Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
La Vie en Rose
Satoru menatap wajah cantik Alethea yang tampak menikmati malam ini. Dia juga melihat bagaimana mata biru wanita itu tampak berbinar saat ada pasangan suami istri yang sudah tua, mendapatkan surprise dari tim restaurant.
Satoru pun ikut menoleh dan melihat pasangan yang sudah memutih rambutnya itu, mendapatkan cake dari manajer karena sang wanita sedang berulang tahun. Keduanya tampak bahagia dan ada lagu 'Happy Birthday' dari band yang berada di sana.
"Suaminya tampak bahagia karena istrinya masih bersamanya setelah sekian lama," ucap Alethea. "Dulu aku dan Toshiro selalu membayangkan seperti itu."
Satoru bisa melihat wajah murung Alethea. Matanya tampak sendu karena apa yang dia impikan tidak sesuai dengan kenyataan.
"Mungkin kamu akan seperti itu tapi tidak bersama Toshiro, tapi bersamaku," jawab Satoru membuat Alethea menoleh cepat.
"Satoru, kalau kamu ...."
"Aku serius. Aku akan menua bersamamu, Thea." Mata Satoru menatap serius ke Alethea.
Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu tersenyum. "Kamu itu ... Terkadang aku suka bingung. Satu sisi kamu seperti kanebo kering yang tidak tahu harus bagaimana menghadapi seorang wanita tapi sisi lain, kamu tipe orang yang serius. Entah bagaimana jika kita hidup bersama? Apakah aku akan harus terus mengelus dada menghadapi kamu yang ... Moody?"
"Otousan aku sudah bilang padamu bukan? Kalau aku orangnya moody?" tanya Satoru.
"Iya benar tapi kan ...." Alethea menghentikan ucapannya dan mendengar suara musik lembut. "Waltz no 2."
"Hmm?" Satoru memandang Alethea dan menoleh ke arah pasangan lanjut usia itu.
"Lagunya itu. Judulnya Waltz no 2 dari Dmitri Shostakovich," jawab Alethea.
Keduanya berdansa waltz dengan mesra. Satoru melongo bagaimana mereka berdansa yang cukup ... sulit baginya. Alethea tampak berbinar melihat mereka berdua.
"Kamu bisa berdansa, Satoru?" tanya Alethea.
"Tidak," jawab Satoru pendek sambil menyesap anggurnya.
Lagu pun berubah menjadi lagu klasik La Vie en Rose. Satoru melihat beberapa pengunjung mengajak pasangannya untuk berdansa. Dia melihat wanita itu tampak senang melihat pasangan yang makan disana, berdansa bersama.
Satoru pun berdiri dan mengulurkan tangannya. Alethea terkejut. "Ada apa Satoru?"
"Maukah kamu berdansa denganku?" tanya Satoru.
Alethea menatap Satoru bingung tapi tetap tangan pria itu dia terima. "Tentu saja."
Satoru dan Alethea menuju area dansa lalu pria itu memeluk pinggang rampingnya. Tangan Satoru memegang tangan Alethea dan mereka mulai berdansa.
Lagu La Vie en Rose dari lagu terkenal yang dipopulerkan oleh Édith Piaf pada tahun 1940-an. “La Vie en Rose” adalah ungkapan bahasa Prancis yang berarti “Hidup dalam warna merah muda” atau secara lebih puitis, “Melihat kehidupan melalui kacamata cinta.”
Apa makna romantisnya? Lagu La Vie en Rose menggambarkan seseorang yang melihat dunia menjadi lebih indah ketika sedang jatuh cinta. Kehadiran orang yang dicintai membuat hidup terasa hangat, penuh kebahagiaan, dan seolah-olah semua hal buruk menghilang untuk sementara.
Begini kira-kira visualnya
Alethea tersenyum manis karena ternyata Satoru bisa berdansa! Mereka berdansa diiringi lagu Perancis oldies yang masih tetap relevan menjadi lagu dansa di masa sekarang.
"Aku tidak tahu kamu bisa berdansa," ucap Alethea.
"Hanya sekedar goyang pinggul dan langkah kaki, bisa lah," jawab Satoru membuat Alethea ingin menjewer telinga pria itu lagi.
