Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Barat / Fantasi / Petualangan
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: iqmail

Seorang guru SMA yang baru dilantik di sekolahnya, terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di tengah hari kiamat. Syukurlah dia tidak sendiri. Pak Guru ditemani oleh seekor naga yang selalu menjaganya ke mana-mana. Si naga bisa berbicara dan menghembuskan nafas api, namun sayangnya Naga itu hanya berukuran seperti manusia dewasa, dan nafas apinya pun hanya bisa sampai 30 cm. Siapakah si naga sebenarnya? Dapatkah mereka berdua bertahan dalam kejamnya hari kiamat?
Ikuti petualangan seru nan lucu dari pak Guru nanggung dan Naga receh!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iqmail, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps. 25. Masa Tenang Sebelum Badai

"Bergegas ke mana?" Bakri masih sangat bingung dengan semua ini.

"Ke portal utama." Mawar yang menjawab.

"Mungkin kau juga harus bersiap. Kita memang seringkali berada di kubu yang berbeda. Pandangan kita pada banyak hal sangat sering bertabrakan. Tapi ancaman yang datang kali ini, tidak bisa kita lewati jika kita terus berpecah-belah." Haris bicara seolah pada ruang hampa. Meski matanya menatap satu titik. Tapi bukan pada satupun di antara mereka.

"Kakek bicara pada siapa?" Jiddiyyah ikut menatap titik yang sama. Tunggu. Bukan persis kehampaan yang ada di situ. Tapi ada...seekor lalat? Sejak kapan di pondoknya yang selalu ia rapikan dan jaga kebersihannya ada lalat?

Kenny yang ada di seberang sana terlonjak kaget. Segera mengarahkan Lalat keluar dari portal.

***

Kakek-kakek itu menyadari keberadaanku! Bahkan dari caranya bicara, sepertinya dia tahu dari kelompok mana aku berasal. Sejak kapan dia tahu? Kenapa dia membiarkanku mengamati semuanya?

Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala Kenny dan tak ada satupun yang dia suka jawabannya.

Lalat itu akhirnya tiba di hadapannya. Segera dia matikan lalu dia masukkan ke kotak. Segala peralatan berkemahnya juga dia rapikan. Saatnya pindah tempat.

"Wowowo... Jangan buru-buru kawan." Tiba-tiba ada sebuah suara dari atas pohon di belakangnya. "Aku sudah cukup sabar menemani dari tadi. Sekarang kau harus membagi info yang kau dapat dari dalam sana."

Sial, apa lagi ini! Kenny mengutuk dalam hati. Dia mendongak ke asal suara dan mendapati asal suara ada di atas pohon tepat di belakangnya. Lalu pemilik suara itu melompat turun.

Pemilik suara itu ternyata adalah seorang pria berkulit putih dengan rambut pirang menyala tertimpa cahaya matahari. Matanya biru dan senyumnya membuat wajahnya nampak bagai malaikat. Namun semua itu dirusak oleh pakaiannya. Dia memakai baju ketat serba hitam, seperti baju superhero.Terlihat aneh.

"Siapa kau! Sejak kapan kau memperhatikanku dari atas sana?!" Kenny mundur menjauh, menyadari orang yang ada di hadapannya sangat berbahaya. Bagaimana mungkin seorang petarung berpengalaman sepertinya tak menyadari kehadiran orang ini?

"Oh.. Ini membuatku tersinggung." Senyum di wajahnya agak memudar. "Kita pernah bertemu loh. Meski jujur waktu itu memang agak gelap."

"Tidak. Aku sama sekali tidak ingat." Kenny mencob men scan ingatannya, namun tak menemukan jejak apapun tentang orang di hadapannya kini.

"Aha!" Pria tampan itu menjentikkan jari, seolah mengingat sesuatu. "Mungkin kau akan mengenal ini." Dia mengambil sesuatu dari saku di belakang celananya. Ternyata sebuah topeng full face warna hitam. "Tadaa!" Kini seluruh tubuhnya sempurna tertutupi kostum warna hitam.

"Ah! SDBR!" Kenny berseru.

"Apa itu?"

"Sosok Dari Bawah Ranjang."

"Ish.. Itu panggilanku di dunia hitam? Menyebalkan." Lalu dia mengeluarkan gestur mengibaskan tangan seperti mengusir nyamuk. "Sudahlah... Lupakan. Sekarang. Bagikan info itu padaku."

Sebagai jawaban, Kenny malah menaikkan kedua tinjunya. Di tangan kirinya ada keling (brass knuckle; semacam besi yang digenggam dalam tinju.)

"Ah.. Aku takut memang itulah jawabanmu." namun nada suara SDBR tidak menunjukkan raut kekhawatiran sedikitpun. Tangannya mengambil kunai di belakang sabuknya. Bersiap untuk pertarungan jarang dekat.

***

Bakri dan rombongan telah bersiap. Mereka memutuskan akan berangkat pada malam hari.

Sekarang, mereka mengelilingi meja makan.

"Kalian bahkan tidak sempat bermalam." Haris berujar sedih.

"Tadi Pak Haris kelihatannya malas menerima tamu." Mawar berceletuk, sambil mulai menyendok nasi.

Jid masih terkagum-kagum dengan pemandangan itu. Seekor naga, memakan nasi.

"Hei! Orang tua memang seperti ini. Moodnya mudah berubah-ubah!" Haris menjawab dengan nada sedikit tinggi.

"Kedengarannya Bapak bangga dengan fakta itu?" Bakri membalas santai. Mulai menyendok sayur.

