Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback end

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Ainun duduk diam di depan meja rias. Wajahnya telah dipoles tipis oleh tangan penata rias hingga tampak lebih segar. Namun, tatapannya tak tertuju pada pantulan wajah di cermin.

Perlahan, pandangannya turun ke pakaian yang dikenakannya.

Bukan gaun pengantin yang anggun.

Bukan pula kebaya putih yang biasa dikenakan mempelai wanita.

Tubuhnya hanya dibalut abaya putih sederhana yang semalam diberikan oleh ibunya.

Sementara itu, di sudut kamar, gaun pengantin milik Liona berdiri anggun di atas manekin. Payet-payetnya berkilau diterpa cahaya lampu, seolah mengejek kesederhanaan yang kini melekat pada dirinya.

Ainun menggigit bibir bawahnya.

'Bahkan di hari pernikahanku... aku tetap bukan pengantin yang sesungguhnya.'

“Maaf, Bu,” ucap penata rias sambil memandangi Ainun melalui cermin. “Yakin pengantin wanitanya memakai abaya?”

Melalui pantulan cermin, Ainun melihat ibunya mengangkat wajah.

“Iya. Memangnya ada masalah?” tanya Bu Siti, ibunya dengan nada datar.

“Bukan begitu, Bu.” Penata rias tersenyum canggung. “Ini acara yang sakral. Biasanya pengantin perempuan memakai kebaya atau gaun pengantin. Bukankah di pojok itu ada gaunnya?”

Tatapan Ainun ikut beralih ke arah manekin.

Gaun putih itu memang sangat indah. Namun, ia tahu gaun itu bukan untuknya.

“Itu milik putri saya, Mbak,” jawab Bu Siti tanpa ragu. “Kalau dipakai orang lain, saya takut kotor.”

Tubuh Ainun membeku. 'Orang lain?'

Bukankah ia juga putri Bu Siti?

Lalu... sejak kapan dirinya dianggap sebagai orang lain?

“Bukankah Mbak ini juga putri Ibu?” tanya penata rias itu dengan ragu.

Jemari Ainun seketika meremas ujung abaya yang dikenakannya.

Bu Siti tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

“Iya. Tapi dia cuma menggantikan kakaknya untuk sementara. Setelah Liona pulang, semuanya kembali seperti semula.”

Kalimat itu menusuk hati Ainun.

'Astagfirullah... ya Allah, kuatkan hamba menghadapi semua ini.'

Ia hanya menundukkan kepala. Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibirnya.

Brak!

Pintu kamar mendadak terbuka dengan keras hingga semua orang yang berada di dalam ruangan sontak menoleh.

Jantung Ainun berdegup lebih cepat.

Di ambang pintu, Sagara berdiri dengan napas memburu. Jas pengantinnya telah dikenakan rapi, tetapi raut wajahnya dipenuhi amarah.

‘Mas Sagara pasti sudah tahu tentang kepergian Mbak Liona.’

“Di mana Liona?!” bentaknya.

Tanpa sadar, bahu Ainun menegang.

Tatapannya bertemu dengan mata Sagara hanya sesaat sebelum pria itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, seolah berharap Liona muncul di hadapannya.

“Sagara, kita bicarakan baik-baik dulu, Nak,” ujar Bu Siti dengan suara lembut.

Bu Siti lalu segera menoleh kepada penata rias.

“Mbak, maaf. Kami ada urusan keluarga. Tolong keluar sebentar.”

“Iya, Bu.”

Penata rias itu mengangguk, lalu bergegas meninggalkan kamar.

Tak lama kemudian, Pak Susanto dan kedua orang tua Sagara ikut masuk ke dalam ruangan.

Suasana seketika berubah tegang.

Bu Siti menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

“Nak Sagara, begini... ini memang keputusan Liona. Dia memilih berangkat ke luar negeri untuk mengejar impiannya sebagai model.” Wanita itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kami berharap kamu bisa bersabar. Untuk sementara, Ainun yang akan menggantikan Liona.”

