Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.
Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.
Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?
Yuk ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWB Chapter 24
Intan sedang bersiap di kamarnya untuk memenuhi undangan pernikahan teman lamanya. Lampu-lampu di langit kamarnya memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan perasaan Intan yang saat ini terasa dingin.
Saat ini, ia berdiri di depan cermin standing, menatap pantulan dirinya sendiri dengan saksama, memastikan tak ada satu pun yang terlewat.
Gaun berwarna merah maroon menjadi pilihannya. Gaun itu ketat yang menampilkan siluet tubuhnya, tanpa lengan hanya tali tipis yang menggantung di setiap pundaknya. Untuk rambutnya disanggul dengan rapi dan menyisakan beberapa helaian di samping pelipis yang memberi kesan lembut.
Riasan wajahnya tipis, nyaris natural, namun justru itulah yang membuat kecantikannya semakin terpancar. Tidak lupa Intan memakai satu set perhiasan, modelnya sederhana dan tidak mencolok, tetapi harganya tidak sesederhana bentuknya.
Intan lantas menghela napas pelan. Di balik penampilannya yang terlihat sempurna, ada rasa hampa yang sulit untuk ia jelaskan.
Selesai bersiap, Intan keluar dari kamarnya. Suara langkah heels tingginya menggema pelan di koridor rumah yang luas dan sunyi. Ia berjalan anggun menuju tangga, menuruni anak tangga dengan langkah tegas namun penuh ke hati-hatian. Gaunnya bergerak mengikuti setiap langkahnya, seolah menari dalam diam.
Begitu sampai lantai dasar, Ilham sudah berdiri menunggunya. Pandangan pria itu langsung tertuju pada Intan. Kecantikan Intan membuat Ilham terpaku sejenak.
"Hai, kamu terlihat cantik," kata Ilham. Suaranya terdengar tulus.
"Terima kasih," balas Intan datar dan tanpa benar-benar menatapnya.
Ilham berdehem lantas mengusap tengkuknya sendiri sebelum berkata. "Maaf, aku benar-benar tidak bisa ikut. Ada pertemuan penting."
"Bukan masalah," balas Intan cepat. Bibirnya melengkung tipis, namun nada bicaranya sarkas. "Lagi pula ini juga bukan pertama kali aku pergi sendiri."
Ucapan itu, membuat Ilham terdiam sejenak. Ia memaksakan diri untuk tersenyum, meski jelas hatinya tak tenang. "Aku sudah siapkan sopir untukmu. Kamu jangan menyetir sendiri."
Intan hanya mengangguk singkat.
"Aku akan mengantarmu ke teras," lanjut Ilham.
Tanpa berkata apa pun lagi, ia melangkah pergi ke teras, diikuti Ilham. Udara malam langsung menyambut, sedikit dingin tapi menenangkan. Di dalam dadanya, Intan menahan rasa yang sulit untuk ia uraikan, antara kecewa, terbiasa, dan lelah.
Di teras, mobil sudah menunggu. Intan melangkah masuk, meninggalkan rumah besar itu dengan segala kesunyian juga Ilham yang masih saja menatap dirinya.
Hening mengambil alih suasana di sepanjang perjalanan Intan. Deru mesin dan suara klakson dari kejauhan seolah meredup. Intan diam, tenggelam dalam pikirannya yang berkeliaran tanpa arah.
Ia duduk bersandar di kursi penumpang belakang, Pandangannya mengarah ke jendela, memerhatikan deretan bangunan dan lampu lalu lintas yang berlalu cepat. Namun sesungguhnya ia tidak benar-benar fokus pada pemandangan itu. Pikirannya melayang, dipenuhi oleh perasaan yang sulit ia definisikan.
Drrtt...
Dering dan getaran ponsel di dalam tasnya memecah keheningan. Intan tersentak kecil, lalu menunduk. Ia membuka tas kecil yang terletak di pangkuannya lalu mengambil ponsel dari dalamnya. Saat layar ponselnya menyala tertera satu nama yang sangat ia kenal, Davina.
Ada pesan masuk dari sahabatnya. Intan membuka pesan itu. Sang sahabat mengirim pesan agar mereka bertemu di lobi. Intan menghembuskan napas pelan sebelum jemarinya menari di atas layar untuk membalas pesan singkat tersebut. Setelah itu ia kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Perjalanan terasa semakin panjang. Hampir satu jam ia berkutat dengan kemacetan yang seolah tak berujung. Intan sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, rasa tidak sabar mulai merayap, bercampur dengan perasaan gugup yang semakin nyata.
Akhirnya mobil yang membawanya memasuki area hotel bintang lima. Lampu-lampu di lobi memancarkan cahaya keemasan, menciptakan kesan mewah sekaligus dingin. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang penjaga hotel segera menghampiri dan membukakan pintu dengan senyum profesional.
Perlahan Intan turun dari mobil. Angin malam langsung menyambutnya, membawa hawa dingin yang menyelinap ke kulit. Ia merapikan gaunnya yang sedikit kusut karena perjalanan panjang, kemudian menarik napas sejenak seolah menata kembali ketenangan hatinya. Setelah itu ia melangkah ke lobi dengan langkah mantap, punggung tegak, dagu terangkat. Intan terlihat begitu anggun, meskipun di balik ketenangannya ada beban yang ia sembunyikan dengan rapi.
