Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CARA MENGHADIRKAN DAN KEHADIRANNYA

Pintu kamar Kirana sudah tertutup pelan. Suasana ruang tamu kembali sunyi, hanya menyisakan suara gemericik air dari dalam akuarium di sudut ruang keluarga.

Waluyo menoleh kepada Sutami. "Kau bawa Dara ke kamar dulu," ucapnya dengan suara berat. "Biar aku bicara dengan Arka."

Sutami mengangguk pelan. Ia mengerti, ini adalah urusan darah daging yang tidak seharusnya ia campuri. Ia membawa Dara masuk, meski matanya masih menatap punggung Arka dengan rasa cemas.

Waluyo berjalan sambil menatap putra sulungnya. "Masuk ke ruang kerja Ayah."

Arka mengangguk, lalu mengikuti langkah sang ayah.

Arka tidak duduk. Ia berdiri di depan meja kerja Ayahnya. Waluyo duduk di kursinya. Dua lelaki dengan watak yang sama keras dan tidak banyak bicara, kini saling berhadapan.

"Ayah tahu kenapa Kirana seperti itu?" Arka membuka pembicaraan. Suaranya datar, tanpa emosi.

Waluyo menghela napas panjang. "Ayah tahu. Ayah mengerti dia masih terluka. Ibumu baru satu bulan berpulang. Ayah tidak menyangka kehadiran Sutami akan sesakit ini baginya."

"Bukan hanya soal kehadiran," potong Arka. "Tapi soal cara Ayah menghadirkannya."

Waluyo menatap tajam. "Apa maksudmu?"

Arka mengepalkan tangannya di samping tubuh, seolah sedang mengendalikan sesuatu agar tak tumpah. "Ayah menikah tanpa bicara dengan kami. Ayah membawa perempuan yang wajahnya mirip sekali dengan Ibu ke dalam rumah ini, tanpa persiapan apa pun. Ayah bahkan membawanya ke sekolah Dara dan berfoto sebagai pasangan. Apa Ayah pikir kami sudah siap melihat itu?"

"Arka, Ayah melakukan ini demi Dara! Kau tahu sendiri kondisinya... dia butuh sosok ibu!" jawab Waluyo, suaranya mulai meninggi.

"Dara butuh ibu, aku tahu," jawab Arka dengan tenang, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar menusuk. "Tapi Kirana juga butuh ibunya. Dan Kirana masih ingat bagaimana ibunya meninggal di depan matanya sendiri sebulan yang lalu. Apa Ayah lupa?"

Waluyo terdiam. Kalimat itu menghantamnya tepat.

Arka melanjutkan, kali ini suaranya sedikit melunak, tetapi keputusannya sudah bulat. "Karena itu aku sudah memutuskan, Yah."

Waluyo mengernyit. "Memutuskan apa?"

"Aku sudah memiliki apartemen di pusat kota. Bulan lalu serah terimanya sudah selesai. Aku akan pindah," ujar Arka.

Waluyo berdiri terkejut. "Apa? Kau mau pindah?"

"Bukan hanya aku," lanjut Arka menatap lurus pada Ayahnya. "Aku akan membawa Kirana bersamaku."

"Arka!"

"Ini bukan karena aku membenci Ayah. Bukan karena aku tidak menghormati keputusan Ayah," ucap Arka dengan tegas. "Aku harus melakukan ini agar semua waras, Yah."

Ruang kerja itu hening seketika. Waluyo terdiam dengan kedua tangan terkepal, bertumpu diatas meja, sedang mencerna semua ucapan Arka.

"Agar Kirana bisa tenang. Agar dia tidak harus melihat wajah yang terus mengingatkannya pada luka ibunya setiap hari. Agar mental Dara juga tidak rusak karena setiap hari harus melihat kakaknya bertengkar dengan Ayahnya."

"Kau mau memisahkan keluarga ini?!" tuduh Waluyo.