“Saya tidak mau tahu!” potong Sagara dengan suara keras. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal. “Jemput Liona sekarang juga!”

“Nak, coba lihat.” Pak Susanto melangkah mendekati Sagara. “Semua tamu sudah menunggu di luar. Kalau pernikahan ini sampai batal, nama baik kedua keluarga yang dipertaruhkan.”

“Benar kata Pak Susanto.” Pak Bastian mengangguk pelan. “Setujui dulu pernikahan ini. Setelah akad selesai, semuanya bisa kita bicarakan baik-baik.”

Ucapan itu membuat suasana kembali hening.

Ainun memberanikan diri mengangkat pandangan. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan mata Pak Bastian.

Sorot mata pria paruh baya itu begitu tajam, seolah memperingatkannya agar tidak membuat keadaan semakin rumit.

Ainun refleks menundukkan kepala.

'Tatapan beliau... benar-benar membuatku takut.'

Beberapa detik berlalu sebelum suara Sagara kembali terdengar.

“Baiklah.”

Jawaban singkat itu membuat bahu Ainun menegang.

Perlahan ia mengangkat wajah.

Sagara berbalik tanpa meliriknya sedikit pun. Dengan langkah panjang, pria itu keluar dari kamar, meninggalkan kesunyian yang semakin menyesakkan.

Ainun menatap pintu yang baru saja tertutup.

“Eh, Ainun kok pakai abaya?” tanya Bu Lina heran.

Ainun menoleh pelan ke arah wanita itu.

“Oh, itu...” Bu Siti tersenyum tipis. “Gaun pengantinnya tidak cukup, Besan. Semuanya mendadak, jadi Ainun pakai abaya saja.”

'Bukan karena gaunnya gak cukup...'

Ainun menurunkan pandangannya.

'Ibu hanya gak ingin gaun milik putri kesayangannya dipakai olehku.'

“Ya sudah, nggak apa-apa.” Bu Lina tersenyum hangat kepada Ainun. “Masih cantik juga, kok, Ainunnya.”

Ucapan sederhana itu membuat dada Ainun yang  sedikit menghangat. Ia menatap Bu Lina sejenak, lalu membalas dengan senyum tipis.

“Terima kasih, Bu.”

“Kalau begitu, kami keluar dulu. Nak Ainun, ayo bersiap-siap, ya.”

“Iya, Bu,” jawab Ainun pelan.

Satu per satu mereka meninggalkan kamar.

Klik.

Pintu kembali tertutup. Kamar Liona kembali sunyi.

Belum sempat Ainun mengembuskan napas lega, suara Bu Siti kembali terdengar.

“Jangan besar kepala.”

Senyum tipis di bibir Ainun seketika memudar. Ia menundukkan kepala, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Iya, Bu.” Suaranya lirih. “Ainun sadar. Ainun nggak akan berharap apa pun dari Mas Sagara. Ini juga terakhir kalinya Ainun melakukan sesuatu demi Mbak Liona.” Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Ke depannya... Ibu, Ayah, dan Mbak Liona jangan memaksa Ainun lagi.”

Raut wajah Bu Siti langsung berubah.

“Kamu...” Telunjuk wanita itu terangkat. “Dasar anak durhaka! Kalau bukan Ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu, siapa lagi?”

Ainun hanya diam. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya tidak akan mengubah apa pun.

Tiba-tiba telunjuk Bu Siti mendorong keningnya hingga kepalanya terdongak ke belakang.

“Meski kamu nggak sebanding sama Mbakmu, setidaknya kamu harus tahu diri!”

Ainun memejamkan mata sesaat. Jemarinya mengepal di balik lipatan abaya.

'Sabar, Ainun...'

Ia memilih diam daripada memperpanjang pertengkaran.

Kriet...

Suara pintu yang terbuka kembali memecah suasana panas.

Ainun membuka mata dan menoleh.

Seorang panitia pernikahan berdiri di ambang pintu.

“Pengantin wanita, pengantin pria sudah selesai ijab kabul. Silakan Ibu mengantarkan mempelai wanita.”

“Baik.”

