Liana adalah seorang gadis sederhana yang hidup di sebuah desa kecil bernama desa Suka Manu. Ia bertemu secara tidak sengaja dengan laki-laki bernama Putra. Semenjak pertemuan itu lah membuat mereka semakin dekat dan pada akhir nya menjalin hubungan cinta mereka. Di mana putra awal nya hanya menganggap hubungan mereka hanyalah sebuah permainan karena Putra mempunyai kekasih yang tinggal di daerahnya. Mereka telah menjalin hubungan selama 3 tahun. Putra hanya memanfaatkan Liana karena ia tidak mempunyai teman di daerah tersebut di mana saat ini ia sedang bekerja di Liana tinggal.
Lika liku kehidupan rumah tangga mereka selalu saja ada. Air mata Liana tidak pernah berhenti mengalir melihat tingkah Putra yang terkadang selalu melukai hati nya. Terkadang, ia mendapati Putra sering bertukar pesan dengan gadis lain. Namun, untuk menuntut Liana tidak bisa karena Liana sadar, Liana tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Putra di mana Liana sudah tidak suci lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mpit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat dari ibu
"Assalamualaikum" Sapa Lia saat tiba di rumah nya.
"Waalaikumsalam" Sambut wanita paruh baya yang merupakan ibu Lia.
"Eh, Lia, Putra kenapa gak kabarin dulu sih jika mau pulang. Ibu kan bisa masakin makan kesukaan kalian" Ujar ibu Lia.
Lia dan Putra bergantian mencium punggung tangan ibu nya.
"Gak perlu repot-repot kok buk" Jawab Lia.
"Iya dadar telor juga bisa kok. Sudah cukup enak itu makanan nya" Putra menyempeli.
"Ayo masuk-masuk"
"Aku akan tinggal di sini ya buk. Hari persalinan ku sebentar lagi" Ujar Lia.
"Ya gak masalah dong nak. Sampai kapan pun rumah ini selalu terbuka untuk mu. Lagian rumah ini juga rumah kamu nanti. Siapa lagi yang mau tinggal di sini. Kakak mu sudah memiliki rumah" Jelas wanita paruh baya itu lagi.
***
Pagi hari menyambut Lia dan ibunya dengan sinar matahari yang lembut dan udara segar yang mengelilingi mereka. Mereka berjalan-jalan pagi di sepanjang jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan hijau yang menjulang tinggi. Dedeburan daun dan cipratan air dari embun pagi menambah kesegaran di sekitar mereka.
Langit terlihat cerah dengan langit biru yang terbentang luas di atas kepala mereka. Beberapa awan putih seperti kapas melayang-layang dengan lembut, menambah keindahan panorama alam pagi hari ini. Suara burung bernyanyi riang mengisi udara, memberikan harmoni alami yang menenangkan hati mereka.
Di sepanjang perjalanan, mereka melewati ladang dengan rumput hijau yang masih basah oleh embun pagi. Kabut tipis menari-nari di permukaan tanah, memberikan suasana misterius dan romantis. Serangkaian bunga-bunga warna-warni seperti mawar, tulip, dan bunga matahari menyambut kedatangan mereka, menghiasi tepi jalan dan mengeluarkan aroma yang memikat.
Lia dan ibunya terus berjalan dengan tenang, menikmati momen kebersamaan mereka di pagi yang damai. Mereka saling berbicara dan tertawa, membagikan cerita dan harapan di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Rasa bahagia dan kedamaian penuh di hati mereka, melupakan segala kekhawatiran dan beban hidup.
Saat mereka berjalan pulang, warna langit mulai berubah menjadi oranye keemasan saat matahari terbit semakin tinggi di ufuk timur. Cahaya matahari menyinari jalan setapak, menciptakan bayangan indah di sepanjang jalan. Perjalanan pagi mereka berakhir dengan rasa syukur dan kebahagiaan, dan mereka pulang dengan semangat yang segar dan bahagia untuk menjalani hari yang baru.
"Ibu, rasanya tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Bayi kita akan segera datang ke dunia ini" Ucap Lia sambil menyentuh dan mengusap perut nya dengan lembut.
"Iya, sayang. Hanya beberapa minggu lagi, dan kita akan bertemu dengan buah hati kita yang ditunggu-tunggu. Bagaimana perasaanmu?" Jawab ibu Lia tersenyum lembut.
"Perasaan ku campur aduk, Ibu. Ada kegembiraan yang luar biasa, tapi juga sedikit rasa cemas. Aku tak sabar untuk bertemu dengan bayi ini, tapi juga merasa khawatir tentang menjadi seorang ibu" Jelas Lia sulit untuk menjelaskan perasaan nya saat ini.