Intan berhenti melangkah dan kembali membuka tasnya, berniat untuk menghubungi Davina. Namun sebelum ia sempat melakukannya, mobil sahabatnya lebih dulu muncul. Senyumnya mengembang melihat sang sahabat turun dari mobil. Rasa hangat menjalar di dadanya, sedikit mengusir kegelisahan yang sejak tadi mengendap.
"Hai, sudah lama?" tanya Davina ceria.
Keduanya saling memeluk dan mencium pipi satu sama lain dengan akrab.
"Tidak, aku juga baru sampai," jawab Intan ringan.
"Ayo masuk?" ajak Davina.
Intan mengangguk, tetapi langkahnya tertahan. "Tunggu? Mana suamimu? Apa dia tidak ikut?"
Davina menghela napas pelan. "Tidak, dia mendadak harus ke luar kota."
"Oh, okey."
Keduanya lantas berbalik masuk ke dalam hotel, tetapi kedatangan seseorang membuat langkah mereka terhenti. Keduanya sama-sama berbalik. Sebuah mobil mewah berwarna putih, besar, dan tentunya keluaran terbaru berhenti di depan mereka. Mobil itu terparkir angkuh seolah sengaja mencari perhatian.
Kening keduanya mengernyit, mata mereka sama-sama menyipit, ada sedikit rasa penasaran siapa yang ada di dalam mobil itu?
Akan tetapi, rasa penasaran perlahan berubah menjadi firasat buruk.
Pintu mobil terbuka.
Seorang wanita turun dengan langkah percaya diri, wajahnya dipoles sempurna, senyum tipis terpatri di bibirnya. Intan dan Davina mendengus hampir bersamaan saat mengenali sosok itu.
Talia.
Pandangan Intan langsung bertemu dengan mata Talia. Tak ada sapaan hangat, hanya tatapan tajam penuh ketidaksukaan. Udara di sekitar mereka terasa mengeras, seolah suhu mendadak turun beberapa derajat.
Tanpa langkah sungkan, Talia melangkah mendekat.
"Hai, Mba. Apa?" sapa Talia dengan senyuman miring. Nada suaranya manis tetapi sarat ejekan.
"Kabarku baik," jawab Intan tenang. "Tapi setelah kedatanganmu kabarku jadi buruk. Kamu membawa aura buruk."
Davina menahan tawa mendengar ucapan sang sahabat.
Talia merasa tersinggung dengan ucapan Intan, rahangnya mengeras sesaat. Namun ia berusaha menyembunyikan meskipun tidak terlalu berhasil. Senyumnya kembali mengembang, ada kilatan licik di matanya. Talia merasa punya senjata untuk menyerang balik.
"Mbak, sebentar lagi kita akan jadi satu keluarga loh?" ucap Intan dengan nada dibuat manja.
"So?" balas Intan singkat. Ekspresinya dingin dan muak.
"Aku harus mengatakan ini agar tidak ada rahasia di antara kita," lanjut Talia.
Kening Intan mengernyit. Dadanya terasa mengencang. Ia tahu, apa pun yang akan keluar dari mulut Talia bukanlah sesuatu yang baik dan Intan sudah bersiap untuk itu.
"Kamu lihat mobil yang aku naiki, bukan?" tanya Talia sambil melirik mobil di belakangnya lalu kembali menatap Intan, ingin melihat reaksi kakak sepupunya itu. "Itu mas Ilham loh yang belikan."
"Lalu?" balas Intan datar seolah berita itu tak berati apa-apa baginya.
"Mobil itu sangat mewah dan mahal," lanjut Talia, nada suaranya meninggi penuh kebanggaan. "Mas Ilham sengaja membelikan mobil itu agar aku dan bayi kami merasa nyaman." Talia tersenyum puas. "Aku harap kamu jangan merasa iri."
Intan mendengus lantas maju satu langkah ke hadapan Talia, jarak mereka kini begitu dekat. Tatapannya tajam, menusuk, membuat Talia refleks menegakkan tubuh.
"Iri itu untuk orang yang levelnya jauh di atas kita," ucapnya dingin "Dan sayangnya, level kamu berada di ujung kakiku. Jadi … iri sama kamu itu hal yang mustahil!"
Wajah Talia menegang. Ia menekuk kedua tangannya di depan dada, menatap Intan dengan senyum remeh yang dipaksakan. "Yakin?"
"Dengar ya, Mba," kata Talia. "Aku dan mas Ilham belum menikah, tapi dia lebih sayang aku dari pada Mba. Jadi siap-siap saja, saat aku menikah dengan mas Ilham ... kamu hanya akan dijadikan sampah olehnya."
"Kamu—"
Bukan Intan yang beraksi, melainkan Davina. Wajah Davina memerah, amarah jelas terpancar di matanya. Ia melangkah maju, siap membalas hinaan Talia, namun tangan Intan lebih dulu menahan lengannya.
"Jangan kotori tanganmu untuk sampah seperti dia," ucap Intan tenang. "Lebih baik kita pergi dari sini."
Davina menatap Intan sejenak, melihat ketegaran yang dipaksakan di wajah sahabatnya. Ia mengangguk lalu menggenggam tangan Intan erat. Keduanya berbalik meninggalkan Talia di belakang mereka. Talia berdiri dengan senyum tipis tak sepenuhnya puas tapi juga tak sepenuhnya tenang.
Sementara Intan pergi dengan langkah mantab, meskipun badai dalam dirinya sedang mengamuk. Ia menolak memberi kepuasan pada siapa pun untuk melihatnya runtuh.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️