Walaupun di usia belianya, kematian bukan lagi hal yang ditakuti oleh Gita Mahesa, seorang anak malang yang menderita penyakit sindrom laba-laba. Hanya satu pintanya, ayahnya tidak sendirian dan bisa hidup bahagia pasca kematiannya.
Di tengah keputusasaan itu, sang ayah mempertemukan Gita dengan seorang dokter jenius dari luar negeri, Cynthia Lindberg, yang telah kehilangan pekerjaannya karena salah tuduh malpraktik. Di luar dugaan, Gita menyukai Cynthia dan ingin sang dokter cantik menjadi pengasuhnya. Sayangnya itu hanya alasan Gita semata agar sang dokter cantik bisa menjadi sosok pengganti istri bagi ayahnya yang kesepian. Gita belum menemukan harapan hidupnya.
Mampukah sang dokter cantik mengembalikan harapan hidup Gita dan bahkan menyembuhkannya dan akankah hati sang ayah, Rukaf Mahesa, yang telah lama mengering karena tanpa pendamping hidup akan berbunga lagi? Silakan baca saja ceritanya 🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Souma Kazuya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 – Kehangatan Pelukan Paman
Gita yang jahil lantas meminta ayahnya bersama Dokter Cynthia untuk keluar sebentar karena ingin berdua dengan paman dan bibi tercintanya, Rello Adiyaksa dan Jelita Mahesa.
Rukaf awalnya menolak, namun karena Gita beralasan letih dan tidak bisa beristirahat jika terlalu banyak orang di dalam ruangan, dia pun memenuhi permintaan putrinya yang tercinta itu.
Setelah melemparkan isu “ibu baru” kepada ayahnya yang telah lama menduda, Gita sengaja melemparkan calon ibu baru yang menurutnya paling pantas itu ke tangan sang ayah.
“Kalau gitu, aku juga mau mengobrol dengan calon ibu baru keponakanku yang tercinta ini.”
“Tante?”
Sepintas Gita menunjukkan ekspresi memelas kepada sang tante yang justru akan merusak kesempatan berdua sang ayah dengan sang dokter cantik yang telah susah-payah diciptakannya.
Namun begitu mendengar jawaban dari sang dokter cantik, “Ah, bukan begitu. Ini salah paham. Tuan Rukaf hanya kuanggap sebagai penyelamatku. Tuan Rukaf juga menganggapku hanya sebagai teman. Bukan begitu, Tuan?”, Gita berakhir kecewa.
Jelita berupaya menggoda, namun Cynthia dengan tegas menolak.
Hal ini lantas menimbulkan kesenduan di wajah sang gadis kecil.
“Apa Tante Dokter Cantik membenci Ayah?”
“Bukan begitu Dedek Gita.”
“Jadi Tante Dokter Cantik menyukai Ayah?”
“Jika harus memilih di antara suka atau benci, tentu aku menyukai Tuan Rukaf.”
“Lantas, tidak ada masalah dong, Tante Dokter Cantik. Gita juga senang jika punya ibu sebaik Tante Dokter Cantik.”
Dengan wajah memelasnya, Cynthia Lindberg dibuat tak bisa berkata apa-apa oleh sang gadis kecil yang tampak polos itu.
“Jangan terlalu menggoda Tante Dokter Cantik, Sayang. Kasihan Tante Dokter Cantik-nya.”
Melihat kecanggungan itu, Rello segera menyela dengan menyentil hidung Gita dan memberi isyarat kepada Cynthia bahwa hal itu tidak usah terlalu dipikirkannya.
Rello lantas menatap istrinya kemudian Jelita yang segera paham arti tatapan itu dengan sigap menarik Cynthia turut keluar dari ruangan.
“Apa? Oh, iya. Baik, Ayah. Nona, tampaknya, aku juga harus segera pulang.”
Tidak lama kemudian, menyusul Dimas yang keluar dari ruangan menyisakan hanya Gita dan Rello-lah yang ada di dalam ruangan VIP rumah sakit tersebut.
Terjadi adu tatap-tatapan untuk sementara waktu antara pasangan paman dan keponakan itu, sebelum akhirnya Rello-lah yang angkat bicara duluan.
“Jadi mengapa keponakan Paman yang satu ini sampai mengatakan hal yang demikian? Gita sadar kan bahwa itu bukan perkataan yang baik untuk dikatakan kepada Ayah Gita?”
Perkataan Rello terdengar sebagai kritikan, namun karena pembawaannya dalam menyampaikannya dengan senyum lembutnya yang ramah, Gita sama sekali tidak merasakan kepahitan dalam tiap ujaran sang paman.
Gita lantas berusaha bangkit dari posisinya yang kala itu sedang berbaring.
“Nak Gita, sebaiknya berbaring saja.”
Mengabaikan ucapan sang paman, Gita tetap bangkit dari tidurnya sembari dibantu oleh Rello.
Gita kemudian membuang badannya di pelukan sang paman.
“Apa menurut Paman ucapan Gita keterlaluan?”
Mendengar ucapan sang keponakan, Rello menatap Gita dengan tatapan yang penuh belas kasih.
Dia pun lantas mengusap lembut kepala sang keponakan.
“Tidak kok, Sayang. Itu wajar bagi seorang anak untuk merindukan kasih sayang seorang ibu. Terlebih Tante Dokter Cantik memiliki sosok keibuan yang kuat.”