Belum sempat Ainun melangkah, Bu Siti lebih dulu menarik pergelangan tangannya.

“Ayo, cepat! Lama sekali.”

Langkah Ainun sedikit terhuyung saat tubuhnya ditarik keluar kamar.

Sesampainya di depan tangga, Bu Siti menghentikan langkahnya sejenak.

“Senyum.”

Ainun menarik napas panjang. Perlahan, ia memaksakan seulas senyum menghiasi wajahnya.

Meski di balik senyum itu, hatinya masih belum sanggup menerima kenyataan bahwa hari ini ia menikahi pria yang mencintai perempuan lain, dan pernikahan itu hanyalah sementara.

. . .

Kini Ainun duduk bersisian dengan Sagara di hadapan penghulu dan Ayahnya, Susanto.

Jarak mereka begitu dekat, tetapi terasa sangat jauh.

Sagara duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Sejak Ainun duduk di sampingnya, pria itu sama sekali tidak menoleh, seolah kehadirannya tak berarti apa-apa.

Ainun menundukkan kepala.

Tak lama kemudian, suara bisik-bisik para tamu mulai terdengar dari belakang.

“Ya ampun, kasihan banget Liona. Adiknya tega merebut posisi kakaknya sendiri.”

“Iya. Ainun juga harusnya sadar diri. Mana sebanding sama Mas Sagara? Mereka itu seperti langit dan bumi.”

“Mau bagaimana lagi, Jeng. Namanya juga adik,” balas Bu Siti dengan nada terdengar lirih.

Setiap kalimat yang masuk ke telinganya terasa seperti duri yang menusuk pelan.

“Mari kita mulai akad nikahnya,” ujar penghulu sambil menoleh kepada Sagara. “Mas Sagara, sudah siap?”

“Sudah,” jawab Sagara singkat.

Penghulu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ainun.

“Mbak—”

“Saya tidak punya banyak waktu, Pak.” Sagara memotong ucapan penghulu dengan nada datar. “Bisa langsung dimulai sekarang?”

“Baik.”

Penghulu mengangguk, lalu menoleh kepada wali.

“Silakan, Bapak.”

Pak Susanto berdeham pelan sebelum bersiap mengucapkan ijab.

Namun, penghulu lebih dulu berkata, “Silakan menikahkan putri Bapak, Mbak Liona—”

“Maaf, Pak,” sela Pak Susanto. “Namanya bukan Liona, melainkan Ainun Nahwa Abimana.”

Penghulu tampak sedikit terkejut.

“Oh, baik. Saya mengerti.”

Ruangan kembali hening.

Semua mata tertuju kepada Pak Susanto dan Sagara.

Dengan suara lantang, Pak Susanto mengucapkan ijab.

“Saya nikahkan engkau, Sagara Jeno Dirgantara, dengan putri saya, Ainun Nahwa Abimana binti Susanto, dengan maskawin berupa uang tunai seratus juta rupiah, sebuah rumah, dan sebuah vila, dibayar tunai.”

Tanpa jeda, Sagara langsung menjawab.

“Saya terima nikahnya Ainun Nahwa Abimana binti Susanto dengan maskawin tersebut, dibayar tunai.”

Jemari Ainun perlahan meremas kain abayanya.

Beberapa detik kemudian, penghulu menoleh kepada para saksi.

“Bagaimana, para saksi?”

“Sah.”

“Sah.”

“Innalillahi...” lirih beberapa tamu.

Kelopak mata Ainun terpejam.

“Silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya,” ujar penghulu.

Ainun perlahan menoleh ke arah Sagara.

Pria itu tetap diam.

Beberapa saat kemudian, Sagara akhirnya menoleh sekilas. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun kehangatan. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia mengangkat tangan kanannya dan menyodorkan punggung tangannya kepada Ainun.

Ainun menelan ludah.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia meraih tangan Sagara, lalu menunduk dan mengecup punggung tangan pria itu dengan penuh hormat.

Saat bibirnya menyentuh kulit tangan Sagara, hatinya justru terasa semakin hampa.

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!