Indonesia
NovelToon NovelToon
Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.

Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.

Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.

Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekadar Basa-basi Atau Benar-benar Undangan?

Akhir pekan itu, seperti biasa, Melodi menghabiskan waktu bersama Raya dengan berada di KAC sedari pagi. Keduanya asyik dengan dunianya masing-masing saat di sana. Raya melukis dan Melodi bernyanyi dengan gitarnya. Tak sedikit pula anak seni lain yang ada di sana saat akhir pekan.

"Panji nggak ke sini, Mel?" tanya Raya sambil sibuk membuat sketsa di atas kanvas. Melodi menatap Raya.

"Palingan tidur tu anak," jawab Melodi. Raya tersenyum.

"Kamu nugas?" tanya Melodi sambil melihat lukisan Raya yang baru sketsa.

"Iya. Bisa sampe malem nih di sini," jawab Raya tanpa mengalihkan pandangan. Melodi tersenyum.

"Kamu ntar sore ke Ruang Kopi?" tanya Raya.

"Iya. Mau ikut?" kata Melodi sambil kembali memetik gitar.

"Mmm... Nyusul aja deh. Liat dulu progres tugasku ini nanti sampe mana. Kalau bisa ditinggal hang out bentar, aku gas kesana," kata Raya sambil mencampur warna. Melodi tersenyum sambil memetik gitarnya.

"Ting ting ting ting..."

"Akhir-akhir ini kamu mainin lagu itu terus. Lagu baru?" tanya Raya. Melodi menoleh ke arah Raya.

"Mau denger?" tanya Melodi.

"Eh? Udah jadi?"

"Belum sih,"

"Boleh deh,"

Melodi tersenyum. Dia mulai memainkan intro yang terdengar begitu sendu.

"Malam ini ku sendiri berdiri

menatap bintang di langit

mencoba mengganti senyummu

dengan kerlipnya yang jauh"

"Tapi nyata tak semudah angan

bayangmu selalu ada

menghantui malamku selalu

dengan senyummu yang semu"

Tanpa disadari Raya dan Melodi, Abas sudah berdiri di lobi KAC. Langkahnya terhenti sejak Melodi petikan pertama intro lagu.

"Tuhan... hapuskan dirinya

dari ingatanku...

dari hatiku..."

"Udah," kata Melodi.

Raya yang mendengarkan sambil melukis menoleh cepat ke arah Melodi.

"Ih! Kok udah? Baru juga dibawa naik, malah dijatuhin," kata Raya. Melodi tertawa.

"Baru segitu liriknya," kata Melodi dengan sisa tawa yang masih terdengar.

Saat akan kembali melukis, Raya menangkap sosok Abas yang mematung di lobi.

"Mas Abas?" panggil Raya membuat Abas tersadar dari lamunannya.

"Eh?"

Melodi menoleh ke arah lobi. Raya meletakkan paletnya lalu berjalan mendekati Abas.

"Ada perlu apa ya, Mas?" tanya Raya.

"Ehem... Tadi kebetulan lewat daerah sini, jadi mampir buat cek proyek," kata Abas.

"Oh... Udah hampir jadi. Cepet ya, Mas?" kata Raya.

"Biasanya kalau eksterior memang lebih cepet. Apalagi kita nggak merombak dari awal," kata Abas. Raya manggut-manggut.

"Sekalian saya mau mendiskusikan tentang perubahan anggaran. Anda... ada waktu?" tanya Abas sambil melihat kuas di tangan Raya.

"Oh! Ada, Mas. Sebentar," kata Raya lalu kembali berjalan menuju kanvasnya dan meletakkan kuasnya.

"Mari, Mas," ajak Raya pada Abas untuk memasuki ruang dua.

Abas sempat menoleh ke arah Melodi saat berjalan menuju ruang dua. Keduanya sempat bertemu mata beberapa detik sebelum akhirnya Melodi tersenyum lalu kembali memetik gitarnya.

Abas menarik napas dalam-dalam. Dia meraba dadanya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

'Kenapa... dia tersenyum padaku?'

***

Sabrina menatap Alto Cafe saat dia melewatinya pagi itu. Sejak malam itu, Sabrina tidak pernah lagi mampir ke sana sepulang kerja. Bayangan tentang Alto dan wanita sporty itu masih terlihat jelas di benak Sabrina.

"Nyariin Alto?" tanya sebuah suara dari samping kanan Sabrina.

Sabrina menoleh. Matanya membulat mendapati wanita yang tengah ada di pikirannya muncul seketika di hadapannya.

"Ng-nggak kok. Permisi," kata Sabrina sambil kembali berjalan menuju tempat kerjanya.

"Tunggu," kata wanita itu, menghentikan langkah Sabrina. Wanita itu mendekat ke arah Sabrina yang diam terpaku.

"Caca," kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya. Sabrina menoleh menatap Caca yang tersenyum.

"Temen Alto dari bayik," tambahnya. Kedua alis Sabrina terangkat.

"Hm?"

"Eh. Aku Sabrina," kata Sabrina sambil menjabat tangan Caca.

"Kata Alto kamu baru-baru aja pindah ke sini," kata Caca.

Sabrina mengangguk pelan. Caca berjalan menghadap pantai. Dia menghirup udara dalam-dalam.

"Selamat datang di daerah pesisir yang damai," katanya. Sabrina menatap punggung Caca. Sedetik kemudian Caca menoleh ke arah Sabrina.

"Kamu mau kemana?" tanya Caca.

