Indonesia
NovelToon NovelToon
Beautiful Villaines

Beautiful Villaines

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Masuk ke dalam novel / Romansa Fantasi
Popularitas:77.1k
Nilai: 5
Nama Author: Diar Rochma

Liora Belladonna, aktris cantik dan berbakat yang memasuki dunia film yang dia bintangi. Alih-alih menjadi pemeran protagonis wanita seperti yang ia perankan sebelumnya, ia justru memasuki raga Roxana Adelaide, pemeran antagonis yang akan berakhir tewas dengan tragis.

“Jika Roxana yang asli berusaha keras memisahkan para pemeran utama di dunia ini … maka aku justru harus membantu menyatukan mereka.”

“Jika Roxana yang asli begitu terobsesi dan menginginkan Pangeran Neraka … maka aku harus menghindarinya bagaimanapun caranya.”

Ya, itu adalah strategi yang Liora buat demi selamat dari akhir tragis yang menimpa Roxana. Namun, mujur tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Liora justru terbelenggu dengan ikatan benang merah yang menjeratnya bersama Pangeran Neraka, Liam Demente de Dias.

“Tidak! Aku harus menjauhi malaikat mautku.” Liora.

“Sayangnya, aku justru akan semakin menjeratmu. Semua yang ada di tubuhmu dari ujung kepala hingga ujung kaki adalah milikku.” Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diar Rochma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Konversi Racun

Roxa mengambil peti kayu berisi ulat-ulat beracun dengan gerakan sangat berhati-hati. Ia kemudian membawanya dengan bulu roma bergidik ngeri. Ya, tentu saja ia tidak ingin mati konyol hanya karena terkena sehelai bulu ulat. Terima kasih banyak kepada Axe yang sudah memberikan pengalaman luar biasa yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

Setelah sampai di depan meja yang bertengger persis di hadapan Axe, Roxa meletakkan peti kayu yang dibawa di permukaan meja tersebut kemudian mengarahkan pandangan kepada Axe. Kedua mata itu kini saling bertemu.

Hening. Tidak ada yang terjadi.

Roxa tetap berdiri dan tidak segera beranjak pergi. Sebenarnya apa lagi yang dia inginkan? Tentu saja yang ia inginkan adalah ucapan terima kasih. Bukankah norma kesopanan di mana saja adalah hal yang utama? Ayolah, ia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk membawa peti kayu tersebut!

Namun, Axe tetap bergeming, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Sementara Roxa tetap berdiri dengan penuh rasa percaya diri. Mereka justru saling bertatapan dalam diam dan membuat para murid yang lainnya kebingungan.

“Apakah tidak ada yang ingin Guru katakan?” Roxa akhirnya mengalah dan bersuara terlebih dahulu.

“Ada.” Axe menjawab dengan ekspresi lempeng, “Sekarang bagikan ulat-ulat itu pada masing-masing botol kaca spesimen yang ada di atas meja teman-temanmu,” titahnya yang membuat bola mata Roxa bergetar seketika.

“A-apakah saya tidak salah dengar?” Roxa berdesis lirih lengkap dengan seraut wajah terkesiap. Alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih, ia justru mendapatkan cobaan yang baru lagi. Sebenarnya sejauh mana guru itu akan membuatnya kesal? ‘Sialan! Apa kau sedang mencoba membunuhku, heh?’

Seakan mengetahui isi hati dan makian yang ada di kepala Roxa, Axe kembali bersuara. “Kau bisa menggunakan pinset untuk mengambilnya.”

“….”

Terjadi keheningan untuk sesaat. Roxa tetap bergeming, tidak bergerak. Meskipun ia bisa mengambilnya menggunakan pinset, tetapi bulu ulat itu bisa saja terbang dan mengenai kulitnya. Dan jika hal itu terjadi, maka hidupnya akan berakhir sampai di sini.

“Guru.” Tiba-tiba suara berat seorang murid laki-laki memecahkan keheningan. Suara itu berasal dari Felix.

Netra biru Axe seketika tertuju kepada pemuda tampan berambut pirang yang tiba-tiba beranjak berdiri dan berjalan menghampiri.

“Bisakah saya menggantikan Roxa? Kebetulan saya adalah ketua kelas yang biasa melakukan hal seperti ini. Karena Roxa kehilangan ingatan, kemampuan sihirnya dalam menatralisir racun sepertinya ikut menghilang. Saya akan menggantikannya.” Felix menjelaskan dengan tenang dan kini telah berdiri di depan meja, di samping Roxa.

