Takdir berhutang pada si gadis saat sang ayah di renggut dengan keji di hadapannya. Enam tahun lalu, ia hanyalah puteri manja dari seorang konglomerat terkemuka di Perancis. Anggaplah, dunia ada dalam genggamannya. Ia bisa memperoleh apapun dalam satu kedipan mata. Namun, malam itu semuanya runtuh begitu saja, menyisakannya sendirian dengan luka yang seakan tak dapat disembuhkan.
Tahun berlalu dengan lambat. Gadis itu bangkit dengan dendam di setiap aliran darahnya. Seperti racun yang terus menjaganya tetap hidup. Hingga ia bertemu seorang pria dengan sejuta misteri. Siapa yang menduga, keduanya sama-sama hidup dengan racun mematikan di tiap aliran darahnya. Sebuah dendam yang membara. Dendam yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon darklypen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 : Price and Promise Pt.1
Antisosial dan cenderung sosiopat. Julukan itu sudah sering Zhayn dengar. Entah berupa bisikan ataupun terang-terangan. Zhayn tak peduli sama sekali. Sejak sekolah dasar, ia mulai dijuluki pendiam yang tak pandai bergaul serta sering mendapat perlakuan tak mengenakkan. Di sekolah dasar pula Zhayn berkenalan dengan Andy. Tepatnya, Andy yang selalu mengikuti kemana Zhayn pergi dan memaksa menjadi temannya.
Zhayn bukan bocah antisosial ataupun sosiopat. Dia sangat ingin memiliki teman dan bermain. Walaupun diperlakukan berbeda, Zhayn serupa dengan bocah lelaki seusianya. Ia hanya dipaksa untuk menjadi dewasa lebih dini. Terutama pikiran dan mentalnya. Zhayn tumbuh dengan cara yang berbeda.
Semenjak darah kakak dan sang ibu tertumpah di depan matanya, Zhayn harus melalui hari-hari berat dan melelahkan. Selama berbulan-bulan, ia harus menjalani perawatan intensif akibat cederanya serta menerima terapi pemulihan yang tak singkat. Setelah setahun mengikuti pendidikan di sekolah biasa, Zhayn pun dipindahkan ke sekolah berbasis militer di Amerika Serikat. Kemudian, berlanjut menjadi bagian dari Angkatan Darat AS seperti cita-citanya. Hingga bergabung di intelijen internasional.
Usia Zhayn menginjak 22 tahun ketika bertemu dengan Yonesha. Gadis remaja itu memiliki rambut serupa karamel yang menjuntai panjang melewati punggung. Wajahnya mungil dengan mata bulat beriris cokelat cerah. Menawan, sekaligus tampak begitu ringkih, seperti kaca yang rapuh.
Gadis itu menyita perhatian Zhayn sepenuhnya.
Love at first sight? Zhayn rasanya ingin tertawa. Terlalu bold untuk menganggapnya demikian. Zhayn bukanlah pemuda yang mau berurusan dengan wanita, apalagi gadis remaja seperti yang dilihatnya. Lagipula, tidak ada yang menarik dari hidupnya. Hanya ada bahaya yang mengintai ketika seseorang bersamanya. Tetapi, ia tak mampu berbohong jika Yonesha telah sukses mengalihkan fokusnya.
Zhayn dibuat terkejut bukan main saat melihat gadis itu ambruk di depan matanya. Alexander Jannivarsh bergegas memanggil dokter. Zhayn melihat jelas betapa parah luka yang gadis itu miliki. Bekas cambukan, orang pasti akan dengan mudah membayangkan rasa sakitnya walau hanya dengan melihatnya saja. Zhayn hanya tak bisa membayangkan bagaimana gadis di hadapannya itu sanggup bertahan.
Setelah mendengar penjelasan sang ayah tentang gadis itu, Zhayn suskes dibuat kembali geram. Qasim, iblis itulah pelaku yang mendaratkan cambuk di punggung ringkih Yonesha. Dia merenggut satu-satunya keluarga yang gadis itu miliki. Seperti perbuatannya pada Zhayn, Qasim merampas keluarganya satu persatu. Merenggut kebahagiaan dan menjungkirbalikkan hidupnya dalam sekejap.
Zhayn menghela napas dan mendudukkan diri di tepian ranjang. Ia memandang gadis itu dengan lekat. Terlepas dari wajahnya yang mungil dan menawan, pandangan Zhayn beralih pada perban yang melilit tubuh gadis itu. Menutup luka cambuk yang tersebar di beberapa tempat.