"Bukan aku yang memisahkan," jawab Arka dingin. "Keluarga ini sudah terpisah sejak Ayah memutuskan untuk membawa perempuan itu ke rumah ini tanpa persetujuan kami. Aku hanya berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan."

Waluyo terdiam dalam kekalahan lagi. Ia menatap putranya yang kini terlihat jauh lebih dewasa daripada usianya.

Di luar ruang kerja, Sutami yang tanpa sengaja mendengar percakapan itu dari balik pintu, menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya kembali jatuh. Ia semakin sadar, kehadirannya telah membuat rumah ini berada di ambang perpecahan.

Malam ini berlalu dengan berat, semua orang di rumah itu tak bisa tertidur dengan nyaman. Semua memiliki rasa sakit yang sama.

........

Keesokan harinya, Sutami tetap bangun seperti biasa, membantu mbak Rini menyiapkan sarapan, lalu menyiapkan Dara yang tanpa takut tetap ingin pergi ke sekolah.

Sutami menggandeng Dara dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang tas kecil berisi bekal dan sebuah buku bacaan. Ia mengenakan dress bermotif bunga kecil-kecil berwarna dasar putih gading dan rambut panjangnya ia ikat tinggi. Penampilan sederhana tapi terlihat rapi dan elegan.

Begitu ia melangkah masuk ke lobi sekolah, semua mata tertuju padanya.

Lobi yang biasanya ramai oleh obrolan ringan para wali murid, mendadak menjadi lebih pelan. Bisik-bisik mulai terdengar. Sutami mencoba untuk tidak peduli. Ia tetap melangkah ringan mengantar Dara sampai ke depan pintu kelas, mencium keningnya, dan berbisik, "Dara ingat pesan ibu, Jika ada teman yang berkata tak baik, balasnya dengan membaca buku dongeng ini keras-keras. Oke?"

Dara mengangguk, "Iya, Bu."

"Bagus, Ibu tunggu di sana, ya?" pamitnya menunjuk ke arah lobi.

Baru saja Sutami tiba di lobi dan hendak duduk di bangku tunggu, tiga orang ibu-ibu sudah berdiri tidak jauh darinya. Yang paling depan adalah Bu Lita, orang tua Riko, yang memang dikenal sebagai biang gosip di sekolah itu.

Sutami memilih duduk di bangku paling ujung. Ia menunduk berusaha fokus membaca buku.

Namun sindiran itu dimulai keras-keras dan disengaja. "Dia benar-benar hebat, dia ibu tiri yang sama persis seperti di film-film itu," ucap Bu Lita dengan suara yang dibuat melengking agar semua orang mendengar. Matanya menatap lurus ke arah Sutami.

"Benarkah? Jadi dia ibu tiri yang jahat dong?" sahut Bu Santi, temannya, sambil menutup mulut dan tertawa sinis.

"Ya, ibu tiri kan memang begitu. Rela melakukan apa saja demi bisa menguasai seisi rumah suaminya, mungkin juga hartanya! Lihat saja, baru satu bulan istri sahnya meninggal, eh dia sudah masuk dan menguasai...." tambah Bu Lita lagi dengan akhir kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung.

"Iyuuh! Seramnya!" timpal yang lain.

Darah Sutami berdesir, jantungnya berdegup sangat kencang. Tangannya yang memegang buku mulai berkeringat dingin. Ia berusaha mengatur napas. 'Tarik napas, embuskan. Jangan dengarkan... jangan dengarkan!' batinnya menguatkan diri sendiri.

"Dia sudah berhasil membuat anak-anak tirinya terpecah belah, hebat kan dia? Bahkan anak dari suaminya mau minggat! Ya ampun, entah bagaimana perasaan orang tua yang sudah mendidiknya kalau tahu kelakuan anaknya seperti itu!" lanjut Bu Lita lagi semakin kejam.

Kali ini, salah satu wali murid yang lebih muda, Mama Kenzi, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya bertanya dengan suara pelan namun cukup terdengar, "Bagaimana kau bisa tahu sedetail itu tentang situasi rumah Juragan Waluyo?"

