Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:203k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Ketika Vandra Mulai Bertanya

Hari-hari Vandra di Lebanon dipenuhi jadwal yang hampir tidak memberinya banyak waktu untuk memikirkan kehidupan pribadi.

Pagi dimulai dengan pemeriksaan perlengkapan dan pengarahan. Setelah itu, ia menjalankan tugas sesuai penempatan. Ada patroli, koordinasi dengan personel dari negara lain, pemeriksaan situasi di wilayah operasi, hingga kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat setempat.

Sebagai bagian dari pasukan perdamaian, Vandra dituntut selalu menjaga disiplin dan kewaspadaan.

Situasi di Lebanon Selatan tidak selalu mudah. Ada kalanya patroli harus menyesuaikan rute karena kondisi keamanan. Ada pula saat-saat ketika ketegangan meningkat dan seluruh personel harus meningkatkan kewaspadaan.

Namun setelah tujuh bulan, Vandra sudah terbiasa. Ia bisa bekerja dalam tekanan tanpa kehilangan fokus. Misi ini ternyata memang memberinya sesuatu yang selama ini ia cari.

Jarak.

Jauh dari rumah, jauh dari Levia, jauh dari segala persoalan pernikahan yang selama hampir setahun membuatnya merasa tertekan.

Dulu ia mengira satu tahun tanpa Levia akan menjadi kebebasan yang sempurna. Dan ternyata... memang tidak buruk.

Setidaknya pada awalnya.

 

Sore itu, setelah menyelesaikan tugas, Vandra duduk di area istirahat bersama beberapa rekannya.

Salah seorang rekannya sedang memeriksa ponsel. "Tujuh bulan sudah."

Vandra menoleh. "Kenapa?"

"Gak kerasa kita sudah lebih dari setengah perjalanan."

Yang lain tertawa kecil. "Sebentar lagi pulang."

Vandra hanya mengangguk. Pulang. Kata itu membuat pikirannya tanpa sengaja melayang ke Indonesia. Dan entah kenapa, wajah seseorang muncul begitu saja.

Levia.

Vandra mengerutkan kening mengingat percakapannya dengan ibunya sebulan lalu. Levia sibuk. Itukah alasan berbulan-bulan ia tidak mendengar suara wanita itu. Tidak ada pesan, telepon.

Bahkan tidak ada pesan singkat sederhana seperti hati-hati atau sudah makan?

Padahal dulu, sebelum Levia kembali ke rumah ayahnya, perempuan itu hampir setiap hari menghubunginya. Pesan-pesan itu bahkan sering ia hapus tanpa dibaca. Dulu ia merasa terganggu.

Sekarang... ia justru menyadari betapa panjangnya waktu tujuh bulan tanpa satu pun pesan dari wanita itu.

"Kapten?" tanya rekannya.

Vandra tersadar. "Hm?"

"Kamu melamun."

"Gak." Vandra berusaha bersikap biasa.

Rekannya menyeringai. "Jangan-jangan mikirin rumah?"

Vandra menggeleng. "Enggak."

"Atau mikirin istri?"

Vandra langsung diam karena tebakan itu seratus persen benar.

Beberapa rekannya tertawa.

"Kenapa diam?" tanya salah seorang di sebelah kirinya.

"Gak ada." Vandra berdiri dan mengambil botol air. "Aku mau istirahat."

Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Entah mengapa ia teringat satu hal.

Sebelum berangkat, Levia pernah mengatakan bahwa hidup terlalu berharga untuk mengejar orang yang tidak mencintainya.

Saat itu Vandra menganggapnya hanya ucapan sesaat. Namun selama tujuh bulan terakhir... wanita itu benar-benar tidak mengejarnya. Tidak sekali pun.

Vandra mengerutkan kening. "Apa dia benar-benar sudah menyerah?"

Pertanyaan itu muncul begitu saja. Dan anehnya... ia tidak menyukai jawaban yang mungkin muncul.

***

Sore itu, halaman belakang rumah Gultom kembali dipenuhi suara langkah kaki dan hentakan ringan.

Ruangan latihan yang beberapa bulan lalu masih berupa tempat penyimpanan kini benar-benar berubah menjadi tempat olahraga. Samsak tinju tergantung di salah satu sudut. Beberapa dumbbell tersusun di rak, sementara matras latihan terbentang di tengah ruangan.

Sudah satu bulan sejak Gultom mulai mengajari Levia dasar-dasar silat. Dalam waktu itu, latihan mereka menjadi semacam rutinitas baru. Hampir setiap sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Levia akan datang ke ruangan tersebut. Kadang mereka hanya melakukan latihan dasar, tetapi beberapa kali Gultom mulai mengajarkan teknik bertahan dan menjatuhkan lawan.

Sore ini pun tidak berbeda.

Gultom berdiri di tengah ruangan mengenakan kaus olahraga dan celana training. Perubahan pada tubuhnya terlihat semakin jelas. Tujuh bulan menjaga pola makan dan rutin berolahraga membuat perut yang dulu sedikit buncit kini jauh lebih rata. Bahunya lebih tegap, napasnya lebih teratur, dan tubuhnya terlihat jauh lebih bugar dibandingkan beberapa bulan lalu.

