mobil dengan pelan, lalu menoleh ke arah Rizky yang masih duduk di dalam.
“Ayo,” katanya singkat.
Rizky keluar tanpa banyak bicara.
Joko melangkah beberapa langkah, lalu tiba-tiba berhenti.
Tatapannya tertuju pada satu sosok yang baru saja turun dari mobil lain di sisi seberang.
Dewi.
Ia berdiri di sana dengan tenang, berbicara singkat dengan seseorang sebelum melangkah menuju pintu masuk.
Joko menghela napas panjang, rahangnya mengeras.
“Kenapa aku bisa bertemu dia di mana-mana…” gumamnya dengan nada kesal yang tidak disembunyikan.
Namun kakinya tetap melangkah maju.
Dan jarak di antara mereka perlahan semakin dekat.
ᴋᴇʀᴇɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ....