Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Di dalam Aula Agung Istana Utama Valdoria, dentang jam dinding raksasa berbunyi nyaring menandakan waktu perayaan Pesta Dansa Musim Panas telah mencapai puncaknya. Alunan musik orkestra yang tenang tiba-tiba terhenti secara mendadak.
BZZZZT!
Layar monitor kristal raksasa yang tadinya menampilkan logo megah Kerajaan Valdoria mendadak bergetar dan mengalami glitch. Lampu-lampu kristal aula yang silau perlahan meredup, menyisakan pendar layar raksasa yang kini menarik perhatian ratusan mata para bangsawan, menteri, diplomat asing, hingga Raja Aurelius sendiri.
"Apa yang terjadi dengan teknisi sihir layar?" tegur Perdana Menteri Oberon gusar, melirik panik ke arah pengawalnya.
Namun sebelum perintahnya dieksekusi, layar raksasa itu menampilkan rekaman video berdurasi panjang dengan suara audio yang sangat jernih dan tajam.
PYARRR!
Di layar, rekaman chip memori tua memperlihatkan detik-detik mengerikan belasan tahun lalu: Ibu Suri Seraphina dan Perdana Menteri Oberon berdiri di peraduan Mendiang Ratu, sebelum Seraphina menancapkan belati bertubi-tubi ke dada sang Ratu. Tidak berhenti di situ, layar mendadak berganti memutar dokumen-dokumen transaksi keuangan rahasia, sertifikat pencucian uang militer, hingga rekaman percakapan suara Oberon yang merencanakan pembunuhan Pangeran Mahkota Lucien!
Seluruh aula seketika gempar luar biasa. Suara jeritan, bisik-bisik ketakutan, dan histeria pecah di antara para bangsawan tinggi.
"I-Ini... Ini tidak mungkin!" pekik Rosalie dengan wajah pucat pasi, melangkah mundur hingga memegangi gaun mewahnya yang gemetar.
Putri Althea menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata kebencian dan keharuan menetes deras di pipinya tatkala kebenaran atas pembunuhan ibunya dan dugaan pembunuhan kakaknya terkuak lebar di depan mata publik.
BANG!
Raja Aurelius memukul pegangan kursi takhtanya hingga ukiran kayunya retak. Wajah sang Raja merah padam dipenuhi murka yang amat dahsyat, napasnya memburu menatap layar lalu beralih menatap Oberon dan Seraphina.
"OBERON! SERAPHINA! BISA-BISANYA KALIAN?!" bentak Raja Aurelius dengan suara menggelegar yang menggetarkan seluruh aula. "Kalian membantai istriku... dan berusaha menghabisi putra mahkotaku?!"
Perdana Menteri Oberon mematung di atas panggung. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi dan lehernya. Tubuhnya yang biasa berdiri tegap kini gemetar hebat. Namun, dengan sisa keangkuhannya, Oberon berusaha memoles kebohongannya.
"FITNAH! Ini semua fitnah yang direkayasa oleh musuh kerajaan!" teriak Oberon dengan suara serak, berusaha menguasai panggung. "Sihir rekayasa ini dibuat untuk menjatuhkan namaku dan Ibu Suri! Jangan percaya pada video palsu ini, Yang Mulia!"
"Fitnah, katamu... Perdana Menteri Oberon?"
Sebuah suara dingin, berat, dan amat dominan membahana dari arah pintu utama aula yang terbuka lebar.
KLEK! KLEK! KLEK!
Langkah sepatu kulit beradu dengan lantai marmer. Seluruh hadirin menoleh secara refleks. Di sana, membelakangi pendar lampu koridor, berdiri Pangeran Mahkota Lucien dalam balutan setelan resmi keagungan kerajaan, didampingi oleh Kenneth. Rambut peraknya yang berkilau dan mata birunya yang menyala dingin bak bilah es membungkam seluruh ruangan.
"P-Pangeran Lucien...?! Dia masih hidup?!" bisik para bangsawan panik.
"S-Tidak mungkin..." gumam Oberon terhenyak, matanya membelalak sempurna seolah melihat hantu bangkit dari kubur.
Sebelum Oberon sempat memberi perintah pada pengawal pribadinya untuk bergerak, pintu-pintu samping aula didobrak keras. Puluhan prajurit elit markas besar dan kepolisian utama kerajaan—yang seluruhnya telah dikendalikan penuh oleh Kenneth—menerobos masuk dengan senjata lengkap teracung lurus ke arah Oberon dan para pengikutnya.
Komandan Kepolisian Kerajaan melangkah maju membawa surat penangkapan bertanda tangan stempel khusus pengadilan tertinggi.
"Atas nama Hukum Agung Valdoria dan perintah langsung Pangeran Mahkota!" seru Komandan Kepolisian tegas. "Perdana Menteri Oberon, Anda ditangkap atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi, pembunuhan berencana terhadap Mendiang Ratu, korupsi dana militer, serta upaya pembunuhan Pangeran Mahkota!"
"Seret dia!" perintah Lucien dingin tanpa belas kasihan.
