Jatuh ke cinta yang lain ketika sudah ada cincin yang melingkar di jari manis, Allan dihadapkan pada pilihan sulit.
Sarah, wanita muda yang sangat cantik itu kembali mencuri perhatian Allan dari istrinya, Allan terdorong kembali ke pelukan cinta masa lalunya.
Rianti, sang istri yang telah memberikan anak lelaki manis bernama Saka padanya tak mungkin ditinggalkan. Allan membutuhkan Rianti.
Ketika Allan tertarik dua magnet, tak disangka ada pisau yang tengah tergerak. Perselingkuhannya menghasilkan darah! Allan hanya harus memilih, jika tidak ingin pisau itu dilumuri darahnya.
Namun, tidak ada yang mudah dalam memilih jika sesungguhnya..., Allan tak mengenal Sarah dan Rianti sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DumbDumb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Truth or Dare
Informasi yang didapatkan Allan dari Tommy sedikit banyak membantu menguraikan kejanggalan-kejanggalan yang ada. Pertama, sepupunya itu mengakui memang dia pergi bersama Rianti untuk menonton. Tommy mengatakan bahwa Rianti sedikit bosan dan ingin suatu hiburan, ia menawarinya menonton. Kedua, Tommy mengaku pernah melihat wajah Lenna, namun dia Jupa di mana. Jika memang Adam tidak berbohong pada Allan, ini sesuai. Tommy hanya kebetulan melihat Lenna yang dijelaskan Adam bahwa tunangannya itu hanya tengah menanyakan jalan pada Tommy. Ketiga, Tommy sama sekali tidak memberitahu tentang rencana memancing bersama minggu lalu yang dibatalkan pada Rianti, justru dia memberitahu Allan bagaimana dia mengelabuhi Rianti saat kunjungan itu.
Misteri yang dia harapkan adalah suatu kejutan besar ternyata hanya berupa informasi kecil yang sama sekali tidak merubah keadaan. Ia memang berharap bahwa ada teka-teki rumit di balik tingkah laku Rianti yang aneh, sekaligus berhubungan atas semua kejadian akhir-akhir ini. Ia membuat catatan di sebuah buku kecil tentang apa yang ia dapatkan, ia pertanyakan dan ia bisa lakukan untuk menyelidikinya. Allan merasa tengah bermain menjadi detektif, namun dia juga yang menjadi poros permasalahan akan sesuatu yang diselidikinya.
Ia selesai membaca koran. Isi berita hari ini tidak jauh beda dengan kemarin, yaitu tentang kematian Tuan Smith. Bedanya hanya hari ini ada informasi bahwa ketetapan vonis hakim akan diberlakukan hari rabu ini. Melly tidak punya waktu untuk mencari bukti bahwa Sarah yang bersalah, sedangkan David Rogers juga tidak mampu berbuat apa-apa untuk memutarbalikkan fakta. Sang Wanita Iblis akan dihukum seberat-beratnya untuk dosanya membunuh suami yang teramat setia.
Rasa pegal masih terasa di punggungnya. Ia masih begitu capek setelah berlayar kemarin, tetapi ia harus tetap berangkat kerja. Posisi manager punya tanggung jawab yang besar, ia tidak boleh meninggalkannya begitu saja. Setelah selesai bersiap, Allan berangkat dengan bekas kecupan hangat dari istrinya yang masih terasa di bibirnya.
Ia sampai di kantornya tepat waktu, ia segera menuju ruangannya. Saat masuk ke ruangan itu, dia terkejut seseorang tengah duduk di kursinya. Seorang pria yang tampak murung, namun tersenyum ke arahnya dengan terpaksa.
"Hai, Allan!” sapa Jimmy berdiri dari kursi Allan.
"Pagi, Jimmy!" Allan segera menaruh tasnya dan membuka jasnya.
"Siap-siap untuk rapat, kawan!” tegas Jimmy menepuk pundak Allan.
"Rapat?" Allan tidak tahu menahu bahwa hari ini aka nada rapat.