Usai lagu La Vie en Rose usai, tiba-tiba lagu Be My Baby dari The Ronettes mengalun. Dansa pun berubah menjadi lebih ceria.
"I'll make you happy, baby, just wait and see
For every kiss you give me, I'll give you three
Oh, since the day I saw you
I have been waiting for you
You know I will adore you 'til eternity
So won't you, please (be my, be my baby)
Be my little baby? (My one and only baby)
Say you'll be my darlin' (be my, be my baby)
Be my baby now (my one and only baby)
Whoa-oh-oh-oh," dendang Satoru sambil berdansa dengan Alethea.
"Aku tidak tahu kalau kamu tahu lagu ini," kekeh Alethea.
"Well, aku nembak kamu ini," senyum Satoru.
Alethea tertawa. Lalu dia memeluk Satoru dan mencium bibirnya. "Aku tidak tahu bagaimana tapi kamu adalah pria yang unik."
"Aku seniman. Jadi ada sisi uniknya," jawab Satoru sambil memeluk pinggang Alethea.
Keduanya saling berpandangan dan lagu pun habis. Mereka melihat sekelilingnya, para pasangan sudah kembali ke meja masing-masing. Satoru lalu menggandeng tangan Alethea dan kembali ke meja mereka.
"Terima kasih," ucap Alethea.
"Kenapa?"
"Sudah berusaha menjadi pria romantis," senyum Alethea.
"Perlu effort ini," cengir Satoru.
Alethea tertawa kecil. "Apa kamu yakin dengan janda ini?"
"Apa kamu yakin dengan pria tidak jelas mood nya ini?" balas Satoru.
Keduanya saling tertawa setelahnya. Mereka melanjutkan acara makannya ketika pelayan menawarkan hidangan penutup, Satoru dan Alethea kompak memesan tiramisu.
Band sudah selesai manggung dan tinggal lagu-lagu yang mengalun lembut dari speaker restoran. Alethea menatap Satoru sambil mengucapkan terima kasih saat tiramisu diantarkan.
"Aku baru tahu, ada temanya di restoran ini. 40s and 50s. Pantas lagunya jadul semua," ucap Alethea.
"Masih bisa dinikmati bukan?" ujar Satoru.
"Lagu jadul apa yang kamu suka?" Alethea menopangkan dagunya di atas tangannya.
"Moon River. Bisa dibilang karena Mommy. Kamu tahu, dulu Mommy sempat keguguran adikku. Benar-benar mengalami depresi pasca itu. Otousan berusaha membangkitkan semangat Mommy. Dan setiap Mommy down, Otousan selalu mengajak berdansa dengan lagu itu. Intinya Otousan tetap menyentuh, memeluk dan memberikan rasa aman ke Mommy. Akhirnya Mommy bisa menerima situasinya seperti halnya kenyataan tidak bisa hamil lagi setelah aku," jawab Satoru.
"Kamu umur berapa itu?"
"Empat tahun saat Mommy keguguran. Mommy orangnya sangat sensitif dan mudah overthinking. Aku bersyukur, Otousan sangat paham dengan karakter Mommy. Jika kamu melihat Mommy sekarang, itu karena dukungan Otousan. Tidak mudah mengahadapi mood seorang seniman. Mommy bisa tidak keluar dari studio cukup lama kalau sudah konsentrasi melukis," senyum Satoru sambil memakan tiramisunya.
"Kamu tidak merasa kesepian kalau Mommy kamu seperti itu?" tanya Alethea.
"Terkadang. Tapi Mommy selalu berusaha mengganti hari-hari yang terbuang. Kami piknik di taman, Mommy selalu datang di acara sekolah aku, dan sebisa mungkin berusaha kami tetap dekat. Otousan juga. Sesibuknya dia, Otousan selalu ada. Kami ke bengkel bersama, membetulkan mobil, membuat prakarya dan perabotan bersama. Bahkan kami piknik dengan memancing ikan di danau. Aku tidak kekurangan kasih sayang, Thea, hanya saja cara mereka sangat ... Unik."
Alethea bisa paham darimana karakter Satoru dibentuk. "I see."
"Jika kamu sudah selesai, kita pulang," ucap Satoru.
***
Yuhuuuu up pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
dan setelah ini Thea bakalan lebih kapal mood-nya Satoru
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia