Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran Yang Menyakitkan
"Jangan keras kepala, Mawar!" Mata Bima menatap tajam, amarah bercampur ancaman yang nyata meledak dari balik manik matanya yang gelap.
"Kau sedang mengandung darah dagingku. Kau sama sekali tidak punya pilihan lain selain menikah denganku. Lagipula, coba pikirkan baik-baik, pria waras mana yang masih bersedia menikahimu dalam kondisi seperti ini?"
Jari-jari Bima mencengkeram lengan Mawar semakin kuat, menekan dalam ke daging lembut di balik pakaian hingga meninggalkan jejak kemerahan yang nyata. Rasa perih itu menjalar cepat, namun yang terasa jauh lebih menyakitkan adalah kata-kata yang barusan terucap, tajam, dingin, dan penuh penghinaan, seolah Mawar bukan manusia, melainkan sekadar beban yang harus disembunyikan.
Mawar meringis menahan sakit, dadanya sesak menahan dua rasa sekaligus: sakit fisik yang menusuk, dan luka batin yang jauh lebih perih. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, ia menghempaskan tangan Bima sekuat tenaga hingga pria itu mundur selangkah, terkejut melihat keteguhan yang tiba-tiba menyala di wajah gadis itu. Mawar segera bergerak mundur, punggungnya menabrak dinding yang dingin, tak ada lagi jalan lari ke belakang. Ia menatap lurus ke arah Bima, matanya berkaca-kaca namun tak satu pun bulu mata yang jatuh.
"Lebih baik aku menghabiskan sisa hidupku sendirian dan tidak pernah menikah!" suara Mawar bergetar, namun tegas, memantul di ruangan yang remang itu.
"Asalkan aku tidak harus menjadi wanita kejam yang merebut suami kakakku sendiri! Aku tidak akan pernah berbuat hal hina seperti itu!"
Kata-kata itu seolah membakar harga diri Bima. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol jelas di balik kulit yang tegang. Ia melangkah maju lagi, jarak di antara mereka menyusut hingga Mawar bisa merasakan hawa panas tubuh pria itu, napasnya yang berat dan penuh ancaman.
"Jika kau menolak menikah denganku, lalu apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" bentaknya, suara rendah namun bergema, penuh amarah yang tertahan.
"Kenapa tadi kau berteriak di depan semua orang bahwa anak dalam kandunganmu adalah anakku? Kenapa kau tidak bilang saja kalau anak itu milik Gala? Apa kau bermaksud menjebakku? Atau ada tujuan tersembunyi lain yang kau cari?"
Tanpa menunggu jawaban, tangan besar Bima bergerak cepat, mencengkeram rahang Mawar dengan kekuatan penuh, memaksa wajah gadis itu mendongak menatapnya. Mawar meringis kesakitan, air mata seketika membanjiri matanya karena rasa sakit yang luar biasa, tulang-tulang di wajahnya terasa seperti hendak patah di genggaman tangan yang kasar itu.
"Lepaskan… Sakit…" rintih Mawar, namun ia berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya, menatap lurus ke manik mata pria itu tanpa berani memalingkan wajah sedikit pun.
"Jangan pernah kau libatkan Gala dalam masalah ini! Dia tidak tahu apa-apa, dia tidak bersalah!"
"Lalu apa yang kau inginkan?" amarah Bima memuncak kembali, genggamannya tak sedikit pun melonggar.
"Aku tidak ingin apa-apa darimu! Aku hanya ingin kau berani mengakui kesalahanmu di depan Ibu dan Kak Jingga! Katakan pada mereka bahwa kau yang memaksaku, jangan biarkan aku terus dianggap wanita nakal yang merusak rumah tangga orang lain!"
Mawar mulai kehilangan kendali atas emosinya. Kedua tangannya mengepal erat, memukul dada bidang Bima berulang kali, pukulan yang terasa lemah bagi pria itu, namun penuh keputusasaan yang menyayat hati.
"Kau yang menghancurkan segalanya! Kenapa aku yang harus menanggung malu dan beban ini sendirian?" tangis Mawar akhirnya pecah, meledak bersama segala rasa takut, sakit, dan perih yang selama ini dipendam sendirian.
Bima menahan kedua pergelangan tangan Mawar dengan satu tangannya saja, menekannya kuat hingga gadis itu tak bisa bergerak sedikit pun. Di detik berikutnya, senyum sinis mengerikan terukir di bibirnya, senyum yang membuat bulu kuduk Mawar meremang.
"Itu sama sekali tidak mungkin, Mawar. Tidak akan pernah kulakukan," ucap Bima dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Kalau aku mengakui semua kejadian itu, Jingga pasti akan hancur hatinya. Dia akan menceraikanku, dan aku akan kehilangan segalanya. Nama baik, harta, serta posisi yang kumiliki sekarang, semuanya akan lenyap. Apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaan kakakmu? Apa kau tega menyakiti hatinya sedalam itu?"
"Perasaan kakakku?" Mawar tertawa pahit di sela isak tangisnya, suara itu terdengar hancur namun penuh keberanian.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan masa depanku yang sudah kau renggut dengan paksa malam itu? Kenapa kau hanya bicara soal perasaan Kak Jingga, tapi menganggap perasaanku tak berharga sama sekali?"
Tubuh Mawar perlahan melorot jatuh ke lantai yang dingin. Kakinya tak sanggup lagi menahan beban duka yang begitu berat. Ia berlutut di sana, bahunya berguncang hebat, air mata menetes membasahi lantai keramik yang dingin, tak ada satu pun yang mendengar, kecuali pria yang justru menjadi sumber lukanya.
Melihat kondisi Mawar yang sudah tak berdaya, sikap Bima berubah drastis seketika. Ia melepaskan cengkeramannya, berjongkok tepat di hadapan gadis itu, dan sepasang tangannya yang tadi kasar kini bergerak lembut, mengusap punggung Mawar perlahan seolah sedang membujuk anak kecil yang ketakutan.
"Sudahlah, jangan menangis begitu. Tenanglah," bisik Bima lembut, nada bicaranya berubah menjadi halus dan menenangkan, namun bagi Mawar, itu terdengar jauh lebih menakutkan daripada bentakan tadi.
"Aku tahu kau sedang bingung dan takut. Tapi percayalah, aku punya jalan keluar yang paling baik untuk kita semua, termasuk untuk masa depan anak ini."
Bima menangkup wajah Mawar dengan kedua tangannya, memaksanya mendongak. Matanya menatap tajam namun suaranya tetap lembut, seolah sedang merangkai jaring perlahan-lahan.
«Bayangkan saja, kalau kita menikah, anak ini akan lahir dalam keluarga yang utuh. Kau akan hidup nyaman, terhormat, tidak ada yang berani menatapmu sinis. Jingga… dia kuat, dia akan bisa melupakanku. Tapi kau, Mawar kau membutuhkanku. Anak kita membutuhkan ayahnya."
Mawar menepis tangan Bima dengan gemetar, mundur sedikit hingga punggungnya kembali menyentuh dinding. "Itu bukan cinta, bukan kebahagiaan… Itu hanya kepura-puraan. Dan aku tidak mau hidup dalam kebohongan seperti itu."
Bima tersenyum tipis, senyum yang mengandung ancaman samar. "Kau akan berubah pikiran, Mawar. Saat kenyataan mulai datang, saat perutmu semakin membesar, saat orang-orang mulai berbisik-bisik di belakangmu, kau akan sadar bahwa tidak ada yang akan menerimamu selain aku."
Bima berdiri perlahan, merapikan pakaiannya seolah tidak baru saja melakukan hal yang keji, lalu berbalik menuju pintu. "Pikirkan baik-baik tawaranku. Aku akan menunggu sampai kau sadar mana yang benar-benar untuk kebaikanmu."
Langkah kakinya menjauh, pintu tertutup perlahan, meninggalkan Mawar sendirian di ruangan itu, gemetar, menangis, namun di tengah segala kesedihan itu, secercah kekuatan baru mulai tumbuh di dadanya yang hancur. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan membiarkan kebenaran dikubur begitu saja.
***
Di balik celah pintu yang sedikit terbuka, sosok Jingga berdiri mematung. Kakinya terasa berat seolah tertanam di lantai, napasnya tertahan di tenggorokan, sekujur tubuhnya kaku tanpa darah. Ia datang ke ruangan itu karena ingin menenangkan sang adik, ingin memastikan bahwa tuduhan itu hanyalah kesalahpahaman semata, namun justru di sana, ia mendengar segalanya. Setiap kata, setiap rintihan, setiap kebohongan yang diucapkan pria yang dicintainya.
Tangan kanannya terkepal erat hingga kuku menancap dalam ke telapak tangan, meninggalkan jejak merah yang dalam, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang sedang mengoyak dadanya. Pria yang selama ini ia percaya, ia lindungi, ia banggakan, ternyata dialah penjahatnya. Dialah yang mencuri kesucian adiknya, yang kini mencoba memutarbalikkan keadaan demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Dunia Jingga seakan runtuh seketika. Semua kenangan manis, janji-janji setia, perhatian yang tulus, semuanya kini tampak pucat dan menjijikkan, berubah menjadi topeng yang menyembunyikan wajah asli yang kejam. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan agar isak tangisnya tidak terdengar keluar, bahunya berguncang pelan meski tak ada air mata yang jatuh. Rasa sakitnya begitu dalam hingga ia tak sanggup lagi menangis.
Perlahan, Jingga melangkah mundur, menjauh dari pintu itu, tidak ada suara, tidak ada keluhan, hanya langkah yang berat dan goyah. Sesampainya di kamar, ia menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana, lalu akhirnya meluruh ke lantai yang dingin, sendirian dalam kegelapan yang menelan segalanya.
Malam itu, tak ada yang tidur tenang di rumah itu. Di balik pintu-pintu tertutup, hati-hati yang terluka mulai merangkai kekuatan untuk menghadapi hari esok yang tak akan sama lagi.
Bersambung…