“Hmm.”
Entah mengapa ucapan sang paman, justru merangsang keluarnya air mata gadis kecil polos itu.
“Tapi tentu Gita juga sadar bahwa Ayah Gita sampai saat ini belum bisa melupakan sosok Ibu Gita, benar, bukan? Kita tidak boleh memaksakan keinginan kita kepada siapapun termasuk itu kepada Ayah Gita. Biarlah Ayah Gita yang secara alami memutuskan ketika Ayah Gita sudah merasa siap untuk menjalin hubungan baru lagi.”
“Baik, Paman.”
Air mata Gita terus mengalir dan Rello menenangkan tangisan Gita itu dengan sangat baik.
“Duh, keponakan Paman yang imut ini.”
“Hehe.”
“Tapi apa Gita begitu menyukai Tante Cynthia?”
“Iya, Paman. Tante Dokter Cantik adalah orang yang sangat baik. Tapi wajar ya jika Tante Dokter Cantik tidak mau menerima Ayah soalnya Tante Dokter Cantik itu cantik dan masih muda, sementara Ayah itu seorang duda beranak satu. Aku telah membuat Tante Dokter Cantik merasa tidak enak.”
“Tidak kok sayang, Ayah Gita masihlah sangat keren. Dan jika nanti calon istri Senior Rukaf tidak mau menerima Gita sebagai keluarganya, itu berarti dia orang jahat yang tidak pantas bersama Senior Rukaf. Jika itu terjadi, Nak Gita laporkan saja kepada Paman. Biar Paman yang akan menjitak kepala perempuan yang tidak tahu malu itu.”
“Maksud Paman, termasuk Tante Melisa.”
“Ya, tentu saja.”
“Tapi bagaimana kalau Paman jadinya masuk infotainment karena memukul seorang model.”
“Yah, itu bisa diselesaikan dengan uang. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang?”
“Duh, apa yang Paman katakan kepada anak kecil. Itu sama sekali tidak baik buat pendidikan Gita, Paman.”
“Hehehe.”
“Hehehe.”
Perasaan Gita yang sempat sendu akibat rasa bersalahnya mengatakan hal yang tidak pantas kepada sang ayah dan tante dokter cantiknya, segera teredakan dengan canda tawa bersama paman tercintanya.
“Duh, Nak Gita memang imut. Andai anak paman masih hidup, Delima pastilah juga tumbuh menjadi anak yang seceria Nak Gita.”
“Paman?”
“Ah.”
Rello pun tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya yang terdalam.
***
Sementara itu di luar.
“Ah, Tuan Rukaf. Maaf tampaknya saya telah membuat Dedek Gita salah paham. Tapi benar saya tidak pernah punya maksud demikian kepada Tuan. Tuan adalah penyelamat hidupku. Betapa kurang ajarnya aku jika mengambil keuntungan yang lebih lagi dari penyelamat hidupku itu.”
Ketika Cynthia mengatakan hal itu kepada Rukaf, daripada perasaan marah, nampak sedikit kekecewaan di raut wajah Rukaf. Namun hal itu disembunyikannya dengan sangat baik sehingga Cynthia sama sekali tak menyadarinya.
“Dokter Cynthia sama sekali tak melakukan kesalahan. Itu menandakan bahwa Dokter Cynthia menjalankan tugas sebagai pengasuh Gita dengan sangat baik sampai-sampai Gita bisa menganggap Dokter Cynthia sama seperti ibunya sendiri.”
“Terima kasih, Tuan.”
“Tapi itu…”
“Ya, Tuan?”
“Dokter Cynthia tidak usah terlalu menganggap aku sebagai penyelamat Dokter Cynthia. Dokter Cynthia bebas untuk memiliki perasaan apapun kepada saya.”
“…”
“…”
Ucapan Rukaf serta-merta membuat suasana ruangan hening sejenak.
Rukaf pun bahkan tidak tahu mengapa dia sampai berucap hal seperti itu.
Dia bingung terhadap perasaan yang dia rasakan di dalam hatinya.
Itu bermula sejak kejadian di Dufan ketika Rukaf menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Cynthia dan bagaimana Cynthia menenangkannya dari rasa traumanya yang tiba-tiba kambuh kala itu ketika dia berpikir telah terjadi sesuatu kepada putri satu-satunya.
Putrinya rupanya baik-baik saja, namun perasaan mengganjal ditenangkan oleh seorang wanita yang justru jauh lebih muda darinya adalah perasaan yang asing bagi Rukaf.
Itu pasti perasaan malu karena tertangkap basah melakukan tindakan yang tidak keren, pikirnya.
Namun melebihi Rukaf, Jelita-lah yang justru lebih paham terhadap perasaan asing yang dirasakan oleh Rukaf tersebut.
Nak Gita, tampaknya harapanmu bukanlah harapan yang kosong.
[Plak]
Suara tepukan tangan yang keras dari Jelita lantas segera membuyarkan kecanggungan itu.
“Baik, Kak Rukaf tampak lelah. Sebaiknya segera beristirahat. Biar selebihnya akulah yang akan menemani dokter kita yang cantik ini.”
Gita adalah keponakannya yang sangat dicintainya. Itulah sebabnya jika memang keponakannya itu akan memiliki ibu baru, dia mesti mengecek calon ibu baru itu dengan sedetail-detailnya.