Axe terdiam sejenak seolah sedang mengamati, “Lakukan saja jika kau menginginkannya,” jawabnya datar.

Felix menarik kedua sudut bibir, tersenyum tanpa arti kemudian membawa peti kayu berisi ulat beracun yang akan dibagikan kepada teman-temannya.

Sementara Roxa seketika bernapas lega. Hampir saja ia meregang nyawa hanya karena seekor ulat. Sungguh penyebab kematian yang tidak keren sama sekali mengingat cerita asli film belum dimulai.

“Terima kasih, Felix. Nanti aku akan mentraktirmu kudapan lezat,” bisik Roxa berhiaskan wajah ceria sembari ikut berjalan di samping Felix.

Felix mengangguk dan tersenyum, “Kembalilah ke tempat dudukmu.”

“Baiklah.” Roxa pun berjalan dan kembali ke tempat duduknya.

Sedangkan di depan kelas, Axe tetap mengamati interaksi kedua muridnya tersebut. Diam-diam ia merasakan mana sihir yang ada dalam diri Felix. Cukup lumayan meskipun tidak sehebat dirinya. Namun, anehnya ia merasa terganggu dengan keberadaan pemuda tersebut.

Lusinan ulat beracun telah masuk di dalam botol kaca spesimen yang terletak di atas meja para murid yang ada di ruang laboratorium. Pun Roxa yang juga mendapat bagian karena Felix tetap memberinya meskipun ia sedang terkena hukuman.

Ouh, betapa mulianya hati sahabatnya tersebut. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan betapa iblisnya hati seorang Guru yang sialnya berhasil membuat jantungnya berdebar.

Axe melangkahkan kaki, berjalan pelan mengelilingi meja para murid. Ia akan memulai pelajaran dengan materi konversi racun.

Sementara para murid yang melihat seekor ulat yang menggeliat-geliut di dalam botol kaca spesimen mereka tidak sedikit yang bergidik ngeri bercampur jijik. Sama seperti ekspresi yang ditunjukkan oleh Roxa sebelumnya.

Namun, ada juga beberapa murid yang menunjukkan ekspresi berbeda. Salah satunya adalah Dimitri Pedro, murid laki-laki berkacamata tebal dan berkulit kecokelatan yang berasal dari pedesaan sekaligus murid yang sering menjadi korban perundungan Troy Benjamin dan Max Aguiro—jika kalian masih mengingatnya.

Dimitri justru terpesona dengan corak belang-belang berwarna hitam dan jingga yang berlapis-lapis di sepanjang tubuh ulat tersebut. “Apakah mereka berasal dari dunia baru?” gumamnya dengan tatapan takjub.

Axe yang bisa mendengar gumaman laki-laki berkacamata itu lantas menjawab, “Keberadaan spesies mereka memang sangat langka.”

“Guru!” Dimitri memanggil Axe yang seketika menghentikan langkah ketika berjalan dan praktis menoleh ke arahnya. “Bolehkah saya bertanya?”

“Tentu saja aku tidak akan melarangmu.”

“Saya pernah membaca jika setiap tahap dari metamorfosis ulat beracun tergantung pada sebuah tanaman beracun juga yang bernama milkweed. Apakah itu benar?”

“Benar. Telur-telur mereka akan ditetaskan di atas milkweed, mereka akan makan di tanaman milkweed, dan pupa mereka juga menempelkan diri ke milkweed. Hingga akhirnya, mereka akan muncul sebagai kupu-kupu Raja Milkweed," jelas Axe dengan seraut wajah datar.

Dimitri terlihat semakin antusias dan tertarik, “Jadi, apakah racun berbahaya di dalam tubuh ulat itu adalah racun milkweed?"

Axe tersenyum tipis saat melihat ketertarikan yang tidak dapat disembunyikan oleh murid berkacamata tersebut, “Ya, benar. Tapi aku telah mengubah racun ulat-ulat itu menjadi sesuatu yang mungkin dapat berguna sebagai obat. Ingatlah, semua hal merupakan racun dan tidak ada hal yang tanpa racun. Hanya dosislah yang menentukan apakah sesuatu itu beracun atau tidak.”

“Apakah itu berarti bahwa segalanya bisa jadi beracun? Dan berbahaya tidaknya racun itu tergantung pada seberapa banyak zat racun yang terkandung di dalamnya?” Dimitri kembali mengemukakan pendapat sekaligus bertanya dengan wajah antusias.

