Novel ini mengkisahkan perjuangan seorang gadis berkulit hitam.
Nafhisa (21),gadis pulau yang memperjuangkan cintanya demi janin yang ada di rahimnya.
Saat cinta mereka saling menyatu.Justru mahligai rumah tangga mereka terhalang sebuah tembok yang besar.
Tembok restu dari sang mamah bernama Keyla.Keyla melakukan berbagai cara untuk memisahkan Nafhisa dan Devan(28).
Tragisnya,saat mereka mulai memutuskan hidup bersama.Devan justru meninggal dunia karna Fellina tidak terima Devan memilih Nafhisa di banding dirinya.
Nafhisa yang menghindar dari orang suruhan Fellina terpaksa meninggalkan kotanya.Dia pergi bersama anak kembarnya bernama Vano dan Vani.
Di kota baru inilah,Nafhisa di pertemukan dengan seorang angkatan darat bernama Devin (33) yang merupakan saudara kembar suaminya.
Vano, sang anak yang tak terima Ayahnya meninggal.Bahkan ia mengira bahwa Devin adalah Ayahnya.
Mungkinkah mereka bisa bersama?
Saksikan bab berikutnya...
jangan lupa like,comment n klik lovenya supaya gak ketinggalan updatenya..🤭🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke Rumah
Setelah mengutarakan rasa penyesalan terdalam.Nathan pergi meninggalkan mereka.Dia tak ingin Devin mengenal dekat dengannya.
Devin datang memandang istrinya.
"Isah,apa sudah siap untuk pulang." tanya Devin memandang Nafhisa yang mengenteng tasnya.
"Berikan tas itu pada masmu ini?" pinta Devin terkekeh.Devin tahu tak mudah Nafhisa terbiasa dengan status baru.
Nafhisa menyerahkan tas kepada Devin.Dia berjalan pada sisi bu Chitra.
"Isah...jalannya kog menjauh sama suami?"cetus Chitra berbisik.
"Hehm,,,Isah malu bu."
"Devin kan suami kamu.Tak ada yang perlu di malukan." kata Chitra menasehati .
"Iya Isah.Kasihan tuh!Devin jalan bergandeng dengan tasnya."sahut Askan melirik Nafhisa yang menekuk.
"Kalian tak usah memaksa Nafhisa seperti itu.Dia kan malu.Aku juga maklumi." kata Devin penuh pengertian.
Nafhisa tertegun dan tak menyangka kalo Devin sangat mengerti pada situasinya saat ini.
"Maaf." Nafhisa melangkah pelan berjalan di samping suaminya.Semua orang yang melihat mereka memujinya
[Wah,beruntung sekali gadis itu.Mendapat suami tampan,tentara lagi.]
[Iya,romantis banget.]
Mendengar ucapan orang di sana.Nafhisa hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa,Isah."
Awalnya Nafhisa tak mengetahui kalo Devin akan menggunakan mobil Dinas untuk menjemputnya.Dia pun berinisiatif untuk menumpang Metha.
"Aku ikut kamu saja ya?" ucap Nafhisa seraya mencari Devin yang menghilang saat Nafhisa ingin menemui Metha.
"Kamu ikut Devin saja.Dia bawa mobil Dinas." ucapnya memberi alasan agar Nafhisa terbiasa dengan hidup barunya.
Nafhisa memandang kedua anaknya yang memanggil dirinya untuk segera naik mobil tersebut.
"Ibu...cepetan!" Vano dan Vani melambai tangan.Keduanya sangat antusias.Mereka ingin menagih janji pada Ayahnya.
Nafhisa beranjak memasuki mobil.Dia merasa sungkan sehingga gerakannya agak lambat.
"Kita mau pulang ke mana?" ucap Nafhisa pelan.
"Untuk sementara ke rumah kontrakan Isah dulu ya?Aku belum sempat mencari rumah baru." pinta Devin melirik Nafhisa yang hanya duduk memandang luaran sana.
"Hehm,baiklah.Aku ikut saja."
Mereka memasuki gang rumah Nafhisa.Mobil pun berhenti tepat depan rumahnya.Nafhisa terlihat senang.Sekian lama ia meninggalkan rumah ini.Dan akhirnya bisa kembali.
"Anak-anak jangan lari-larian!"cegah Nafhisa lalu masuk ke kamar.Dia merasa lelah.Namun mereka tetap berlari hingga membuat Nafhisa terjatuh.
Devin yang melihat kejadian.Dengan cepat menangkapnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Iya,terima kasih." Nafhisa dengan cepat melangkah menuju ke kamarnya.Begitu juga Devin mengikutinya.Devin meletakkan tas dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Pak Devin,mau mandi di sini?"tanya Nafhisa.
"Iya,emangnya kenapa?Kamu lupa?"kekeh Devin memandang Nafhisa gelisah.
"Lupa?Tidak.Cuma kaget saja."
Dia mengisi pakaian ke dalam lemari.Dia ingin membuka tas Devin.Saat ia ingin melihat isinya.Devin keburu datang.
"Maaf,aku membukanya tanpa izin?"lirih Nafhisa takut.
"Kau itu istriku.Tak ada lagi yang harus kau takutkan."
Devin memegang pundak Nafhisa.Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.Dia membuka sebuah kotak perhiasan berisi kalung.Devin menyingkap jilbab panjang Nafhisa hingga terlihat leher putihnya.