Dua polisi elit langsung meringkus kedua tangan Oberon, memborgolnya dengan rantai penekan mana hingga pria tua berdarah dingin itu tersungkur berlutut di lantai marmer. Pesta dansa yang semula megah kini berubah menjadi panggung kejatuhan tragis sang Perdana Menteri.
Bisik-bisik kasak-kusuk para bangsawan makin membahana di seluruh sudut aula. Tatapan penuh penghinaan dan keterkejutan terarah tajam kepada Seraphina yang kini berdiri kaku di atas panggung dengan wajah sepucat mayat.
Lucien melangkah maju, membelah kerumunan bangsawan yang langsung membungkuk hormat padanya. Dengan wibawa dingin seorang calon penguasa, Lucien menatap Raja Aurelius yang masih syok di atas kursi takhtanya.
"Ayahanda," panggil Lucien dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Mohon maafkan hamba karena harus memalsukan kematian hamba selama satu bulan ini. Kematian palsu itu adalah satu-satunya skenario yang harus hamba jalankan demi memancing keluar para pengkhianat ini, serta membuka kedok kejahatan Perdana Menteri Oberon... dan Ibu Suri Seraphina di depan mata Ayahanda dan seluruh rakyat."
Mendengar namanya disebut sebagai bagian dari konspirasi pembunuhan Mendiang Ratu, tubuh Seraphina gemetar hebat. Sebelum wanita itu sempat berteriak memprotes atau membela diri untuk menyelamatkan mukanya, Lucien memberi isyarat mata yang amat dingin kepada prajurit elit di dekat panggung.
"Bawa Ibu Suri ke ruang tahanan peraduan bawah untuk pemeriksaan tertutup," perintah Lucien tegas. "Jangan biarkan Beliau makin mempermalukan martabat keluarga kerajaan di depan para tamu kehormatan."
Empat prajurit elit langsung mengapit kedua lengan Seraphina, menyeretnya keluar dari aula utama secara cekatan sebelum skandal wanita itu makin meledak di depan publik.
Di sudut lain panggung, Rosalie menatap pemandangan itu dengan mata membelalak penuh horor dan ketakutan mendalam. Tubuhnya membeku.
"T-Tunggu... Pangeran masih hidup?!" jerit batin Rosalie ketakutan. "T-Tapi... apa dia mendengar semua ucapanku dan rencanaku bersama Oberon waktu itu?! Apa dia tahu aku ikut memanfaatkannya?!"
Melihat Oberon sudah diborgol dan Seraphina diseret pergi, otak licik Rosalie langsung berputar cepat mencari jalur penyelamatan diri. Dengan akting luar biasa yang dipenuhi derai air mata, Rosalie mendadak menyibak gaun cantiknya, berlari kencang menerobos kerumunan menuju ke arah Lucien.
"Pangeran! Yang Mulia Lucien!" jerit Rosalie histeris dengan suara bergetar penuh duka buatan.
BRUK.
Rosalie menjatuhkan tubuhnya, memeluk pinggang Lucien erat-erat di tengah aula. Ia mendongak dengan wajah yang dipenuhi air mata yang mengalir deras, memamerkan raut lega yang begitu meyakinkan.
"Ya Tuhan... Anda masih hidup! Hamba sangat bersyukur!" tangis Rosalie pecah berderai. "Selama satu bulan ini hamba hampir gila karena mengira telah kehilangan Anda! Hamba benar-benar tidak tahu kalau Ayah... kalau Perdana Menteri tega melakukan hal sekejam itu pada Anda dan Mendiang Ratu!"
Lucien menatap puncak kepala Rosalie yang bersandar di dadanya. Manik mata birunya memancarkan aura es yang teramat kejam dan menjijikkan, namun dengan kontrol diri yang luar biasa, Lucien mengangkat tangannya dan mengelus bahu Rosalie pelan memainkan perannya sebagai tunangan yang 'tidak tahu apa-apa' sesuai strategi yang dirancang Eliana.
"Tidak apa-apa, Rosalie... Tenanglah," bisik Lucien dengan nada suara yang dibuat seolah menenangkan. "Aku sudah kembali. Semua ancaman itu sudah diatasi."
Melihat pemandangan tersebut, Raja Aurelius yang tadinya begitu terpukul dan penuh murka, perlahan bangkit dari kursi takhtanya. Binar matanya yang redup seketika dipenuhi oleh rasa haru dan kebahagiaan luar biasa. Rasa bangga membuncah di dadanya melihat putra tunggalnya tak hanya selamat dari maut, tetapi juga kembali dengan kecerdasan serta keberanian luar biasa untuk menyelamatkan kerajaan dari kehancuran.
Raja Aurelius melangkah turun dari panggung, menepuk bahu tegap Lucien dengan tangan yang gemetar oleh emosi.
"Putraku... Pangeran Mahkotaku telah kembali!" seru Raja Aurelius penuh rasa syukur, suaranya menggelegar disambut gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai lega dari seluruh bangsawan yang memenuhi aula.