"Eh? Mau... kerja," jawab Sabrina.

"Kerja? Di?"

"Kalis Bakery,"

"Serius?"

Sabrina mengangguk.

"Itu toko roti mamaku," kata Caca. Mata Sabrina membulat.

"Alto yang nyuruh kamu buat ke sana?" tanya Caca. Sabrina mengangguk.

"Dia yang nganter aku ke sana," kata Sabrina.

"Mmm..." Caca manggut-manggut.

"Ya udah. Ayok ke sana!" kata Caca sambil menggaet lengan Sabrina.

Sabrina yang masih bingung berjalan perlahan mengikuti langkah kaki Caca yang bersemangat. Dia menatap Caca yang berjalan di sampingnya tanpa canggung.

'Wanita ini... begitu bebas,'

***

"Makasih, Mas, udah nyempetin mampir dan bahas kerjaan, padahal lagi weekend," kata Raya saat keluar dari ruang dua.

"Tak masalah," kata Abas. Matanya segera bergerak menuju ruang kreasi di depan ruang dua. Tak ada siapapun. Tepatnya, tak ada Melodi.

"Suka tiba-tiba ngilang tuh anak," kata Raya membuat Abas sedikit terkejut.

"Itu lho, Mas, Melodi. Kadang suka tiba-tiba nggak ada," kata Raya sambil berjalan mendekat ke arah kanvasnya.

"Gitarnya sih masih di sini," kata Raya lalu kembali mendekat kembali ke arah Abas.

"Ehem... kalau gitu saya pamit," kata Abas sambil melirik ke arah kursi yang tadi di duduki Melodi.

"Oh ya, Mas. Sekali lagi terimakasih," kata Raya sambil menjabat tangan Abas.

Abas lalu berjalan keluar diikuti Raya yang mengantarnya hingga pintu depan KAC. Abas berjalan perlahan menuju mobilnya. Saat dia sedang membuka pintu mobil, sebuah suara laki-laki membuat tangannya terhenti seketika.

"Thanks, Mel!"

"Sama-sama,"

"Gue balik kos ya,"

"Ati-ati,"

Melodi membalikkan badannya untuk kembali ke KAC. Dia berhenti saat mendapati Abas tengah menatapnya. Melodi berjalan ke arah Abas. Tangan Abas mencengkeram pintu mobil erat-erat.

"Udah mau pulang?" tanya Melodi pada Abas.

"Hm,"

"Bara nggak ikutan?" tanya Melodi sambil menoleh ke arah mobil.

"Dia ada acara,"

"Mmm..."

Hening. Abas menatap Melodi yang masih menatap mobilnya.

"Ati-ati ya. Salam buat Bara," kata Melodi tiba-tiba sambil tersenyum ke arah Abas, membuat Abas menahan napasnya sesaat.

Melodi lalu berbalik dan berjalan perlahan menuju KAC. Abas terpaku menatap punggung Melodi yang menjauh. Tangannya semakin erat mencengkeram pintu mobil yang dibukanya.

"Tunggu," kata Abas akhirnya.

"Hm?" Melodi menoleh.

Abas terdiam. Melodi menunggu. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling tatap di bawah sinar mentari yang mulai terik.

Melodi tersenyum. Lagi. Abas merasakan dadanya berdenyut.

"Kalau sempet, mampir ke Ruang Kopi lagi ya! Ati-ati," kata Melodi lalu membalikkan badan lagi dan berjalan menuju KAC.

Abas membatu. Dadanya sesak. Kakinya tiba-tiba terasa lemas. Dia masih menatap Melodi yang memasuki KAC.

Dari kejauhan, Panji melihat Abas dan Melodi yang baru saja berdiri berdua di area parkir KAC. Tangannya mencengkeram stang motornya erat-erat.

'Cowok itu dan Melodi...'

'Nggak. Bukan. Nggak mungkin,'

***

1
Ne Ajja
tanya langsung sama orangnya, Bas...
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
Purnamanisa: kepo banget emang si Abas, tapi sok cool 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
ada yg panas tapi bukan kompor 😂
Purnamanisa: apa tuuuh 😅😅🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
belokin dong, Bar...
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
Purnamanisa: Kalo dibelokin langsung Abasnya ngambek, Kak... biarkan dia belok sendiri 😅😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ngga, Bas...
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Purnamanisa: 😅😅
Melodi dimana2 🤣🤣
btw, video Senja Dalam Diam sudah ada di tiktok Purnamanisa ya, kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Suka sama lagunya.
Hafal bagian reffnya🤭
Purnamanisa: senjaaa... katakan padanya...🤭🤭
total 1 replies
Ne Ajja
"rasa" hadir tanpa butuh alasan...
eaaa....🤭
Purnamanisa: terimakasih kakaaak... biasanya kalo udah eps 20 keatas baru rame kak 😅😅 bantuin up dan share ya kalo menurut kakak ceritanya keren 🙏🙏 terimakasih udah selalu baca karya2 author 😊😊
total 3 replies
Ne Ajja
arahin, Mel 🤭
Purnamanisa: lupa ga bawa kompas, Kak 😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ohhh....astaga...
bener2 plot twist nya..

jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
Purnamanisa: daripada nikah tapi kebayang2 cowok lain kan yaa 😅😅😅
total 3 replies
Ne Ajja
aku udah vote + gift...
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪
Ne Ajja: sami2 ka...
total 2 replies
Ne Ajja
👍👍👍👍👍
Ne Ajja: okeh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!