"Mendadak, ya? Kau akan terbiasa dengan caraku memimpin," ucap Jimmy tersenyum.
Allan menatap wajah Jimmy dengan kesal yang ditahan-tahan. "Ya. Aku tahu caramu," ucapnya mengiyakan.
“Bagaimana keadaan Sarah?” tanya Jimmy yang terlihat muram dengan wajah menunjukkan rasa bersalah.
“Dia semakin baik. Anakku membuatnya sibuk sehingga kesedihannya mulai menghilang," jawab Allan.
“Aku harus berterima kasih pada anakmu," kata Jimmy dengan wajah mulai ceria.
“Kaubisa datang kapan saja, Jimmy," ujar Allan.
Jimmy mengangguk dan mengulangi perintahnya pada Allan untuk bersiap-siap mengikuti rapat. Kekesalan Allan pada Jimmy terus menumpuk. Entah sampai kapan rasa kesal itu bisa ia tahan. Sombong, kasar dan egois, tiga sikap yang seharusnya tidak ada dalam sosok pemimpin, namun Jimmy punya ketiganya.
Rapat spontan dan persiapan kurang tidak membuat Allan kalah sebelum bertanding. Dia punya materi yang bisa disampaikan pada rapat jajaran petinggi perusahaan itu. la menjelaskan tentang strategi marketing yang tengah ia jalankan, untuk melebarkan sayap penyebaran produk mereka.
Allan mengumbar kekesalannya kepada Adam saat makan siang. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sudah tidak bisa ia kontrol lagi. Walau ia sadari banyak orang yang memerhatikannya berbicara kasar, ia tetap saja melanjutkan. Dia sangat kesal dengan perlakuan Jimmy terhadapnya saat rapat tadi. Presentasinya saat rapat menurutnya cukup baik, namun Jimmy terus saja memprotes seakan ingin mempermalukan Allan yang baru naik jabatan.
Tuan Smith telah memberikan kepercayaan besar padanya untuk menduduki posisi menager marketing, namun sekarang usahanya menyusun strategi dihancurkan begitu saja oleh Jimmy yang keras kepala. Kembali pada perkataan Jimmy sebelumnya, ia harus membiasakan diri dengan bagaimana cara Jimmy memimpin.
"Kematian Tuan Smith memang membawa begitu banyak kerugian bagi kita, sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesombongan Jimmy akan menghancurkan perusahaan," kata Allan mempungkasi segala ocehan amarahnya.
“Hanya karena status adik kandung, Tuan Smith mau memberikan tonggak kepemimpinannya pada pria seperti itu?" ungkap Adam yang terbawa emosi. “Ya, sudahlah! Selama gajiku datang tiap bulan," tambahnya dengan nada pasrah.
Ponsel Allan bergetar, ia mengambilnya dari saku celananya. Nomor telepon di layarnya tidak ia kenali. Dengan sedikit ragu ia mengangkat telepon itu dan menyapa sang penelepon. Wajahnya berubah menjadi terkejut setelah tahu siapa yang meneleponnya.
Adam menyukai tebak-tebakan, dia menebak yang menelepon Allan adalah seseorang yang sebelumnya tidak pernah menghubunginya atau sudah lama tidak meneleponnya. Sangat jelas dari wajah Allan yang tampak terkejut. Wajah terkejut yang bukan wajah panik, membuktikan bahwa masalah yang dibicarakan bukanlah musibah bagi Allan.
"Siapa yang meneleponmu, Lan?" tanya Adam setelah Allan menutup teleponnya.
"Fiona, dia saudara perempuan istriku,' jawab Allan.
"Ya. Kau tidak mengenalnya,” tambahnya saat melihat ekspresi Adam yang bingung.
"Dia pasti cantik seperti istrimu,” kata Adam sekenanya.
Allan menggeleng. "Tidak, dia tidak cantik. Biasa saja," jawab Allan.