"Aku harap kau suka." tutur Devin memandang pantulan keduanya dari cermin.
Nafhisa tersenyum seraya memegang kalung tersebut.
"Terima kasih."
"Terima kasih saja tidak cukup." ucap Devin terkekeh.
Kemudian Vano dan Vani menghampiri mereka.
"Ayah!" sapa keduanya sambil memeluk Devin.Devin sangat mengerti pada anak kembarnya ini.Devin juga memberikan hadiah berupa jilbab dan mainan.
"Aku senang kalo Ayah masih ingat sama kami juga." puji Vani memakai jilbab dan menunjukkan kepada orang tuanya.
"Iya aku juga." ujar Vano bermain mobil remotenya.
"Bilang apa?" kata Nafhisa menegur kedua anak kembarnya.Nafhisa akui,tidak sulit Devin untuk membiasakan diri menjadi sosok Ayah pengganti buat mereka.Justru Nafhisa yang sulit untuk membiasakan status barunya saat ini.
"Isah,kenapa melamun?"lirih Devin memandang raut Nafhisa.
"Isah tak menyangka bahwa ini akan terjadi.Mereka menemukan sosok mas Devan di Pak Devin.Isah merasa terharu dan terkesan.Meski mereka bukan anak kandung tapi Pak Devin mampu mengambil hati mereka secepat ini." lirih Isah berkaca.Tanpa sadar manik mata kristalnya jatuh.
Devin mengusap air mata Nafhisa lalu mendekapkan dalam bidang dadanya.
"Saya janji!Akan menjadi suami dan imam yang baik buat kamu.Saya tahu,selama ini kamu tak bahagia dan selalu saja menderita karna ulah mereka," lirih Devin mengusap puncak kepala istrinya.
"Terima kas__sih," ucap Nafhisa tersenggal senggal.
"Mulai sekarang panggil saya mas.Jangan Pak Devin lagi."
Nafhisa melepas pelukan.Namun di tahan oleh Devin.
"Saya masih ingin memeluk."
"Maaf,tapi coba mas lihat di belakang." ucap Nafhisa malu.Nafhisa pun segera bangkit menuju dapur.Dan Devin menjadi salah tingkah karna kedua anaknya menertawai ulah mereka.
Meski kesehatannya belum begitu pulih.Nafhisa tetap untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.Dia memasak dan melakukan aktivitas rumah tangga.
"Isah,kamu itu belum terlalu pulih.Istirahat saja.Biarkan mas yang memasak."
"Tapi mas?Kamu yakin?"
"Serahkan saja kepada mas." ucap Devin yang siap dengan pisaunya.Devin seperti sudah terbiasa dengan hal memasak.Bahkan Vano dan Vani menyorak saat melihat gaya Devin dalam mencincang makanan.
Beberapa menit kemudian...
Makanan sudah terhidang dengan sempurna.Devin mengisi makanan untuk Nafhisa.
"Kamu harus coba?" pinta Devin
"Isat coba ya?"Nafhisa mulai memasukkan kuah ke mulutnya.Dan benar rasanya memang lezat.Dia tak menyangka seorang Devin bisa memasak seenak ini.Berbanding terbalik pada Devan,sang mediang suami.
"Hehm,enak loh mas."
Meski Nafhisa masih malu mengungkapkan ketertarikannya pada Devin.Tapi Devin sudah bisa menilai dari tingkah dan tutur bicara Nafhisa yang selalu jujur dalam segala tindakan yang Devin lakukan.
"Kalo gitu,makannya harus banyak.Karna nanti malam giliran kamu." canda Devin pada Nafhisa.Devin ingin melihat sikap Nafhisa pada ucapannya yang menurutnya terlihat sensitif.
Uhuk,uhuk,uhuk
"Ibu,makannya pelan-pelan." kata Vani lalu menyerahkan air putih pada Nafhisa.Sementara Devin mengusap punggung Nafhisa.
"Iya.Maafin ibu ya?Jadi merusak mood makan kalian.Sini,biar ibu bersihin dulu semburan nasinya."
Nafhisa membersihkan meja tersebut.Dia menjadi takut saat memandang Devin.Bulu kuduknya meremang.
Kini semuanya sedang duduk di ruang tv.
"Mulai besok,Ayah mau kita pindah.Kebetulan tadi teman telpon.Ada rumah untuk kita.Tak besar sih.Tapi lumayanlah untuk kita berempat."
"Berempat?"ucap Vani membingungkan bagi yang mendengarkannya.
"Maksud Vani?"Nafhisa berpindah duduk lebih dekat pada putrinya ini.
"Ibu,kan ibu sudah menikah tuh.Kasihlah Vani adik.Boleh ya bu?" tutur Vani memelas mengusap perut ibunya.
"Iya bu.Biar tambah rame.Teman Vano,baru saja dapat adik baru.Katanya seru bu!" ucap Vano mendukung.
Nafhisa menelan saliva.Dia tak menduga secepat ini anaknya akan meminta hal yang di luar dugaannya.
"Tenang saja.Ayah bakal kasih kalian adik." kekeh Devin memejam sebelah mata pada Nafhisa.
"Benaran Ayah?Tapi kog ibu diam saja." gerutu Vani memoncong bibirnya.
"Ibu jawabnya cukup senyum saja.Coba lihat wajah ibu!" Lagi-lagi Devin mengusili Nahisa hingga wajahnya merah merona.
aku mampir kakak... semangat ❤️❤️