Miris. Saat seorang puteri dilahirkan, ia layak mendapatkan cinta kasih keluarg sepenuhnya. Melihat figur ayah sebagai pahlawan yang menjaga dan membesarkannya. Ibu yang tak lelah mencurahkan kasih dan sesekali menjadi sahabat. Seorang puteri layak tumbuh dengan penuh cinta hingga menemukan pasangan yang akan mencintai serta menjaganya. Perempuan dilahirkan untuk dicintai, bukan disakiti.
Tetapi, dia harus menyaksikan kematian mengerikan di usianya, menodai mata sucinya. Ditambah, dia harus menerima siksaan dan melarikan diri dari rumah yang seharusnya melindunginya.
Malam itu, menjadi saat pertama Zhayn melihat Yonesha. Gadis polos yang tak mengenal kekejaman dunia. Puteri yang memiliki segalanya. Tetapi, kehilangan semuanya dalam sekejap. Mereka berdua serupa, kekejaman takdir menjungkirbalikkan kehidupan mereka dengan singkat. Tragedi yang mereka saksikan adalah kengerian tak terlupakan. Meninggalkan luka yang mungkin tak bisa disembuhkan.
Sejak malam itu, hari-hari yang Zhayn lalui tak pernah berjalan tanpa memikirkan Yonesha. Gadis itu melintas begitu saja dalam benaknya. Rambut karamel panjang, mata bulat berwarna cokelat terang, dan senyum tipis yang menawan. Sial, Zhayn merasa gila. Ini adalah kali pertama dalam kehidupannya. Debaran di dadanya tak kunjung mereda.
Lebih dari enam bulan berlalu semenjak Zhayn melihat Yonesha malam itu. Ya, hari itu Zhayn harus kembali ke satuan militernya dan menjalankan tugas kembali. Saat mendapatkan cuti, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah pulang. Melihat Yonesha menjadi alasan terbesarnya.
Zhayn tiba di mansion dengan rasa bahagia yang membuncah. Ia memasuki bangunan utama yang ternyata begitu sepi. Mungkin sang ayah tengah bertugas, begitu pikirnya. Zhayn melanjutkan langkah menuju ruangannya di lantai dua. Tetapi, ia terhenti tepat di koridor. Pandangannya terpaku pada jendela besar di salah satu sisi koridor, menampilkan pemandangan halaman samping.
"Ah, dad memang pandai mengubah seseorang." Zhayn menggumam tanpa sadar. Sedetik pun tatapannya tak beralih dari jendela.
Yonesha berdiri di halaman sana, rambut panjang karamelnya dipangkas hingga sebatas telinga. Tubuhnya berdiri kokoh dengan sebuah pistol di tangan. Tatapan polosnya telah lenyap. Hanya ada dendam dan amarah tertahan di kedua bola mata cokelatnya.
Meleset, tembakan gadis itu tak mengenai sasaran. Yonesha menggeram jengkel dan membanting pistolnya. Gadis itu tampak menyumpah, membuat Zhayn yang melihatnya hanya bisa menarik sudut bibir, mencipta senyum tipis. "Kau kehilangan ketenanganmu, Mungil."
Tak berselang lama, kekesalan itu menguap. Tawa Yonesha meledak saat seekor anjing putih berlari dan menerjang je arahannya. Yonesha terjatuh di rerumputan dan tergelak saat anjing itu mulai menjilati wajahnya.
"Luce? Kau memilih teman baru rupanya?'
Luce adalah keturunan dari keluarga German Shepherd putih milik sang ibu. Luce sudah menemani hari-hari Zhayn sejak lama. Ia tak memiliki teman selain Andy. Jadi, Zhayn akan menghabiskan waktu mengobrol bersama Luce di rumah.
Zhayn berdiri di koridor cukup lama, menghabiskan tiap menit untuk memandang gadis itu di sana. Tawa yang memikat, entah bagaimana Zhayn seakan melihat beban di pundak gadis itu lenyap saat tawanya meledak begitu saja. Zhayn menghela napas, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Sejauh ini, memandang gadis itu dari kejauhan sudah cukup. Ia pun berlalu menuju kamarnya di ujung koridor.
Malam semakin larut saat Zhayn mendengar bunyi gaduh di lorong. Ia segera menutup laptopnya dan melangkah ke luar. Zhayn mendengar langkah cepat di lorong, ia membuka pintu kamarnya dan melihat seorang gadis berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga yang mengarah ke lantai 3. Di belakangnya, sosok Luce mengikuti.
Zhayn berlalu dari kamarnya, sesaat meragu ketika mencapai tangga. Namun, ia pun menepis keraguan itu segera dan menuju lantai tiga. Di sana, hanya ada rooftop dan beberapa gudang kecil. Zhayn mendudukkan diri di balik dinding ketika telinganya samar mendengar isakan. Gadis itu terisak dengan hebat.