"Membicarakan soal kecantikan, aku masih tidak terima dengan fakta bahwa gadis secantik Sarah akan menikah dengan Jimmy," kata Adam membuat topik baru.
“Jangan bicarakan Jimmy lagi, aku mulai bosan," sindir Allan.
Adam terkekeh. “Sarah ada di rumahmu, bukan?" tanya Adam.
“Iya, kenapa memangnya?" Jawab Allan ragu.
“Apa kau tidak tergoda oleh kecantikannya?" bisik Adam.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan setia pada Rianti," jawab Allan.
"Untung saja dia tidak di rumahku, aku bisa kehilangan akal," ungkap Adam. "Semoga niatmu selingkuh di bar itu, sepernuhnya musnah, Lan!" tambahnya.
“Musnah seluruhnya," Allan mengangguk dengan disertai senyum yang dipaksakan.
Ponsel Adam bergetar, dengan cepat ia mengangkatnya setelah tahu bahwa yang meneleponnya adalah Lenna.
"Apa kau bersama Allan?" tanya Lenna yang sekarang tengah berada di rumah Rianti.
"Dia ada bersama, suamiku?" bisik Rianti. "Apa ini tidak apa-apa, Rianti?” tanya Sarah lirih.
Mereka bertiga tengah duduk melingkar di atas karpet ruang tengah.
"Kau diam saja, selingkuhan!" ungkap Rianti.
Sarah menuruti Kata-kata Rianti.
“Hubungi suamimu segera, Rianti!” ucap Lenna setelah menutup teleponnya. "Mode speaker biar kami juga
mendengarnya!" tambahnya.
Sarah dan Lenna melihat Rianti mencoba menghubungi Allan. Raut wajah Sarah tampak takut sedangkan Lenna tampak berseri-seri.
"Halo, sayang," sapa Allan.
"Berhenti memanggilku sayang!" teriak Rianti.
"Rianti? Kau kenapa?" tanya Allan dengan nada panik.
"Aku sudah tahu semuanya! Berhentilah berpura-pura lagi!" bentak Rianti.
“Apa maksudnya?” suara Allan semakin panik.
"Teganya kau berselingkuh dengan pengasuh anakmu sendiri!" teriak Rianti.
"Rianti, apa yang kau bicarakan?" tanya Allan.
“Sarah, dia sudah mengakui semuanya! Berhentilah berpura-pura!" bentak Rianti lagi.
"Jangan bercanda! Dia tunangan Jimmy, bagaimana mungkin aku berselingkuh dengannya?" nada suara Allan semakin panik.
“Aku mau kita cerai, sekarang juga! Aku tidak ingin tahu penjelasan apapun darimu," kata Rianti dengan nada emosi.
"Rianti, apa-apaan ini? Kita tidak akan bercerat, mengerti?" ungkap Allan dengan nada getir.
"Pokoknya aku ingin kau segera pesankan aku pizza tiga kardus!" teriak Rianti.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik. "Iya. Akan aku pesankan!" kata Allan pada akhirnya.
Rianti tertawa begitu keras diikuti Lenna dan Sarah. "Aku kalah main truth or dare, Sayang! Maafkan aku!" kata Rianti tertawa semakin keras.
"Astaga, Sayang! Awas saja nanti malam!” suara Allan tampak lega lalu mengakhiri panggilannya.
"Jadi sekarang giliranmu, selingkuhan!" ucap Lenna pada Sarah.
"Aku menelepon ke Jimmy?" tanya Sarah memastikan. Lenna mangangguk mantap.
"Tidak perlu, biar aku saja yang kena tantangan dari Lenna," ucap Riabti masih saja tertawa. "Pizza akan segera datang!” tambahnya bersemangat.
Lenna memerhatikan wajah Sarah yang tampak kurang senang, kemudian ia sadar bahwa gadis itu sepertinya sedang ada masalah dengan Jimmy. Lenna merasa harus minta maaf karena menyuruh Sarah menelepon Jimmy, namun tidak ia lakukan.