"Itu normal, Nak. Setiap ibu baru pasti merasakan perasaan itu. Kamu akan menjadi seorang ibu yang luar biasa, ibu yakin itu. Dulu ibu juga merasakan hal yang sama saat ibu hamil kakak mu" Jelas wanita paruh baya itu.
"Terima kasih, Ibu. Aku berharap begitu. Aku ingin memberikan yang terbaik bagi anak ini, tapi terkadang aku merasa tidak yakin tentang kemampuanku"
"Percayalah pada dirimu sendiri, Lia. Kamu memiliki sifat-sifat yang luar biasa dan cinta yang tak terhingga untuk anak mu. Setiap langkah baru dalam hidup ini akan menjadi pengalaman pembelajaran. Dan kita akan menjalaninya bersama-sama" Semangat ibu Lia.
"Aku sangat beruntung memiliki dukungan dan cinta darimu, Ibu. Aku tahu bahwa kita akan melewati semua ini bersama"
"Tentu saja, Nak. Keluarga kita akan saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Jangan ragu untuk meminta bantuan atau berbagi perasaanmu. Kita semua ada di sini untukmu" Ujar wanita paruh baya itu lagi kepada putrinya.
"Aku bersyukur memiliki keluarga seperti ini. Aku yakin bayi ini akan lahir ke dalam dunia yang dipenuhi cinta dan kebahagiaan"
"Ya, Lia. Kita akan memberikan bayi mu cinta tak terbatas dan akan membuatnya merasa selalu dicintai. Persiapkan dirimu dengan baik, dan kita akan menyambut kelahirannya dengan sukacita"
"Aku akan melakukan yang terbaik, Ibu. Aku tidak sabar untuk memulai perjalanan baru sebagai seorang ibu"
"Sebentar lagi sayang, kita akan bertemu dengan malaikat kecil yang ada di dalam rahim mu itu" Ujar ibu Lia tersenyum lembut.
"Terima kasih, Ibu, atas segalanya. Aku merasa beruntung dan diberkati memiliki seorang ibu yang luar biasa seperti dirimu"
"Sama-sama nak. Ternyata kita sudah tiba di rumah" Ujar ibu Lia tidak sadar mereka telah tiba di rumah mereka karena keasyikan ngobrol.
"Iya buk, aku mau bangunin Putra dulu. Katanya mau pulang pagi ini" Ujar Lia masuk ke dalam rumah nya itu. Yah seperti biasa jika sudah tidur, Putra paling sulit di bangun kan. Itu sebab nya Lia pergi berjalan-jalan pagi bersama ibu nya. Hal itu sesuai anjuran para bidan puskesmas agar lahiran nya bisa dengan lancar.
Ibu Lia menyiapkan sarapan untuk mereka. Wanita paruh baya itu telah membuat nasi goreng kampung sebagai santapan mereka di pagi ini.
"Wah kelihatan nya enak ini. Teh nya sudah ada buk?" Ujar Lia saat melihat ibu nya menyiapkan makanan itu di atas meja. Di mana ia baru saja keluar dari kamar nya untuk membangunkan Putra.
"Oh iya belum lupa"
"Ya sudah aku yang buatin ya" Ujar Lia.
"Putra ayo duduk! Kita sarapan sama-sama" Ujar ayah nya Lia melihat menantunya baru keluar dari kamar mandi untuk membuang air dan mencuci wajah nya.
"Iya yah" Jawab Putra duduk di meja makan itu.
"Kamu pulang pagi ini Put?" Tanya ibu Lia.
"Iya buk, kerja sama bapak sudah menunggu. Harus semangat mencari uang untuk biaya persalinan Lia" Ujar nya penuh tanggung jawab.
Lia tersenyum senang mendengar ucapan Putra barusan. Yah meski pun suami nya itu belum bisa berubah sepenuh nya, namun ia kini mulai memikirkan istri dan bayi nya kelak.
"Semoga saja Putra bisa berubah sepenuh nya. Perlahan namun pasti tolong buka kan pintu hati suami ku agar menjadi orang yang lebih baik lagi ya Allah" Batin Lia berdoa kepada sang pencipta.
"Oh gitu, masih banyak kerja nya?" Tanya ayah Lia kepada menantu nya.
"Lumayan yah, setidak nya bisa juga mencari uang untuk tambah-tambah biaya persalinan nanti" Jelas Putra lagi.
Mereka pun melahap sarapan yang di buat oleh ibu Lia tadi.