Di hadapannya, Levia sedang mengikat rambutnya. Berat badannya kini berada di kisaran 84 kilogram. Angka itu masih jauh dari target yang ingin dicapainya, tetapi perubahan bentuk tubuhnya sudah terlihat jelas. Latihan kekuatan membuat tubuhnya semakin padat, sementara latihan kardio dan pola makan yang terjaga perlahan mengurangi lemak yang sebelumnya menutupi bentuk tubuhnya.

Ia masih bertubuh besar, tetapi tidak lagi mudah kehabisan napas hanya karena bergerak cukup lama.

Gultom memerhatikan putrinya sambil tersenyum tipis. "Kamu masih mau latihan silat?"

Levia langsung menoleh. "Kenapa memangnya?"

"Enggak kenapa-kenapa." Gultom mengangkat kedua tangannya. "Ayah cuma memastikan. Sejak sebulan terakhir kamu makin rajin latihan."

"Ya karena seru."

"Seru?" Gultom tertawa kecil. "Dulu Ayah ngajak jalan pagi saja kamu malas."

Levia mendengus. "Dulu itu dulu. Sekarang aku sudah berubah."

"Memang." Gultom mengangguk. "Ayah juga bisa lihat."

Levia tersenyum puas. "Nah, bagus."

Gultom kemudian mengambil posisi. "Kalau begitu, kita mulai pemanasan dulu."

Mereka melakukan beberapa gerakan peregangan sebelum masuk ke latihan utama.

Gultom memperhatikan setiap gerakan putrinya. Sebulan terakhir membuatnya semakin yakin bahwa Levia bukan sekadar mengikuti video latihan di internet.

Awalnya ia mengira putrinya hanya tertarik pada bela diri karena sedang menjalani program penurunan berat badan. Namun semakin sering berlatih, semakin jelas bahwa Levia memiliki kemampuan alami yang sulit dijelaskan.

Ia cepat memahami instruksi. Ia jarang mengulang kesalahan yang sama. Dan yang paling aneh, beberapa gerakan tertentu justru seperti sudah tersimpan di dalam tubuhnya.

"Siap?" tanya Gultom.

Levia mengangguk. "Siap."

Gultom maju perlahan. Levia tidak langsung menyerang. Ia berdiri dengan posisi kaki yang stabil, kedua tangan terangkat menjaga pertahanan, matanya mengikuti setiap pergerakan Gultom.

Gultom melakukan serangan ringan. Levia menghindar. Serangan berikutnya datang dari arah berbeda. Kali ini Levia menangkis, kemudian bergerak ke samping untuk menjaga jarak.

Gultom tersenyum. "Bagus."

Levia tidak menjawab. Konsentrasinya tetap tertuju pada gerakan ayahnya. Gultom kemudian meningkatkan kecepatan.

Levia mundur satu langkah, memiringkan tubuh, lalu memutar kakinya untuk menghindari serangan. Begitu Gultom kehilangan sedikit keseimbangan, Levia langsung bergerak mendekat. Tangannya hampir menyentuh bahu Gultom. Namun Gultom lebih cepat. Ia memutar tubuh dan melepaskan diri.

Keduanya kembali mengambil jarak. Gultom menatap putrinya dengan ekspresi semakin serius. "Via."

"Hm?" sahut Levia.

"Kamu yakin cuma belajar dari video?" tanya Gultom.

Levia tertawa kecil. "Ayah masih belum percaya?"

"Semakin sering kita latihan, Ayah justru semakin gak percaya," jawab Gultom jujur. "Kalau cuma belajar dari internet, perkembanganmu gak seharusnya secepat ini."

Levia mengerutkan kening. "Memangnya secepat apa?"

Gultom memperhatikan putrinya beberapa saat. "Sebulan lalu sebenarnya kemampuan dasar kamu sudah bagus. Kamu sudah bisa menjaga keseimbangan, membaca arah serangan, bahkan melakukan beberapa gerakan tanpa Ayah contohkan."

Levia hanya tersenyum.

"Tapi yang membuat Ayah heran," lanjut Gultom, "dalam waktu sebulan kemampuanmu berkembang jauh lebih cepat daripada orang yang baru mulai belajar."

Ia mengamati kuda-kuda Levia. "Sekarang gerakanmu lebih cepat, lebih terarah, dan kamu semakin pintar menggabungkan beberapa gerakan sekaligus. Kamu juga gak lagi banyak berpikir sebelum bergerak."

Levia terdiam sejenak.

Gultom mengerutkan kening. "Seolah-olah tubuhmu sudah terbiasa melakukan semua itu sejak lama."

Levia mengusap tengkuknya. "Aku memang sering latihan."

"Sejak kapan?"

 

...✨"Terkadang, kita baru menyadari betapa pentingnya seseorang setelah dia berhenti berusaha mendapatkan tempat di hidup kita."✨...

.

To be continued

1
Septi Wijaya
kan .. nama anda jd ikut terseret pak jenderal Pramono
Anitha
nah rasain sekarang masalahnya jadi tambah besar gara² bukti pertama tidak cukup jadi terpaksa Vandra memberikan bukti lain yang menyangkut nama Pramono srorang Jendral yang menekan bawahannya,good Vandra semoga dengan bukti terakhir itu kalian bisa lolos dan menang dalam sidangnya...

si Jendral dan anaknya di Penjara karena kelakuannya sendiri🤣
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
anonim: Sama-sama Author 🙏🙏🙏👍👍/Heart/
total 2 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!