Dibalik gagahnya sneli yang para dokter gunakan ketika bertugas, tak banyak yang tahu bahwa untuk bisa mengenakan jas putih itu dibutuhkan perjuangan yang luar biasa.
"Everyone can easily wear a black coat, but not the white one."
dr. Meita Trunajaya
Cerita ini tidak hanya menceritakan bagaimana kerasnya perjuangan para dokter, melainkan juga menceritakan kisah-kisah rumit percintaan yang mungkin tidak banyak orang awam mengerti.
Konflik yang terjadi hanyalah imajinasi author semata, begitu pula dengan nama-nama tokoh yang disebutkan dalam cerita, apabila ada kesamaan, maka itu murni unsur ketidaksengajaan.
Happy Reading ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Hari ini hari terakhir stase interna, esok hari ia sudah pindah ke stase bedah. Lili merasa sedikit berat pindah dari interna, apa karena tidak bisa mengasisteni kekasihnya lagi? Lili menghela nafas panjang, akan seperti apa state bedahnya esok?
Lili hendak berjalan ke kantin ketika tiba-tiba rasa mual itu menyerangnya. Lili memucat, tangannya mendadak dingin. Ia segera mengusir jauh-jauh pikiran buruk itu. Dan bergegas menuju kantin.
Disana sudah berkumpul Uvi, Nindi, Tania, dan beberapa anak lain. Mereka sudah heboh melambaikan tangan.
Lili hanya tersenyum, ia masih mencoba mencium bau-bau makanan yang bertebaran di sana. Tak masalah, dia tidak muntah! Sebenarnya ia kenapa?
Lili duduk di bangku kosong tepat di samping Tania. Teman-temannya sudah memesan makan siang mereka masing-masing.
"Kamu pesen apa, Li?" Tania menyodorkan segelas es teh untuknya.
"Mie ayam aja deh, sama aku mau teh panas!" jawab Lili sambil terus mencoba merasakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Panas-panas gini kamu mau minum teh panas?" Nindi menatapnya penuh tanya.
"Aku agak nggak enak badan nih. Efek lembur terus pas ujian kemarin!" Jawab Lili sambil mencoba tersenyum.
"Periksa lah, Li! Jangan menyepelekan penyakit!"
Lili hanya mengangguk pelan, ia masih sibuk mengamati mual yang tadi tiba-tiba menyerangnya. Sebenarnya ia kenapa?
***
"Li, kamu sakit?" Yudha menyentuh kening Lili ketika mobil mereka berhenti di depan kontrakan Lili.
"Cuma penat aja rasanya, Mas!" jawab Lili mencoba menutupi kebingungan yang sedang menderanya.
"Mau jalan-jalan?" tawar Yudha sambil menggenggam tangan Lili lembut.
Lili hanya menggeleng, "Aku pengen seharian tidur! Rasanya capek banget!" Lili menyandarkan kepalanya di bahu Yudha.
"Yakin kamu nggak apa-apa?" Yudha merasa ada sesuatu yang Lili tutupi darinya.
Lili membalas genggaman tangan Yudha, "Yakin, Sayang!" ia mencoba tersenyum senatural mungkin agar lelaki itu tidak curiga.
"Janji ya kalau ada apa-apa cerita ke aku, Sayang?" Yudha masih belum percaya, ia yakin ada yang disembunyikan kekasihnya itu.
"Janji!" Lili menyodorkan kelingkingnya.
Yudha tersenyum, ia membalas kelingking Lili, lalu mencium kening Lili lembut. "Kalau gitu aku tinggal sendiri nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa sayang, kalau mas temenin malah aku nggak jadi tidur nanti!" Lili tersenyum lalu mencubit hidung kekasihnya itu.
"Kalau butuh apa-apa WA aja ya, nanti aku beliin!" teriak Yudha sebelum ia memacu mobilnya pergi.
***
Intan tersentak ketika mengetahui dokter yang datang kerumahnya adalah Yunita, teman sekelas nya dulu.
Ia agak demam, jadi ibunya menelpon dokter di klinik untuk datang ke rumah. Tak ia sangka bahwa Yunita yang datang. Ia tersenyum, ah seandainya dulu ia tak melenceng jauh, mungkin sekarang ia sudah seperti Yunita.
"Apa kabar, Tan?" sapa Yunita ketika ia masuk ke dalam kamarnya.
"Seperti yang kamu lihat!" jawab Intan pendek, ia sungguh iri dengan snelli yang dikenakan teman kuliah nya dulu.
"Apa yang kamu rasakan?" Yunita mengeluarkan stetoskopnya.
"Agak demam, Yun. Sama sedikit pusing tapi konsisten. Nggak mau hilang!"
"Semua normal, mungkin kamu kecapaian!" Yunita meletakkan stetoskopnya, ia terdiam sesaat melihat betapa buruk kondisi Intan yang sekarang.
Bunga kampus anak pemilik perkebunan teh terkenal di Jawa barat itu sekarang sangat memprihatikan. Tubuhnya kurus kering, matanya cekung, dan lebih parahnya lagi dia bekas pasien Rumah Sakit Jiwa!
Yunita sudah diwanti-wanti ibunya untuk tidak berbicara sembarangan yang akan mempengaruhi pikiran Intan, jadi sekarang ia agak kikuk, bingung apa yang akan ia tanyakan dan bicarakan.
"Yun!" panggil suara itu ketika Yunita hanya diam dalam lamunannya.
"Eh ... gimana, Tan?" Yunita tergagap, ia ingin cepat-cepat menyingkir sebenarnya, takut membuat suatu kesalahan.
"Bagaimana kabar dia?" tanya Intan sambil menatapnya lekat.
'Kabar dia?' Yunita mengerutkan dahinya, sejenak ia teringat siapa yang Intan maksud.
"Aku sudah lama tak pernah ketemu lagi, bahkan nomor WA nya aku tak ada." Yunita membereskan stetoskopnya, lalu menatap Intan yang tengah menanti jawabannya.
"Berapa anaknya sekarang?" tanya Intan ingin tahu.
"Anak? Jangankan anak, istri aja dia belum punya!" Yunita tersenyum kecut.
Intan membelalakkan mata, ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar!
"Semenjak kamu pergi, ia tak pernah kelihatan deket sama cewek, bahkan sampai sekarang sudah sukses jadi internis pun, belum ada kabar dia deket atau hendak menikah, Tan!"
Ada rasa bahagia ketika Intan mendengar apa yang Yunita ceritakan. Namun disisi lain ada rasa bersalah yang teramat sangat di hati Intan. Kenapa ia harus menukar laki-laki baik itu dengan ba*ingan seperti Reno?
'Aku akan kembali, kekasihku!'
***
Lili kembali merasakan mual itu ketika ia hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Tubuhnya menegang, ia tidak demam, tidak ada tanda flu atau sebagainya. Dan mual itu kembali melanda.
Lili mencoba tetap menelan nasinya, ia tidak muntah! Lalu apa tanda dari mual itu? Lili mendadak pening. Sudah empat minggu sejak mereka melakukannya di kontrakan Lili tempo lalu. Dan Lili belum mendapatkan haidnya!
Air mata Lili tumpah! Hati kecilnya mengatakan bahwa itu benar-benar terjadi! Bahwa benar benih Yudha sudah tertanam di rahimnya. Lili mengelus lembut perutnya, dilema itu kembali bergejolak. Bagaimana dengan studinya?
Lili bangkit dari meja makannya, ia harus segera memastikan apakah benar ia hamil? Diambilnya testpack yang tempo lalu ia beli. Ketika hendak melangkah ke kamar mandi, ia baru ingat bahwa akurasi tinggi penggunaan testpack adalah pagi hari, di urine pertama yang keluar!
Lili duduk di pinggir ranjangnya. Digenggamnya erat-erat testpack di tangannya. Kini menyesal pun tiada guna! Semua sudah terlanjur, sudah terjadi! Kini ia paham dan mengerti maksud kalimat yang menyebutkan bahwa buat anak itu tidak boleh coba-coba!
***
Lili sudah menyimpan urinnya di dalam gelas plastik bekas air mineral, tangannya bergetar hebat ketika mencelupkan testpack itu kedalamnya.
Hanya perlu beberapa detik, Lili kembali mengangkat testpack nya, ia perlu menunggu beberapa menit sampai alat itu bekerja.
Jantungnya berdegup kencang, berharap-harap cemas. Ia berharap tidak ada garis tambahan yang muncul! Ia berharap hanya satu garis yang tergambar di sana!
Lili menyipitkan matanya, mendadak kepalanya sangat pening. Dan mual hebat menyerangnya. Untuk pertama kalinya ia mengeluarkan semua isi perutnya pagi itu.
Badannya terasa sangat lemas, kepalanya terasa berat, dan air matanya tumpah. Dipandanginya testpack yang tergeletak di pinggir bak mandi dengan tatapan nanar.
G percaya?
Sy punya sample nyata :ipar
Krn ego yg tinggi tdk terima penolakan jadi maksa..