Itulah pertanyaan yang juga ada di benak Sutami.

Bu Lita tersenyum penuh kemenangan karena merasa menjadi pusat perhatian. "Ada deh, pokoknya aku punya sumber terpercaya!" jawab Bu Lita sambil berkedip. "Sumber di dalam rumah itu sendiri! Jadi semua ceritaku ini valid, bukan karangan!"

Darah Sutami seketika terasa berhenti mengalir. Kepalanya kembali berbisik riuh. 'Siapa sumber terpercaya Bu Lita? Mungkinkah Mbak Rini? Ah, tapi rasanya itu tidak mungkin, dia orang baik, dia sangat menyayangiku dan Dara. Tapi hanya dia satu-satunya yang mungkin... hanya dia yang ada di dalam rumah dan tahu semuanya,' batin Sutami. Pikirannya mulai kalut tak karuan.

Perasaan kalut itu kini bukan hanya karena malu. Ada rasa dikhianati, ada rasa sesak yang begitu menyakitkan. Dadanya seperti diremas kuat-kuat, membuat napasnya terasa pendek-pendek. Rasanya ingin berdiri dan pergi, tapi kakinya terasa lemas. Atau ingin menjawab, tapi sesuatu di benaknya seolah mencegah.

"Hari ini kita juga harus berjaga di sekolah, jangan sampai anak setan itu mengacau anak-anak kita lagi!" seru Bu Lita lagi, kali ini menunjuk sedikit ke arah Sutami.

Cukup. Itu sudah terlalu jauh.

Sutami tidak menyahut. Ia hanya terus menahan diri, menunduk sedalam-dalamnya sambil tetap pura-pura membaca. Namun huruf-huruf di dalam buku itu menjadi buram oleh air mata yang ia tahan mati-matian. Kepalanya berisik sekali, seribu pikiran berputar bersamaan.

'Mereka benar, aku dan wajahku ini memang penyebab kehancuran keluarga itu. Tapi aku... aku harus bagaimana?'

'Waluyo sudah melakukan banyak hal untuk keluargaku. Ia melunasi pengobatan ayahku, dan hutang Kuswara. Aku berhutang budi padanya, aku harus bertahan untuk membalas budinya. Tapi kalau aku bertahan, justru keluarga itu akan semakin hancur!'

Air matanya akhirnya jatuh setetes. Jatuh tepat di atas halaman buku yang ia pegang. 'Mungkin aku yang harus menyingkir sementara waktu. Ya! Itu ide yang bagus. Aku bisa pulang pergi. Aku hanya datang untuk Dara di pagi sampai sore hari, aku tidak perlu menginap di rumah itu. Aku tidak akan tidur di kamar mendiang istri Waluyo lagi. Aku akan tidur di rumah orang tuaku.'

'Tapi... apa alasan yang tepat untuk ibu dan ayahku? Mereka pasti bertanya, kenapa aku pulang setiap hari, padahal aku sudah menikah? Mereka pasti akan curiga.'

'Bagaimana kalau mereka sedih karena pada akhirnya tahu jika pernikahanku dengan Waluyo tidak lebih dari sebuah perjanjian? Pernikahan tanpa cinta, hanya karena uang dan balas budi? Bagaimana kalau mereka tahu aku dihina seperti ini di sekolah? Ibu pasti akan sangat terluka.'

Pikiran itu membuat sesaknya semakin menjadi. Ia berada di persimpangan yang benar-benar menyesakkan. Bertahan, ia menyakiti Kirana dan Arka. Pergi, ia menyakiti orang tuanya dan mengkhianati budi baik Waluyo.

Di tengah lobi yang ramai, di tengah tatapan sinis dan bisikan kejam, Sutami duduk sendirian. Memeluk bukunya. Menahan tangis yang hampir meledak. Menunggu bel pulang sekolah berdentang, agar ia bisa membawa Dara dan pergi dari tempat yang terasa seperti neraka baginya hari itu.

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!