"Aku benci mereka semua! Aku membenci mereka!" Luce tampak meringkuk di hadapan Yonesha yang duduk seraya tersedu-sedu. Gadis itu gemetaran sembari menyeka airnata yang deras mengalir.
"Kenapa Tuhan jahat padaku? Apakah Tuhan tak menyayangiku? Tak puaskah dia mengambil ibuku? Bahkan saat belum sempat melihatnya ..."
"Aku benci mereka! Mereka mengambil ayah dariku. Aku ingin cepat besar dan membalas, Tuhan!"
Kali ini, Zhayn benar-benar kehilangan binar di mata gadis itu, semua yang terlihat hanyalah amarah dan kebencian. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Zhayn hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Ia hanya bisa menunggu waktu untuk menjadikan dirinya sebagai tangan yang akan membantu gadis itu meraih tujuan. Ah, Zhayn benar-benar menantikan hari itu.
Tetapi, tangan Zhayn benar-benar gatal ingin merengkuh tubuh rapuh itu. Tapi tidak, ia tidak ingin Yonesha terkejut dan melihat Zhayn sebelum waktu itu tiba. Zhayn tak mungkin menghancurkan rencana yang sudah disusun rapi oleh sang ayah ini. Satu-satunya yang harus Zhayn lakukan adalah bersabar.
"Luce, kau tahu ... aku sangat menyayangi tuanmu itu."
Bibir Zhayn tertarik membentuk senyuman, tanpa sadar. Andai gadis itu tahu bahwa pemilik anjing putih bernama Luce bukanlah sosok yang ia pikirkan.
"Luce, aku ... sangat menyukai hangatnya tuan saat memelukku. Dia seperti ayahku. Pelukannya hangat dan nyaman ... "
Zhayn mengintip dari balik dinding, gadis itu tengah menggelus rambut Luce yang meringkuk nyaman di pangkuannya.
"Oh ya, Luce ... kau tahu? Katanya Mr. Jannivarsh punya seorang putera? Tapi, aku tak pernah melihat fotonya. Apalagi orangnya. Dia kemana ya?"
Jantung Zhayn bertalu kian cepat. Zhayn menelan ludah susah payag. Apa gadis itu menanyakan tentangnya?
"Aku penasaran seperti apa sosoknya."
"Luce, di sekolah ... aku sama sekali tak punya teman. Disini, juga hanya ada kau. Mr. Jannivarsh hanya pulang sebentar. Kau tahu, aku kesepian. Luce, kau mau jadi temanku?" Luce semakin merapatkan tubuhnya.
Aku juga akan jadi temanmu, batin Zhayn tanpa sadar. Lelaki itu menghela napas saat bayangan sosoknya yang dulu begitu kesepian kembali melintas. Mungkin presis seperti yang gadis itu rasakan sekarang.
"Luce maukah kau selalu mendengarkan isi hatiku? Maukah kau jadi tempatku bercerita?"
"Aku akan selalu mendengarkanmu, keluh kesah dan kisahmu. Kuharap ini janjiku." Zhayn berbisik tanpa suara. Mengulas senyum tipis seraya mengukir kalimat itu sebagai janji yang pasti akan ia tepati. "Aku akan berbagai segalanya padamu, duka, tawa, dan sakitmu."
Zhayn mengetatkan rahang, sungguh, ia begitu ingin merengkuh tubuh gadis itu saat ini juga. Ia ingin berteriak dan mengungkapkan janjinya. Tetapi, saat ini, Zhayn bisa diam memandang bahu rapuh gadis itu kembali gemetar.
Zhayn paham betul. Permainan takdir memang menyakitkan. Tapi apa daya, manusia hanya bisa mengikuti kehendak-Nya dan terus berusaha.
Sejak itu, hari libur Zhayn selalu terisi dengan mengamatinya. Ada kebahagiaan yang menyusup ketika melihat tawanya yang begitu lepas dan gembira. Ada sesak menyakitkan yang datang ketika mendengar tangisnya di tengah dinginnya malam. Semakin lama, Zhayn mulai terbiasa, pendengar dan pengamat dalam diam. Perasaan di dadanya tumbuh kian besar. Dalam hati, ia berjanji, waktu akan segera tiba, saat ia bisa menjadi sandaran dan pelindungnya, rumah baginya.
Ya, waktu itu akan segera tiba, bukan? Jika tidak, Zhayn-lah yang akan menjemputnya. Itulah janjinya.