Axe kembali menerbitkan senyuman tipis. Meskipun ini adalah pertemuan pertama mereka, tetapi ia bisa menebak jika murid laki-laki itu memiliki sesuatu yang dinamakan bakat. Mungkin dia bisa menjadi seorang alkemis elit nantinya, “Tepat. Dalam dosis kecil, bahkan zat-zat yang mematikan bisa jadi tidak berbahaya. Dan kebalikannya, terlalu banyak sesuatu pada zat yang semurni air pun bisa membunuhmu.”

Axe tiba-tiba mengambil sesuatu di atas meja kemudian menyorongkannya kepada Roxa—sepasang sarung tangan. “Untuk perlindungan.”

Roxa yang baru saja bernapas lega kini kembali membeliak sempurna, “Hah? Apa? Bagaimana? Anda siapa?”

“Gunakan tang untuk memindahkan sebuah spesimen dari kompartemen paling atas lemari kaca. Spesimen itu cukup beracun dan mematikan.”

Roxa masih terbelalak dengan raut wajah seperti orang dungu, “Sa-saya yang akan memindahkannya? Memindahkan sesuatu yang beracun dan mematikan itu dengan tangan berharga ini?”

Axe mengangguk dengan senyuman jahat, tetapi memikat, “Ingatlah untuk tidak merusaknya. Meskipun kau kehilangan kemampuan sihirmu, tetapi kau mempunyai tekad yang kuat dan kuyakin kau bisa melakukannya.”

Roxa membeku di tempat dan tidak dapat berkata-kata. Suaranya seolah tersangkut di kerongkongan. ‘Tekad yang kuat? Apakah dia sedang menyindir tekadku dalam mengejarnya? Oh astaga! Ini adalah bentuk deskriminasi murid. Apakah dia memiliki dendam kesumat padaku?’

\~\~\~

1
vans
udah ya ga up lg??? digantung lagi aja ceritanya
@Biru791
semangat up
Ihay Hairunnisa
novel keren jangan up lagi
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
Lupa..


kena lagi deh...
Robot Timus: di take down sama entun 😫 auto balik kandang lagi 😂
total 3 replies
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
Masih nyimak...
apakah Cannaria itu Roxa dan Ellie itu cathie
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
Sudah sekian purnama Thor...
sungguh aku rindu😭😭😭😭😭
Introvert
penulisan yg tenang membuat pembaca masuk kedalam alur cerita🤍
Allena syailendra Ar
cepetann updateeee donkk
Mimin ayankkkkk
Robot Timus: maaf, pindah kakak novelnya 🙏🥹
total 1 replies
Laksmi Molgindah
knapa TDK up lagi Thor ...pdhal saya plng suka novelx Thor ...yg pling sya suka renkarnasi cinta Rubi ....
Laksmi Molgindah: pindah dimna yah....????
total 2 replies
Laksmi Molgindah
knp SDH TDK up lagi Thor ...pas SDH bucin2x eh TDK ada kelanjutanx lagi
Robot Timus: maaf, pindah kakak novelnya 🙏🥹
total 1 replies
💨nihira✨
Kaka ini ceritanya gmn ya?lanjut ga y kaka?atau pindah ,dah lama banget, menurut q SH sayang klo gak dilanjutkan, ceritanya bagus,klo mo pindah gpp Kaka sayang tau ini kisahnya
💨nihira✨: oooh iy ka makasih infonya,cus lanjut lah meluncur
total 2 replies
Dimpi
sampe lupa aku sama cerita ini... sayang banged padahal jalan ceritanya bagus 🤔🤔
Robot Timus: Oren putih merah apaan? 😂 nanti insyaallah kuup di sini ya yg versi terbaru. buat buku baru lagi bukan di judul ini
total 3 replies
💨nihira✨
kemana ini lanjutannya
Nobody
Abang authornya ke mana ya
Nobody
Always waiting for you Bang
Astrid Shesya: Authornya kemanakah perginya ?
total 1 replies
Astrid Shesya
kapan update terbaru bang. lama nih nungguin 😂
Andrew: sudah lama banget ga update ya
total 2 replies
Yhan
next
Yhan
semngat
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
Wah ternyata , dia itu pake topeng..
aslinya emang kaya gini😒

sudah aku Dugong sih sebenernya🤔
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
Orang kalo mabuk, kadang omongannya suka jujur...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!