Farhe dan Farhu berkali-kali meleset saat menggunakan sumpit. Mereka berusaha mengambil potongan buah yang sudah ada di piring mereka dengan susah payah.

Arya yang makan dengan tangan menatap heran. Dia tak habis pikir. Kenapa ada orang yang mau merepotkan dirinya bahkan dalam hal makan?

"Tak semua orang seperti dirimu, Arya. Banyak orang yang menganggap semua kegiatan adalah kesempatan untuk belajar. Bukan hanya dalam pertarungan saja." Rupanya Mawar menyadari tatapan Arya.

"Hei, urus saja dirimu sendiri! Toh aku tidak mengatakan apa-apa."

"Iya sih. Mulutmu memang tidak ngomong apa-apa. Tapi tatapan matamu itu loh. Mengandung seribu makna!"

Bakri menyadari bahwa sejak bergabungnya Arya, Mawar semakin menjadi seperti cewek remaja pada umumnya. Dan Arya juga jadi terlihat semakin labil setiap kali bercakap dengan Mawar. Mungkin tanpa mereka berdua sadari, kehadiran masing-masing telah membuatnya nyaman untuk menjadi lebih seperti diri mereka sebenarnya.

"Apa pula itu tatapan seribu makna. Lagi pula Kau sendiri makan pangan tuh!"

Arya benar. Jika bukan untuk sesuatu yang berkuah, Mawar memang lebih sering makan dengan tangan. Tangannya yang berupa cakar dengan kuku-kuku tajam, secara mengejutkan cukup tangkas untuk mengambil makan dan menyuapi mulutnya tanpa banyak kesulitan berarti.

"Hei. Jangan samakan aku dan kamu ya. Tanganmu itu memang didesain untuk makan. Coba lihat tanganku! Ini bukti dari latihan tekun dan panjang. Mungkin lebih dari latihan golokmu."

"Apa kau bilang!"

"Sudah, Anak-anak. Jangan berkelahi di meja makan." Sebenarnya Bakri masih menikmati dan ingin menyaksikan drama ini. Apalagi Mawar mulai ber aku-kamu dengan Arya. Sebuah perkembangan drastis dibanding pertemuan pertama mereka saat Mawar hanya terus memanggil Arya dengan sebutan Si Macan Gila. Sepertinya, apapun yang terjadi di dalam portal tadi telah makin mengeratkan hubungan mereka sebagai tim, mungkin lebih. Tapi dia tidak enak pada tuan rumah.

"Pak Bakri tidak kelihatan setua itu. Tapi kedengarannya natural sekali saat berkata 'anak-anak'. Kenapa, ya?" Jid bertanya.

"Mungkin karena aku dulu guru, ya?"

Jid mengangguk. Itu jawaban yang cukup masuk akal.

"Apa itu guru?" Farhe yang bertanya.

"Ya, kami sering mendengar kata itu. Ibu juga sering mendengarnya dari Mawar. Tapi dari cara penggambaran Mawar, guru sepertinya menyeramkan." Farhu menambahkan.

"Hahahah.. Mawar tidak salah. Guru memang bisa menyeramkan." Bakri sudah menandaskan makanannya. Dia siap menjelaskan. "Kata guru sendiri secara bahasa berasal dari bahasa Sansekerta, artinya; berat, agung, mulia, penting. Kira kira maksudnya orang yang memiliki ilmu dan kebijaksanaan yang berat, atau banyak."

"Lalu dalam tradisi hindu, guru dipecah jadi dua kata. gu artinya kegelapan, dan ru artinya yang menghilangkan. Jadi maksudnya, guru adalah orang yang bagai pembawa cahaya dan menghilangkan kegelapan di alam jiwa dan otak manusia."

"Kata guru ini lalu diserap lagi ke dalam bahasa Jawa, dan dijabarkan menjadi digugu dan ditiru. Digugu artinya dipercaya, dipegang kata-katanya. Dan ditiru yah... Ditiru.. Diikuti, dicontohi."

"Dari semua makna bahasa, bisa kita tarik kesimpulan.. Bahwa seorang guru itu bukan hanya harus memiliki ilmu yang banyak dan dalam, tapi dia juga harus memiliki akhlak yang baik agar bisa dicontoh oleh orang lainnya. Begitulah." Bakri menyelesaikan penjelasan panjangnya.

Farhu dan Farhe bertepuk-tangan. "Ini ungkapan yang benar untuk mengagumi sesuatu kan?" Farhu bertanya memastikan. "Penjelasan anda tadi sangat jelas, Pak Bakri." Farhe menambahkan.

Bakri tersenyum tersipu. Meski diperoleh dari makhluk spesies lain, pujian tetap saja pujian. Tapi kemudian dahinya berkerut "Loh.. Kenapa kalian berdua ikut-ikutan memanggilku, Bapak?"

"Eh.. Mengikuti Mawar."

"Hei! Enak saja! Aku ini baru..."

"Sudahlah Pak... Akui saja. Meski umur bapak sebenarnya baru dua puluhan akhir, aura bapak sudah mencerminkan aura empat puluhan." Mawar yang dari tadi ikut serius mendengarkan, akhirnya berceletuk.

"Itu tandanya, Bapak guru bermutu." Arya menambahkan.

"Terima kasih, Arya. Tapi tunggu. Jangan jangan maksudmu..."

"Bermuka Tua." Tandas Arya.

Meja itu segera pecah oleh tawa. Meninggalkan Bakri yang kini bermuka masam.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!